Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 158 Kebahagian yang double-double.


__ADS_3

Rania dan Rendy pun menyempatkan diri untuk mampir kerumah Rudi untuk memberikan kabar bahagia atas kehamilan Rania dan memang Rudi begitu bahagia dengan kabar kehamilan itu. Di sana juga ada Willo, di mana mereka semua di kamar Willo yang sekalian Rendy memeriksa kesehatan Willo.


" Papa berdoa semoga saja kandungan kamu dan kamu nya sehat terus ya," ucap Rudi.


" Makasih ya pah," sahut Rania.


" Kalau sudah tau hamil jangan kerja lagi, memang suami kamu tidak mampu apa membiayai hidup kamu, makanya harus kerja segala," sahut Willo dengan ketus. Kata-katanya begitu ketus. Namun terselubung perhatian yang di sembunyikan.


Rendy dan Rania saling melihat mereka sama-sama mengeluarkan senyum tipis dengan kata-kata Willo yang memperhatikan Rania hanya saja Willo masih gengsi makanya sangat ketus bicara.


" Aku bicara serius, kalian malah senyum-senyum. Sebelum lulu dan Dedi lahir mereka dulu pernah di kandung di dalam perutku. Jadi apa yang aku katakan benar, jangan main kerja-kerja aja. Terjadi sesuatu baru tau rasa," sahut Willo dengan cerewetnya pada Rania.


" Iya kak, terima kasih sarannya. Aku akan pertimbangkan apa yang kakak sarankan," sahut Rania.


" Jangan di pertimbangkan aja, di laksanakan, ingat kamu itu hamil, jadi pikirkan bayinya. Jangan mikir diri sendiri," sahut Willo lagi.


" Makasih ya kak Willo sudah mengingatkan Rania," sahut Rendy.


" Itu juga berlaku untuk kamu, kamu juga jadi suami harus punya waktu 24 jam untuk istri kamu, jangan cuek terus," sahut Willo yang langsung menyambar Rendy.


" Iya, aku akan melakukannya," sahut Rendy yang lama-kelamaan bisa takut dengan Willo.


" Ya sudah Rania, kamu dengarkan kata kakak kamu, dan juga Rendy kamu juga harus menjaga Rania," sahut Rudi dengan tersenyum.


" Iya pah," sahut Rania dan Rendy dengan serentak. Rudi merasa begitu bahagia dengan ke-2 anaknya yang sekarang semakin akur.


" Ya Allah terima kasih untuk semua kebahagian ini, aku tidak percaya perlahan-lahan Willo bisa berubah dia semakin dewasa. Ini juga berkat Rania yang begitu sabar kepadanya," batin Rudi yang sekarang merasa hidupnya jauh lebih plong.


*********


Sekarang hanya Willo dan Rania yang ada di kamar. Rendy dan Rudi mungkin sedang mengobrol di ruang tamu atau di mana mereka juga tidak tau.


" Ya sudah kakak istirahat ya, Rania harus pulang, soalnya sudah malam," ucap Rania menarik selimut sampai ke dada Willo.


" Kamu sudah beritahu Della dengan kehamilan kamu?" tanya Willo.

__ADS_1


" Belum kak," jawab Rania menjeda sebentar omongannya, " rencananya besok aku sama Rendy mau menjenguk Della ke pesantren kakak mau ikut tidak?" tanya Rania.


" Ya sudah kalau papa ikut aku juga iku. Tapi aku minta tolong untuk kamu bantuin bibi siapin Lulu dan Dedy, mereka tidak mungkin tinggal," ucap Willo.


" Pasti Kak, kakak telpon saja besok kalau jadi ikut, aku sama Rendy akan datang lebih cepat," sahut Rania. Willo hanya mengangguk saja.


" Ya sudah aku pergi dulu," sahut Rania.


" Tunggu Rania!" cegah Rendy.


" Iya kak ada apa?" tanya Rania. Willo membuka laci dan mengeluarkan benda dari dalamnya yang berupa kunci mobil.


" Ini mobil kamu aku sudah mengambilnya kembali. Mobil yang pernah aku jual tanpa sepengetahuan kamu," ucap Willo memberikan Rania kunci mobil yang pernah membuat mereka perang. Rania sampai bengong yang tidak percaya jika Willo menebus mobil itu.


" Kamu kenapa diam ayo ambil!" sahut Willo.


" Kakak seharusnya tidak menebusnya. Lagian aku juga sudah melupakan mobil itu," sahut Rania.


" Ahhhh, sudahlah orang sudah terlanjur juga. Lagian kemarin kamu bilang mobil itu kesayangan kamu," sahut Willo yang masih ketus-ketus aja kalau bicara.


" Apaan sih, orang uang kamu juga, udah buruan ambil, capek tangan mengangin mulu nih kunci," sahut Willo kesal. Rania tersenyum mengangguk dan akhirnya mengambil kunci mobil itu.


" Makasih ya kak," sahut Rania yang merasa haru.


" Hmmmm," sahut Willo.


" Ya sudah aku keluar dulu. Kakak istirahatlah," ucap Rania.


" Iya," sahut Willo," Rania tersenyum dan akhirnya keluar dari kamar.


**********


Rania keluar dari kamar Willo dan mencari di mana keberadaan suaminya yang ingin mengajaknya untuk pulang.


" Di mana Rendy, kenapa hilang mendadak?" ucap Rani yang terlihat mencari-cari keberadaan Rendy. Rania sudah mencari di ruang tamu, namun tidak menemukannya sama sekali.

__ADS_1


Rania terus melangkah mencari suaminya. Rania melewati Musollah yang ada di rumahnya. Rania yang sudah lewat kembali mundur lagi yang ternyata Rania melihat suaminya dan papanya yang sedang melaksanakan sholat.


Rania langsung begitu terharu saat melihat papa dan suaminya yang melaksanakan sholat berjamaah.


" Ya Allah apa ini sungguh apa aku tidak salah lihat jika papa dan Rendy sekarang sedang sholat bersama, ya Allah terima kasih untuk karunia yang kau berikan hari ini. Kau telah memberikanku suami yang begitu baik, terima kasih ya Allah, terima kasih untuk semuanya," batin Rania yang tersenyum dengan meneteskan air matanya yang tidak menyangka bisa melihat perubahan kepada papanya.


Dia harus mengakui kehadiran Rendy di dalam hidupnya memberikan banyak perubahan kepadanya. Keluarganya yang dulu jauh dari Tuhan sekarang perlahan mendekat. Tanpa Rendy pernah menyuruhnya. Hanya saja pengaruh Rendy di dalam hidupnya memang sangat besar.


Apa lagi melihat papanya yang sekarang lebih lembut bicara, dia bahkan berhasil menjadi orang tua penengah dan sekarang suaminya dan papanya sedang sholat berjamaah di mana Rendy yang menjadi imamnya yang membuat keteduhan tersendir di dalam hatinya.


**********


Anisa sedang mencuci piring di dalam dapur.


" Anisa!" panggil Ratih saat memasuki dapur.


" Iya Tante?" tanya Anisa yang menoleh kebelakang.


" Kamu sudah cuci buah yang tadi kita beli?" tanya Ratih.


" Hmmm, belum, Tante masih di dalam kulkas," sahut Anisa.


" Ya ampun, kok di masukin kekulkas," sahut Ratih langsung berjalan menuju kulkas dan mengambil buah-buahan yang di maksudnya. Anisa hanya heran melihat Ratih yang terlihat panik.


" Aduh, buahnya ngga akan bisa di makan Rania lagi," sahut Ratih yang ternyata menjadi alasannya panik karena Rania. Anisa mendengarnya hanya bertambah kesal saja.


" Memang kenapa Tante kalau buahnya di masukin ke dalam kulkas?" tanya Anisa.


" Sudah tidak segar Anisa, ini untuk Rania soalnya," jawab Ratih, " Ya sudah Tante akan beli yang baru lagi," sahut Ratih.


" Tante tapikan baru di masukin kekulkas, kenapa harus beli baru," sahut Anisa.


" Nggak apa-apa, lagian biar segar aja," sahut Ratih.


" Hanya itu saja, tapi Tante Ratih langsung sibuk membeli yang baru," batin Anisa dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2