Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 207 Air mata suami.


__ADS_3

Setelah sholat dan berdoa pada sang pencipta akhirnya mereka kembali menunggu di depan ruang operasi Rania. Mereka masih begitu tegang menunggu hasil operasi Rania. Sampai 4 jam operasi dan akhirnya lampu ruang operasi hijau yang memberi tanda bahwa operasi benar-benar sudah selesai. Namun hasilnya tidak ada yang tau.


Rendy yang di dalam ruang Raung operasi meneteskan air matanya saat melihat janin berada di dalam wadah yang terangkat dari dalam rahim istrinya. Usia kandungan 4 bulan. Janin itu masih sangat kecil. Rendy pasti terpukul dengan apa yang di lihatnya. Lalu bagaimana Rania. Rania pasti akan jauh lebih terpukul lagi.


Beberapa kali dia mencium lembut kening Rania yang masih tertidur karena pengaruh obat bius.


" Insyallah sayang Allah akan memberi kita kepercayaan setelah kamu sembuh. Allah akan segara mengangkat penyakit kamu. Agar kamu bisa sembuh Rania dan kita pasti akan menjadi orang tua," bisik Rendy di telinga istrinya. Terlihat butir air mata menetes dari pelupuk mata itu.


Walaupun Rania tidak sadar. Tetapi mungkin dia bisa merasakan apa yang terjadi dan bisikan dari suaminya itu juga pasti terdengar di telinganya. Makanya air mata itu menetes. Rendy mencium lembut pipi Rania yang mengeluarkan air mata itu. Dia harus jauh lebih kuat di bandingkan istrinya. Karena hanya dengan itu yang memberikan kekuatan untuk Rania hanya suaminya yang akan memberinya kekuatan.


**************


Operasi berhasil. Janin itu pun sudah di kubur di pemakaman keluarga di samping makam almarhum ayah dari Rendy. Walau hanya janin tetapi tetap di makamkan oleh Rendy dan Rendy sendiri yang melakukannya sendiri.


Untuk kondisi Rania lumayan pulih walau selesai operasi Rania sempat tidak sadar sampai 8 jam kedepan. Tetapi dia sudah sadar dan merasa jauh lebih baik. Karena memang janin yang ada di rahimnya yang membuat kondisinya melemah. Setelah ini Rania juga akan menjalani perobatan yang lebih serius. Agar kanker rahim yang di deritanya benar-benar tidak ada lagi.


Rania yang bersandar di kepala ranjang dengan sandaran bantal di punggungnya agar tubuhnya nyaman. Rania hanya duduk dengan tangannya yang berzikir. Tidak ada orang di rumah sakit. Karena memang lagi pulang sebentar.


Krekkk. Pintu ruang perawatan itu terbuka yang ternyata memperlihatkan Rendy yang datang dengan membawa Boucket bunga mawar merah dan juga kantung plastik uang sepertinya berisi makanan.


Rania yang melihat hal itu tersenyum. Rendy langsung menghampiri Rania yang pasti sudah menunggunya sejak tadi.


" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Rendy yang mencium lembut kening istrinya.


" Aku baik-baik saja," jawab Rania tersenyum. Rendy duduk di samping Rania di hadapan istrinya itu dan langsung memberikan bunga yang di bawanya untuk Rania yang membuat Rania tersenyum lebar.


" Makasih," ucap Rania. Rendy mengangguk dan kembali mencium kening istrinya.


" Kamu suka?" tanya Rendy. Rania mengangguk yang memang pasti menyukai hal itu. Rendy tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Rania. Wajah Rania boleh saja tersenyum. Tetapi senyum itu hanya menutupi apa yang terjadi padanya. Menutupi kesedihannya.


Sama dengan Rendy yang juga tau apa yang di rasakan istrinya. Sebagai suami dia hanya berusaha membuat istrinya bahagia dan terus tertawa. Dia tidak ingin Rania sedih dengan berlarut-larut.


" Kamu bawa makanan?" tanya Rania.

__ADS_1


" Memang kamu mau makan?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Baiklah, aku memang membawanya," sahut Rendy yang membuka kantung plastik yang berisi makanan itu. Rania meletakkan boucket yang sedari tadi di hirupnya aromanya di atas nakas.


" Apa itu?" tanya Rania yang begitu penasaran dengan makanan itu.


" Gado-gado, kesukaan kamu," jawab Rendy.


" Makasih sudah membelikannya," sahut Rania. Rendy mengangguk dan langsung menyendokkan pada istrinya dan Rania membuka mulutnya langsung untuk memakan suapan pertama itu.


" Enak?" tanya Rendy. Rania mengangguk dengan cepat.


" Kurang pedas sedikit," ucap Rania yang mengkomentari.


" Benarkah!" sahut Rendy


" Kamu coba deh, kurang pedas kan," ucap Rania yang langsung membelokkan sendok pada suaminya menyuruh suaminya untuk mencicipi makanan itu.


" Iya benar kurang pedas," jawab Rendy, " nanti kalau beli lagi. Aku akan beli sedikit pedas," jawab Rendy.


" Iya sayang," sahut Rendy. Rania tersenyum dan kembali menikmati makanan yang di berikan suaminya itu.


*************


Selesai makan bersama Rendy Rania dan Rendy sekarang sama-sama berada di atas tempat tidur tidur kecil itu yang berbaring mesra. Di mana Rania yang berada di pelukan suaminya dan Rendy mengusap-usap pucuk kepala Rania.


" Kapan aku bisa pulang?" tanya Rania.


" 2 atau 3 hari lagi," jawab Rendy.


" Lama sekali menunggunya," keluh Rania yang kelihatan sudah begitu bosan.


" Anggap saja kamu sedang menemani suamimu bekerja," sahut Rendy.

__ADS_1


" Memang boleh kalau setiap hari aku ikut menemanimu bekerja?" tanya Rania.


" Pasti boleh. Aku juga akan lebih semangat kalau kamu menemaniku tiap hari kerumah sakit," jawab Rendy.


" Benarkah?" tanya Rania.


" Iya sayang," sahut Rendy yang mencium pucuk kepala Rania.


" Hmmmm, aku ada sesuatu untukmu," ucap Rania yang membuat Rendy menoleh kearahnya, melihat Rania yang mengambil dari bawah batalnya.


" Ini," ucap Rania memberikan amplop pink yang di bentuk menjadi love yang bisa di buka.


" Surat lagi?" tebak Rendy. Rania mengangguk.


Rendy langsung mengambilnya dengan tersenyum. Rendy juga pasti langsung membacanya dan apa lagi jika isinya pasti. itu-itu saja. Ungkapan cinta, rasa terima kasih dengan kata-kata romantis yang pasti sudah di hafal Rendy. Walaupun ada beberapa kata-kata yang berbeda dan bertambah. Yang pasti intinya adalah ungkapan cinta.


" Terima kasih untuk suratnya," ucap Rendy mencium kening Rania.


" Sama-sama," jawab Rania tersenyumlah lebar dan mengeratkan pelukannya pada Rendy.


" Sayang aku minta maaf," ucap Rania tiba-tiba.


" Minta maaf soal apa?" tanya Rendy dengan mengkerutkan dahinya.


" Aku belum siap untuk kemakam anak kita. Maafkan aku," jawab Rania dengan suara yang tertahan.


" Aku mengerti. Kamu jangan memaksakannya jika kamu memang belum siap. Nanti saja kalau sudah siap. Kita akan kesana," ucap Rendy.


" Makasih ya kamu sudah ada di sampingku selama ini. Kamu menemaniku melewati masa-masa sulit ini," ucap Rania.


" Itu memang harus Rania. Bukan hanya sekarang. Tapi sampai kedepannya. Aku akan terus ada di sisi mu. Kita akan berjuang sama-sama untuk menghadapi semua ini. Kita berdoa dan sama-sama ikhtiar. Percayalah semuanya akan baik-baik saja," sahut Rendy yang tidak henti-hentinya memberikan istrinya semangat yang begitu besar.


" Maafkan aku sayang. Aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu," batin Rania meneteskan air matanya. Dia akan lemah jika menyadari kekurangannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2