
Sebelum berangkat kerja Rendy dan Rania mampir kerumah Rudi untuk melihat kondisi Willo. Di mana sekarang Rendy sedang memeriksanya, sementara Rania dan Rudi berdiri melihat Rendy memeriksa Willo.
" Kamu harus banyak terapi. Karena banyak kemungkinan kaki kamu akan sembuh," ucap Rendy. Rania dan Rudi sama-sama tersenyum saling melihat.
" Bukannya kau mengatakan aku lumpuh total. Lalu kenapa aku bisa sembuh, kau menakut-nakutiku," ucap Willo yang sekarang malah memarahi Rendy.
" Willo, kamu itu apa-apaan sih, jangan bicara seperti itu pada Rendy," tegur Rudi.
" Papa dengar sendiri dia yang mengatakan aku lumpuh permanen dan sekarang mengatakan akan bisa sembuh," sahut Willo.
" Namanya juga mukjizat kak, mana ada yang tau dan salah satu mempercepat kesembuhan itu dengan cara mengurangi marah-marah. Agar saraf kita berfungsi dengan baik," sahut Rania.
" Sok tau kamu, memang kamu Dokter," sahut Willo ketus.
" Kan istri Dokter," sahut Rania singkat. Hal itu hanya membuat Willo kesal.
" Sudah-sudah kalian jangan berantam, Willo kamu ikuti saja apa yang di katakan Rendy. Dan lihat semenjak Rendy yang menangani kamu. Kamu sudah mulai ada perubahan dan benar kata Rania jangan marah-marah terus. Nanti kesembuhan kamu semakin lama," ucap Rudi yang memberi pengertian pada Willo.
" Iya," sahut Willo dengan terpaksa. Rania tersenyum tipis melihat kakaknya yang tumben-tumbennya langsung mengatakan iya. Padahal kalau Rudi membela Rania sedikit. Willo langsung tidak terima, namun ini langsung mengatakan iya.
" Ya sudah pah, kalau begitu aku dan Rania pamit dulu," ucap Rendy yang langsung berdiri.
" Iya Rendy, makasih ya, kamu sudah sempatin waktu untuk datang kemari," ucap Rudi merasa bahagia.
" Sama-sama Pak. Willo jangan lupa kamu minum obatnya dengan teratur," ucap Rendy berpesan.
" Heh, aku tidak siapa lebih tua aku atau kamu. Tapi aku kakak Rania, bukannya memanggil kakak. Malah seenaknya memanggil nama. Aku itu kakak iparmu dasar tidak punya sopan. Katanya ahli agama," sahut Willo dengan mulutnya yang tidak bisa diam marah-marah terus.
Rudi mendengar kata-kata Willo tersenyum. Rendy langsung melihat istrinya. Rania tersenyum dengan menggedikkan bahunya.
" Maaf kak Willo," sahut Rendy dengan lembut.
" Awas jika memanggilku nama lagi," desis Willo.
Rendy, Rania, dan Rudi, sama-sama tersenyum. Dari perkataan Willo. Sebenarnya Willo banyak berubah yang mungkin sudah menyadari semuanya. Namun dia masih gengsi aja untuk berbaikan dengan sempurna kepada Rania.
__ADS_1
" Ya sudah pah, Rania sama Rendy balik dulu," ucap Rania yang mencium punggung tangan papanya yang juga Rendy mencium punggung tangan kakaknya itu.
" Iya kalian hati-hati ya," sahut Rudi.
" Iya pah," sahut Rendy.
" Kak kami balik dulu. Kakak jaga kesehatan ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari kami," ucap Rania berpesan.
" Hmmm," sahut Willo yang hanya berdehem menjawab pertanyaan itu. Rania dan Rendy sama-sama tersenyum dan langsung pergi dengan bersamaan.
Rania dan Rendy menuruni anak tangga dengan tangan mereka yang saling berpegang erat.
" Apa kamu kesal di omeli sama kak Willo?" tanya Rania.
" Tidak, aku tidak kesal, justru aku melihat Willo banyak berubah," sahut Rendy.
" Kamu benar, kak Willo memang sangat banyak berubah, aku sangat bahagia melihat perubahannya dan ini semua berkat kamu," ucap Rania yang sudah menghentikan langkahnya dan menghadap suaminya.
" Kenapa harus mengatakan berkat ku? aku tidak melakukan apapun," ucap Rendy yang membelai-belai rambut istrinya.
" Benarkah?" tanya Rendy. Rania mengangguk. Rendy hanya tersenyum dengan lembutnya kata-kata Rania dan Rendy langsung mencium lembut kening Rania
Selesai mencium kening itu ternyata Rania ingin di cium yang lain dengan menunjuk pipinya. Rendy mendengus tersenyum dan langsung mencium pipi Rania. Dengan wajah yang berdekatan membuat Rendy harus juga mencium bibir Rania. Rendy memiringkan wajahnya yang ingin mencium bibir istrinya itu.
" Rania handphone kamu ketinggalan," sahut Rudi yang datang tiba-tiba. Rania dan Rendy kaget dan buru-buru saling menjauh. Namun Rudi hanya terdiam yang menangkap kemesraan anak dan menantunya.
" Papa tidak lihat apa-apa," sahut Rudi yang salah tingkah.
" Hhhh, memang ada apa," sahut Rania gugup dan sama-sama saling salah tingkah dengan Rendy.
" Ini handphone kamu!" ucap Rudi yang memberikan handphone Rania.
" Oh, iya pah," sahut Rania yang langsung mengambil handphonya dari Rudi.
" Hmmm, ya sudah papa masuk dulu, kalau kalian mau lanjut silahkan, di sini juga banyak kamar," ucap Rudi yang menggoda Rania dan juga Rendy yang membuat ke-2nya sama-sama malu.
__ADS_1
" Hahahaha, tidak perlu pa," sahut Rania tertawa kecil.
" Papa pergi dulu," sahut Rudi yang langsung pergi. Rania menganggukan kepalanya dan Rudi pergi tanpa ingin mengganggu anak dan menantunya yang padahal dia sudah mengganggunya.
Rania dan Rendy sama-sama membuang napas perlahan kedepan yang mana mereka sama-sama saling salah tingkah.
" Kamu sih," ucap Rania menyalahkannya suaminya.
" Kok aku, kamu yang minta," sahut Rendy dengan mengkerutkan dahinya.
" Ya kan kamu yang pancing. Jadi itu kesalahan kamu," sahut Rania.
" Nggak bisa gitu dong Rania," sahut Rendy yang kali ini tidak mau di salahkan.
" Ishhhh, kamu tetap salah," geram Rania. Rendy menggeleng yang tidak mau mengalah.
" Ya sudah aku yang salah," sahut Rania kesal yang langsung berjalan terlebih dahulu.
" Ada-ada saja," ucap Rendy geleng-geleng melihat Rania yang baru pertama kali ngambek.
*********
Di dalam kamar Willo memijat-mijat kakinya.
" Benar tidak kata Rendy kalau akan bisa sembuh," ucapnya yang masih kurang percaya dengan Rendy.
" Ya semoga saja memang benar aku bisa sembuh, siapa tau dia hanya memberiku harapan palsu," sahut Willo.
" Aduh kenapa tidak bicara banyak dengan Rania tadi. Lagian dia pergi begitu saja. Katanya tidak akan meninggalkan apa buktinya dia pergi juga. Padahal aku masih ingin bicara dengannya. Nanti kalau aku minta maaf dengannya ada papa dan suaminya kan aku malu," oceh Willo yang ternyata punya niat baik pada Rania.
" Argggghhh, sudahlah Willo, emang Rania sendiri yang tidak pekak, biarin aja suka-sukanya dia sih nempel-nempel terus sama suaminya kan terakhir aku tidak bicara dengannya ya salahnya sendiri," Willo terus mengoceh sendiri.
" Yang penting aku harus rajin terapi dan minum obat. Agar aku bisa sembuh kembali," batin Willo yang semangat untuk hidup telah kembali.
Bersambung
__ADS_1