
Rendy memasuki ruang perawatan Rania. Rania masih terbaring lemah dan sedari tadi belum juga bangun. Di hidungnya masih terpasang alat pernapasan begitu juga di tangannya.
Langkah Rendy mendekati tempat tidur itu dan berdiri di samping Rania. Rania mengusap-usap kepala Rania dengan menatap nanar wajah istrinya yang terlihat begitu pucat. Rendy menundukkan dirinya untuk mencium lembut kening Rania.
Saat merasa lembab di keningnya Rania membuka matanya perlahan dan langsung mendapati wajah suaminya yang begitu dekat dengannya.
" Kamu sudah bangun sayang!" ucap Rendy. Rania mengangguk pelan yang mungkin masih begitu lemas sampai bicara saja pun sudah.
" Kamu sudah tidak apa-apa kan?" tanya Rendy lagi.
" Aku tidak apa-apa. Bagaimana anak kita? apa anak kita baik-baik aja?" tanya Rania dengan suara pelan, suaranya yang begitu lemah.
" Iya sayang dia baik-baik saja. Anak kita tidak apa-apa," jawab Rendy dengan matanya berkaca-kaca.
Rania tersenyum lega saat mengetahui bayinya masih ada. " Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah untuk keselamatan bayi kami," ucap Rania yang bersyukur.
" Apa Dokter mengatakan kondisiku semakin parah?" tanya Rania. Rendy mengangguk karena itu memang apa adanya.
" Dia juga pasti menyarankan untuk mengambil keputusan untuk pengangkatan janin," ucap Rania seakan tau apa yang terjadi.
" Kamu benar sayang," sahut Rendy.
" Kamu tidak setuju kan?" tanya Rania.
Rendy menggelengkan kepalanya dengan memegang tangan istrinya. " Aku tidak setuju untuk semua itu. Aku sudah berjanji pada kamu dan itu artinya aku tidak akan menyetujui hal itu. Apapun yang terjadi aku tidak akan mengingkari janjinya ku. Kecuali kamu yang mengubah keputusan kamu sendiri," ucap Rendy dengan yakin.
" Makasih ya sayang, kamu sudah mau menepati janji. Aku bersyukur jika kita berdua masih berusaha untuk menyelamatkan anak ini," ucap Rania yang berbicara dengan lemah.
" Jangan berterima kasih. Kita hanya melakukan apa yang terbaik untuk kita berdua. Dan iya sayang untuk kali ini. Kamu harus di rawat di rumah sakit ya, agar kondisi kamu bisa semakin membaik," ucap Rendy mengatakan apa yang sebelumnya di katakan Dokter.
" Berapa lama?" tanya Tania.
" Beberapa Minggu kedepan," jawab Rendy.
__ADS_1
" Lama sekali. Pasti itu sangat bosan," keluh Rania.
" Aku kan ada di sini. Nanti aku siapkan kamar untuk kamu yang lebih baik. Seperti di rumah, agar kamu tidak bosan," ucap Rendy yang akan melakukan apapun demi kebaikan istrinya.
" Ya sudah. Tapi janji ya ruangannya harus nyaman, biar aku tidak berbaring terus," ucap Rania.
" Pasti sayang. Jangan khawatir," sahut Rendy yang memang pasti akan melakukan hal itu.
" Ya sudah, aku pengen makan tiba-tiba," ucap Rania.
" Baiklah katakan istriku ingin makan apa?" tanya Rendy.
" Makan sup iga," jawab Rania.
" Baik, aku akan membelinya," jawab Rendy yang siap siaga.
" Kalau kamu masak sendiri boleh. Karena aku ingin makan masakan kamu," ucap Rania yang request permintaan.
" Kalau begitu aku harus pulang dulu," sahut Rendy.
" Ya sudah aku akan pulang. Kira-kira kamu mau apa lagi?" tanya Rendy.
" Sudah cukup itu aja. Sekalian pakaianku yang di bawa yang tertutup-tutuo dan jilbab-jilbab yang aku beli kemarin juga di bawa, terus laptop dan buku-buku aku," ucap Rania berpesan pada suaminya apa-apa saja yang harus di bawa kerumah sakit.
" Baik sayang ada lagi?" tanya Rendy.
Rania tampak berpikir kira-kira apa lagi yang ingin di bawakan suaminya, " sudah tidak ada lagi," jawab Rania.
" Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya untuk mengambil semua keperluan istriku dan pasti untuk membawakan makanan kesukaannya, dan iya nanti kalau ada apa-apa. Kamu panggil suster. Nia juga lagi Otw mau kemari. " ucap Ardian yang berpamitan.
" Ya sudah kamu hati-hati," ucap Rania.
" Iya sayang," sahut Rendy yang sebelum pergi mencium kening Rania, mencium pipi kanan dan kirinya dan juga mengecup bibir Rania.
__ADS_1
" Assalamualaikum," ucap Rendy berpamitan."
" Walaikum salam," sahut Rania dan Rendy pun langsung pergi keluar dari ruangan itu.
Rania terlihat mengusap-usap perutnya yang mulai membesar, " Alhamdulillah sayang kamu masih baik-baik aja. Makasih ya sayang sudah bertahan untuk ibu. Kita sama-sama berjuang ya. Kamu harus bertahan terus sampai lahir ke dunia ini. Dunia ini sangat indah sayang dan ayahmu sangat baik. Kamu harus lahir dan akan ibu yakin saat dewasa nanti Pria yang menjadi idolamu adalah ayahmu sendiri. Sama seperti ibu yang sangat mengidolakannya. Jadi tetaplah bertahan, supaya ayahmu juga tidak kesepian nanti. Karena ibu tidak bisa bersama dengan kalian. Ibu akan menunggu kalian di surga nanti," Rania bercerita panjang lebar pada bayi yang ada di janinnya dengan tersenyum. Namun matanya berkaca-kaca.
" Ibu sudah tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi. Karena itu kamu akan lahir ke dunia ini. Ibu hanya berdoa. Semoga sebelum ibu pergi. Ibu masih di beri kesempatan untuk melihat kamu. Walau hanya sedetik saja. Paling tidak kita ada foto bareng. Supaya kamu tau jika sudah dewasa nanti kamu bisa melihat ibu saat menggendongmu," batin Rania yang tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi.
Hal itu pasti tidak akan lama dan tidak akan terasa. Mungkin yang lain takut dengan hal itu. Karena kondisi Rania pasti akan semakin parah. Tetapi tidak untuk Rania yang memang ingin melawan semuanya. Walau itu nanti akan sesakit apapun dia hanya ingin memberikan keturunan kepada suaminya.
*********
Rendy benar-benar akan menuruti semua kemauan istrinya terutama untuk memasak sup iga. Masakan suaminya memang masakan yang paling nikmat untuk Rania.
Jadi Rendy harus kerja ekstra untuk membuat makanan itu. Rendy memang terlihat buru-buru. Karena tidak mau meninggalkan istrinya lama-lama di sana. Tetapi walau pun masakan itu di buru-buru. Tetapi bisa di jamin rasanya pasti akan enak.
Ratih yang masih ada di rumah menghampiri Rendy yang sibuk di dapur. Ratih melihat Rendy begitu telaten dengan apa yang di kerjakannya yang membuat Ratih tersenyum.
" Rania sendirian di rumah sakit?" tanya Ratih.
" Tadi pas aku tinggal iya. Tetapi tadi Nia bilang lagi di jalan mau kerumah sakit. Pasti sekarang Nia sudah sampai," jawab Rendy.
" Begitu rupanya," sahut Ratih.
" Mama sendiri belum ke bandara untuk menjemput Oma?" tanya Rendy.
" Iya ini juga mau pergi," sahut Ratih. " Ya sudahlah mama sebaiknya pergi dulu. Kamu nanti hati-hati ya kalau Kerumah sakit," ucap Ratih berpesan.
" Mama juga hati-hati ucap Rendy.
" Iya nak. Ya sudah mama pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Ratih pamit.
" Walaikum salam," sahut Rendy.
__ADS_1
Bersambung.