
Anisa diam mematung yang tiba-tiba lemas ketika mendengar kata-kata Rania.
" Auhhhh!" lirih Anisa saat tangannya menyenggol panci yang masih panas. Air matanya menetes entah karena kepanasan atau karena peringatan dari Rania yang jelas itu sangat menusuk dan pasti membuat hatinya sakit.
Anisa bahkan tidak mampu bicara apa-apa lagi. Hanya diam dengan tetesan air matanya. Lagian apa yang di katakan Rania memang benar, Anisa memang sengaja melakukannya. Karena jelas dia akan memberitahu Rendy. Tapi Anisa sengaja mencari gara-gara mengadu pada Rendy yang membuat pertengkaran terjadi di antara Rania dan Rendy.
Sudah sebelumnya di tegur oleh Zahra yang juga pasti kata-kata Zahra juga menyakitkan dan sekarang di tegur oleh Rania yang kata-katanya jauh lebih meyakitkan lagi. Malah Rania pakai bawa-bawa soal aurat dan penampilan lagi.
Ya memang benar sih penampilan Anisa yang agamis tidak sesuai dengan hatinya yang memiliki rasa iri dan dengki. Ya betul kata orang jangan melihat dari luarnya saja.
**********
Rendy yang berada di rumah sakit berbicara dengan suster. Namun seketika dia harus berselisih dengan Elang. Namun Rendy langsung pergi begitu melihat Elang. Baginya sahabatnya itu adalah seorang pengecut yang bisa-bisanya sudah merusak sepupunya dan tidak bertanggung jawab sama sekali.
Elang hanya menarik napas melihat kepergian Rendy yang memang jelas begitu membenci dirinya.
" Elang!" tegur seorang wanita menepuk bahu Elang.
" Cindy!" sahut Elang yang ternyata Cindy kekasihnya.
" Kamu kenapa kok bengong aja?" tanya Cindy heran.
" Tidak apa-apa," sahut Elang bohong.
" Hmmm, begitu, oh iya nanti malam kita nonton bareng yuk," ajak Cindy.
" Hmmm, baiklah," sahut Elang tanpa menolak.
" Ya sudah, ayo pergi, ngapain masih berdiri di sini," ucap Cindy. Elang mengangguk dan akhirnya pergi bersama Cindy. Walau perasaan Elang sebenarnya sangat tidak tenang bagaimana bisa tenang ada wanita di sana yang sedang hamil anaknya sementara dirinya bersama wanita lain. Tidak ingin menyakiti wanitanya. Tetapi membuat wanita lain tersakiti.
**********
Sementara Rania yang berada di rumah papanya termenung yang termenung di taman dan Willo berada dekatnya yang sedang melakukan terapi bersama perawat yang di sediakan oleh Rendy. Rania mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan mengetik pesan.
__ADS_1
..." Rendy aku masih di tempat kak Willo, kamu jangan lupa makan siang ya, oh iya aku nanti pulang malam ya, nanti papa aja yang nganterin kamu tidak perlu jemput, bye...." tulis Rania dalam pesannya pada suaminya....
Rania juga sangat berharap Rendy membalasnya. Dan dia terus menunggu pesannya di balas suaminya. Namun sama sekali tidak ada.
" Dia benar-benar masih marah kepadaku," batin Rania yang terlihat begitu murung.
Perawa sudah selesai terapi dengan Willo dan perawat pamit dengan Willo. Karena Rania melamun terus sampai tidak menyadari perawat sudah berpamitan dengannya dan hal itu membuat Willo heran dengan adiknya yang begitu murung.
" Rania," tegur Willo.
" Ha iya kenapa kak," sahut Rania tersentak. Rania melihat kakaknya tinggal sendiri dan perawatnya sudah tidak ada.
" Mana perawatnya?" tanya Rania bingung.
" Udah pergi, makanya kamu itu jangan melamun," sahut Rania ketus.
" Ohhh, begitu," sahut Rania yang tidak begitu semangat.
" Kamu kenapa sih?" tanya Willo.
" Nggak apa-apa gimana, wajah kamu itu di tekuk seperti itu. Ohhh, aku tau pasti lagi berantam sama suaminya," sahut Willo menebak-nebak.
" Sok tau," sahut Rania.
" Alah jujur ajalah, aku itu duluan nikah dari pada kamu. Alah suami istri juga kalau berantam baikannya juga akan kelar kalau sudah di atas ranjang," ucap Willo membuat Rania melihat kakaknya.
" Maksud kakak?" tanya Rania.
" Heh, Rania ini itu nggak jamannya kalau ribut laki-laki yang bujuk-bujuk. Wanita juga bisa melakukannya, hanya tinggal rayu-rayu laki-laki juga pasti luluh. Udah jangan gengsi kalau memang kamu lagi berantam dengan Rendy. Keluarin aja jurus kamu untuk merayunya paling dia juga akan luluh," ucap Willo memberi saran. Dan Rania sepertinya sangat tertarik dengan kata-kata kakaknya itu.
Secara tidak langsung adik kakak itu sudah begitu akrab walau Willo masih bicara ketus pada Rania.
**********
__ADS_1
************
Setelah malam hari Rendy pulang kerumahnya seperti biasa. Saat memasuki kamar Zahra yang melihatnya langsung menghentikan Rendy.
" Rendy tunggu!" panggil Zahra yang langsung menghampiri Rendy sebelum Rendy memasuki kamarnya.
" Ada apa ?" tanya Rendy sudah begitu kesal dengan Zahra.
" Apa yang terjadi bukan salah Rania aku yang memintanya untuk tidak memberitahumu," ucap Zahra menjelaskan pada Rendy.
" Terus saja kamu ajari dia yang tidak-tidak," sahut Rendy yang dari jawabannya terlihat begitu marah pada Zahra.
" Aku minta maaf Rendy, aku tau kamu marah. Aku sudah membuat kamu kecewa. Maafkan aku Rendy," ucap Zahra memohon maaf layaknya adik yang takut pada kakaknya.
" Aku lebih marah dengan sikapmu Zahra. Kamu lihat apa yang kamu lakukan. Sudah tau seperti itu malah diam. Sudah tau seperti itu malah membiarkan Elang pergi. Lalu menurut kamu kamu bisa mengahadapi semuanya hah! kamu bisa membesarkan bayi di dalam kandungan kamu tanpa seorang ayah. Apa kamu bisa melakukannya," ucap Rendy yang penuh dengan kemarahannya pada Zahra.
" Rendy aku akan menerima resikonya. Apapun yang terjadi akan aku terima, ini sudah takdirku," ucap Zahra yang pasrah dengan hidupnya.
" Ya sudah kalau memang kamu merasa itu takdirmu ya sudah sana kamu lanjutkan. Berarti kamu tidak butuh keluarga ini. Kamu bisa menyelesaikannya sendiri ya sudah sana selesaikan," ucap Rendy yang terlihat capek.
" Maafkan aku Rendy, aku sudah membuat kamu dan Tante Ratih kecewa. Aku minta maaf," ucap Zahra dengan air matanya yang menetes yang penuh penyesalan.
" Kamu taukan Zahra bagaimana hancurnya mama saat mengetahui kamu seperti ini dan kamu pikir maaf yang kamu katakan masih berguna, semuanya sudah selesai," sahut Rendy dengan suara serak yang begitu kecewa. Zahra hanya bisa diam dan tidak bisa bicara apa-apa lagi.
" Masuklah kekamarmu, aku mau istirahat," ucap Rendy.
" Rania, sangat sedih dengan sikapmu kepadanya," sahut Zahra membuat Rendy yang membuka pintu kenopi kamarnya. Namun mendengar Zahra bicara Rendy tidak jadi masuk.
" Rencananya tadi pagi aku menceritakannya padamu. Tapi kami tidak tau. Kalau Anisa yang mendahului kami. Rendy semasa Rania menyimpan rahasia ini dia terus merasa gelisah. Aku yang terus menahannya. Kau mohon jangan salahkan dia untuk semua ini. Aku yang salah," ucap Zahra.
Rendy menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu memasuki kamarnya tanpa mendengarkan Zahra lagi.
" Ya Allah aku sangat berharap Rendy benar-benar bisa berbaikan dengan Rania, semoga mereka bisa berbaikan secepatnya," batin Zahra dengan penuh harapan.
__ADS_1
Bersambung