Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 34 penenang hati.


__ADS_3

Mereka masih saling melihat dengan napas yang masih tersenggal-senggal dengan debaran jantung yang juga ikut berdetak dengan cepat. Wajah Rania terlihat sangat pucat dan terlihat keringat dingin yang mungkin Rania masih tidak percaya jika dia masih di berikan keselamatan.


" Kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Rendy lagi.


" Aku tidak apa-apa. Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan ku," ucap Rania dengan pelan suaranya pun bahkan masih bergetar. Rendy hanya mengangguk dan juga menenangkan dirinya. Dia juga masih belum bisa menetralkan dirinya.


Setelah merasa cukup tenang akhirnya Rendy berdiri dan masih melihat Rania yang mengatur napasnya.


" Berdirilah!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan mencoba berdiri. Saat berdiri. Kakinya mungkin kebas sehingga hampir jatuh dan Rendy langsung sigap dengan memegang kedua lengan Rania dan kembali membuat cucu Adam itu saling melihat dengan debaran jantung yang tidak menentu.


" Aku tidak tau kenapa Pria ini selalu ada di saat aku benar-benar sangat hancur," batin Rania dengan perasaannya yang kali ini benar-benar tidak menentu.


" Maaf," ucap Rendy yang langsung melepaskan dirinya dari Rania. Rania hanya terdiam dan kembali mencoba untuk menenangkan dirinya.


" Ya sudah ayo kita pergi!" ajak Rendy Rania mengangguk dan pergi meninggalkan tempat kejadian itu dan mengikuti Rendy yang berjalan di depannya.


**********


Setelah beberapa jam Rania sudah berada di dalam mobil Rendy. Untuk menenangkan dirinya. Tetapi tetap saja dia masih pucat dan di penuhi dengan ketakutan.


Dan pasti hatinya juga sangat sakit. Karena dengan apa yang di lihatnya membuatnya kehilangan kendali dan bahkan hampir membuatnya tidak berada di dunia lagi.


Pasti tidak mudah untuk Rania mendapatkan semuanya. Apa yang di lihatnya membuatnya begitu sakit. Tidak menyangka dan yang lainnya pasti di rasakannya. Pikirannya dan hatinya sudah sangat kacau sehingga tidak bisa memikirkan yang lainnya dengan tenang dan bahkan mencelakai dirinya sendiri.


Rendy tidak ada di sampingnya. Mobil itu berhenti di sekitar tengah kota yang pasti Rendy sudah membawanya jauh dari tempat itu. Tempat yang menyeramkan itu.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Rendy memasuki mobil dengan membawa kantung plastik putih. Rendy duduk di kursi pengemudi mengeluarkan botol mineral dari dalam kantung itu dan memberikan untuk Rania.


" Minumlah!" ucap Rendy yang sudah membukakan tutup botolnya.


" Terima kasih," sahut Rania langsung mengambilnya dan langsung meneguknya karena memang dia sangat kehausan.


" Seharunya kamu berhati-hati dalam menyetir. Fokuslah menyetir dengan apa yang terjadi sebelumnya, seharusnya kamu bisa mengambil pelajaran jangan berbuat sesuatu yang sama," ucap Rendy yang mengingatkan Rania dengan kejadian sebelumnya di mana Rania menabrak seorang anak yang mungkin saja anak itu juga belum sembuh.


Rania terdiam yang tidak mampu berbicara apa-apa lagi. Dia hanya diam, diam dan diam saja.


" Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Rania yang akhirnya bicara dan melihat ke arah Rendy.


" Aku melihatmu berlari dan melajukan mobilmu dengan cepat. Jadi aku tau kau adalah Wanita yang pemikirannya sangat pendek. Dan benar kejadian. Kamu hampir celaka," sahut Rendy menjelaskan.


" Jika aku sudah ada dan melihat bahaya di depanku. Aku tidak mungkin diam," jawab Rendy dengan singkat.


" Tetapi mungkin seharusnya kamu tidak menyelamatkan ku. Aku sudah tidak tau bagaimana menghadapi semuanya setelah ini. Seharusnya tadi aku mati dan maka masalah akan selesai, seharusnya kamu tidak mengikutiku dan membiarkan saja semuanya seperti itu," ucap Rania tampak menyesal hidup dan kembali meneteskan air mata bahkan terisak dengan jika mengingat kejadiannya yang tampak begitu hancur.


" Masalah memang tidak di bawa mati. Tapi yang menjadi pertanyaannya. Apa kamu bisa mempertanggung jawabkan semuanya kelak di akhirat. Rania setiap masalah ada jalan keluarnya dan Allah maha memberi petunjuk," ucap Rendy memberikan ceramahnya untuk wanita yang jelas-jelas begitu putus asa dan terlihat tidak ada semangat di dalam diri wanita itu untuk melanjutkan hidup.


" Mungkin petunjuknya hanya untuk orang-orang tertentu. Tidak untukku. Aku sangat hina. Aku wanita yang sangat berdosa. Dan mana mungkin Tuhan membantuku dalam penyelesaian masalahku. Aku tidak sepertimu yang mungkin hidupmu selalu tenang di kelilingi orang-orang yang tulus kepadamu. Dan mungkin Tuhan hanya berpihak pada orang seperti mu saja. Sementara aku yang masih hidup hanya untuk merasakan penderitaan, kamu tidak akan mengerti apa yang aku alami karena bukan kamu tidak seperti ku," ucap Rania dengan kemarahannya kepada Tuhannya.


" Apa kamu tidak pernah belajar dari kesalahan. Jika kamu merasa. Hidup kamu hampa dan terus berdatangan masalah. Lalu kenapa kamu harus menyalahkan tuhanmu tanpa mengkoreksi dirimu sendiri," sahut Rendy yang bicara to the point.


" Bahkan dengan kamu di berikan kesempatan hidup saat ini. Padahal kamu bisa melihat sendiri kematian di depanmu dan tidak ada kemungkinan selamat. Tapi apa kamu masih hidup, masih bernapas dan masih bisa berbicara, masih bisa mengeluh dan menyalahkan tuhanmu. Apa kamu tidak sadar jika kesempatan yang kamu dapatkan barusan untuk membuatmu benar-benar bisa mengoreksi dirimu sendiri,"

__ADS_1


" Jangan berusaha membandingkan diri mu dengan orang lain dia kenapa dan kamu kenapa tidak. Tapi berpikirlah dan lihat dirimu. Pasti ada yang salah sehingga kamu selalu merasa salah dan kamu bahkan menutup mata untuk menyadari semua itu. Begitu banyak kesempatan. Tetapi kamu mengabaikannya," ucap Rendy yang terus menceramahi Rania.


" Rania bukan hanya kamu yang mempunyai masalah. Tetapi banyak orang yang bermasalah dan apa yang terjadi kepadamu saat ini. Ambillah sebagai pelajaran jangan melakukan sesuatu tindakan yang bodoh yang merugikan dirimu sendiri," ucap Rendy menegaskan tanpa basa-basi.


Rania menangis senggugukan dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Mendengar kata-kata Rendy seakan menampar dirinya memberinya kesadaran. Bahwa dia harus lebih dekat dengan Tuhan.


" Rania, setiap masalah akan ada hikmah. Jadi belajarlah menerima dan berusaha memperbaiki, jangan menyalahkan orang lain apa lagi penciptamu," lanjut Rendy yang terlihat lembut memberikannya masukan. Sehingga membuat tangisnya semakin pecah.


Hatinya mungkin tersentuh dengan kata-kata Rendy yang memberinya kesadaran. Memberinya peringatan dan mungkin memang selama ini tidak ada yang menegurnya dan sehingga dia tidak tau apa yang di lakukannya salah atau benar.


" Aku tidak bermaksud untuk menceramahimu. Tetapi apa yang aku katakan hanya memberimu ingat. Jangan pernah melakukan hal bodoh. Hanya karena kamu lelah," lanjut Rendy lagi. Rania hanya menangis dan tidak mampu berucap lagi.


" Lalu apa aku masih bisa mendapatkan kebahagianku," ucap Rania yang melihat ke arah Rendy. Rendy melihat wanita itu sangat membutuhkan secercah harapan.


" Semua orang berhak bahagia dan mendapat kesempatan. Tanpa ketercuali," sahut Rendy.


" Ya Allah, ampuni aku. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi," batin Rania yang menyadari kesalahannya.


Rendy hanya melihatnya menangis dan meratapi kesedihannya di dalam mobil. Suara tangisan itu di dengar dan Rendy seolah mengerti dengan perasaan Rania yang benar-benar begitu kesepian.


Mungkin hanya dengan menangis Rania bisa meluapkan amarahnya. Rania pun tidak malu dengan menangis di depan Rendy mungkin memang untuk yang kesekian kalinya Rendy melihatnya seperti itu.


Masalah yang di alaminya terlalu berat dan mungkin Rendy orang pertama yang mendengar kan keluhannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2