
Malam hari tiba Rania yang terbaring di kamarnya. Tidur nyenyak. Karena memang merasa lelah dengan seharian kata-kata yang terdengar membuat mentalnya dan tubuhnya lemas. Belum lagi luka di perutnya yang tidak jadi di periksakan nya makanya tubuhnya sangat lemas dan membuatnya tertidur dengan pulas.
Krekkk
pintu kamarnya terbuka perlahan dan terlihat langkah kaki seseorang mendekati ranjang Rania dan sudah berada di samping Rania yang ternyata Gilang. Gilang menyunggingkan senyumnya dan membuka selimut Rania lalu mendekatkan wajahnya pada Rania.
Rania membuka matanya mendadak dan kaget melihat Gilang yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
" Gilang, Aaaaaaa," Rania berteriak namun Gilang langsung dengan cepat membekap mulutnya.
" Mpt, mpt mpt," Rania kesulitan bicara dengan mulutnya yang di bekap yang membuat Rania panik dan ketakutan saat Gilang berani masuk kekamarnya.
" Ya Allah apa yang harus aku lakukan, tolong aku ya Allah," batinnya yang penuh ketakutan.
Rania langsung mengambil tindakan dengan menendang perut Gilang yang berada di atas tubuhnya yang menindihnya yang memang ingin berbuat kurang ajar kepadanya.
" Auuuhh," lirih Gilang yang sudah tersungkur di lantai dan Rania dengan cepat berdiri.
" Apa yang kau lakukan di kamarku. Berani sekali kau masuk kekamarku," bentak Rania.
" Jangan sok jual mahal. Aku tau kau menginginkan ini," ucap Gilang dengan seriangi nakal di wajahnya yang membuat Rania semakin panik.
" Apa maksudmu?" tanya Rania.
" Sudahlah, jangan banyak bicara. Suamimu tidak ada dan aku bebas melakukannya," ucap Gilang lagi yang sudah berdiri.
" Jangan kurang ajar kamu Gilang, aku akan berteriak, jika kamu macam-macam," ucap Rania menunjuk dengan penuh ancaman.
" Hah, berteriak lah. Kamu pikir ada yang percaya dengan mu. Tidak akan ada yang percaya dengan mu. Kamu berteriak hanya bunuh diri. Jadi mending diam saja dan tidak akan ada yang tau," ucap Gilang dengan senyum miringnya yang menyoroti tubuh Rania yang memang memakai baju tidur lumayan terbuka. Bahkan sampai sepahanya.
" Gila kamu Gilang," ucap Rania yang mengambil tindakan lebih baik keluar dari kamar itu. Namun Gilang langsung menghentikannya dan memeluknya dari belakang dengan wajah Gilang yang menempel-nempel pada pipi Rania.
" Lepaskan aku Gilang! jangan kurang ajar kamu, lepaskan aku," berontak Rania. Namun Gilang tidak peduli dan terus memeluknya erat yang seperti kerasukan iblis dan bahkan luka di perut Rania di tekan dan pasti sakitnya tidak bisa di ucapkan sama sekali seperti apa.
__ADS_1
" Lepas, bajingan, lepas," Rania hanya memberontak namun Gilang langsung menghempasnya keranjang dan menindih tubuhnya yang dengan niat ingin memperkosanya. Mencengkram ke-2 tangan Rania dan berusaha mencium Rania. Rania memberontak dengan memiring- miring kan kepalanya menghadapi Gilang yang di penuh iblis liar.
Brukk.Pintu kamar terbuka dengan cepat.
" Rania," teriak Iren yang kaget melihat apa yang terjadi di atas ranjang dan Gilang menoleh kebelakang melihat mamanya dan kaget dengan keberadaan mamanya dan dengan cepat-cepat Gilang bangkit dari tubuh Rania.
" Mama," lirih Gilang.
" Apa yang kalian lakukan!" teriak Iren dan Rania dengan air matanya berusaha untuk duduk dan melihat Iren yang langsung menatapnya tajam.
" Gilang apa yang kamu lakukan dengan Rania?" tanya Iren lagi.
" Ma, ini," sahut Gilang gugup yang tidak bisa menjelaskan apa-apa.
" Kamu Rania, benar-benar wanita tidak tau malu!" teriak Iren yang langsung menarik Rania dari ranjang yang tanpa ingin mendengarkan penjelasan apapun.
" Tante lepas, Tante sakit, Tante," ucap Rania yang di tarik kasar dan langsung di seret keluar dari kamar.
" Anak kurang ajar tidak tau malu," ucap Iren yang langsung menghempaskan tubuh Rania, sehingga Rania tersungkur di lantai.
" Mbak, Iren!" gertak Ratih buru-buru menghampiri Rania.
" Ya Allah, ada apa ini. Kenapa mbak, memperlakukan Rania seperti ini," ucap Ratih panik. Zahrah dan Nia pun berjongkok membantu Rania berdiri..
" Apa yang Tante lakukan?" tanya Zahra yang tampaknya penuh emosi dengan sahabatnya yang di perlakukan tidak manusiawi.
" Wanita itu telah berselingkuh di belakang Rendy. Bisa-bisanya dia dan Gilang berbuat yang aneh-aneh di dalam kamar," ucap Iren dengan suaranya menggelegar menunjuk Rania yang masih menangis. Pasti apa yang di katakan Iren membuat semua orang kaget
" Tidak mah, itu tidak benar-benar, Gilang yang masuk kekamarku dan ingin memperkosaku," ucap Rania bicara apa adanya dengan tangisannya.
" Kamu menuduh anakku. Anakku tidak mungkin masuk kalau tidak diundang olehmu," teriak Iren.
" Tapi itu memang kenyataan dia masuk kekamarku," sahut Rania.
__ADS_1
" Kamu tidak mengkunci pintu kamarmu Rania?" sahut Anisa. Rania diam karena memang lupa mengkunci nya.
" Bagaimana mengkuncinya kalau sengaja untuk membukanya," sahut Iren.
" Tante jangan bicara sembarangan," sahut Zahra.
" Kenapa kamu membela temanmu yang tidak benar itu hah! dia jelas-jelas berbuat Zina dengan Gilang di kamarnya," sahut Iren menegaskan.
" Cukup!" bentak Ratih. " tolong mbak, jangan menuduh tanpa bukti. Mbak tidak bisa membicarakan sesuatu hal tanpa ada kebenarannya dan membuat fitnah seperti ini," ucap Ratih yang pasti tidak percaya dengan kata-kata Iren.
" Aku sendiri yang melihat bagaimanapun mereka berdua, kamu benar-benar wanita murahan. Suami kamu sedang bekerja. Tetapi kamu malah berbuat Zina dengan anakku. Kenapa kamu masih merasa kehilangan hilang sehingga masih ingin bersamanya," ucap Iren yang terus menuduh Rania.
" Hentikan semuanya," sahut Ratih, " Gilang kamu jawab jujur. Apa yang kamu lakukan di kamar Rania?" tanya Iren.
" Maaf Tante, jika perbuatan Gilang membuat Tante dan yang lainnya kecewa..Tapi sungguh Gilang dan Rania benar-benar khilaf," ucap Gilang yang membuat semua orang kaget.
" Apa maksud kamu Gilang kamu jangan bicara mengada-ada," ucap Rania yang terus menagis.
" Rania kamu yang mengajakku kekamarmu sampai aku tidak bisa menahan diriku," ucap Gilang. Rania melotot mendengarnya. Yang tidak percaya jika dia akan di fitnah.
" Itu tidak benar mah," sahut Rania yang mencari pembelaan.
" Kamu benar-benar wanita murahan Rania," geram Iren yang melangkah mendekati Rania mengangkat tangannya untuk menampar Rania dan Rania menutup matanya. Tetapi ternyata tangan Iren tertahan dan membuat Iren melihat siapa yang menahannya dan kaget melihat Rendy.
" Rendy," lirih Iren dan Rania juga schock melihat ke hadiran Rendy.
" Baguslah jika Rendy datang, dia akan tau bagaimana istrinya itu," batin Anisa.
" Apa yang Tante lakukan. Tante tidak punya hak untuk memukul Rania," ucap Rendy menegaskan dan menjatuhkan kasar tangan Iren.
" Rendy, istri kamu sudah main gila dengan Gilang," teriak Iren. Rendy melihat Rania. Rania menggelengkan kepalanya. Rendy melihat Rania di penuhi air mata yang sangat membutuhkan bantuan.
Bersambung
__ADS_1