
Rania dan Rendy yang akan berangkat ketanah suci pagi-pagi begini sudah siap dalam segala persiapan mereka. Mereka sudah rapi-rapi yang pagi-pagi memang akan berangkat.
Supir juga sudah memasukkan koper Rania dan Rendy ke dalam bagasi mobil. Sementara Rania dan Rendy berpamitan pada orang-orang di rumahnya dan tumben sekali Anisa dan Sarah tidak ada di sana. Biasanya ke-2 wanita itu tidak akan puas jika tidak membuat kegaduahan.
" Ma Rania pergi dulu," ucap Rania dengan memeluk ibu mertuanya itu.
" Iya sayang, kamu baik-baik ya di sana. Semoga ketika pulang kalian berdua semakin dewasa dalam menghadapi setiap masalah," ucap Ratih.
" Iya mah," sahut Rania melepas pelukan itu dan pamitan pada Oma Wati.
" Semoga perjalanan kalian lancar," ucap Oma Wati memberi pesan.
" Iya Oma," sahut Rania yang langsung memeluk Zahra.
" Hati-hati ya Rania, semoga ibadahnya khusyuk ya," ucap Zahra.
" Iya Zahra makasih ya," ucap Rania yang langsung beralih untuk memeluk Nia.
" Kak Rania hati-hati ya. Jagain kakak aku," ucap Nia.
" Iya Nia kamu tenang saja," sahut Rania yang tersenyum lebar.
Rendy juga berpamitan pada mamanya, memeluk mamanya.
" Rendy berangkat mah," ucap Rendy.
" Iya Rendy. Hati-hati ya di sana. Jaga istri kamu," ucap Rendy.
" Iya mah," sahut Randy yang memeluk Oma Wati.
" Kalau sudah sampai di kabari," ucap Oma Wati berpesan. Rendy hanya mengangguk saja. Langsung dia memeluk adik kesayangannya.
" Akhirnya kak Rendy sama kak Rania bulan madu juga," ucap Nia yang mengambil kesempatan untuk menggoda.
" Kamu ini ya," sahut Rendy geleng-geleng.
" Sudah-sudah jangan dengarkan Nia. Sana kalian berangkat nanti kalian ketinggalan pesawat," ucap Ratih.
" Iya mah, ayo Rania!" ajak Rendy. Rania mengangguk.
__ADS_1
" Assalamualaikum," sapa Rendy berpamitan.
" Walaikum salam," sahut semuanya serentak. Rania dan Rendy pun langsung memasuki mobil. Mereka juga melambaikan tangan untuk orang yang mereka tinggalkan.
Sarah dan Anisa hanya melihat dari balkon. Di mana yang mereka lihat hanyalah kebencian, iri dengki pada 2 orang itu.
" Semuanya sia-sia," ucap Anisa yang langsung pergi dengan kemarahan.
" Anisa!" panggil Sarah. Namun Anisa tidak merespon. Karena dia sudah benar-benar muak dengan Rania dan Rendy yang semakin bahagia.
" Kenapa semuanya jadi seperti ini," desis Sarah yang juga emosi dengan rencananya yang gagal berantakan.
************
Rania dan Rendy sudah sampai di bandara. Rania dan Rendy tampaknya berada di tanah suci Mekkah lumayan lama. Karena pasangan suami istri itu membawa barang banyak. 2 koper pasti banyak lah.
Setelah melakukan proses, pemeriksaaan dan prosedur lainnya Rania dan Rendy pun langsung memasuki pesawat. Rendy mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam arena kursi terlebih dahulu.
Rania tersenyum dan duduk di dekat jendela pesawat baru Rendy menyusul untuk duduk di samping Rania. Mereka saling melihat dengan sama-sama tersenyum.
" Kalau kamu mau istirahat. Istirahatlah," ucap Rendy. Rania mengangguk.
" Aku tidak sabar ingin sampai," sahut Rania.
" Ini pertama kalinya aku ke Mekkah. Makasih ya Rendy. Kamu sudah mengajakku untuk kesana," ucap Rania. Rendy tersenyum mengangguk. Dia bahkan tidak percaya. Jika Rania bisa sebahagia itu saat di ajak kesana.
************
Perjalanan di Pesawat yang jauh akhirnya di lalui Rendy dan Rania dengan baik. Mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Rendy memang sudah sangat sering melakukan ibadah umroh. Bahkan bisa di katakan dalam setahun bisa 3 sampai 4 kali dia pergi. Jadi Rendy sudah sangat familiar dengan Mekkah.
Setelah sampai di Mekkah Rendy dan Rania pun langsung menuju penginapan. Di mana Rendy akan mencari hotel di sekitar Masjidil haram supaya mendapatkan viuw yang indah. Rendy dan Rania sampai pada malam hari dan langsung memasuki kamar mereka.
" Ini kamarnya?" tanya Rania dengan kepalanya berkeliling melihat-lihat kamar yang luas itu yang tidak tau di lantai berapa.
" Hmmm, kita pesan satu kamar atau 2?" tanya Rendy. Rania langsung melihat kesal ke arah Rendy.
" 4," sahut Rania kesal dan langsung beralih dari hadapan Rendy. Rendy hanya mendengus melihat Rania yang terlihat kesal.
" Apa yang aku tanyakan salah?" tanya Rendy.
__ADS_1
" Nggak tau," sahut Rania ketus, " apa dia lupa sudah menikah!" Rania berdecak kesal dengan Rendy. Rendy memang tampaknya hanya ingin membuat Rania kesal.
Rania pun beralih ke jendela dan membuka tirai putih yang besar itu. Matanya Rania langsung berbinar. Takjub dengan apa yang di lihatnya di mana bisa melihat indahnya Masjidil Haram yang sungguh indah di malam hari.
" Ya Allah aku tidak percaya bisa melihat semua ini," ucap Rania yang terlihat begitu takjub. Matanya bahkan berkaca-kaca terharu. Jika orang sepertinya masih di berikan kesempatan untuk melihat keindahan itu.
Rendy yang masih berdiri di tempatnya tersenyum melihat kebahagian tipis istrinya itu. Rendy melangkah mendekati Rania berdiri di samping Rania.
" Aku selama ini selalu berpergian ke Luar Negri. Tetapi aku tidak pernah sekalipun datang ketempat ini. Bukan hanya indah. Tetapi begitu nyaman dan bahkan aku masih di sini saja terasa sangat teduh," ucap Rania menatap suaminya itu.
" Rendy apa kita akan kesana?" tanya Rania.
" Iya, akan ibadah umroh di sana?" jawab Rendy.
" Lalu aku harus bagaimana. Aku tidak tau caranya. Aku tidak bisa melakukannya," sahut Rania pelan. Rendy tersenyum tipis mendengarnya dan mendekatkan dirinya pada istrinya dengan memegang pipi Rania.
" Aku akan mengajarimu. Tidak ada yang tidak bisa," sahut Rendy. Rania tersenyum mengangguk mendengarnya.
" Ayo mandi sana. Setelah itu aku akan mengajarimu," ucap Rendy. Rania mengangguk dengan cepat. Dia pun langsung menuju kamar mandi. Rania memang terlihat jauh lebih semangat. Ini Ibadah umroh pertamanya. Jadi dia memang harus semangat.
**************
Setelah mandi dan Rendy juga sudah selesai mandi. Rania dan Rendy berada di atas tempat tidur yang saling berhadapan dengan bersilah kaki. Yang mana Rendy memang langsung mengajarkan istrinya hal-hal penting dalam pelaksanaan ibadah umroh.
Rania memang sangat cepat menangkap. Mungkin karena keinginannya yang kokoh dan niatnya juga yang tulus membuat Rania sangat mudah menangkap.
Rendy menatap istrinya yang sangat cantik saat membaca buku yang di berikan Rendy. Wajah cantik itu begitu serius menghapal semuanya. Namun pasti Rania yang sadar di tatap Rendy menjadi gugup dan menutup wajahnya dengan buku agar fokus menghafal.
Rendy tersenyum melihat Rania yang berusaha menghindari tatapannya. Namun Rendy yang begitu dingin. Sekarang hobi menjadi jahil dan menurunkan buku dari wajah Rania. Namun Rania menahannya dan Rendy terus berusaha menurutmu kan buku itu agar wajah Rania tidak tertutupi.
" Ishhh!" geram Rania yang melotot pada Rendy, " jangan menggangguku!" ketus Rania kesal dan membalikkan tubuhnya membelakangi Rendy. Agar kembali fokus. Apa yang di lakukan Rania hanya membuat Rendy senyum-senyum.
Namun Rendy memegang bahu Rania dan malah menjatuhkan Rania ketempat tidur membuat Rania kaget di mana lengan Rendy sudah di timpah kepalanya.
" Istirahatlah, ini sudah larut malam kamu pasti capek," ucap Rendy dengan lembut menarik selimut untuk mereka ber-2 dan meraih Raina kepelukannya. Menarik buku yang di pegang Rania meletakkannya ke atas nakas.
" Tapi kan belum selesai," ucap Rania.
" Tidak apa-apa besok lagi, ini sudah waktunya tidur," ucap Rendy dengan lembut.
__ADS_1
" Hmmm, baiklah," sahut Rania.
Bersambung