
Setelah tenang Rania dan Rendy pun akhirnya pulang kerumah mereka masih berada di dalam mobil dengan Rendy memegang tangan istrinya untuk menguatkan istrinya.
" Kita masuk. Kamu harus istirahat," ucap Rendy.
Rania mengangguk dengan air mata yang masih saja terus mengalir. Rendy tersenyum dan terlebih dahulu keluar dari mobil dan langsung menghampiri pintu mobil Rania dan langsung membuka pintu mobil untuk Rania membuka sabuk pengaman istrinya lalu membantu istrinya ke luar dari mobil.
" Kamu bisa jalan?" tanya Rendy. Rania mengangguk dan Rendy membantunya berjalan yang mana-mana masih begitu lemas.
Mereka pun berjalan Memasuki rumah di di rumah sendiri banyak orang yang sibuk mempersiapkan acara untuk Zahra.
" Kak Rania lihat, warnanya cantik bukan," sahut Nia yang begitu melihat Rania langsung menunjukkan baju bayi pada Rania.
Rania diam saja namun Rendy seperti memberi isyarat dari matanya untuk Nia tidak mengganggu Rania dan Nia sangat cepat mengerti lalu diam dan Rendy membawa istrinya menaiki anak tangga yang alhasil membuat orang-orang di rumah itu penuh kebingungan.
" Kenapa Rania?" tanya Ratih pada Nia.
" Tidak tau mah. Tapi kayaknya ada masalah deh, soalnya aku melihat mata kak Rania kayak habis nangis," jawab Nia.
" Ya Allah apa lagi yang terjadi pada menantuku," batin Ratih yang langsung begitu cemas pada menantunya.
***********
Di dalam kamar ternyata Rania masih menangis di pelukan Rendy di mana Rendy yang bersandar di atas ranjang dan Rania memeluk suaminya dan menagis di pelukan suaminya dan Rendy membiarkannya saja dengan mengusap-usap rambut Rania dan juga mencium pucuk kepala Rania berkali-kali.
Tidak ada yang di katakan Rania dalam tangisnya. Dia hanya menangis saja dan memeluk erat suaminya tersebut. Begitu juga dengan Rendy yang tidak bicara apa-apa lagi.
Lama-lama suara tangis itu akhirnya memelan dan tidak ada lagi yang mana Rania sudah tertidur dan Rendy melihat wajah istrinya yang begitu bertantangan pipi itu penuh dengan air mata dan Rendy langsung mengusap air mata di pipi itu dengan mencium kening Rania dan memeluknya dengan erat dengan menarik selimut
__ADS_1
" Aku tau Rania kamu begitu hancur. Aku tau itu Rania. Maafkan aku sayang," ucap Rendy yang menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi pada istrinya.
***********
Mentari pagi kembali tiba Rania sudah bangun dari tidurnya Dan duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tidak lama Rendy datang dengan membawakan Rania bunga mawar yang indah yang membuat Rania mengukir senyum. Walau sebenarnya dia masih sedih.
Rendy duduk di samping Rania dengan memberikan bunga yang indah itu pada istrinya.
" Selamat pagi," sapa Rendy.
" Pagi," sahut Rania dengan mencium harum bunga itu dan melihat ada suratnya di dalamnya. Rania melihat ke arah suaminya.
" Bacalah!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan langsung membaca surat itu.
" Tetaplah menjadi satu-satunya istriku, aku mencintaimu karena Allah. Dan jika cinta itu karena Allah. Maka itu tidak akan pernah hilang. Aku hanya ingin terus bersamamu, kita berdua selamanya dan selamanya," tulis Rendy dalam suratnya yang membuat Rania berkaca-kaca dan melihat ke arah suaminya.
" Aku tidak ingin air mata ini keluar lagi. Sayang berjanjilah padaku. Kamu tidak akan menagis lagi. Aku akan merasa gagal sebagai suami jika kamu harus menangis lagi. Kamu itu wanita yang hebat dan lihatlah Allah begitu sayangnya kepada kamu. Dan aku sangat itu kepada kamu yang begitu banyak di beri cobaan yang mana itu pertanda Allah benar-benar sangat menyayangi kamu. Dia tau jika wanita kuat ini adalah wanita yang paling terbaik paling tersabar dan bisa menghadapi semua cobaan ini," ucap Rendy berkata dengan begitu lembut pada Rania.
" Jangan memikirkan apa-apa lagi Rania. Aku tidak ingin kamu terus menagis seperti kemarin. Kamu maukan janji pada ku," ucap Rendy. Rania mengangguk-anggukkan kepalanya dan Rendy langsung memeluknya dengan erat.
" Istriku yang cantik tidak pernah mengingkari janjinya dan aku percaya itu. Dia tidak akan menangis lagi. Karena dia begitu kuat dan alasanku mencintainya karena kekuatannya yang begitu besar," ucap Rendy sembari mengusap-usap rambut Rania.
" Kamu benar Rendy aku memang tidak akan menangis karena penyakit ini. Aku juga tidak akan membiarkan kalah dengan penyakit ini. Jika kamu menyadari aku kuat. Maka iya aku akan kuat dan tidak akan peduli seberapa sakit yang aku rasakan nanti," batin Rania dengan menahan air matanya.
**********
Hari ini adalah acara 7 bulanan Zahra dan juga sekalian untuk baby shower untuk Zahra. Acara sendiri di adakan di rumah Ratih yang di hadiri keluarga dan kerabat. Keluarga Elang juga datang untuk acara penting itu keluarga Rania juga datang dan ternyata kakinya Willo sudah sembuh dan sudah bisa berjalan tanpa kursi roda lagi.
__ADS_1
Selain keluarga penting itu. Agam dan Anisa juga datang. Namun tidak terlihat Sarah di sana. Mungkin memang Sarah masih sakit hati karena di usir dan tidak mau datang kerumah itu.
Bukan hanya mereka keluarga Iren juga datang bersama suaminya Jaya dan juga Gilang yang ternyata Gilang datang bersama Monika yang kabar-kabarnya mereka sudah tunangan.
Rendy dan Rania duduk berduaan dengan tangan yang saling menggenggam mengikuti acara Zahra yang mana sekarang Zahra sedang melakukan ritual siraman dengan Ratih, Oma, Elang, mama dan papa Elang di sekitarnya yang bergantian menyiram Zahra.
Beberapa kali Rendy memperhatikan wajah istrinya yang takut istrinya kenapa-kenapa. Atau malah sedih dengan melihat hal itu. Namun tidak Rania justru tersenyum dan bahagia dengan Zahra yang melakukan ritual tersebut.
Anisa dan Agam juga mengikuti acara tersebut dan juga terlihat Anisa yang senyum-senyum.
" Apa kalau kandungan kamu nanti sudah sebesar itu. Kamu juga akan melakukan itu?" tanya Agam pada Anisa.
" Ya iyalah apa bedanya," sahut Anisa.
" Berarti kamu akan buka jilbab dong?" tanya Agam.
" Kok buka jilbab?" tanya Anisa heran.
" Ya Zahra lihatlah di mandikan seperti itu," sahut Agam.
" Ya nggak gitu juga dong Agam!" sahut Anisa heran.
" Lalu?" tanya Agam.
" Ya aku bisa tetap pakai jilbab, lagian masa iya siraman aja langsung aurat buka sana buka sini. Kamu mah aneh," ucap Anisa.
" Hmmm, begitu rupanya. Baguslah kalau begitu," sahut Agam. Anisa hanya geleng-geleng saja dengan suaminya yang pikirannya aneh-aneh saja.
__ADS_1
Bersambung