Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 81 Ikut terluka.


__ADS_3

Rendy pun membawa istrinya kekamarnya. Saat masuk kedalam kamar Rendy melihat tempat tidur itu berantakan. Rendy membuang napasnya perlahan dan mendudukkan Rania di sofa.


" Tunggu sebentar," ucap Rendy lembut. Rania mengangguk.


Lalu Rendy membuka lemari dan mengganti seprai tempat tidur itu. Merapikan seperti sedia kala, setelah rapi Rendy langsung menghampiri Rania yang duduk di sofa yang masih menangis.


" Ayo kamu harus istirahat," ucap Rendy lembut. Rania menganggukkan matanya dan berdiri.


" Shhyhhhhh," lirih Rania saat merasakan sakit di perutnya.


" Ada apa?" tanya Rendy panik Rania menunduk dengan memegang perutnya dan Rendy langsung berjongkok dan spontan menaikkan baju Rania ke atas. Betapa terkejutnya Rendy saat melihat luka itu basah dan kembali berdarah. Rendy mengangkat kepalanya dan melihat Rania menahan sakit.


" Apa yang terjadi Rania, kenapa bisa seperti ini?" tanya Rendy panik. Rania diam dan tidak sanggup bicara dan harus mulai dari mana lagi.


" Apa ini ulah Gilang, kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa Rania," tanya Rendy. Rania diam. Rendy langsung berdiri dan membuka lemari kecil yang tersimpan cadangan alat-alat rumah sakitnya dengan cepat dia membawanya ke hadapan Rania.


Rendy membaringkan Rania di sofa. Rania berbaring lurus dengan kakinya juga sudah berbaring di sofa dengan cepat Rania. Tidak permisi lagi pada Rania Rendy langsung membuka pakaian Rania dan Rania pun membiarkan saja.


Setelah pakaian itu terlepas meninggalkan pakaian dalam Rania. Rendy mengambil jarum suntik dan langsung menyuntik di sekitar luka Rania. Yang mungkin obat bius yang membuat Rania yang melihat Rendy semakin lama pandangan itu semakin rabun.


Rendy tau betapa sakitnya yang di rasakan Rania. Sehingga tidak tega melihat Rania dan memilih untuk memberinya bius. Agar Rendy bisa mengobati luka yang parah itu.


Rendy menutup bagian atas tubuh Rania dengan kain kecil. Karena itu tidak di perlukan untuk pengobatan. Hanya bagian perut Rania. Jika kemarin Rania masih menggunakan tantop dan tidak langsung terlihat pakaian dalamnya. Tetapi kali ini memang tanpa menggunakan tentop tersebut.


Tetapi tidak canggung seperti kemarin. Mungkin karena Rendy bercampur panik dengan luka sang istri. Rendy terus mengobati luka Rania dengan lembut sementara Rania tertidur mungkin di campur lelah.


Rendy melap melap darah, membuka jaitan yang berantakan, memberikan cairan pada obat itu dan segala hal untuk mengobati luka tusukan yang tak kunjung sembuh itu.


Tidak lama akhirnya Rendy selesai mengobati luka itu, menjait kembali dan memberi perban untuk menutupi luka itu. Rendy melihat ke wajah Rania. Wajah itu tampak lelah dengan air mata yang masih membekas dengan dahinya berkeringat.


" Apa yang terjadi padamu," ucap Rendy menatap sendu Rania. Sangat kasihan, simpatik dan tidak tega dengan istrinya. Rendy membuang napasnya perlahan. Lalu Rendy berdiri dan berjalan ke arah lemari di mana ternyata Rendy mengambil pakaian untuk Rania.


Rendy kembali menghampiri Rania dan dengan lembut memakaikan piyama itu pada Rania. Rania tidak terbangun mungkin obat biusnya masih ada. Jadi Rania tidak terbangun sama sekali.

__ADS_1


Tiba-tiba Rania membuka matanya perlahan di saat Rendy mengkancing pakaian itu dan Rania memegang tangan Rendy. Membuat Rendy menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Rania.


" Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Rendy. Rania menganggukkan matanya.


" Kenapa kamu sangat mudah percaya kepadaku?" tanya Rania dengan suara seraknya.


" Aku orang yang pintar dan bisa mengamati masalah yang di buat-buat dan mana yang benar," jawab Rendy simple.


Rania meneteskan air matanya. Dia tidak tau apa yang di lakukannya di dunia ini sampai harus bertemu dengan Pria sebaik Rendy.


" Aku tau siapa kamu Rania dan salam masalah ini kamu tidak bersalah. Maafkan aku Rania, aku sudah meninggalkan mu. Tidak seharunya aku meninggalkanmu yang membuat kamu mengalami semua ini," ucap Rendy merasa bersalah pada istrinya.


" Ini bukan salahmu," sahut Rania yang bercucuran air mata.


Rendy jelas merasa bersalah. Harus menyaksikan istrinya seperti itu. Dia sudah berjanji pada ibu mertuanya untuk menjaga Rania dengan baik. Tetapi dia sudah membuat Rania banyak terluka.


" Ayo pindah ketempat tidur, kamu istirahat di sana," ucap Rendy dengan lembut. Rania menggelengkan kepalanya seolah tidak mau.


" Ya sudah, kamu istirahat lah," ucap Rendy melanjutkan mengkancing baju Rania. Lalu membereskan peralatan Dokternya. Setelah itu Rendy menyimpannya kembali pada tempatnya. Lalu mengambil selimut dan langsung menutupkan pada Rania sampai ke dada Rania.


Rendy duduk di samping Rania mengusap lembut pipi Rania, menatapnya dengan dalam-dalam.


" Istirahat lah," ucap Rendy. Rania menganggukkan matanya. Saat Rendy ingin pergi Rania menahan tangannya seolah tidak ingin di tinggalkan suaminya.


Rendy pun menggenggam erat tangan yang masih bergetar itu yang penuh ketakutan dan jelas sangat membutuhkan seseorang untuk memeluknya.


Sofa yang di tiduri Rania lumayan lebar yang akhirnya membuat Rendy memutuskan tidur di samping Rania, meletakkan tangannya di bawah kepala Rania dan menarik Rania kedalam pelukannya sampai Rania sudah berada di dada bidang itu.


Bukannya tertidur. Rania malah menangis sejadi-jadinya dan Rendy membiarkan Rania menimpakan air matanya di pelukannya dengan tangannya juga mengusap-usap pucuk kepala Rania. Memberi Rania sedikit ketenangan.


" Menangislah Rania," lirih Rendy yang memberi tempat untuk Rania mencurahkan isi hatinya. Banyak yang di pendamnya dan bahkan tidak sanggup untuk membicarakan apa yang di pendamnya.


" Terima kasih Rendy, terima kasih, kamu datang di saat yang tepat, terima kasih sudah menolongku Rendy. Terima kasih Rendy," batin Rania yang merasa sedikit lega.

__ADS_1


***********


Pagi hari kembali cerah. Rania sudah jauh lebih tenang walau matanya masih bengkak dan sekarang Rania duduk di lantai bersilah kaki makan berhadapan dengan Rendy.


" Kamu kenapa pulang tiba-tiba?" tanya Rania di sela-sela makannya.


" Aku ada urusan di rumah sakit. Untuk mengambil beberapa keperluan," jawab Rendy sambil mengunyah makanannya.


" Apa itu artinya kamu akan pergi lagi?" tanya Rania pelan. Rendy langsung melihat ke arah Rania. Wajah Rania tampak begitu sendu dan sangat murung.


" Hmmm, aku akan kembali bertugas," jawab Rendy. Rania semakin murung.


" Jadi dia hanya pulang sementara," batin Rania dengan wajah sedihnya.


" Kamu kenapa?" tanya Rendy.


" Tidak apa-apa," jawab Rania.


" Yakin tidak apa-apa?" tanya Rendy lagi. Rania mengangguk. Padahal dia sudah mulai resah dengan kepergian Rendy.


" Hmmm, apa kamu mau ikut?" tanya Rendy tiba-tiba membuat Rania mengangkat kepalanya menatap Rendy serius.


" Maksud kamu?" tanya Rania heran.


" Aku pulangnya sangat lama. Kalau kamu tidak keberatan kamu bisa ikut?" ucap Rendy menawarkan Rania ikut bersamanya.


" Kalau kamu ikut itu artinya. Kamu juga tidak akan bisa bekerja. Karena mungkin aku di bisa lebih 1,2 atau tiga Minggu," ucap Rendy menjelaskan.


" Lalu apa aku memang boleh ikut?" tanya Rania memastikan.


" Kalau mau ya tidak masalah," sahut Rendy santai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2