Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Epiosede 77 melepas kepergian


__ADS_3

Rania memang harus mengeluarkan suaranya supaya dia tidak terus menerus di pojokkan. Karena dia juga tidak ingin terus di anggap rendah.


" Dan jangan membicarakan masalah bimbingan orang tua. Itu tidak ada kaitannya," lanjut Rania melihat ke arah Anisa.


" Kamu mengertikan Anisa. Cara orang tua itu berbeda-beda," ucap Rania lagi melihat ke arah Anisa. Tatapan Rania juga seakan memberikan peringatan untuk Anisa agar tidak ikut campur urusannya lagi.


" Rania bicaramu sudah seperti orang yang benar saja," sahut Iren menekan suaranya yang menahan kemarahannya.


" Maaf Tante. Saya juga merasa bicara saya tidak benar. Karena saya juga masih banyak kesalahan," sahut Rania dengan tenang


" Kamu pikir saya menyesal tidak jadi menikahkan kamu dengan Gilang. Kamu hanya beruntung saja mendapatkan Rendy dan kata-kata kamu tidak sesuai dengan akhlak kamu," ucap Iren dengan sinis.


" Itu tugas saya untuk memperbaiki. Tante Rania sudah menjadi istriku. Jika dia salah, maka itu kesalahan suaminya. Aku jangan menyalahkan Rania terus menerus," sahut Rendy yang selalu membela Rania.


" Satu lagi mama tidak pernah menginginkan menantu seperti apapun, harus seperti ini dan seperti itu. Itu tidak perlu. Jika Tante mengagumi Anisa. Lalu kenapa Tante tidak menikahkan Anisa dengan Gilang. Dengan begitu Tante bisa memujinya di dalam rumah Tante," ucap Rendy yang tidak main-main dengan kata-katanya. Bahkan dia tidak peduli sama sekali.


Anisa mengepal tangannya mendengar kata-kata Rendy yang menyuruhnya menikah dengan Gilang.


" Nia, juga setuju," sahut Nia yang ikut-ikutan." Dengan begitu Tante bisa menjadi mertua paling bahagia," lanjut Nia lagi.


" Sialan mereka. Mereka malah mempermalukan ku di sini," batin Anisa yang tidak bisa bicara apa-apa lagi.


" Sudah-sudah, kenapa kalian semua jadi ribut seperti ini. Masalah makan jadi lari kemana-mana," sahut Oma Wati malah pusing melihat satu per-satu orang yang ada di meja makan itu.


" Ya ampun Oma, tadi kan semuanya adem-adem aja, Tante Iren aja yang memancing-mancing," sahut Nia.


" Nia, sudah jangan di sambung-sambung lagi," sahut Ratih.


" Iren, kamu sebaiknya makan," sahut Jaya suaminya.


" Aku sudah tidak selera makan," sahut Iren yang langsung berdiri, menatap Rania dengan tajam dan langsung pergi.


" Dari tadi kek, sudah tau orang lapar," ucap Nia pelan dan di Zahra yang berada di sampingnya menyenggolnya.

__ADS_1


" Shutttt, diam," ucap Zahra pelan.


" Ayo kita lanjut makan. Siapa aja yang mau makan di sini," sahut Oma Wati geleng-geleng.


Rania tersenyum dan akhirnya mulai mengambil nasi dan menyendokkan pertama untuk Rendy. Rendy tersenyum menerimanya. Dan pasti Anisa kepanasan melihatnya. Ya memang siapa yang sewot dia yang kalah.


" Kamu mau ayamnya?" tanya Rania. Rendy mengangguk dan Rania langsung memberikannya. Anisa hanya iri. Makanya seperti kata Rania Anisa harus menikah dulu supaya tau semuanya.


*********


Pagi hari kembali tiba dan hari ini Rania, Zahra, Ratih, Nia mengantarkan Rendy ke mobil yang akan menjalankan tugasnya. Rendy memasukkan kopernya kedalam bagasinya. Koper itu lumayan besar yang mungkin Rendy akan pergi lama.


Setelah memasukkan kopernya. Rendy pun menghampiri mamanya, istrinya adiknya dan juga sepupunya untuk berpamitan.


" Rendy, pergi dulu ma," ucap Rendy pamit dengan mencium punggung tangan mamanya dan memeluk mamanya dengan erat


" Kamu hati-hati di sana ya. Jalankan tugas dengan baik, karena itu sebuah amanah yang harus kamu pertanggung jawabkan," ucap Ratih mengingatkan putranya.


" Iya ma, doakan Rendy," sahut Rendy melepas pelukan itu. Ratih memegang ke-2 bahu putranya itu.


" Kakak jangan lama-lama pulangnya. Nanti istri kakak kangen," ucap Nia yang sempat-sempatnya menggoda.


" Jadi kamu tidak akan kangen sama kakak," ucap Rendy.


" Pastilah," sahut Nia.


" Ya sudah kamu jagain mama, dan jangan bandal-bandal," ucap Rendy melepas pelukannya memberi pesan pada adiknya.


" Iya, kakak hati-hati di sana. Ingat cepat pulang," ucap Nia dengan tegas. Rendy tersenyum dan mengacak-acak pucuk kepala sang adik.


" Jangan khawatir. Kakak akan cepat pulang," jawab Rendy. Nia tersenyum mendengarnya.


" Rendy!" tiba-tiba Anisa memanggil dan langsung menghampiri Rendy dengan membawakan tas bekal yang berdiri di depan Rendy yang seolah mendahului Rania sebagai istri Rendy.

__ADS_1


" Ini aku bawakan bekal untuk kamu dan beberapa makanan kering untuk cemilan kamu," ucap Anisa yang terus punya kesempatan untuk caper pada Rendy.


" Makasih ya," sahut Rendy mengambilnya saja, karena tidak mungkin menolaknya.


" Kamu hati-hati ya di sana. Dan kalau kamu bosan seperti dulu kamu harus bisa memakan cemilan yang aku buatkan. Kesukaan kamu. Yang biasa kamu nikmati," ucap Anisa seakan paling tau Rendy dan kebiasaan Rendy dan Rania yang di belakang Anisa diam. Tetapi pasti jengkel dengan Anisa.


" Baiklah," sahut Rendy. Anisa tersenyum sudah merasa menang dari Rania. Rendy menoleh kearah Rania dan langsung mendekati Rania. Itu lah bedanya istri tidak perlu menyamperin suaminya. Suaminya sudah datang sendiri.


Saat Rendy berdiri di depannya. Rania perlahan mengeluarkan kotak persegi panjang cukup besar yang sedari tadi di pegangnya yang di sembunyikannya di punggung tangannya dan memberinya pada Rendy.


" Apa ini?" tanya Rendy.


" Hmmm, itu permen coklat, kalau aku perjalanan bisnis akan terus membawanya karena sangat enak. Jadi bawalah," jawab Rania pelan.


" Dasar wanita aneh, memang Rendy anak kecil di kasih coklat. Sudah tau itu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi Rendy Dokter. Rendy pasti akan menolak pemberiannya. Begitulah kalau dia tidak tau apa-apa tentang Rendy dan tidak bisa memasak untuk Rendy," batin Anisa malah sewot.


" Makasih ya, aku akan mencobanya," ucap Rendy tersenyum menerima pemberian istrinya. Rania pasti bahagia dengan pemberiannya yang di terima tanpa banyak protes dan Anisa hanya bisa sewot dengan hal itu.


" Ya sudah aku pergi dulu. Kamu hati-hati di sini," ucap Rendy pamit pada Rania. Rania mengangguk dan meraih tangan Rendy dan mencium punggung tangan itu. Hal yang tidak bisa di lakukan Anisa. Rendy tersenyum dan langsung mencium lembut kening Rania.


Hal manis itu membuat senyum-senyum Nia, Zahra dan Ratih dan membuat panas Anisa.


" Aku pergi," ucap Rendy.


" Kamu hati-hati," sahut Rania. Rendy mengangguk dan ternyata tidak langsung pergi, tetapi memeluk Rania terlebih dahulu seakan berat hati meninggalkan Rania.


" Kamu hati-hati lah," ucap Rendy. Rania hanya mengangguk dengan membalas pelukan itu dan akhirnya saling melepas diri dan masih menatap lama Rania. Lalu langsung beralih pada Zahra.


" Kamu jaga Rania," ucap Rendy berpesan.


" Tenang aman," sahut Zahra. Rendy tersenyum dan akhirnya pun pergi memasuki mobilnya.


Dan mereka semua melambaikan tangannya saat mobil Rendy sudah berjalan.

__ADS_1


" Semoga kamu cepat pulang," ucap Rania di dalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2