
Rendy pun pergi membawa istrinya dari tempat itu dan Sarah yang terlihat panik yang tidak mungkin akan di usir dari rumah itu.
" Mbak, Rendy pasti hanya bercanda kan," ucap Sarah panik melihat ke arah Ratih.
" Apa yang di katakannya tidak bisa di ganggu gugat. Jadi maaf saya tidak bisa ikut campur," sahut Ratih yang langsung berdiri dan langsung pergi.
" Mbak tunggu, ini tidak mungkin mbak," sahut Sarah. Ratih tidak peduli dan pergi begitu saja. Begitupun dengan Zahra yang masa bodo dan langsung berdiri dan pergi. Dia juga syukur-syukur dengan Sarah yang di usir Rendy yang seharusnya Rendy melakukannya dari dulu.
" Anisa bagaimana ini?" tanya Sarah panik.
" Aku mana tau. Mama sih yang mencari masalah. Mama bisa-bisanya bicara seperti itu. Mama kan tau sendiri. Anisa sudah menikah dan masih aja menyuruh Anisa untuk sama Rendy," sahut Anisa.
" Mama hanya ingin menyadarkan wanita itu dan apa yang mama katakan benar. Tidak ada yang salah," ucap Sarah yang masih membela diri.
" Sudahlah mah, nggak usah membicarakan itu lagi dan lihat akibat yang mama lakukan. Apapun kebenaranya yang jelasnya mama sudah membuat Rania sakit hati. Mama itu kelewatan. Jadi stop bicara ini itu," ucap Anisa.
" Kamu kok jadi belain Rania sih," sahut Sarah.
" Ya karena memang mama yang salah," sahut Anisa.
" Lalu mama bagaimana Anisa. Mama akan tinggal di mana," ucap Sarah panik.
" Mana Anisa tau," sahut Anisa yang bertambah stres dengan mamanya yang tidak ada hentinya mencari masalah. Kedatangannya kerumah itu ingin memberitahukan kehamilannya.
Tetapi mamanya malam membuat onar dan Rendy langsung mengusir tanpa ampunan dan pasti setelah ini Anisa yang harus stress dengan masalah mamanya. Sudah memiliki masalah dengan Agam di tambah lagi dengan mamanya. Sungguh benar-benar hidupnya bertambah ribet.
************
__ADS_1
Sementara Rania yang harus menagis dengan kata-kata Sarah yang melukai hatinya. Rania di atas tempat tidur yang berbaring miring dengan Rendy yang memeluknya dari belakang menenangkan istrinya yang sedari tadi menangis.
" Sayang kamu jangan masukin kedalam hati, Tante Sarah bicara memang suka seperti itu dan kamu tenang saja dia sudah tidak ada di rumah ini lagi," ucap Endy yang berusaha untuk membujuk istrinya.
" Tapi apa yang di katakan Tante Sarah memang benar. Jika aku tidak akan pernah memberi kamu anak," ucap Rania yang merasa sesak ketika mengingat perkataan Sarah.
" Siapa yang mengatakannya. Dari mana bisa ada pernyataan seperti itu. Kamu tidak mandul dan rahim kamu juga masih utuh. Jadi bagaimana ceritanya kamu tidak memiliki seorang anak," ucap Rendy.
" Tapi itu kenyataannya," sahut Rania.
" Sayang, kamu wanita yang sempurna yang bisa memiliki keturunan dan kita sedang menunda saja. Lagian pernikahan kita baru juga 1 tahun. Rania di luar sana banyak pasangan yang bertahun-tahun dan bahkan sampai puluhan tahun yang tidak memiliki keturunan dan mereka bersabar sama dengan kita. Jika kamu sembuh Allah akan kembali menitipkan kembali kepada kita," ucap Rendy yang berusaha untuk menjelaskan pada istrinya agar istrinya tidak merasa kurang.
" Aku beberapa kali mengatakan kepadamu. Aku mencintaimu dan hanya ingin berduaan terus denganmu. Aku belum siap Rania harus membagi kasih sayang pada anak kita. Makanya aku ingin kita ber-2 terus bersama. Jadi jangan memikirkan masalah anak. Karena aku tidak membutuhkannya. Kau lebih mementingkan kesehatan istriku," ucap Rendy menegaskan pada Rania. Rania membalikkan tubuhnya dengan terlentang dan melihat wajah suaminya yang di depannya.
Rendy langsung mengusap air mata di pipi istrinya biru dengan lembut.
" Aku hanya mencintai dan aku ingin terus kita ber-2 bersama, berjuang dan jika harus memiliki keturunan, itu jika tidak menyakitimu dan jika itu menyakitimu. Aku lebih baik tidak ingin memiliki anak Rania," ucap Rendy menegasakan pada Rania yang terus menerus.
" Apa maksudmu?" tanya Rendy.
" Aku juga mencintainya dan aku tidak ingin kamu bersama wanita lain ketika aku tidak bisa memberimu anak. Aku tidak ingin ada wanita ke-2 di kehidupan kita," ucap Rania yang memang sangat tidak ingin berbagi hati.
" Kamu terus memikirkan hal itu kan," sahut Rendy.
" Bukankah itu normal. Jika istrinya tidak bisa memberikan keturunan. Maka akan membiarkan suaminya menikah lagi agar mendapatkan anak," ucap Rania.
" Rania aku mengatakan berungkali kepadamu. Jangan berpikir sejauh itu. Aku tidak melakukan itu. Mendiakanmu itu tidak ada di pikiranku. Rania jika aku ingin memiliki anak itu dari rahim istriku sendiri. Bukan dari orang lain," ucap Rendy menegasakan berkali-kali.
__ADS_1
" Sudah ya kamu jangan menangis lagi. Kita tidak harus menangisi apa yang tidak perlu kita tangisi. Dari pada harus menagis dengan maslaah itu sebaiknya kita untuk kesembuhan kamu. Itu yang paling terpenting," ucap Rendy menjelaskan pada istrinya. " kamu mengertikan!" ucap Rendy Rania menganggukkan kepalanya. Rendy perlahan mencium kening istrinya dengan lembut dan Rania memajukan tubuhnya pada Rendy dan langsung memeluk tubuh Rendy dengan erat.
" Aku mencintaimu Rania," ucap Rendy yang terus memeluknya dengan erat.
" Aku juga," sahut Rania yang sekarang sudah mulai tenang.
***********
Zahra dan Elang berdiri di depan jendela kamar yang tampak melihat ke bawah di mana Anisa yang membantu mamanya memasukkan koper ke dalam mobil. Kesabaran Rendy sudah habis dan semua itu di lakukannya untuk kebaikan istrinya dan memang Sarah harus pergi dari rumah itu dan hanya ada Ratih yang mengantar kepergian itu. Dari pada di biarkan aja.
" Rendy benar-benar mengusir Tante Sarah," ucap Elang yang awalnya sudah mendengar apa yang terjadi pada Rania.
" Ya lihatlah, Tante Sarah pergi," sahut Zahra.
" Lalu kemana dia akan tinggal?" tanya Elang.
" Kau mana tau, kalau tidak kembali pada suaminya ya palingan di rumah Anisa," sahut Zahra menebak-nebak.
" Memang Agam akan menerimanya," sahut Elang.
" Entahlah. Lagian Tante Sarah sendiri yang kelewatan kalau bicara. Ya apa yang di bicarakannya dia yang mendapatkan hasilnya dan itulah yang di inginkan dan harus terima resikonya," ucap Zahra.
" Lagian heran banget dengan Tante Sarah yang tidak pernah berubah Anisa aja terlihat hidupnya sekarang lebih tertata. Apa lagi semenjak menikah dengan Agam," sahut Elang.
" Kamu benar, sangat terbukti dia yang tidak ikut-ikutan bicara. Bahkan beberapa kali menegur kata-kata mamanya yang kelewatan," sahut Zahra.
" Ya semoga saja Tante Sarah benar-benar bisa berubah," ucap Elang penuh dengan harapan.
__ADS_1
" Kita doakan aja. Kasian Rania dia pasti sedih," sahut Zahra yang mengingat Rania. Yang memang pasti sedih. Karena kesal dengan Sarah. Zahra pun tidak ikut mengantarkan kepergian Sarah.
Bersambung