Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 40 Keputusan yang mendapat hinaan.


__ADS_3

Iren terus berbicara dengan sesukanya mencaci maki Rania di depan orang banyak. Dan Rania hanya bisa diam menerima penghinaan itu.


" Mama bilang diam. Lihat wanita ini dia sudah mempermalukan keluarga kita. Kita sudah memberikannya kesempatan. Tapi apa yang di lakukannya. Dia membatalkan pernikahan ini. Ini sangat memalukan," sahut Iren yang benar-benar tidak bisa menahan dirinya.


" Rania, apa ini benar-benar bulat menjadi keputusan kamu, kenapa tiba-tiba kamu membatalkan pernikahan kamu. Rania hanya tinggal 3 hari lagi," ucap Farida mencoba bicara dengan Rania.


" Ma, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku tidak mungkin menikahi dia," sahut Rania melihat ke arah Gilang menatap Gilang dengan penuh kebencian. Dan Gilang mengalihkan pandangannya yang seperti tidak bisa di tatap Rania.


" Rania, kamu jangan keras kepala. Kamu pikirkan seluruhnya. Bukan hanya keluarga Gilang yang malu. Tetapi juga keluarga kita. Kamu mau bikin malu keluarga berapa kali hah!" sahut Rudi yang tampaknya kesal dengan tindakan Rania.


" Tidak pak, keputusanku sudah bulat. Aku jelas lebih mempedulikan diriku kedepannya. Dari pada harus mempertahankan pernikahan dengan Pria yang tidak baik," sahut Rania menekankan.


" Sialan Rania, dia seenaknya bicara," batin Gilang kesal dengan Rania. Ingin membantah. Tetapi takut image nya buruk.


" Apa maksud kamu. Kamu mau mengatakan anak saya tidak baik dan kamu yang paling baik. Heh! perempuan tidak tau diri. Sebaiknya kamu itu sadar. Siapa diri kamu sebenarnya. Jangan asal bicara kamu mengatakan anak saya tidak baik. Kamu ngaca, kamu hanya perempuan liar yang tidak tau diri," sahut Iren yang penuh emosi.


Ratih melihat kakak iparnya itu bicara hanya geleng-geleng. Dan Rania diam tanpa menjawab apa-apa.


" Gilang seharusnya kamu bersyukur tidak menikah dengan wanita ini. Wanita ini hanya pembawa sial dalam keluarga kita. Lihat yang dia lakukan hanya mempermalukan keluarga kita. Jika kamu menikah dengannya. Dia hanya akan menjadi malah petaka dalam keluarga kita," ucap Iren sini menunjuk Rania.


" Jadi bersyukur lah Gilang. Allah masih menolong kamu. Masih menyelamatkan kamu dari wanita rusak seperti dia. Pantas saja pernikahan kamu selalu batal. Karena memang tabiat kamu sangat memalukan," ucap Iren dengan terus menghina Rania.


" Tidak akan ada orang tua yang mau anaknya menikah dengan wanita pembawa sial seperti kamu. Hanya akan menjadi mala petaka besar dalam keluarga mereka. Tidak akan ada pria yang mencintai kamu. Kamu hanya akan hidup dalam kehampaan. Kamu hanya akan kesepian sampai seumur hidupmu. Wanita pembawa sial. Wanita hina," teriak Iren menekankan dengan menyumpahi Rania dengan kata-kata kasarnya.


Air mata Rania menetes saat mendengar sumpanan itu. Sumpanan itu sering terdengar di telinga Rania dan dia hanya diam saat mendengarnya. Walau pada akhirnya air matanya harus menetes lagi dengan kepalanya yang menunduk di dampingi air matanya yang entah beberapa kali menetes.


Ratih benar-benar simpatik dengan Rania yang sangat sabar dengan perkataan Iren. Bahkan dia saja. Sakit hati dengan perkataan Iren.


Sementara Gilang terlihat tersenyum miring yang di tangkap oleh Rendy. Yang geleng-geleng. Rendy jelas tau siapa yang salah. Tetapi dia sangat salut dengan Rania yang hanya diam. Tidak mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


Walau Rania lah korbannya. Rendy dan Ratih sama-sama melihat ke arah Rania yang menunduk dengan tangan yang saling mengatup yang memberikan kekuatan


" Masyallah, seistimewa apa gadis ini ya Allah, sampai engkau harus memberikan dia kekuatan yang begitu besar. Dia menutup aib Gilang dan menerima hinaan dan caci maki yang jelas semuanya bukan kesalahannya. Dia wanita yang sangat baik. Ya Allah kenapa bukan aku yang engkau berikan kesempatan untuk menjadikannya menantuku. Apa aku memiliki kesalahan yang besar sehingga aku tidak berhak menjadikannya sebagai menantu," batin Ratih dengan matanya berkaca-kaca yang melihat terus ke arah Rania.


Hatinya sangat bergetar melihat wanita malang itu. Dia sangat salut kepada wanita yang sangat kuat itu.


" Ayo kita pergi dari sini!" ajak Ratih, " Aura kesialan akan menghampiri kita. Jika masih berada di sini," lanjut Iren lagi yang langsung berdiri.


" Ayo Gilang!" ajak Iren.


" Iya ma," sahut Gilang berdiri dan melihat ke arah Rania dan menatap Rania dengan menyunggingkan senyum.


" Kamu akan menyesal setelah membatalkan pernikahan ini," ucap Iren sebelum pergi dia masih sempatnya mengutuk Rania dan pergi setelah menatap dengan sinis. Iren, Jaya, dan Gilang pergi terlebih dahulu.


" Kami permisi dulu," sahut Oma Wati yang juga pergi seakan penuh dengan kekecewaan. Faridah dan Rudi hanya mengangguk.


" Mbak, kami permisi dulu," sahut Ratih. Faridah hanya mengangguk dan Rendy juga pamit dengan sopan mencium tangan Faridah dan Rudi. Rendy hanya melihat Rania sebentar lalu dia pergi.


Setelah kepergian semua orang Rudi langsung berdiri dan melihat Rania dengan tatapan kebencian. Rania masih tetap pada posisinya yang menunduk.


" Jangan mentang-mentang kamu punya segalanya. Kamu mau suka-suka dalam bertindak. Kamu pikir kamu siapa," tunjuk Rudi dengan penuh emosi. Rania mengangkat kepalanya dan melihat sang papa.


" Papa tidak mengerti apa yang aku rasakan. Makanya papa bisa bicara seperti itu," sahut Rania yang langsung berdiri dan langsung pergi. Dia sangat tidak ingin harus ribut dengan Rudi.


" Rania!" panggil Rudi dengan berteriak.


" Mas, sudah," sahut Faridah.


" Lihat anak itu. Dia benar-benar kurang aja. Apa gunanya kamu mempersiapkan pernikahan. Tetapi ulahnya seperti itu, dia hanya mempermainkan kamu apa kamu tidak sadar dengan perbuatannya!" teriak Rudi.


" Mas, pasti ada masalah besar sampai Rania seperti itu. Jadi cukup Mas. Jangan membuat sesuatu hal yang tidak ada gunanya," sahut Faridah.


" Kamu sama saja. Selalu membelanya," sahut Rudi kesal. Lalu langsung pergi. Ratih terlihat memijat kepalanya atas apa yang terjadi dia juga tidak habis pikir dengan keputusan putrinya.


***********


Rania masuk kedalam kamarnya dan langsung menjatuhkan diri di ranjang dengan telungkup. Rania menangis sengugukan. Hatinya jelas sakit mendapatkan kata-kata yang sangat kasar itu. Tetapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa menerima saja.

__ADS_1


Krekkk.


Faridah membuka pintu kamar Rania dan melihat Rania ada di sana. Faridah langsung masuk dan duduk di samping Rania dengan mengusap-usap rambut Rania.


" Apa ini benar-benar keputusan kamu?" tanya Faridah dengan lembut. Rania hanya menganggukkan kepalanya.


" Kenapa sayang?" tanya Farida.


" Maaf ma, maafkan Rania, Rania sudah mengecewakan mama. Rania sudah membuat semuanya berantakan. Maafkan Rania ma. Di saat pernikahan itu akan terlaksana. Tetapi Rania malah membatalkannya. Maafkan Rania ma," ucap Rania yang merasa bersalah.


Karena memang mamanya sangat bersemangat dalam mengurus pernikahannya.


" Kamu pasti punya alasan bukan. Untuk mengakhiri pernikahan itu?" tanya Faridah Rania mengangguk.


" Sudahlah, lupakan semuanya. Lagian undangan juga belum di sebar. Jadi tidak ada masalah," sahut Faridah.


" Rania, kamu punya pilihan sendiri untuk hidup kamu dan pernikahan ini juga pilihan kamu. Jadi mama hanya menyerahkan semuanya kepada kamu. Karena kamu yang tau bagaimana perasaan kamu. Jadi semua itu adalah urusan kamu," ucap Faridah dengan bijak. Rania hanya menangis terus dengan terisak-isak. Yang merasa bersalah kepada mamanya.


Ternyata di sisi lain Willo berada di balik pintu menguping pembicaraan mamanya dan Rania. Willo tersenyum miring dengan ke-2 tangannya berada di dadanya.


" Jadi dia membatalkan pernikahannya. Kalau begitu kamu akan mendapatkan bonus dari perbuatanmu," batin Willo yang tampaknya punya rencana untuk adiknya itu.


**********


Pagi hari kembali tiba. Rania memang bukan tipe yang suka mewek-mewekan. Dengan dress Cream panjang sampai semata kakinya dengan lengan balon yang juga berlengan panjang. Rambutnya di ikat satu dengan lurus memanjang.


Rania keluar dari kamarnya dengan elegan dan kemewahan jelas di tubuhnya. Wanita karir itu memang selalu berpenampilan menarik.


Rania langsung menuju mobilnya. Walau mobilnya sudah masuk kedalam jurang. Tetapi jelas dia masih memiliki mobil lagi untuk berkendara. Rania tampak buru-buru sepertinya dia ada rapat mendadak dan Rania langsung buru-buru menyalakan mesin mobilnya.


**********


Tidak berapa lama Rania pun sampai ke perusahaan tempatnya bekerja. Saat turun dari mobil. Ternyata Rania bersamaan datang dengan Monica yang juga mobilnya terparkir dekat dengannya.


Rania yang sibuk dengan ponselnya dan tidak sengaja melihat wanita yang kemarin ketangkap dengan calon suaminya. Ternyata Monica juga menghentikan langkahnya ketika secara kebetulan mereka bersamaan. Ke-2 wanita itu saling melihat.


" Apa yang akan di lakukannya setelah ini. Apa dia akan marah-marah dan memaki-maki ku," batin Monica yang penasaran dengan tindakan Rania setelah melihatnya.


Tetapi tampaknya Rania sudah menganggap masalah itu sudah selesai dan dia juga sudah tidak peduli lagi dan Rania memutuskan untuk pergi dari hadapan Monica.


" Sial, rencanaku benar-benar berantakan dan dia pasti dia akan semakin merajalela," batin Monica menyibak rambutnya kebelakang.


*********


Rania memasuki ruangannya, lalu duduk di kursi kerajaannya dan tidak berapa lama Astri sang Asisten memasuki ruangan itu dan langsung menghadap Rania.


" Ini Bu!" ucap Astri yang memberikan agenda pekerjaan untuk Rania dan Rania langsung mengambilnya.


" Nanti malam jam berapa?" tanya Rania.


" Acaranya di mulai jam 8," jawab Astri.


" Baiklah, kamu siapkan saja semuanya dan ingatkan saya untuk datang ke ulang tahun perusahaan," ucap Rania.


" Baik Bu," sahut Astri, " oh iya Bu bagaimana dengan undangan pernikahan. Apa sudah bisa saya sebar?" tanya Astri membuat Rania melihat ke arahnya yang tampaknya memang Astri tidak tau apa-apa.


" Pernikahannya tidak jadi. Jadi kamu cansel semuanya dan urusan semua yang sudah di urus mama," jawab Rania dengan cepat dan Astri mendengarnya kaget. Walau sudah biasa di dengarnya.


" Kamu bisa melakukannya?" tanya Rania.


" Iya, bisa Bu," jawab Astri dengan cepat.


" Apa nanti malam juga akan ada wartawan?" tanya Rania.


" Benar Bu. Nanti malam akan banyak media yang meliput acara Perusahaan," jawab Astri.


" Lalu mereka tidak tau kan. Rencana pernikahan ku?" tanya Rania sedikit was-was.

__ADS_1


" Saya rasa tidak. Karena sesuai dengan arahan Ibu kemarin. Bahwa saya masih merahasiakannya. Jangan kan wartawan orang kantor juga tidak ada yang tau," jawab Astri dengan yakin.


" Baguslah kalau begitu. Kamu pastikan semuanya jangan ada yang salah lagi. Dan kamu pastikan wartawan tidak menyinggung ke arah sana," ucap Rania menegaskan yang mencoba jaga-jaga.


" Baik Bu," sahut Astri dengan menundukkan kepalanya.


" Kamu ingatkan saya, sebelum pergi ke acara itu. Untuk mengecek ekspor ke gudang," ucap Rania.


" Baik Bu," sahut Astri hanya mengangguk saja.


" Kalau begitu saya permisi dulu Bu," sahut Astri pamit.


" Hmmm," jawab Rania mengangguk. Astri pun akhirnya keluar dari ruangan kerja bosnya itu.


" Aku berharap masalah ini benar-benar akan selesai dengan baik dan tidak ada masalah lagi. Apa lagi masalah pernikahan ini yang semoga tidak akan memperbesar masalah," batin Rania yang hanya bisa berharap terus menerus.


************


Rumah sakit.


Operasi yang di tangani Rendy kali ini sudah selesai dan Alhamdulillah pasiennya terselamatkan.


Rendy membuka pakaian operasinya dan langsung, dari masker, penutup kepala dan sampai pakaian operasinya. Rendy seperti biasa akan mencuci tangannya terlebih dahulu.


Dratt-dratt-drattt


Ponselnya berdering dan Rendy langsung mengangkatnya yang tak lain adalah panggilan masuk dari Zahra.


...📞" Assalamualaikum," sapa Rendy....


...📞" Walaikum salam, Rendy," sahut Zahra....


...📞" Ada apa Zahra?" tanya Rendy....


...📞" Kamu bisa tolongin aku tidak. Mobil aku mogok. Aku tidak bisa pulang. Katanya Nia lagi lagi tidak bisa jemput. Karena lagi ada tugas," sahut Zahra yang terlihat panik....


...Rendy melihat arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore....


...📞" Hmm, baiklah kamu di mana?" tanya Rendy....


...📞" Aku di perusahaan," sahut Zahra....


...📞" Baik, aku kesana. Tapi sebentar lagi ya," ucap Rendy....


...📞" Iya, aku tunggu ya Rendy. Maaf merepotkan," sahut Zahra....


...📞" Iya," jawab Rendy....


...📞" Assalamualaikum," ucap Zahra....


...📞" Walaikum salam," sahut Rendy yang menurunkan hanphonenya dari telinganya....


**********


Rania begitu sibuk hari ini bekerja. Karena meninggalkan sehari pekerjaannya. Rania harus ekstra bekerja seharian. Seperti saat ini Rania sibuk berada di dalam gudang untuk memeriksa beberapa barang ekspornya.


Rania hanya sendiri yang bekerja dengan serius dengan memegang pulpen dan mencatat beberapa hal penting yang di lapisi dengan papan ujian.


Padahal hari sudah semakin sore tetapi dia masih terus sangat sibuk. Dengan pekerjaannya yang semakin banyak. Astri memang punya kesibukan lain. Jadi Rania harus turun tangan sendiri.


Di tengah keseriusannya di dalam gudang yang sepi itu tiba-tiba. Rania yang menulis menghentikan tulisan itu dengan ekor matanya yang bergerak-gerak kesamping seperti merasakan ada sesuatu. Rania mendengar suara langkah dan membuatnya mengangkat kepalanya dan melihat ke belakangnya yang benar-benar kosong.


Kepala Rania juga berkeliling melihat di sekitarnya yang juga tidak ada siapa-siapa tetapi seperti ada suara berjalan yabg di dengarkan Rania.


" Siapa di sana apa ada orang?" tanya Rania yang seketika menjadi panik.


Tidak ada jawaban dan tempat itu tetap hening namun suara langkah itu tetap kedengaran.

__ADS_1


" Kenapa aku merasa seperti ada orang di ruangan ini. Padahal hanya ada aku sendiri di ruangan ini," batin Rania seketika merasakan gelisah dan wajahnya tidak bisa bohong jika dia sangat panik.


Bersambung


__ADS_2