Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 47 Spontan yang membuat malu sendiri.


__ADS_3

Masih dalam rangka saling menatap dengan posisi yang sama, di mana Rania berada di atas tubuh Rendy. Dengan debaran jantung yang saling berdetak kencang dan mungkin mereka bisa saling mendengarkan debaran jantung masing-masing.


Mata Rendy berkeliling melihat wajah indah di depannya. Mungkin sekarang jika menatap istrinya sudah boleh lama-lama. Karena memang sudah halal.


Beberapa menit saling menatap dengan hembusan napas yang tidak stabil. Akhirnya Rania tersadar dan menggoyangkan kepalanya dengan cepat.


" Maaf, aku tidak sengaja," ucap Rania tampak salah tingkah.


" Tidak apa-apa," jawab Rendy yang juga kelihatan gugup. Dan Rania langsung mencoba untuk bangkit dari tubuh Rendy. Namun tampaknya kesulitan dan Rendy juga membantunya.


Tetapi saat sudah bisa, injakan kaki Rania belum stabil. Rania melotot saat ingin jatuh kembali dan benar dia jatuh kembali ketubuh itu dan sekarang malah lebih dekat sampai bibir mereka menyatu membuat Rania dan Rendy terkejut dengan mata yang terbuka lebar.


" Rania apa yang kau lakukan," batin Rania yang merasa bodoh, ketika mencium Rendy.


Rania langsung buru-buru mengangkat wajahnya dari Rendy dengan menutup bibirnya dan wajah paniknya semakin kelihatan.


" Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Rania merasa bersalah dengan kebodohannya dan berusaha kembali untuk bangkit dari tubuh itu. Rendy melihat Rania kesulitan memegang ke-2 tangan Rania.


" Tenang lah! kamu akan jatuh lagi jika memaksakan diri," ucap Rendy. Rendy degan pelan mencoba bangkit dengan memegang ke-2 lengan Rania dan ternyata berhasil mereka sudah sama-sama berdiri.


" Maafkan aku, aku tadi, aku tadi kepeleset," ucap Rania dengan gugup. Rendy hanya mengangguk. Rania yang tampak canggung dan gugup pun kembali membereskan pakaiannya yang tadi sudah rapi di lipat dan kembali melipat dengan salah tingkah dan langsung ingin kembali menyusun.


" Biar aku yang melakukannya," ucap Rendy mengambil alih.


" Tapi," sahut Rania ingin menolak.


" Jika kamu melakukannya. Kamu akan kembali jatuh lagi," sahut Rendy.


" Oh, begitu rupanya," sahut Raina. Rendy mengangguk. Rania pun memberikan apa yang di lipatnya pada Rendy dan Rendy menyusunnya.


Rania, tampak malu-malu saat dekat dengan Rendy. Apa lagi baru mengalami insiden itu. Di mana dia telah mencium Rendy yang membuatnya malu jika mengingat itu. Karena mengingatnya membuat Rania bengong di tempatnya tidak menyadari jika Rendy sudah menyelesaikan pekerjaannya.


" Rania!" tegur Rendy.


" Hmmm, iya," sahut Rania gugup.


" Sudah selesai," sahut Rendy.


" Oh, begitu rupanya.


" Iya, aku kekamar mandi dulu," sahut Rania mengalihkan situasi dan langsung kekamar mandi untuk agar tidak seperti orang bodoh di depannya.


Sementara Rendy hanya tersenyum tipis dengan geleng-geleng. Tampaknya baginya tidak masalah jika ketidak sengajaan Rania terulang lagi. Rendy pun membereskan koper Rania meletakkan di bagian atas lemari.


**********


Malam hari tiba. Rania membaringkan dirinya di atas tempat tidur untuk beristirahat malam. Sementara Rendy baru memasuki kamar dan mengambil bantal lalu beralih ke sofa panjang di bawah kaki Rania yang mungkin untuk dia tidur.


Rania pun duduk dan melihat Rendy ada di sana, seperti membuat Rania tidak resah.


" Kamu akan tidur di sana?" tanya Raina gugup.


" Iya," jawab Rania.


" Biar aku saja yang di sana, ini kan tempat tidur kamu," ucap Rania merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa, kamu tidurlah, sofa ini sama empuknya sama ranjang yang kamu tiduri. Jadi tidak ada masalah. Kamu istirahatlah," jawab Rendy.


" Tapi...."


" Sudah Rania tetaplah di sana, ini sudah malam bukannya besok kamu atau pun aku. Akan bekerja," ucap Rendy menegaskan.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu," sahut Rania yang tidak bisa bicara apa-apa lagi. Karena memang tidak mungkin Rendy membiarkannya tidur di sana.


Rania menarik selimut dan memiringkan tubuhnya. Tampaknya Rania begitu gelisah dan tidak bisa tidur. Ini adalah malam ke-2 baginya 1 kamar dengan Rendy.


" Apa akan terus seperti ini," batin Rania yang sebenarnya tidak tau jalan cerita pernikahan mereka akan sampai mana.


Rendy menikahinya untuk menyelamatkan diri dari kakak iparnya dan pasti untuk menutup aib dari keluarganya. Tetapi Rania juga perlu mempertanyakan. Apa kah pernikahannya akan berlanjut terus.


********


Subuh telah tiba dan Rendy sudah bangun seperti biasa yang sekarang telah melakukan ibadah sholat. Tugasnya sebagai suami mungkin harus membimbing istrinya dan mengajaknya sholat.


Tetapi mungkin Rendy yang merasa Rania dan dia baru menikah dan tidak ingin membuat Rania tertekan atau merasa di atur. Rendy tidak melakukan hal itu dan Rendy memilih untuk tidak mengganggunya yang tertidur lelap.


Rania mungkin merasakan kenyamanan di dalam kamar itu sampai tidurnya lelap dan bahkan hari sudah pagi. Matahari sudah terang dia masih tertidur dengan lelap.

__ADS_1


Rania mengerjapkan matanya setelah matanya silau. Karena matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamar.


" Hmmmm, kenapa lampunya terang sekali," ucapnya masih dalam tidurnya yang merasa lampunya terlalu terang. Dua tidak tau itu cahaya matahari.


Mata Rania yang sudah terusik pun memilih untuk bangun dan masih menutup dan membuka matanya yang nyawanya masih belum terkumpul. Rania meraba nakas di sampingnya mengambil ponselnya dan melihat layar ponsel itu.


Matanya seketika melotot, ketika melihat layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 7 : 00.


" Aku kesiangan," ucapnya dengan suara shock.


" Astaga bagaimana ini," ucapnya panik dan langsung duduk menyibakkan selimutnya..


" Aku ada rapat hari ini dengan pemegang saham, astaga kenapa jadi kelamaan seperti ini," ucapnya tergesa-gesa langsung berdiri dengan mengambil cekep rambut dan asal mengikat rambutnya lalu langsung buru-buru membuka pintu kamar mandi.


Brakk.


Rania melotot kaget saat tidak menyadari ada orang di kamar mandi. Di mana Rendy sedang menggosok gigi dengan handuk di lilit di pinggangnya yang menunjukkan tubuh kekarnya.


Rania menelan salavinanya saat kebodohannya terulang lagi, dan Rendy hanya melihatnya heran dengan keberadaanya yang tiba-tiba ada di sana.


" Maaf, aku pikir tidak ada orang," ucap Rania langsung menutup pintu kamar mandi.


Dan Rania langsung memukul-mukul kepalanya yang terlihat begitu bodoh dengan melakukannya tersebut.


" Rania, kamu benar-benar sangat bodoh, kamu sangat bodoh Rania," geram Rania mengutuk dirinya sendiri yang sudah melakukan kebodohan berkali-kali.


" Bisa-bisanya kamu seperti itu Rania, kamu benar-benar sangat bego, kamu bego Rania," ucapnya lagi yang hanya karena buru-buru tidak sadar bahwa Rendy berada di kamar mandi untuk memakai handuk bagaimana jika tidak.


Rania, memang kurang hati-hati. Tetapi Rendy di kamar mandi hanya geleng-geleng saja. Dengan kerandoman Rania yang terus terlihat olehnya yang mungkin berbeda saat Rania awal-awal di kenalnya terlalu banyak mengeluarkan air mata dan hidup seperti tidak tenang. Tetapi dia merasa Rania malah terlihat lucu dengan tingkah yang di luar dugaannya itu.


**********


Setelah bersiap-siap, Rania maupun Rendy sama-sama menuruni anak tangga dengan langkah yang berdampingan bersama.


Mereka layaknya pasangan berwibawa. Di mana Rendy yang memakai kemeja putih dengan panjang dengan jas almamater Dokter nya di letakkan di tangannya dengan tasnya yang menggantung di tangannya.


Sementara Rania, memakai blouse army dengan tangan balon dan rok span di bawah lututnya. Mereka memang pasangan yang serasi.


Mereka terus melangkah di anak tangga. Sampai langkah itu menghabisi anak tangga dan menuju meja makan.


" Rania, Rendy mari sarapan dulu!" ajak Ratih dengan ramah. Namun Rania melihat ke arah Rendy.


" Ayo duduk," sahut Ratih. Rania mengangguk menarik kursi dan duduk. Zahra dan Nia tersenyum melihat Rania yang Rania juga tersenyum merekah. Rendy sendiri mengambil tempat duduk di sampingnya.


" Kamu mau sarapan pakai apa Rania, mau roti, nasi goreng, atau apa?" tanya Ratih yang begitu baik pada Rania. Yang membuat Rania merasa sangat tenang.


Maklum biasa jika di rumahnya dia selalu saja ribut dengan keluarganya kalau bertemu. Namun kali ini terlihat teduh.


" Hmmm, Rania memakan roti saja ma," sahut Rania. Ratih mengangguk dan ingin mengambilnya.


" Tidak usah, Rania bisa sendiri kok," sahut Rania dengan buru-buru mengambilnya karena tidak mau di repotkan. Ratih tersenyum pada Rania.


" Ya sudah makan lah," sahut Ratih. Rania mengangguk.


" Assalamualaikum," sapa suara seorang yang tampaknya tidak asing saat mengucapkan salam yang langsung membuat yang lainnya menoleh kebelakang yang ternya adalah Anisa yang datang membawa bekal.


" Walaikum salam," sahut semuanya serentak. Anisa langsung menghampiri meja makan.


" Anisa!" sapa Zahra. Anisa tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Ratih.


" Anisa bawa bubur kesukaan Rendy," sahut Anisa yang langsung membuka bekal yang di bawanya.


" Kamu selalu repot-repot," sahut Ratih.


" Tidak Tante," sahut Anisa. Anisa melihat ****** Rendy masih kosong dan langsung menyendokkan bubur kepiring Rendy. Dan Rania melihat hal itu tampak datar. Karena tidak tau bereksperesi harus seperti apa. Yang mungkin menurutnya itu sudah biasa.


" Kamu makanlah! ini makanan kesukaan kamu," ucap Anisa.


" Makasih," sahut Rendy.


" Sebenarnya siapa wanita ini. Apa dia memang mantan kekasih Rendy. Dia sangat dekat dengan keluarga Rendy," batin Rania yang penasaran.


" Kamu juga sarapan Anisa," sahut Ratih.


" Pasti Tante, bagaimana Rendy apa enak?" tanya Anisa pada Rendy. Rendy hanya mengangguk sambil mengunyah makanannya.


" Hmmm, syukurlah jika masakanku tidak pernah berubah," sahut Anisa yabg berbicara tampak membanggakan diri dan seperti membuat Rania tidak nyaman dengan perkataan itu.

__ADS_1


" Ehem," Nia tampak berdehem, " Kak Anisa Kakak taukan kalau kak Rendy sudah menikah dengan kak Rania," ucap Nia tiba-tiba.


" Maksud kamu gimana ya Anisa, kenapa bilang seperti itu?" tanya Anisa dengan wajah seriusnya.


" Soalnya kakak tidak mengucapkan selamat untuk kak Rania dan kak Rendy," sahut Nia dengan santai.


" Apa perlu kamu mengingatkan ku, tentang pernikahan itu," batin Anisa kelihatan kesal dengan Nia.


" Kakak juga tidak datang di acara pernikahan kak Rendy dan kak Rania. Padahal kan kak Rendy adalah sahabat kakak, masa iya kakak tidak datang," lanjut Nia lagi yang membuat Anisa seakan terpojokkan.


" Sahabat, jadi Anisa hanya sahabat Rendy saja," batin Rania yang merasa pertanyaannya terjawab.


" Benar Anisa, aku baru menyadari kalau kamu tidak ikut, kamu kemana kemarin?" tanya Zahra yang semakin membuat Anisa diam tanpa berkutik.


" Aku mau pergi. Tetapi aku tiba-tiba sakit," jawab Anisa memberikan alasannya dengan kekesalanya yang telah di pojokkan.


" Sakit apa Anisa?" tanya Ratih.


" Demam, tiba-tiba Tante," sahut Anisa.


" Tidak demam kaget kan," sahut Nia membuat Anisa semakin kaget dengan maksud dari perkataan itu.


" Kenapa Nia, selaku bicara seakan tidak suka melihatku," batin Anisa.


" Lalu apa kamu sudah baikan?" tanya Ratih. Anisa mengangguk.


" Syukurlah kalau begitu, kalau begitu ayo sekarang kita sarapan lagi," ucap Ratih. Yang lainnya mengangguk.


" Aku tidak akan memberikan selamat untuk pernikahan itu. Karena bagiku. Rania dan Rendy belum menikah. Jadi jangan harap aku akan mengucapkan selamat pada mu," batin Anisa yang melihat Rania dengan tatapan tidak suka.


Tetapi Rania maupun Rendy hanya makan, tanpa mempedulikan apa-apa.


" Kamu mau coba?" tanya Rendy menawarkan bubur yang di makannya.


" Boleh," sahut Rania membuka mulutnya refleks tampak ingin di suapi dan Rendy juga langsung menyendokkan kedalam mulut Rania.


Sontak hal spontan yang mereka lakukan membuat yang lainnya yang melihat tersenyum. Tetapi pasti Anisa yang melihat nya kesal. Sementara Rendy dan Rania yang menyadari tingkah spontan mereka, akhirnya sadar dan malah malu sendiri. Apa lagi Rania yang bisa-bisanya ingin minta di suapi. Ya Rendy juga hanya mengikuti alur saja.


" Rania, lain kali tahan diri. Kenapa kebodohanmu semakin parah," batin Rania yang malu sendiri.


**********


Karena mobil Rania tidak di bawanya, jadi Rendy mengantarkannya ke kantor. Mereka sedang berada di lampu merah.


" Hmmm, Anisa itu teman kamu?" tanya Rania tiba-tiba.


" Hmmm, iya kami berteman sudah sangat lama," jawab Rendy.


" Lalu dia tinggal di mana?" tanya Rania.


" Tinggal di depan rumah," jawab Rendy.


" Hmm, pantesan saja," sahut Rania. Rendy melihatnya.


" Pantesan kenapa?" tanya Rendy.


" Ya dia sering datang, membawa makanan," jawab Rania yang memang sudah 2 kali melihat Anisa membawa makanan dan pasti untuk Rendy. Dia juga beberapa kali melihat Rendy dan Rania bersama.


" Dan sepertinya makanan yang di buatnya sudah cocok untuk lidahmu," sahut Rania membuat Rendy bingung.


" Kenapa bicara seperti itu?" tanya Rendy.


" Aku hanya menebak-nebak saja. Kamu sepertinya sangat suka memakan makanan yang di buatkan orang terdekatmu," ucap Rania membuat Rendy bingung dengan perkataan Rania.


" Tidak juga," jawab Rendy.


" Memang kenapa kamu ada rencana ingin membuatkan ku makanan?" tanya Rendy. Melihat ke arah Rania yang juga melihat Rendy.


" Aku tidak yakin bisa melakukannya. Soalnya aku sudah lama tidak memasak," jawab Rania yang tidak percaya diri.


" Tidak lama tidak memasak. Berarti bisa memasak," sahut Rendy. Rania mengedikkan bahunya.


" Aku dan keluarga dulu dari kalangan bawah. Kamu tinggal di rumah kecil yang dekat dengan tumpukan sampah. Lebih parah dari kampung kumuh. Papa hanya pemulung dan pekerja serabut lainnya sama dengan mama. Aku, kakak dan adikku, jelas mau tidak mau harus mendiri, dan mungkin memasak hal yang wajib kami lakukan dulu. Tetapi saat keluarga kami sudah berkecukupan hal itu tidak pernah di lakukan lagi. Mungkin mama masih sering memasak. Tetapi aku dan kak Willo tidak pernah," jawab Rania dengan penjelasan yang panjang.


" Aku juga sibuk bekerja dan menginjakkan kaki di dapur juga tidak pernah," lanjutnya lagi.


" Hmmm. Tapi mungkin jika kamu mencobanya akan bisa," sahut Rendy.

__ADS_1


" Ya mungkin," sahut Rania. Rendy tersenyum dan Rania menunjuk lampu yang hijau kembali. Rendy pun langsung menyetir kembali. Rania memang tampaknya sangat terbuka dengan Rendy


Bersambung


__ADS_2