
Akhirnya keputusan di ambil. Elang tetap pada pendiriannya yang bertanggung jawab dengan caranya sendiri. Namun yang lain tidak punya pilihan. Mereka juga memikirkan mental Zahra seperti apa yang di katakan Rania.
Zahra juga akan menerima nasibnya yang akan membesarkan seorang anak tanpa seorang ayah. Itu sudah menjadi resiko untuk Zahra.
Seperti hari ini Zahra dan Rania Kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan Zahra yang sudah memasuki Minggu ke 5. Di mana Zahra yang mengalami mual-mual yang berlebihan harus membuat Zahra periksa ke Dokter. Agar Zahra di beri obat untuk mengurangi rasa mualnya.
Setelah selesai periksa Zahra dan Rania duduk di depan Dokter yang sedang menuliskan resep.
" Untuk usia kehamilan yang masih dini, ini memang sangat biasa, tapi jangan khawatir nanti setelah minum obat rasa mualnya akan hilang," ucap Dokter sambil tangannya menulis.
" Iya Dokter," sahut Zahra.
" Nanti silahkan di tebus obatnya ya," sahut Dokter yang langsung memberikan pada Zahra.
" Makasih Dokter," sahut Zahra yang sudah mengambilnya.
" Bu, Zahra tetap jaga kesehatan ya yang paling penting jaga pola makan dengan benar, dan rajin minum vitamin dan pasti jangan terlalu lelah," sahut Dokter memberikan saran.
" Iya Dokter, terima kasih untuk sarannya," sahut Zahra.
" Ya sudah Dokter, kalau begitu kami permisi dulu," sahut Rania.
" Hmmm, baik silahkan," sahut Dokter. Rania dan Zahra sama-sama berdiri dan sebelum ke luar dari ruangan itu mereka bersalaman dulu dengan Dokter dan langsung keluar dari ruangan itu.
" Kita sebelum pulang, tebus obatnya dulu ya," ucap Rania saat berjalan berdampingan dengan Zahra.
" Iya Rania," sahut Zahra. Saat mereka berjalan tiba-tiba di depan mereka terlihat Elang yang berjalan bersama Cindy di mana Elang dan Cindy yang sama-sama tertawa yang seperti apa yang mereka ceritakan begitu bahagia.
Melihat pasangan kekasih itu membuat Zahra dan Rania menghentikan langkah mereka. Cindy dan Elang masih terus berjalan yang belum menyadari Rania dan juga Zahra.
" Kamu bisa aja," sahut Cindy tertawa lepas dengan mencubit manja perut Elang.
" Aku serius," sahut Elang yang tidak kalah bahagianya. Namun tawa itu terhenti saat jarak mereka dekat dengan Rania dan Zahra. Langkah Elang dan Cindy juga terhenti tepat di depan Rania dan Zahra.
" Rania, Zahra," batin Elang yang tampak panik dan tawa kebahagian itu langsung memudar. Rania jelas melihat Elang dengan geram yang bisa-bisanya Elang tertawa-tawa. Namun Zahra dalam kesulitan.
" Hmmm, kamu istrinya Dokter Rendy kan?" sahut Cindy yang mengenal Rania.
" Iya," jawab Rania dengan dingin. Elang hanya melihat Zahra. Namun Zahra najis untuk melihatnya.
" Kamu ngapain di sini, lagi menemui Dokter Rendy. Bukannya dia lagi ada operasi," sahut Cindy yang bertanya pada Rania.
" Oh, tidak aku dan temanku sedang menemui Dokter kandungan," sahut Rania. Elang langsung kaget mendengarnya dan terlihat begitu gelisah.
__ADS_1
" Dokter kandungan. Siapa yang hamil kamu yang hamil?" tanya Cindy.
" Bukan! tapi temanku yang ini," sahut Rania yang matanya melihat ke arah Elang.
" Ohhh, ya ampun selamat ya untuk kehamilan kamu," sahut Cindy mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat pada Zahra. Zahra tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan itu.
" Makasih," sahut Zahra dengan santai.
" Ya ampun, kalau hamil gini katanya pasti suka manja-manjaan pada suaminya," sahut Cindy.
" Kamu benar, tapi sayang ayah dari bayinya sedang pergi," sahut Zahra.
" Oh, iya kalian pasti LDR," sahut Cindy.
" Hmmm, dia sedang sibuk bersama peliharaannya. Makanya bisa di katakan namanya LDR," sahut Zahra yang penuh sindiran kepada Elang. Elang hanya menelan salavinanya yang keringat dingin berada di situasi itu.
" Ya ampun kasihan sekali kamu. Tapi bayi kamu sehatkan?" sahut Cindy yang lagi-lagi bertanya.
" Iya bayiku sehatku, hanya saja aku nya mual-mual," jawab Zahra.
" Ya maklum lah, suaminya jauh di mana, jadi dia tidak ada yang mengurusi," sahut Rania menambahi yang lagi-lagi hanya menyindir Elang.
" Ya ampun, aku berdoa semoga suami kamu cepat pulang dan kamu tidak sendirian lagi," ucap Cindy dengan tersenyum.
" Kamu baik sekali mendoakan kami," sahut Cindy tersenyum lebar.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu kami sebaiknya pergi dulu. Kamu tidak ingin mengganggu kalian," sahut Rania.
" Iya, semoga bayinya sehat ya," ucap Cindy yang lagi-lagi kembali mendoakan bayinya.
" Hmmm, terima kasih," sahut Zahra, " Ayo Rania," ajak Zahra Rania mengangguk tersenyum. Lalu pergi melewati Cindy dan Elang.
" Jadi hari ini pemeriksaan pertama Zahra. Semoga memang benar tidak terjadi apa-apa pada kandungannya," batin Elang yang juga khawatir pada Zahra.
" Hmmm, aku sangat menyukai wanita hamil," sahut Cindy yang masih menengok kebelakang melihat punggung Rania dan Zahra yang semakin jauh.
" Ayo kita pergi!" ajak Cindy. Namun Elang bengong dan masih terus melihat Zahra dan Rania.
" Elang!" tegur Cindy yang melihat Elang bengong.
" Ha iya, ada apa?" tanya Elang gugup.
" Ayo pergi!" ajak Cindy lagi.
__ADS_1
" Iya, ayo kita pergi," sahut Elang dengan menghembus napasnya panjang kedepan. Yang berusaha untuk menangkan dirinya.
********
Zahrah dan Rania sudah sampai di parkiran.
" Kamu tidak apa-apa kan Zahra?" tanya Rania.
" Tidak Rania aku tidak apa-apa," jawab Zahra tersenyum.
" Ya sudah kamu masuk mobil duluan aku akan tebus obatnya dulu," ucap Rania.
" Kamu nggak apa-apa sendirian?" tanya Zahra.
" Tidak apa-apa sekalian aku mau ketemu Rendy dulu sebelum pulang," ucap Rania.
" Ya sudah aku akan tunggu di mobil," ucap Zahra.
" Iya, aku pergi ya," sahut Rania. Zahra mengangguk dan Rania langsung pergi. Zahra pun memasuki mobil menunggu Rania seperti apa yang di katakan Rania.
**********
Rania pun sudah menebus obatnya. Rania berpapasan dengan suster yang di kenalnya.
" Suster Yani!" panggil Rania membuat suster tersebut menghentikan langkahnya.
" Bu Rania ada apa Bu?" tanya Suster.
" Hmmm, Dokter Rendy masih operasi?" tanya Rania.
" Benar, Bu," sahut suster.
" Hmmm, saya boleh nitip ini tidak," ucap Rania memberikan kota hitam yang persegi dan suster tersebut langsung mengambilnya.
" Titip ya untuk Rendy, soalnya saya buru-buru mau pulang, jadi tidak sempat untuk menitipnya," sahut Rania.
" Oh, ya sudah Bu, nanti saya kasihkan sama Dokter Rendy," sahut suster Yani.
" Ya sudah makasih ya, saya permisi dulu," ucap Rania pamit.
" Iya Bu," sahut suster Yani. Rania tersenyum dan akhirnya pergi. Suster tersebut melihat-lihat kotak yang di berikan Rania.
" Hmmm, harus cepat di berikan pada Dokter Rendy, nanti aku kelupaan lagi," sahut suster tersebut yang juga pergi akhirnya.
__ADS_1
Bersambung