
Tidak menunggu lama setelah melakukan diskusi yang panjang. Mengambil keputusan dengan tenang. Mencoba membuat Zahra mengerti dan akhirnya keputusan besar di ambil dan pernikahan itu pun terjadi.
Walau hanya menikah sampai bayinya lahir. Elang tetap memberitahu orang tuanya. Namun karena orangtuanya jauh di Luar Negri. Jadi tidak bisa hadir. Namun mereka memberikan restu. Karena orang tuanya juga tidak tau jika Elang memiliki hubungan dengan Cindy.
Pernikahan itu hanya akad yang sakral. Yang di hadiri keluarga lengkap. Oma Wati juga sudah hadir di sana dan keluarga Iren dan Jaya yang tak lain orang tua Gilang juga hadir di sana. Ada juga Nia yang sudah selesai dalam tugas kuliahnya.
Pernikahan hanya di lakukan di ruang tamu dengan saksi yang lengkap yang pasti adanya penghulu. Di mana Elang dengan kemeja yang di lapisi dengan Jas putih sudah duduk di depan penghulu dan Zahra juga sudah siap dengan kebaya putih yang tampak anggun yang sudah duduk di samping Elang.
" Apa sudah bisa kita mulai?" tanya penghulu.
Elang dan Zahra saling melihat. Bisa di lihat wajah ke-2nya tampak ragu. Namun memang harus yakin. Walau yang di rugikan dalam hal ini adalah Zahra.
" Ya Allah mungkin ini sudah takdir ku. Aku menerima semuanya ya Allah," batin Zahra yang mencoba untuk ikhlas.
" Aku memang harus yakin, ini sudah pilihan yang aku ambil," batin Elang.
" Untuk ke-2 calon pengantin apa bisa Keta mulai?" tanya penghulu sekali lagi yang masih menunggu jawaban dari ke- calon pengantin tersebut.
" Iya pak, kami sudah siap," sahut Elang dengan yakin.
" Baiklah kalau begitu, kita mulai saja," sahut penghulu mengulurkan tangannya dan Elang langsung menyambutnya.
" Saudara Elang saya nikahkan engkau dengan Zahra binti Fuad dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas 15 gram di bayar tunaiiiii,"
" Saya terima nikahnya Zahra binti Fuad dengan maskawin tersebut di bayar tunaiiii,"
" Bagaimana saksi, sah?"
" Sah,"
" Alhamdulillah, barakallah,"
Izab kabul di laksanakan dengan lancar, begitu juga dengan Elang yang awalnya gugup dan tidak yakin bisa ijab kabul karena memikirkan Cindy. Ternyata salah, dia bisa ijab kabul dengan lancar dan Zahra sah menjadi istrinya.
Mereka semua berdoa dengan khusyuk dengan ekor mata Elang yang fokus pada Zahra.
" Amin," sahut penghulu.
" Ayo nak Zahra cium tangan suamimu!" titah penghulu. Zahra mengangguk dan perlahan menghadap Elang. Mencium punggung tangan Elang. Setelah itu Elang juga mencium kening Zahra dengan lembut.
Ratih tersenyum simpul melihat pernikahan yang sederhana. Namun mampu membuatnya begitu sampai sangat terharu.
__ADS_1
" Ya Allah jadikan pernikahan ini sebagai pelajaran untuk mereka ber-2. Jadikan mereka keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Tutuplah aib mereka," batin Ratih dengan penuh doa dan harapannya pada Zahra dan Elang.
" Aku berharap Elang benar-benar bertanggung jawab kepada Zahra. Dia tidak mempermainkan pernikahan ini," batin Rendy yang masih was-was.
" Zahra, aku tau kamu sulit menerima ini. Percayalah Zahra, Allah sudah mengatur takdir setiap orang dan jika kamu bersabar kamu mendapatkan hasil yang terbaik. Semoga kalian berdua bisa bahagia dan pernikahan ini bukan hanya sampai masa di tentukan. Tetapi sampai ajal menjemput," batin Rania dengan doa-doanya yang tulus kepada Zahra yang memang sahabat karibnya yang selalu membantunya
***********
Akhirnya pernikahan selesai. Para penghulu dan beberapa tetangga yang di undang sudah pulang.
" Hmmm, kami juga sebaiknya pulang," sahut Iren yang tampaknya tidak terlalu nyaman lama-lama di rumah itu.
" Cepat sekali mbak, apa kita tidak makan duku," sahut Ratih.
" Tidak usah, kami juga tidak lapar," sahut Iren yang langsung menolak.
" Tante yakin tidak lapar," sahut Nia.
" Iya," jawab Iren ketus, " Ya sudah kami harus pergi," sahut Iren lagi.
" Ya sudah kalian hati-hati," sahut Oma Wati.
" Iya mah," sahut Iren yang pamitan.
" Makasih Gilang," sahut Zahra.
" Kami permisi, assalamualaikum," sahut Jaya pamit.
" Walaikum salam," sahut semuanya serentak. Iren, Jaya dan Gilang pun akhirnya pergi dari rumah itu.
" Ya sudah Elang, Zahra kalian juga sebaiknya istrirahat. Kalian pasti capek," ucap Ratih.
" Iya Tante," sahut Zahra.
" Tenang saja kamar kak Zahra sudah aku bersihkan," sahut Nia dengan senyum lebarnya.
" Makasih Nia," sahut Zahra tersenyum tipis.
" Elang kapan barang-barang kamu akan kembali kamu bawa kerumah ini?" tanya Rendy sedikit tegas.
" Secepatnya," sahut Elang.
__ADS_1
" Jangan lama-lama," sahut Rendy.
" Iya Rendy kamu tenang saja," sahut Elang.
" Ya sudah, kalau mau istirahat, maka istirahat, kalau mau makan maka makan," sahut Oma Wati.
" Iya aku juga sudah menyiapkan makananya," sahut Anisa. Yang lainnya hanya mengangguk saja.
" Maaf Bu," tiba-tiba bibi menghampiri orang-orang yang sedang berbincang itu.
" Ada apa bi?" tanya Ratih.
" Ada tamu yang ingin bertemu?" jawab bibi.
" Siapa?" tanya Elang kelihatan panik. Dia tiba-tiba kepikiran dengan Cindy.
" Selamat siang," tiba-tiba muncul seorang Pria yang dengan santainya mengucapkan salam yang belum di suruh masuk sudah main masuk saja. Orang-orang yang ada di sana heran dengan Pria itu. Namun Anisa terlihat schok dengan dengan matanya yang melotot yang seolah napasnya ingin berhenti.
Ternyata Pria itu adalah Agam. Pria tampan yang tampak selow yang di temuinya seminggu yang lalu.
" Dia, ngapain dia di sini dari mana dia tau rumah ini," batin Anisa dengan panik dan mendadak pucat.
" Kamu siapa?" tanya Oma Wati.
" Hmmm, perkenalkan saya Agam," sahut pria itu dengan suka-suka melangkah mendekati orang-orang itu dan bahkan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri dan yang pertama adalah Elang yang membuat Elang bingung namun tetap di sambutnya, langsung pada Rendy dan pada Rania namun Rania tidak menyambut uluran tangan itu tetapi hanya menyatukan ke-2 tangannya sebagai ucapan salam.
Agam juga mencium punggung tangan Ratih dan Oma Wati. Dengan penuh kebingungan mereka hanya membiarkan saja.
" Senang bertemu dengan kalian semua," ucap Agam dengan santainya yang sudah selesai bersalaman.
" Maaf nak Agam. Ada perlu apa ya kemari?" tanya Ratih dengan lembut.
" Saya ingin menemuinya," sahut Agam yang langsung melihat Anisa. Mati Anisa rasanya ingin pingsan dengan Agam terang-terangan melihat dirinya dan pandangan orang-orang langsung fokus dengan Anisa menatap dengan penuh keheranan.
" Kak Anisa maksud kamu, memang kamu mengenalnya?" sahut Nia bertanya.
" Iya saya mengenalnya, makanya ingin menemuinya dan untungnya saya tidak salah rumah. Anisa kamu apa kabar. Aku dan Anisa sangat dekat," ucap Agam dengan suka-sukanya bicara. Namun Anisa mematung diam yang tidak mampu berkata-kata lagi.
" Dekat, serius?" tanya Nia tidak percaya.
" Benar. Iya kan Anisa," sahut Agam dengan mengedipkan sebelah matanya. Yang lain benar-benar kebingungan dengan kehadiran Pria yang mengaku-ngaku dekat dengan Anisa. Namun Anisa hanya diam tanpa bicara apa-apa.
__ADS_1
Bersambung