
Sebelum sholat magrib bersama suaminya Rania terlebih dahulu mandi. Tubuhnya begitu lengket sehingga membuatnya harus mandi dulu. Baru sholat bersama Rendy dengan khusyuk. Seperti biasa setelah selesai sholat Rania akan mencium punggung tangan suaminya. Rendy juga akan mencium pipi kanan istrinya, mencium kening Rania sampai 2 kali dengan lembut.
Rendy tersenyum melihat cantiknya istrinya. Tidak dosa memandanginya. Namun dia harus berdiri untuk menyimpan sajadahnya.
" Tunggu!" ucap Rania menahan tangan suaminya.
" Ada apa?" tanya Rendy yang kembali duduk di depan istrinya dengan bersilah kaki.
" Aku jadi kepikiran dengan tespeck yang di temukan mama tadi. Kira-kira punya siapa ya," ucap Rania dengan wajahnya yang penuh pemikiran.
" Rania seperti yang aku katakan sebelumnya, mungkin punya orang lain yang tidak sengaja jatuh, atau petugas pembersih yang pada saat menggabungkan sampah-sampah. Lalu ketinggalan," ucap Rendy.
" Hmmm, begitu rupanya, tapi apa iya begitu kebetulan," ucap Rania yang masih meragukan pendapat Rendy.
" Lalu apa. Itu bukan milik kamu. Kamu mengatakan kamu tidak memakai tespeck itu. Ya pasti punya orang lain lah," sahut Rendy.
" Kamu benar sih. Pasti punya orang lain. Tapi apa jangan-jangan sebenarnya itu kode ya dari mama," ucap Rania tiba-tiba berpikiran yang lain lagi.
" Maksud kamu?" tanya Rendy bingung.
" Ya, kamu lihat deh, begitu kita berdua tadi datang, wajah mama dan Nia itu terlihat begitu bahagia, mereka itu kayak berharap gitu apa yang mereka tebak-tebak itu benar dan saat aku mengatakan itu bukan milikku mereka kelihatan kecewa. Apa sebenarnya mama dan Nia itu memberi kode. Jangan-jangan mama sudah pengen punya cucu gitu," ucap Rania mengeluarkan apa yang di pikirkannya.
" Masa sih," sahut Rendy.
" Aku hanya menerka-nerka saja," sahut Rania.
" Namanya juga orang tua. Kalau anaknya sudah ada yang menikah ya pasti dia mengharapkan cucu. Karena menurut cerita yang aku dengar orang tua itu tidak akan ada berhentinya membesarkan dan merawat seorang anak. Dia akan terus berurusan dengan anak kecil. Kalau anaknya sudah besar maka ada cucu yang kembali di urus," ucap Rendy.
" Ya kamu benar dan pasti mama sudah pengen kali ya," sahut Rania.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan kamu. Apa sudah ingin menjadi seorang ibu?" tanya Rendy dengan wajahnya yang begitu serius.
" Memang ada yang tidak mau menjadi seorang ibu. Lagian aku juga menunda apa-apa," sahut Rania dengan santai. Rendy tersenyum mendengarnya.
" Bagaimana dengan mu, apa kamu sudah ingin memiliki seorang anak?" tanya Rania dengan pelan yang ragu untuk menyalam hal itu.
" Anak adalah anugrah. Jika Allah mempercayakan kita untuk memilikinya maka akan di hadirkan. Jadi jika di tanya ingin atau tidak aku sama seperti mu. Siapa yang tidak menginginkannya. Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha dan hanya Allah yang menentukan apa kita sudah bisa di percaya atau tidak," ucap Rendy sedikit memberikan tausiah pada istrinya.
" Apa itu artinya kita berdua harus lebih....." sahut Rania yang tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Rendy menaikkan alisnya menunggu lanjutan kalimat sang istri.
" Harus lebih apa Rania?" tanya Rendy. Rania menunduk dengan wajahnya yang tiba-tiba malu.
" Tidak jadi," sahut Rania ragu. Rendy tersenyum dan mendekatkan diri pada istrinya dengan memegang dagu Rania mensejajarkan wajah mereka ber-2.
" Ada apa, kenapa wajahmu memerah?" tanya Rendy sedikit menggoda.
" Hmmm, ya sudah aku mau kebawah dulu," sahut Rania salah tingkah yang memilih untuk pergi. Namun Rendy menghentikannya dengan memegang tangannya.
" Kamu mau kemana, bukannya kita belum selesai bicara?" tanya Rendy dengan lembut, menatap Rania dengan dalam-dalam.
" Aku, aku mau kebawah, memang ada lagi yang harus di bicarakan?" tanya Rania begitu gugup. Rendy tersenyum dan tangannya perlahan membuka mukena Rania.
Rania semakin bingung dengan apa yang di lakukan Rendy. Setelah mukena itu terbuka Rendy membelai rambut Rania dengan mencium lembut kening Rania. Pasti Rania dek-dekan dengan tatapan dan sentuhan Rendy.
Tidak sampai di situ. Rendy semakin mendekatkan dirinya pada Rania. Meletakkan tangannya di punggung Rania dan satu lagi di bawah ke-2 kaki Rania dan Rendy langsung berdiri dengan menggendong Rania ala bridal style.
" Ya ampun Rendy mau ngapain," batin Rania dengan gugup yang ternyata Rendy membawanya ke atas tempat tidur membaringkan lembut tubuh Rania dengan Rendy sudah di atasnya dengan wajah tampak jarak.
Napas saling menerpa dengan debaran jantung yang sama-sama saling terdengar. Tatapan Rendy tidak lepas dari sang istri. Rendy pun mencium kening istrinya dengan lembut. Mencium pipi Rania dengan lembut. Rendy terus menciumi wajah Rania.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Rendy berpindah pada perut Rania mengusap lembut perut itu membuatnya kegelian.
" Insyallah akan hadir janin di rahimmu," ucap Rendy menatap Rania dalam-dalam. Rania tersenyum dengan menganggukkan matanya. Rendy kembali mensejajarkankan wajahnya pada Rania sehingga mata itu semakin dalam memandang.
" Aku mencintai mu Rania," ucap Rendy mengucapkan kata cinta untuknya.
" Aku juga mencintaimu," jawab Rania dengan mengusap pipi Rendy. Rendy tersenyum bahagia mendengarnya dan matanya langsung jatuh pada bibir Rania dan tidak menunggu lama. Rendy langsung mencium bibir istrinya dengan dalam.
Rania juga langsung perlahan memejamkan matanya saat suaminya sudah memberikan sensasi padanya. Tangan Rania mengalung di leher Rendy yang benar-benar menikmati ciuman yang saling berbalas dengan lembut dan sangat romantis.
Rania hanya akan kembali merasakan surga dunia. Saat tubuhnya di sentuh. Hanya karena pembahasan apa yang di pikirkan Rania, mereka ber-2 akhirnya berakhir di atas ranjang.
Rania juga sih yang pancing-pancing. Jadi Rendy juga tidak menghilangkan kesempatan untuk tidak bermesraan dengan istrinya.
**********
Karena mereka melakukan ibadah itu selepas sholat Magrib. Mau tidak mau itu hanya di lakukan sebentar dan Rania harus keramas lagi. Padahal sebelum Magrib dia sudah keramas. Tapi mau gimana lagi dia harus keramas dan setelah itu sholat isya bersama suaminya.
Mereka sudah selesai sholat dan Rendy menyimpan sajadahnya pada tempatnya. Rania juga membuka mukenahnya dan menyimpannya pada tempatnya. Rendy menoleh ke arahnya dan melihat rambut Rania yang masih basah.
Mungkin karena buru-buru jadi Rania tidak sempat mengeringkannya. Rendy pun bertindak mengambil hair dryer dan langsung mengeringkan rambut istrinya.
" Makasih," ucap Rania tersenyum lebar.
" Sama-sama. Maaf ya aku sudah membuatmu mandi 2 kali," ucap Rendy.
" Isssh, aneh banget minta maaf," sahut Rania yang merasa Rendy itu sangat hobi minta maaf. Rendy tersenyum dan melanjutkan mengeringkan rambut sang istri. Romantis memang tidak perlu neko-neko.
Bersambung
__ADS_1