
Suara indahnya azand subuh di perdengarkan di kota suci Mekkah. Kebiasaan Rendy yang dulu ternyata tidak hilang, istri cantik yang di rindukannya yang subuh-subuh keramas sama dengan Rendy yang mana sekarang Rendy membantu sang istri mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Tidak tau jam berapa mereka selesainya. Tetapi mungkin sangat lama atau berkali-kali melakukannya. Karena maklum masih saling merindukan dan ingin bermesraan terus. Wajah ke-2nya bahkan terlihat berseri-seri yang malu-malu gemes gitu.
" Ibuuuu!!!!" panggil Asyifa mengetuk-ngetuk pintu kamar. Rania dan Rendy saling melihat dan lagi-lagi sama-sama tertawa kecil.
" Masuk sayang, pintunya tidak di kunci," jawab Rania.
Ceklek. Asyifa langsung membuka pintu dan mengintip dulu kepalanya kedalam, melihat ibu dan ayahnya sama-sama tersenyum. Lalu Asyifa langsung melangkah masuk kedalam.
" Asyifa mau sholat subuh sama ibu sama ayah," ucap Asyifa.
" Iya nak," sahut Rania. Asyifa tersenyum dan mendekati ibunya.
" Ayah sama ibu keramas subuh-subuh. Apa tidak tidak dingin?" tanya Asyifa dengan polosnya menatap serius ibunya. Rendy dan Rania saling melihat lagi dan bingung harus menjawab apa.
" Nanti ibu sakit lo, kalau keramas subuh-subuh," ucap Asyifa yang mengkhawatirkan ibunya.
" Mandi subuh itu sehat sayang," jawab Rania.
" Benarkah?" tanya Asyifa. Rania menganggukkan kepalanya.
" Ihhhhhh, tetapi tetap Asyifa merasa terlalu dingin," ucap Asyifa menggedikkan bahunya yang kedinginan melihat ibunya yang keramas. Apa lagi angin dari hair dryer yang mengenai Asyifa membuatnya menjadi dingin.
" Tetapi ibu tidak kedinginan," jawab Rania.
" Begitu. Tetapi kenapa ibu sama ayah, mandinya subuh-subuh, keramas lagi, apa tidak bisa besok pagi?" tanya Asyifa merasa belum puas jika belum tau alasannya.
Rendy garuk-garuk kepala yang harus menjawab apa untuk Asyifa. Sementara Rania juga bingung sendiri yang harus mengatakan apa. Ya mana mungkin dia mengatakan kepada anaknya itu. Jika ibu dan ayahnya habis bermesraan.
" Hmmm, Ya sudah ibu sudah selesai, sekarang kita sholat subuh ya," ucap Rendy.
" Baik ayah," sahut Asyifa mengangguk yang mengambil mukenah nya dan langsung memakainya.
Akhirnya mereka ber-3 melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk. Di mana yang pasti Rendy menjadi imamnya. Sholat itu pun berlangsung khusyuk sampai selesai, sampai mengucapkan salam dan pasti tidak lupa untuk Rendy memimpin doa.
Selesai sholat Rendy membalikkan tubuhnya. Rania langsung mencium punggung tangan Rendy. Rendy mencium kening Rania lembut, pipi kanan dan kirinya ya menciumi wajah yang seperti tadi malam di ciumnya. Setelah itu Asyifa juga mencium tangan ayahnya dan Rendy juga mencium keningnya dengan lembut.
" Ayah, Asyifa mau di cium yang banyak seperti ibu," ucap Asyifa ingin di samakan sama seperti ibunya.
" Baik Asyifa," sahut Rendy pun melakukannya, mencium gemas wajah putrinya itu.
__ADS_1
" Mau lagi?" tanya Rendy.
" Sudah cukup ayah," sahut Asyifa.
" Baiklah sekarang Asyifa cium ibu dong!" ucap Rendy. Asyifa mengangguk dan mencium tangan ibunya dan dan Rania juga menciumi wajah Asyifa yang terdengar suara kecupan yang begitu khas.
" Ya sudah sayang sekarang kita sarapan ya di bawah!" ucap Rendy. Rania dan Asyifa mengangguk dan mereka berdua sama-sama membuka mukenah mereka dan saat membuka mukenah itu tiba-tiba Asyifa melihat sesuatu di leher ibunya.
Dan Asyifa langsung memegangnya membuat Rania kaget, " ibu kenak gigit nyamuk!" ucap Asyifa polos. Rendy menepuk jidatnya yang mesti lah anaknya itu harus begitu teliti pada Rania.
" Hmmm, ini, ini itu," Rania gugup yang bingung harus jawab apa.
" Apa di sini banyak nyamuk?" tanya Asyifa kebingungan, " ya Allah kasihan sekali ibu Asyifa di gigit nyamuk jahat," ucap Asyifa dengan polosnya. Rania jadi tertawa-tawa karena secara tidak langsung Asyifa telah menyindir ayahnya.
" Sudah Asyifa jangan di pikirkan nyamuknya, ibu tidak apa-apa kok," sahut Rania.
" Benar ibu?" tanya Asyifa tidak percaya.
" Iya sayang, ibu tidak apa-apa," jawab Rania.
" Baiklah kalau begitu, Asyifa lega mendengarnya," ucap Asyifa dengan polosnya. Rendy dan Rania hanya geleng-geleng kepala.
**********
" Assyifa mau ini?" tanya Rania menawarkan roti untuk Asyifa.
" Mau ibu," jawab Asyifa. Rania pun langsung meletakkan di piring Asyifa. Tidak lupa dia juga meladeni suaminya.
" Oh iya sayang sekarang, Elang dan Zahra apa kabar ya," ucap Rania di tengah-tengah makannya yang mengingat Zahra.
" Mereka sekarang tinggal di Luar Negri, mereka baik-baik aja dan bintang juga semakin besar. Nanti kita telpon mereka," jawab Rendy.
" Baiklah, aku merindukan Zahra juga," sahut Rania.
" Pasti dia kaget Rania, tiba-tiba kamu menelponnya," sahut Willo.
Rania mengangguk, " dan iya Anisa apa kabar?" tanya Rania juga yang ingin tau kabar Anisa,
" Anisa dan Agam tinggal di Luar Negri juga dan mereka sampai detik ini belum di karunia anak, karena Anisa sempat operasi pengangkatan rahim. Tetapi Alhamdulillah pernikahannya dengan Agam baik-baik aja," sahut Ratih yang menjawab pertanyaan itu.
" Ya Allah kasihan sekali Anisa," sahut Rania yang ikut sedih yang tidak percaya akan hal itu.
__ADS_1
" Ya begitulah kehidupan," sahut Pak Rudi.
" Dan Tante Sarah sekarang lumpuh, karena mengalami kecelakaan. Tapi sih itu gara-gara kualat yang pernah memisahkan kak Anisa dan kak Agam," sahut Nia.
" Nia," tegur Rendy.
" Kok bisa?" tanya Rania heran.
" Apa lagi. Karena Tante Sarah kurang puas dengan mempunyai menantu seperti kak Agam dan akhirnya berusaha memisahkan dan bahkan ya kak sampai mau menjodohkan kak Anisa yang udah istri orang dengan kak Rendy, keterlaluan bukan," ucap Nia dengan kesalnya.
" Astagfirullah," lirih Rania yang tidak percaya dengan perbuatan Sarah yang tidak pernah berubah.
" Memang kelewatan sih kak, makanya sekarang nggak bisa apa-apa kan langsung di balas sama Allah," ucap Nia.
" Sudah-sudah Nia kamu ini ya kalau gosip aja langsung nyambung," sahut Ratih.
" Memang benar kok," sahut Nia.
" Sudahlah yang penting kita memaafkan mereka. Itu jauh lebih penting dari pada apapun. Jadi jangan membahas itu lagi," sahut Rendy. Rania menganggukkan kepalanya.
" Iya kita sarapan aja, ayo Lulu kamu makan biar habis ini mandi," sahut Willo.
" Dingin mah mau mandi," sahut Lulu dengan rengekannya.
" Nggak ada alasan dari tadi dingin mulu," tegas Willo.
" Kak Lulu belum mandi?" tanya Asyifa.
" Dingin Lulu," jawab Lulu.
" Asyifa tadi baru selesai mandi tidak dingin. Ibu sama ayah aja subuh-subuh mandi tidak dingin sampai basah rambut lagi," ucap Asyifa dengan polosnya.
" Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk" Rendy jadi batuk-batuk deh dengan kelancaran anaknya yang harus promo. Sementara Rania jadi salah tingkah. Yang lainnya hanya senyum-senyum yang harus ya di dengar mereka masalah ranjang itu.
" Iya kan ibu tidak dingin?" tanya Asyifa lagi. Rania hanya mengangguk tersenyum kaku.
" Ya Allah, putriku ini sangat pintar. Tapi tidak seperti ini juga. Aku bisa-bisa tidak punya tempat untuk wajahku," batin Rania menjadi malu.
" Asyifa, Asyifa semua harus di ceritai," batin Rendy yang masih salah tingkah.
" Wajarlah mereka itu saling merindukan," batin Ratih senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Bersambung