
Rendy dan Rania sama-sama menikmati kue kukus jagung di lantai di lapisi karpet. Layaknya pengantin baru yang masih anget-angetnya ke-2 nya malah bergantian saling menyuapi dengan wajah mereka yang tampak berseri-seri dengan penuh senyuman yang tidak bisa di gambarkan betapa besarnya kebahagian mereka.
" Kamu langsung Kerumah sakit hati ini?" tanya Rania di sela-sela makan mereka.
" Tidak tau juga. Memang kenapa?" tanya Rendy.
" Tidak apa-apa. Bukannya kamu baru kembali dari Jerman dan apa tidak capek jika langsung Kerumah sakit," ucap Rania.
" Hmmm, rasa lelahku sudah hilang," ucap Rendy.
" Karena apa?" tanya Rania dengan mengkerutkan dahinya.
" Karena kamu," ucap Rendy. Rania tersenyum malu mendengarnya.
" Ya sudah, ayo kita turun!" ucap Rendy mengajak istrinya.
" Bukannya masih jam segini. Apa sudah waktunya sarapan?" tanya Rania heran yang masih melihat pukul 6 lewat.
" Tidak untuk sarapan. Tapi ada yang harus kita selesaikan," ucap Rendy yang sudah berdiri. Namun Rania heran apa maksud Rendy.
" Ayo Rania!" ajak Rendy lagi yang sudah mengulurkan tangannya. Rania mengangguk dan akhirnya berdiri dengan menyambut uluran tangan Rendy. Walau dia terlihat kebingungan.
Rania dan Rendy pun menuruni anak tangga dengan tangan mereka yang saling menggenggam erat. Rania bingung dengan orang-orang yang sudah lengkap di ruang tamu.
Oma Wati, Ratih, Sarah, Anisa, Zahra, Nia dan bahkan Elang ada di sana. Wajah Rania terlihat cemas dengan penuh kegelisahan. Namun Rendy tampak begitu sangat tenang.
" Ya Allah, apa lagi ini," batin Rania terlihat was-was.
Akhirnya Rania dan Rendy sudah menghampiri ruang tamu dan mereka duduk bersebelahan dengan tangan mereka yang sudah di lepas. Suasana terlihat begitu tegang. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
" Benar kata Anisa. Tidak terjadi apapun pada Rania dan Rendy malah mereka ber-2 semakin dekan mereka sudah berhubungan," batin Sarah menatap tidak suka dengan Rania.
" Hmmm, kak Rendy sama kak Rania kerajinan. Pagi-pagi sudah keramas aja," sahut Nia yang begitu polosnya. Rania mendengarnya malah salah tingkah Sementara Ratih hanya tersenyum.
__ADS_1
" Shutttt," desis Zahra menyuruh Nia untuk diam.
" Ishhhh, kenapa sih," sahut Nia heran.
" Ada yang ingin kamu sampaikan Elang?" tanya Rendy langsung pada intinya.
" Maaf Rendy apa yang terjadi semalam adalah salah paham," sahut Elang.
" Kenapa kamu bisa ada di rumah Rania. Siapa yang menelponmu?" tanya Rendy dengan suara dinginnya.
" Willo menelponku," jawab Elang jujur apa adanya yang membuat orang-orang kaget. Karena informasi yang di dapatkan yang menelpon adalah Rudi papa Rania.
" Pak Rudi sakit. Jadi Willo minta tolong untuk memeriksa kondisi pak Rudi dan Pak Rudi terkena demam berdarah," jelas Elang dengan jujur.
" Anisa dari mana kamu mendapatkan informasi. Kalau Pak Rudi yang menghubungi Elang?" tanya Rendy. Anisa kaget mendengarnya yang tidak punya jawaban apa-apa. Dia diam karena pasti tidak menyangka jika Rendy akan menanyakan hal itu. Karena dia memang mengarang banyak cerita.
" Bagaimana ini apa yang harus aku katakan," batin Anisa panik.
" Rania, kamu mendapatkan informasi pak Rudi sakit dari mana?" tanya Rendy lembut pada istrinya. Rendy tidak menunggu jawaban Anisa lagi. Karena pasti tidak ada jawaban untuk pertanyaannya.
" Tapi saat aku kesana papa malah bertanya kenapa aku kesana. Seakan bukan papa yang mengirimku pesan," ucap Rania yang berbicara jujur. Rendy mengangguk yang mempercayai apa yang di katakan istrinya.
" Lalu Elang kenapa setelah kamu memeriksa Pak Rudi kamu tidak langsung pulang?" tanya Rendy yang benar-benar mengintrogasi para pemeran tokoh-tokoh di sana.
" Rania memang menyuruhku pulang saat dia datang dan aku sudah ingin pulang. Tapi saat di depan. Willo menahanku," jawab Elang.
" Lalu kenapa kamu bisa ada di kamar Rania?" tanya Rendy.
" Aku tidak tau Rendy. Aku hanya minum yang di berikan Willo, tubuhku panas dan ketika aku bangun ada di kamar Rania dan Rania sedang istirahat di sana," jelas Elang.
" Kamu adalah seorang Dokter. Pasti kamu tau apa yang terjadi padamu sampai memliki reaksi tubuh seperti itu," ucap Rendy.
" Iya, aku tau obat apa yang di berikan kepadaku," jawab Elang.
__ADS_1
" Lalu Tante Sarah, kenapa Willo menelpon Tante Sarah. Kenapa dia bisa memliki nomor Tante sementara yang lain tidak. Apa selama ini Tante dan Willo sering berkomunikasi?" tanya Rendy membuat Sarah kaget.
Semua mata akhirnya melihat serius ke arah Sarah. Seakan juga mempertanyakan apa yang di katakan Rendy. Karena hal itu sangat janggal.
" Kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini," batin Sarah yang terlihat panik.
" Sarah kenapa kamu diam. Jawab pertanyaan Rendy?" sahut Oma Wati yang juga menunggu jawaban itu.
" Willo yang mendatangiku. Aku tidak tau ada masalah apa Willo dengan Rania. Tetapi yang jelasnya dia yang memberitahuku Elang dan Rania dulu adalah mantan kekasih," jawab Sarah masih punya jawaban.
" Rendy mungkin Tante terlihat ikut campur. Tapi pada nyatanya. Elang dekat dengan keluarga Rania. Willo juga mengatakan jika Elang dan Rania pernah tidur bersama," lanjut Sarah yang masih bisa-bisanya memfitnah Rania.
" Ya seperti yang semua orang-orang. Bagaimana Rania. Bukannya Gilang juga mengatakan itu. Bahkan mbak Iren juga mengatakan itu semuanya. Rania bukanlah wanita baik-baik. Wanita yang rusak bahkan tercatat sebagai pasien HIV," lanjut Sarah yang membuat semua orang kaget.
" Astagfirullah Al Azdim," lirih Ratih yang terasa sakit dengan kata-kata untuk menantunya itu. Sementara Rania hanya diam saja dengan matanya yang bergenang.
" Cukup Tante Sarah!" sahut Rendy, " Aku adalah suaminya. Aku tau istriku seperti apa. Masalah dia tidur dengan Pria atau yang sering aku dengar. Aku jelas tau apa yang sebenarnya terjadi. Rania adalah wanita suci yang menikah dengan ku dalam keadaan suci. Cukup kalian menuduhnya, merendahkannya dengan cover yang terlihat dari luar," sahut Rendy menegaskan dengan menekan suaranya.
Rendy bahkan memegang tangan Rania dengan erat tangan yang dingin yang begitu bergetar.
" Aku juga bukan seorang suami. Tapi juga seorang Dokter. Istriku tidak menderita sakit apapun. Dari mana kalian bisa memberikan tuduhan seperti itu. Sementara aku adalah seorang Dokter. Aku yang tau istri ku seperti apa," tegas Rendy dengan menekan suaranya.
Semua orang diam tertunduk dengan pembelaan Rendy pada Rania. Sarah dan Anisa semakin panik yang sudah memfitnah tanpa bukti.
" Dan masalah hubungan Elang dan juga Rania di masa lalu aku juga mengetahuinya. Tidak ada satupun yang aku tidak ketahui dari Rania. Jadi berhentilah kalian menuduhnya yang tidak-tidak," tegas Rendy sekali lagi.
Rania meneteskan air matanya dengan menatap nanar suaminya yang seakan menjadi pagar untuk melindunginya.
" Aku minta maaf Rendy. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hubungan ku dengan Rania memang sudah berakhir dan tidak and apa-apa lagi," ucap Elang merasa bersalah.
" Aku rasa masalah ini sudah selesai. Aku berharap. Oma, mama dan yang lainnya bisa menilai sendiri apa yang terjadi. Aku akan memberi waktu untuk kalian semua meminta maaf pada Rania," tegas Rendy.
" Ayo Rania!" ajak Rendy yang mengajak istrinya untuk berdiri. Rania mengangguk dan berdiri bersama suaminya. Pergi meninggalkan ruang tamu dengan masalah yang sudah selesai.
__ADS_1
Bersambung