
Hujan masih mengalir begitu deras. Tetapi Rania sudah berada di dalam mobil Rendy dengan tubuhnya yang pasti menggigil. Sementara Rendy tidak ada di sampingnya dan Rania hanya memeluk tubuhnya yang kedinginan dengan beberapa kali membuang napasnya kedepan mungkin trik untuk menghilangkan rasa dingin di tubuhnya.
Tiba-tiba Rendy datang dengan menggunakan payung dan langsung memasuki mobil dengan membawakan paper bag berwarna orens yang tidak tau apa isinya, meletakkan paper bag itu di bangku belakang.
Rendy melihat sebentar ke arah Rania yang diam dan memeluk tubuhnya. Yang dia tau pasti Rania begitu kedinginan.
" Kamu harus ganti baju. Kita akan mencari tempat untuk berganti pakaian. Jika tidak kamu bisa masuk angin," ucap rendy.
" Tapi mana pakaiannya?" tanya Rania.
" Ada di belakang," jawab Rendy mengarahkan kepalanya kebelakang. Dan Rania juga melihat yang mungkin isi paper bag tersebut memang adalah pakaian.
" Kenapa tidak ganti di sini saja," sahut Rania dan Rendy langsung melihat ke arahnya dan menatap Rania heran. Dan sedikit melotot.
" Maksudku. Kamu keluar aku akan menggantinya di dalam mobilmu," sahut Rania dengan cepat sebelum Rendy salah paham yang mungkin berpikiran jika dia terlalu memaksakan.
" Tidak baik. Mungkin saja hanya terlihat jika tidak akan terlihat dari luar. Tetapi kaca mobil belum tentu tidak terlihat apa yang ada di dalam. Dan untuk menjaga semua itu sebaiknya mengganti di tempat yang aman. Di dekat sini ada Mmasjid kamu bisa mengganti pakaian di sana," ucap Rendy.
" Ohhhh, begitu rupanya. Baiklah memang lebih aman seperti itu," sahut Rania yang sepertinya sedikit malu. Rendy pun mengangguk saja.
Lalu Rendy pun langsung menyetir mobilnya dengan kecepatan santai dan memang tidak jauh. Mereka sudah menemukan masjid.
Rendy mematikan mesin mobilnya ketika berada di parkiran mesjid dan Rendy mengambil paper bag yang tadi di bawanya.
" Gantilah! pakaianmu!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan mengambil paper bag tersebut.
" Lalu kamu bagaimana? bukannya pakaian mu juga basah? kamu juga harus menggantinya bukan?" tanya Rania yang khawatir dengan Rendy.
" Iya aku akan menggantinya, ayo turunlah," sahut Rendy. Rania mengangguk dan mereka sama-sama keluar dari mobil.
__ADS_1
Rania dan Rendy memasuki masjid dengan arah yang berbeda yang pasti arah kamar mandi masing-masing. Karena tidak mungkin 1 kamar mandi.
Tidak berapa lama Rania sudah mengganti pakaiannya. Ternyata dress panjang sampai mata kaki yang di belikan Rendy cocok untuknya. Dress berlengan panjang dengan tali di bagian pinggangnya yang langsung di ikat pita oleh Rania karena dia memang orangnya sangat preferksionis.
" Kenapa bisa pas seperti ini, bajunya benar-benar sangat cocok," batinnya yang melihat dirinya terus di cermin dengan rambutnya yang panjang yang basah. Dan mungkin hanya akan kering begitu saja. Karena tidak ada alat untuk mengeringkannya.
Rania pun keluar dari kamar mandi dan berjalan di teras masjid dan ternyata hujan masih saja tetap turun.
" Kita selalu mengeluh menyalahkan Allah apa kita tidak sadar dengan apa yang kita lakukan," langkah Rania terhenti ketika mendengar ceramah ustad yang sekitar 40 tahunan itu.
" Ya Allah kenapa aku harus seperti ini. Aku lelah. Kita selalu mengatakan lelah kepadanya. Kenapa harus mengeluh apa yang sudah kita perbuat sampai kita harus berani mengeluh. Nauzubillahminzalik. Jauhkan kata mengeluh kita haru melihat orang-orang di luaran sana jauh lebih menderita dengan apa yang kita punya. Tetapi lihat apakah mereka mengeluh. Tidak mereka tetap tegar dengan semua masalah yang terjadi kepada mereka.
" Ketahuilah wahai para muda-mudi. Alla tidak akan menguji hambanya melewati batas semampu hambanya,"
" Takdir, jodoh dan maut hanya Allah yang menentukan. Kamu lelah dengan Pria yang tidak kunjung mempersuntingmu. Kamu bertanya kenapa dia bisa bahagia. Dia bisa menikah dengan laki-laki yang sempurna sementara aku tidak,"
" Sebelum bertanya. Lihat lah diri kita sendiri. Apa yang kita miliki sampai kita ingin menuntut untuk di berikan pendamping. Para kaum muslimin yang di cintai Allah. Perbaiki diri, perbaiki amal. Karena jodoh sejatinya adalah cerminan diri,"
" Ya Allah kami hanya manusia yang penuh dosa. Kami jauh dari kata baik. Kami melakukan kesalahan. Ampuni kami. Izinkan kami memperbaiki diri. Berikan kami kesempatan untuk lebih dekat dengan mu. Kupasrahkan ya Allah. Takdir ku, hidupku, jodoh dan mautku di tanganmu. Karena sesungguhnya engkaulah yang memilikinya.
" Ampuni kami yang terus mengeluh tanpa sadar apa kami pantas untuk mengeluh,"
Ceramah ustad tersebut berhasil menyentuh hati Rania bahkan Rania meneteskan air matanya yang mungkin ceramah ustadz tersebut sebagai tamparan untuknya. Untuk menyadarkan dirinya atas apa yang terjadi padanya.
Suara hujan yang masih deras mampu mengalahkan suara indah ustadz yang yang berceramah yang sangat indah itu.
Ternyata Rendy yang berada di dalam mesjid yang setelah mengganti pakaiannya ikut mendengarkan ceramah dan Rendy melihat Rania yang berada di teras mesjid yang meneteskan air mata.
Dan tidak sengaja Rania yang menyeka air matanya juga melihatnya dan kembali mereka saling melihat dengan pembatas dingding yang terbuat dari kaca.
__ADS_1
Rendy menatap begitu dalam yang tidak tau apa artinya. Mungkin Rendy sudah beberapa kali melihat air mata Rania yang keluar. Dan mungkin Rendy juga bisa menilai bahwa air mata itu adalah rasa lelah yang mungkin tidak bisa di ucapkan.
" Semoga saja, anak-anak muda di sini. Bertemu dengan pasangan hidupnya, karena kita tidak tau di mana jodoh itu. Mungkin sangat dekat dengan kita," ucap ustadz tersebut dan Rendy dan Rania masih sama-sama saling melihat dengan Rania yang tetap meneteskan air mata.
" 15 menit lagi akan azand Zhuhur kita akan menunggu dengan bacaan Alquran," sahut ustadz tersebut dan Rendy langsung mengalihkan pandangannya. Dan membuang napasnya kedepan dengan perlahan yang mungkin sadar jika apa yang tadi diperbuatnya dosa.
" Kenapa aku tidak pernah sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku meminta terlalu banyak. Tetapi aku tidak memberikan apapun. Kamu memang pantas Rania mendapatkan semuanya, seharusnya kamu menyadari betapa kurangnya kamu," batin Rania yang sekarang baru tersadar.
Hujan sudah reda dan ternyata Rania berada di dalam mobil yang tertidur. Setelah melaksanakan sholat Ashar Rendy pun kembali kemobil dan melihat Rania yang tertidur lelap dengan kepala Rania yang miring kesamping tepat ke arahnya.
Rendy melihat wajah itu terlihat sendu dan bahkan wajah itu terlihat begitu kesepian. Rania membuka matanya perlahan dan langsung melihat Rendy yang masih melihatnya.
" Maaf sudah membuatmu bangun," ucap Rendy dengan lembut.
" Tidak apa-apa," jawab Rania yang langsung bangun dan melap-lap wajahnya yang mungkin sudah sembab.
" Minumlah!" ucap Rendy yang memberikan Rania minuman dan Rania pun langsung mengambilnya karena mungkin tenggorokannya sangat kering dan memang membutuhkan air.
" Kamu tidak sholat?" tanya Rendy Rania terdiam mendengarkan pertanyaan itu dan bahkan menghentikan minumnya dan melihat ke arah Rendy.
" Aku_ aku_," Rania gugup untuk menjawabnya dan tidak tau menjawab apa.
" Lupakan pertanyaanku. Minumlah dengan baik," sahut Rendy yang tampaknya tidak ingin membuat Rania tersinggung dan Rania pun kembali minum dengan perasaannya yang pasti sudah tidak enak.
Antara tidak enak atau malu dengan Rendy yang di tanya tetapi tidak bisa menjawab.
Rania juga pasti lupa kapan dia terakhir kali sholat. Dia juga mungkin lupa dengan bacaan sholat. Dunia yang di kejarnya mampu membuatnya benar-benar melupakan sang penciptanya.
" Hidupnya pasti sangat bahagia. Terlihat dari Zahra dan adiknya yang dari wajahnya begitu bahagia dan tenang. Apa memang benar. Jika kita dekat dengan Tuhan maka kita merasa selalu tenang dan tidak pernah kesepian," batin Rania yang menyadari lagi kembali. Bisa di katakan kehadiran Rendy seakan membuat pencerahan di dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung