Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 169 rasa canggung yang muncul


__ADS_3

Elang ke dapur untuk mengambil makanan untuk Zahra. Yang di mana di dapur ada Ratih.


" Elang kamu butuh sesuatu?" tanya Ratih yang melihat Elang memasuki dapur, selain itu Elang tampak kebingungan.


" Hmmm, iya Tante, aku mengambil makan untuk Zahra, ternyata dari dia belum makan. Aku khawatir dia kenapa-kenapa," ucap Elang. Ratih tersenyum mendengar kata-kata Elang yang begitu perhatian kepada Zahra.


" Kamu duduk saja, biar Tante yang ambilkan," ucap Ratih.


" Iya Tante," jawab Elang yang menarik kursi lalu duduk. Sementara Ratih langsung mengambil piring dan mengisi nasi dan lauk.


" Zahra memang agak susah makan. Apa lagi sekarang mual-mual sedikit langsung membuatnya semakin ada alasan untuk tidak makan. Ya kalau tidak di ingatkan Zahra bisa-bisa sampai tidak makan berhari-hari," ucap Ratih sembari mengisi nasi dan lauk di dalam piring.


" Tante jangan khawatir, saya akan pastikan Zahra akan teratur makan," sahut Elang. Ratih begitu bahagia dengan kata-kata Elang.


" Tante percaya sama kamu. Kamu pasti bisa mengurus Zahra dengan baik," ucap Ratih yang memberikan piring itu pada Elang dan Elang langsung mengambilnya. Ratih beralih dari Elang mengambil air putih dan memberinya lagi pada Elang.


" Makasih Tante, aku akan beri makan Zahra dulu," ucap Elang.


" Hmmm, makasih ya Elang, kamu sudah membantu banyak Zahra," ucap Ratih. Elang mengangguk dan pergi.


" Ini awal yang baik, insyaallah mereka ber-2 akan semakin membuka hati dan Elang yang awalnya hanya bertanggung jawab lama-lama akan menyukai Zahra, semoga secepatnya mereka menimbulkan benih-benih cinta. Ya Allah aku hanya berdoa kepadamu agar di luluhkannya ke-2 hati Elang dan Zahra," batin Ratih yang tersenyum terharu.


Elang baru menikah dengan Zahra. Tetapi dia sudah melihat kemanisan dan baginya itu memang awal yang baik. Ratih juga sangat mempercayai Elang. Jika Elang akan menepati janjinya.


***********


Elang kembali kekamar. Zahra sempat menolak untuk makan. Namun Elang harus memaksanya dan sekarang Elang menyuapi Zahra yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan Elang duduk di samping Zahra.


" Elang cukup!" ucap Zahra yang menutup mulutnya yang merasa sudah kenyang.


" Kamu baru makan suap, jadi makan lagi," ucap Elang dengan tegas.

__ADS_1


" Tapi aku semakin mual, aku sudah tidak sanggup makan," keluh Zahra.


" Jangan membantah, ayo makan lagi, bayi kamu akan kurus, jika kamu tidak memberinya makan. Kamu tidak boleh egois. Jadi makanlah," tegas Elang yang terus memaksa Zahra. Mau tidak mau Zahra kembali membuka mulutnya. Wajah Zahra seakan ingin memuntahkan apa yang di makannya.


" Percuma makan, kalau nanti di muntahankan," ucap Zahra dengan wajahnya yang cemberut.


" Yang penting ada nasi masuk," sahut Elang. Zahra memang tidak akan bisa membantah, jika sudah berurusan dengan Elang. Elang memberi Zahra minum dan Zahra benar-benar perutnya merasa enak.


" Kapan aku selesai makan?" tanya Zahra.


" Kamu sudah kenyang?" tanya Elang balik. Zahra mengangguk cepat.


" Baiklah kalau begitu," sahut Elang. Elang kelihatan tidak ingin memaksa Zahra lagi. Dia juga kasihan dengan Zahra.


Elang menghentikan menyuapi Zahra walau makanan itu masih tersisa yang penting Zahra sudah makan lebih banyak dari pada yang tersisa. Zahra kembali minum. Setelah itu Zahra meletakkan gelas di atas nakas. Elang melihat ada butir nasi di ujung bibir Zahra dengan spontan tangannya mengambilnya.


Sontak hal itu membuat Zahra kaget dengan wajah Elang yang maju ke wajahnya dan jari jempol Elang yang mengusap bibirnya. Mata mereka yang saling bertemu membuat jantung Zahra berdetak tidak normal.


Seperti gemuruh dan terjadi peperangan di sana. Zahra beberapa kali menelan salavinanya dengan hembusan napas Elang yang menerpa wajahnya. Namun Zahra dengan cepat mengalihkan wajahnya kekirinya yang bisa-bisa salah tingkah jika saling menatap dengan Elang.


Pintu kamar yang terbuka sedikit membuat Ratih yang berdiri di depan pintu itu tersenyum. Ratih ingin masuk mengantarkan buah. Namun melihat adegan singkat itu membuat Ratih mengundurkan niatnya yang tidak ingin menjadi orang ke-3 dalam moment simple itu.


" Ehhhm, Ratih di kagetkan dengan suara deheman yang mana ternyata Rendy berdiri di sampingnya dan sekarang sedang merangkul mamanya itu dengan satu tangan Rendy di pundak mamanya.


" Sejak kapan, mama jadi tukang intip," goda Rendy.


" Isssh, kamu ini, siapa bilang mama tukang intip, mama tidak mengintip," sahut Ratih mengelak.


" Benarkah! lalu kenapa mama berada di sini, melihat pasangan pengantin bermesraan," ucap Rendy yang tersenyum-senyum menggoda mamanya.


" Mama ingin masuk, tapi melihat mereka seperti itu mama tidak jadi masuk," jawab Ratih.

__ADS_1


" Lalu kenapa senyum-senyum," sahut Rendy lagi yang mengintimidasi mamanya.


" Rendy, siapa yang tidak senyum lihat itu, mama bahagia dengan Elang yang memperhatikan Zahra. Mama hanya tidak menyangka jika mereka bisa dekat secepat itu," ucap Ratih.


" Ya kita doakan saja. Semoga mereka berdua benar-benar akan bahagia terus," ucap Rendy.


" Amin," sahut Ratih sama-sama tersenyum dengan Rendy yang melihat Zahra dan Elang.


*********


Anisa memasuki rumah dengan kesal dan langsung menutup pintu.


" Benar-benar gila dia, jangan sampai dia datang kerumah ini lagi. Bisa berantakan semuanya mulutnya sangat ember dan tidak bisa di maafkan memang dasar keterlaluan," geram Anisa yang mengoceh terus menerus dengan perbuatan Adam yang membuatnya emosi.


" Ehemmm," Anisa di kejutkan dengan deheman yang tak lain ternyata adalah Nia yang menuruni anak tangga, tersenyum cengengesan dan menghampiri Anisa.


" Ya Ela, yang sudah punya gebetan," goda Nia. Anisa mendengarkannya mengkerutkan dahinya.


" Apa maksud kamu?" tanya Anisa dengan wajah kesalnya.


" Kak Anisa, gebetannya tampan juga. Tapi kalau aku lihat-lihat. Kayaknya dia berondong ya," ucap Nia yang ternyata mengamati Agam tadi.


" Apaan sih kamu siapa yang punya gebetan, kamu nggak usah mengada-ada," sahut Anisa yang mengelak.


" Ihhh, pake malu-malu lagi. Ya nggak apa-apa juga kali," sahut Nia yang terus menggoda Anisa. Wajah Anisa sampai memerah Nia yang bicara panjang lebar.


Di atas sana di ujung anak tangga, Rania melihat Nia yang menggoda Anisa membuat Rania tersenyum. Dia jelas bahagia jika Anisa akhirnya bisa menemukan belahan jiwanya. Dengan begitu harapannya akan pupus pada suaminya.


Tiba-tiba pelukan dari belakang menghampirinya di mana melingkar 2 tangan di pinggangnya dan dagu berada di bahunya. Rania menoleh kesamping yang ternyata suaminya. Kalau bukan suaminya siapa lagi. Mana mungkin orang lain berani begitu.


" Kamu tersenyum, seolah sangat bahagia," ucap Rendy.

__ADS_1


" Bagaimana aku tidak bahagia. Kamu lihat saja apa yang terjadi," jawab Rania. Rendy hanya tersenyum dan memeluk erat istrinya itu.


Bersambung


__ADS_2