Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 189 Cindy, Elang, Zahra.


__ADS_3

Tidak tau berapa lama Anisa menangis dan bahkan Agam sudah selesai dari kamar mandi dan Anisa masih tetap di tempat duduknya semula yang masih saja menangis.


" Anisa sudah dong kamu mau sampai kapan coba menagis terus," ucap Agam yang terlihat pusing.


" Tutup mulutmu ini semua gara-gara bajingan sepertimu," sahut Anisa yang kembali emosi tingkat dewa.


" Iya, aku dari tadi sudah mengakuinya. Anisa mau kamu menangis darah pun semuanya tidak akan kembali yang mengembalikan itu hanya keputusan dari kamu," sahut Agam yang jika bicara pasti selalu sangat santai.


" Diam lah Agam!" bentak Anisa.


" Oke, aku akan diam. Tapi mau sampai kapan kamu di rumahku. Kamu tidak melihat ini sudah malam. Apa kamu tidak pikir keluargamu akan mencarimu. Jadi jangan buat mereka juga tau tentang keberadaanmu dan kamu ada di mana," ucap Agam mengingatkan.


Anisa diam apa yang di katakan Agam memang benar. Pasti keluarga Rendy akan mencari-cari Anisa. Karena dari pagi Anisa telah pergi.


" ke kamar mandilah, aku akan menunggumu dan mengantarmu pulang," ucap Agam dengan lembut.


Anisa seakan tidak punya pilihan dia menarik selimut merekatkan pada tubuhnya dan langsung bangkit dari tempat tidur.


" Bajingan," ketus Anisa saat berdiri di depan Agam.


Anisa pun langsung menuju kamar mandi. Agam hanya menghela napas pelan ya memang dia bajingan. Lalu mau gimana lagi. Itu sudah terjadi dan dia menyadari hal itu dan menerima semua makian Anisa kepadanya.


Anisa harus meratapi nasibnya yang kehormatannya telah hilang begitu saja. Di dalam kamar mandi dia masih melanjutkan tangisnya. Duduk dibawah guyuran air shower. Anisa yang menggaruk-garuk tubuhnya yang begitu kotor baginya. Bahkan ujung kukunya yang tajam sampai melukai tubuhnya.


Anisa seakan tidak peduli lagi. Dia mau terluka atau tidak. Harga dirinya sudah hancur bersama mimpi-mimpinya. Kehormatan yang di jaga telah hilang tanpa ikatan pernikahan.


" Bajingan kamu Agam, brengsek kamu Agam, bangsat kamu Agam," teriak Anisa mengumpat di kamar mandi dengan penuh kemarahan dan sangat membenci dirinya sendiri.


Suara itu terdengar oleh Agam yang ternyata membersikan kamar itu, mengambil pakaian yang berserakan di lantai, baik miliknya dan juga Anisa. Agam hanya menatap sendu kamar itu yang lagi-lagi dia pasti menyesal dengan apa yang di lakukannya.


" Iya aku memang bajingan dan caraku salah, aku minta maaf," batin Agam.


***********

__ADS_1


Lain Anisa yang meratapi nasib kehancurannya. Ternyata Zahra dan Elang sedang berada di pusat oleh-oleh di Bali. Membeli beberapa makanan khas Bali untuk di bawa pulang ke Jakarta.


Mereka berjalan ber-2an dengan Elang yang memegang keranjang dan Zahra yang memilih-milih mengelilingi rak-rak tersebut.


" Ini mau tidak?" tanya Zahra memperlihatkan keripik.


" Hmmm, boleh," sahut Elang.


" Berapa?" tanya Zahra.


" Ambil 3 saja," jawab Elang. Zahra mengangguk dan mengambil 3 lalu memasukkan ke dalam keranjang mereka memilih-milih lagi yang harus di bawa pulang untuk besok.


" Yang itu juga boleh. Kayaknya enak!" tunjuk Elang.


" Hmmm, baiklah," sahut Zahra yang memasukkan apa yang di pilih Elang.


Saat memilih tiba-tiba Zahar dan Elang yang berjalan bersama berpapasan dengan Cindy yang juga berada di tempat itu. Di mana Elang dan Zahra sama-sama menghentikan langkah mereka dan sama dengan Cindy yang berhenti yang kurang lebih 5 meter dari Elang dan Zahra.


Elang meraih tangan Zahra menggenggamnya erat yang membuat Zahra bingung dan Elang langsung membawa Zahra pergi dari hadapan Cindy. Zahra hanya kebingungan dan mengikut saja Elang membawanya kemana yang ternyata ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.


" Elang, kenapa pergi. Bukannya kita belum selesai?" tanya Zahra dengan tangannya yang masih tetap di pegang Elang.


" Cari tempat lain saja," sahut Elang yang akhirnya melepas tangan itu, mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaan itu. Setelah membayarnya Elang mengambil kantung plastik itu dan kembali meraih tangan Zahra menggengamnya lagi dan membawanya pergi.


" Apa yang terjadi pada Elang, kenapa dia dan Cindy tidak bicara sama sekali dan Elang kenapa tidak kaget dengan keberadaan Cindy di tempat ini, bukannya Elang sendiri yang bilang kalau Cindy ke Jerman dan kenapa terlihat biasa saja. Lalu Cindy juga kenapa tidak menegur dan bahkan melihatku bersama Elang apa dia tidak bertanya-tanya," batin Zahra yang penuh kebingungan.


Zahra memang tidak tau jika Cindy dan Elang sudah sama-sama tau, sama-sama penghiyanat, dan samalah ke-2nya dan sama-sama dapat karma juga.


************


Zahra dan Elang memang mencari pusat oleh-oleh di tempat lain. Tetapi mereka hanya sebentar dan langsung pulang. Dan selama itu Elang hanya terlihat diam dan Zahra terlihat bertanya-tanya. Tidak lama mobil yang di kendarai Elang akhirnya sampai juga dan bersamaan dengan mobil yang di kendarai Agam.


Mereka ber-4 bahkan sama-sama keluar dari mobil yang saling berhadapan itu. Anisa yang keluar dari mobil Agam terlihat tidak nyaman yang seperti orang yang memang sedang merasa bersalah.

__ADS_1


" Anisa Agam," sapa Zahra. Agam tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


" Kalian dari mana. Dan Agam kok bisa ada di Bali?" tanya Zahra heran.


" Hmmm, kebetulan aku juga liburan di sini," ucap Agam.


" Hmmm, begitu rupanya. Jadi perginya sama dia Anisa. Seharusnya bilang-bilang jadi yang lain tidak bertanya-tanya," ucap Zahra.


" Ini semua salahku. Tadi aku buru-buru. Jadi Anisa tidak sempat pamit," ucap Agam yang membela Anisa.


" Kamu pergilah!" usir Anisa langsung dengan suara datarnya.


" Hmmm, baiklah, aku akan pergi. Kamu istirahatlah dan jangan kepikiran hal itu," ucap Agam dengan lembut.


" Diamlah!" sahut Anisa yang merasa sangat kesal. Anisa pun memilih untuk masuk terlebih dahulu.


" Baik, aku permisi pulang dulu," ucap Agam yang pamit.


" Iya hati-hati. Makasih sudah mengantar Anisa," sahut Zahra. Agam mengangguk dan akhirnya masuk kemobilnya.


" Ayo Zahra kita masuk!" ajak Elang.


" Tunggu dulu Elang!" sahut Zahra memegang tangan Elang


" Ada apa?" tanya Elang.


" Aku ingin bicara masalah Cindy tadi," ucap Zahra yang memang sangat kepikiran masalah itu.


" Itu tidak penting. Jadi jangan membahas masalah yang tidak ada di pernikahan kita," ucap Elang. Zahra bingung mendengar kata-kata Elang yang seperti ada yang aneh.


" Apa yang kau pikirkan. Ayo masuk!" ajak Elang lagi. Zahra pun akhirnya mengangguk dan ikut masuk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2