Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 283


__ADS_3

Malam ini Asyifa sedang membantu ayahnya untuk memasukkan barang-barang ke koper di mana terlihat ke-2nya begitu kompak dalam berkemas.


" Berapa hari kita di Mekah ayah?" tanya Asyifa sambil memasukkan pakaian ke dalam koper.


" Beberapa Minggu," jawab Rendy.


" Nenek dan Tante Nia juga ikut?" tanya Asyifa.


" Iya mereka juga ikut. Kita mau ibadah umroh bareng-bareng. Bukan hanya nenek dan Tante Nia. Opa Rudi, Tante Willo, kak Lulu dan kak Dedy juga ikut. Kita mau ibadah umroh bareng-bareng," ucap Rendy.


" Horeeee akhirnya apa yang di inginkan ibu tercapai," sahut Asyifa dengan semangatnya membuat Rendy menautkan alisnya mendengar kata putrinya itu.


" Maksudnya?" tanya Rendy heran.


" Bukannya ibu pengen umroh bareng-bareng keluarga ayah dan keluarga Opa Rudi," sahut Asyifa.


" Asyifa tau dari mana?" tanya Rendy penuh selidik.


Asyifa tertawa-tawa membuat Rendy semakin heran.


" Kenapa tertawa ayo jawab," sahut Rendy yang penasaran.


" Maaf ayah, Asyifa baca surat ibu lagi," sahut Asyifa. Rendy mendengarnya menaikkan 1 alisnya.


" Itukan punya ayah semua. Asyifa mana boleh baca. Ayah marah lo nanti," ucap Rendy menatap intens putrinya yang berada di depannya.


" Soalnya Asyifa penasaran, jadi Asyifa baca aja. Maaf ayah jangan marah," sahut Asyifa tertawa cengengesan tanpa dosa.


" Kamu ini ya," geram Rendy yang menarik tangan putrinya dan langsung menggelitiki putrinya.


" Maaf ayah, ampun ayah, ampun!" Asyifa mengeluh saat Rendy menggelitiki nya, Ratih di meja makan yang menyiapkan makanan hanya geleng-geleng saja saat mendengar teriakan Asyifa.


Namun dia begitu bahagia. Semakin besarnya Asyifa Rendy tidak pernah kesepian lagi. Berbeda dulu saat Asyifa masih bayi. Tidak ada semangat dalam hidupnya Rendy. Rendy selalu murung dan tak jarang untuk menangis.


Tetapi sekarang Asyifa semakin besar menjadi teman yang baik untuk Rendy, sebagai pengobat hati seperti yang dulu sering di ucapkan Rania. Ya Rendy semakin berdamai dengan keadaan. Dan untuk mencari pengganti ibu untuk Asyifa Rendy tidak pernah memikirkannya. Bahkan Ratih pun tidak pernah menyinggung ke arah sana.


Karena dia tau putranya itu tidak akan pernah berhenti mencintai istrinya dan lagian. Asyifa tidak pernah kekurangan kasih sayang. Asyifa mendapatkan dari neneknya, tantenya dan pasti ayahnya. Dia tidak pernah menginginkan apa-apa dan merasa dia mempunyai ibunya.

__ADS_1


*********


Setelah selesai beres-beres Rendy dan Asyifa pun berbaring di atas tempat tidur dengan Asyifa yang dipeluk Rendy dengan mengusap-usap rambut Asyifa agar Asyifa tertidur.


" Ayah!" tegur Asyifa dengan pelan.


" Iya kenapa?" sahut Rendy.


" Apa itu cinta?" tanya Asyifa membuat Rendy menautkan alisnya menatap serius putrinya masih balita bisa-bisanya bicara tentang cinta.


" Kenapa bicara seperti itu. Tau dari mana kata cinta?" tanya Rendy.


" Ibu selalu bilang dia mencintai ayah. Jadi Asyifa jadi kepikiran apa itu cinta," ucap Asyifa dengan polosnya.


Rendy tersenyum mendengarnya, " cinta itu adalah rasa di atas kasih sayang," jawab Rendy.


" Hmmmm, jadi itu sebabnya ibu selalu mengatakan itu," sahut Asyifa.


" Asyifa benar sama dengan ayah. ayah mencintai ibu dan Asyifa sendiri lahir dari atas cinta," ucap Rendy


" Hmmmm, lalu apa ibu juga mencintai Asyifa?" tanya Asyifa.


" Asyifa juga mencintai ibu," sahut Asyifa. Rendy mengangguk dan langsung memeluk putrinya itu.


" Yasudah sekarang Asyifa tidur. Besok pagi kita harus pergi. Jangan sampai kita telat," ucap Rendy.


" Baik ayah," sahut Asyifa tersenyum. Asyifa berdoa sebelum tidur.


" Ya Allah, Asyifa rindu ibu. Asyifa pengen sekali ketemu ibu. Apa boleh ya Allah Asyifa bertemu ibu," batin Asyifa berdoa di dalam hatinya.


" Amin!" ucapnya mengakhiri doanya.


" Kenapa Asyifa kalau berdoa sebelum tidur selalu dalam hati. Ayahkan tidak tau apa yang di inginkan Asyifa," ucap Rendy.


" Tidak apa-apa ayah. Ayo bobo," sahut Asyifa.


Dia memang sering merindukan ibunya dan sering berdoa untuk bertemu dengan ibunya. Tetapi selalu di dalam hatinya. Karena tidak mau ayahnya sedih. Ya anak sekecilnya sangat mengerti perasaan ayahnya. Dia tidak ingin membuat ayahnya khawatir dengan dirinya yang pasti sangat menahan rindu dan ingin bertemu sosok ibunya.

__ADS_1


*******


Lain di rumah Rendy yang Asyifa dan Rendy sudah tertidur. Di lain tempat seorang wanita yang sedang berzikir dengan dengan lengkap memakai mukenah. Wanita cantik itu sama persis wajahnya mirip sekali dengan Rania.


air mata wanita itu selalu jatuh saat berzikir dengan khusyuk dan selesai berzikir wanita itu langsung menadahkan tangan berdoa pada penciptanya.


" Ya Allah. Aku tidak tau siapa aku. Aku mohon kembalikan semua masa lalu ku. Aku ingin menemui keluargaku. Jangan pisahkan aku dengan keluargaku. Aku mohon kembalikan ingatan ku," ucap wanita itu dalam air matanya yang berlinang.


Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu yang sendu melihat wanita itu berdoa. Bukan pertama kali dia menangkap wanita itu berdoa bahkan sangat sering.


Setelah wanita itu selesai berdoa. Wanita paruh baya itu menghampiri wanita itu.


" Aisyah!" tegur wanita itu yang sudah berada di belakang wanita bernama Aisya yang mirip dengan Rania.


" Ibu," sahut Aisya yang menyeka air matanya.


" Bagaimana nak, apa kamu sudah mengingat semuanya?" tanya wanita itu.


" Setiap kali berzikir hanya ada bayangan yang muncul. Namun tidak tau apa itu," jawab Aisya.


" Bersabar ya. Ibu yakin kamu akan semuanya kembali," ucap wanita itu. Aisyah hanya mengangguk saja dengan harapan yang sama.


" Mungkin salahku. Karena sewaktu rumah sakit itu di bom. Aku membawa wanita ini pergi. Aku berpikiran keluarganya tidak ada. Aku membawanya ke Jerman karena konsinyasi parah. Tapi tidak terduga dia bisa lupa ingatan. Ya Allah semoga saja Aisya mengingat keluarganya dan Dokter juga mengatakan saat itu. Jika dia habis melahirkan. Kiranya perbuatanku yang bertindak terlalu jauh dapat di maafkan. Karena secara tidak langsung aku telah memisahkannya dengan keluarganya," batin wanita paruh baya itu yang penuh penyesalan.


" Ibu!" tegur Aisyah.


" Iya," sahut wanita itu yang terlihat gugup.


" Ibu kenapa?" tanya Aisyah.


" Tidak apa-apa nak, bagaimana persiapan kamu untuk berangkat umroh besok. Apa sudah di siapkan semuanya?" tanya wanita itu.


" Iya ibu sudah di siapkan dan semoga saja besok perjalanan kita lancar. Aisyah juga akan terus minta petunjuk agar semuanya kembali seperti sedia kala," ucap Aisyah.


" Iya nak, ibu doakan yang terbaik ya," ucap wanita itu.


" Makasih Bu," sahut Aisyah yang memeluk wanita paruh baya itu.

__ADS_1


" Aku hanya ingin ingatan ku kembali. Aku selalu merasa rindu. Tetapi tidak tau apa yang aku rindukan," batin Aisyah dengan wajahnya yang terlihat sendu.


Bersambung


__ADS_2