Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 44 Melamar.


__ADS_3

Willo berada di dalam kamarnya yang berdiri di depan Televisi yang menyunggingkan senyumnya. Ternyata yang membuat wajah itu tersenyum adalah saat melihat televisi.


Di mana ternyata berita tentang Rania yang sewaktu di acara pesta yang di uber-Uber wartawan yang mempertanyakan masalah pernikahan Rania. Dengan tersenyum kemenangan Willo sangat menikmati berita tersebut.


" Syukurin, memang enak. Orang-orang akan mengetahui siapa kamu sebenarnya. Di mana kamu adalah wanita yang selalu gagal menikah.


" Aku yakin ketika wartawan tau tanggal pernikahan itu tiba di hari pernikahan itu. Berita tentang Rania akan naik dan Rania akan semakin hancur karena batalnya pernikahan itu kembali.


Kehancurannya akan semakin banyak karena kegagalannya," batin Willo dengan senyumnya yang licik.


" Tidak salah jika aku membocorkan pernikahan itu pada wartawan. Seharusnya dari dulu aku memberi tahu para wartawan itu. Tapi tidak apa-apa ini belum terlambat. Karena besok rumah ini akan di penuhi wartawan dan Rania akan kembali mendapat hinaan dari orang lain," batin Willo yang ternyata bocornya berita pernikahannya karena perbuatannya.


" Jika hidupku berantakan karena ulahmu. Maka kamu juga akan jauh lebih berantakan," batin nya yang menyunggingkan senyumnya.


Memang Willo lah yang ada di balik semuanya. Willo yang sudah menghancurkan semuanya. Rania mendapat masalah baru karena perbuatan Willo yang lagi-lagi tidak menyukai Rania. Yang tidak ingin melihat Rania bahagia. Makanya Willo dengan suka-suka memberi tahu semuanya.


Tiba-tiba Willo mendengar mesin mobil. Mata Willo mengarah pada jendela kamarnya dan langsung melangkah mendekati jendela kamar itu dan membuka tirai jendela.


Willo melihat mobil Alphard yang berhenti di depan rumahnya dan melihat Rendy yang keluar dari mobil.


" Itu kan selingkuhannya Rania, ngapain dia di sini," batin Willo yang penasaran, Willi lebih kaget lagi saat melihat Ratih Zahra dan juga Nia.


" Dan mereka, ngapain mereka datang kerumah ini. Ngapain mereka sama-sama kemari," ucapnya yang merasakan ada yang tidak beres. Dia pasti bertanya-tanya dengan kehadiran orang-orang itu ada di rumahnya.


Willo langsung menutup horden kamarnya dengan kuat dan langsung pergi dari kamarnya.


***********


Sementara Rania masih gelisah di dalam kamarnya. Beberapa kali Rania membuang napasnya kedepan dia sungguh dek-dekan. Rania mondar-mandir seperti setrikaan di dekat ranjanganya dengan tangannya yang memegang handphone dan sekali-kali Rania menggigit jarinya.


" Huhhhhh, Rania kamu harus tenang. Jika dia tidak datang. Berarti dia memang di selamatkan. Karena tidak mungkin juga kamu menikah dengannya. Itu sangat sangat tidak mungkin. Jadi tenang lah Rania kamu jangan berharap banyak. Tidak mungkin dia datang," batin Rania dengan gelisah.


Rania menyadari Rendy tidak pantas menikahinya. Tetapi Rania seakan berharap Rendy datang melamarnya untuk memastikan pernikahan yang sebelumnya mereka bicarakan.


Tok-tok-tok-tok.


Pintu kamar yang di ketuk membuat Rania kaget dan langsung melihat ke arah pintu kamar dengan gemuruh jantungnya semakin tidak karuan.


Ceklek. Pintu terbuka padahal tidak ada yang menyuruh masuk.


" Della," lirih Rania dengan napas beratnya. Bahkan Rania memegang dadanya karena dek-dekan.


" Kakak di tunggu di bawah, ada tamu yang ingin menemui kakak," ucap sang adiknya. Membuat wajah Rania terkejut.


" Tamu," sahut Rania dengan suara beratnya. Della mengangguk.


" Siapa?" tanya Rania.


" Itu, sepupunya kak Gilang yang kemarin pernah datang," jawab Della. Dek. Jantung Rania hampir copot ketika mengetahui siapa yang di maksud adiknya.


" Rendy!" batin Rania yang menyebutkan nama itu.


" Jadi dia datang, untuk apa. Tidak mana mungkin dia datang untuk itu, lalu untuk apa?" Rania malah bergerutu di dalam hatinya yang penuh tanda tanya.


" Kak Rania?" tegur Della yang melihat kakaknya bengong.


" Hah! iya kenapa?" tanya Rania yang malah gagap dan seperti orang linglung.


" Ayo turun, tamunya sudah menunggu. Kakak malah bengong," sahut Della geleng-geleng.


" Hah! i-iya," sahut Rania yang kehilangan fokus. Della pun keluar terlebih dahulu dan mengisahkan Rania yang masih tidak fokus. Rania menarik napasnya panjang dan perlahan membuangnya. Lalu Rania keluar dari kamarnya dengan cepat.


Saat keluar dari kamarnya yang ingin menuruni anak tangga. Bersamaan dengan Willo yang juga sepertinya ingin menuruni anak tangga. Yang mana Willi langsung menatap Rania dengan sini dan Rania menatap kakaknya dengan penuh kegelisahan.

__ADS_1


" Apa ada hubungannya, kedatangan Dokter itu dengan Rania," batin Willo yang penuh pemikiran.


" Jika hari ini adalah hari baik. Aku mohon untuk kak Willo agar tidak melakukan apa-apa pun," batin Rania yang menjadi khawatir.


Rania tidak memperdulikan Willo dan langsung memilih untuk menuruni anak tangga. Baru di beberapa anak tangga. Mata Rania sudah melihat ke arah ruang tamu yang ternyata benar kata adikknya Rendy datang.


Rendy datang bukan sendirian. Rendy datang bersama mamanya. Nia, dan sahabatnya Zahra. Saat mendengar hentak langkah heels itu. Rendy langsung melihat ke arah anak tangga dan melihat Rania yang semakin lama semakin sampai.


Mata Rania dan Rendy saling menatap dengan perasaan ke-2nya yang pasti sama-sama gelisah. Hal yang tidak bisa di ketahui apa artinya. Dek-dekan pasti, tidak tenang pasti. Semua bercampur aduk dalam mata yang masih saling menatap yang mungkin 2 pasang bola mata itu yang saling bicara.


" Dia benar-benar datang, apa kedatangannya untuk hal itu," batin Rania yang semakin dek-dekan.


" Ya Allah, jika memang wanita itu adalah jodohku. Engkau perlancarkan segalanya," batin Rendy yang tidak henti-hentinya berdoa di dalam hatinya.


Rania semakin dek-dekan ketika sudah sampai anak tangga terakhir dan menghampiri ruang tamu.


" Rania, duduklah!" sahut Faridah.


" Iya mah," sahut Rania. Rania pun duduk di samping mamanya dan di samping papanya. Rania melihat ke arah tamu di depannya tersenyum tulus melihatnya yang membuat perasaan Rania semakin tidak karuan.


" Maaf mbak, Rania sudah di sini. Apa yang ingin kalian bicarakan dengan Rania. Sepertinya sangat penting," sahut Ratih yang pasti juga bertanya-tanya.


" Apa Rania membuat kegaduhan," sahut Rudi yang langsung berpikiran buruk dan Rania langsung melihat papanya itu.


" Oh, tidak kok, mas, mbak, Rania sama sekali tidak membuat kegaduhan. Justru kedatangan kami kemari karena untuk menyampaikan niat anak saya," sahut Ratih dengan cepat.


" Nita, niat apa?" tanya Faridah semakin penasaran dan Rania sudah semakin panik.


" Begini Tante, Om, saya membawa keluarga saya kerumah ini. Kasna ingin menikahi Rania," sahut Rendy tanpa basa-basi.


Faridah, Rudi, Rania, Della dan Willo yang masih di ujung tangga kaget mendengar perkataan Rendy. Bahkan mata Willo sampai ingin keluar karena mendengar dalam waktu singkat ada yang ingin menikahi adiknya.


Sementara Rania yang tidak percaya dengan perkataan Rendy yang ternyata tidak mengubah keputusannya sama sekali.


" Apa maksud kamu Rendy?" tanya Faridah dengan napas beratnya yang pasti schock mendengar ucapan Rendy. Dan Rudi juga sama. Dia terlihat terkejut.


" Kamu ingin menikah dengan Rania?" tanya Rudi.


" Benar Om," sahut Rendy.


" Rendy, jelas kami sangat kaget dengan semua ini. Kamu kan tau sendiri. Rania baru saja batal menikah dan bahkan besok pernikahannya. Dan kamu ingin menikahinya," sahut Faridah.


" Saya tau apa yang terjadi kepadanya. Makanya saya ingin menikah dengannya di tanggal pernikahan yang seharunya dia menikah dengan tunangannya sebelumnya," sahut Rendy.


" Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Faridah. Rendy mengangguk.


" Mbak, nggak ada yang harus yakin atau tidak yakin. Rendy melamar Rania menjadi istrinya. Itu pasti sudah di pikirkan sebelumnya. Dan makanya dengan doa langkah kamu di permudah untuk datang kerumah ini," sahut Ratih yang bicara dengan bijak.


" Rendy adalah sepupunya dari Gilang. Apa ini tidak akan bermasalah dan akan menimbulkan keributan. Jika tiba-tiba Rendy menikah dengan Rania," sahut Rudi.


" Jika yang saya lakukan adalah untuk ibadah. Maka tidak akan ada keributan," sahut Rendy dengan tegas berbicara. Rudi terdiam mendengar kata-kata Rendy yang sangat tegas dan dewasa.


" Jadi mohon berikan kami restu untuk pernikahan besok," sahut Rendy. Faridah dan Rudi saling melihat.


" Rendy jika kamu melamar Rania. Saya sebagai ibunya jelas sangat bahagia mendengarnya. Apa lagi dengan polemik masalah yang banyak. Tetapi kembali lagi. Yang menikah adalah Rania dan semua keputusannya ada pada Rania," ucap Faridah yang menyerahkan pada putrinya.


Mata Rendy langsung melihat ke arah Rania. Dan Rania yang penuh kegugupan memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya melihat Rendy.


" Rania, maulah kamu menikah denganku?" tanya Rendy yang kembali melamar Rania.


Jantung Rania di dalam sana semakin tidak karuan saat mendengar kata-kata manis yang membuat perasaannya benar-benar tentram dan damai.


" Apa yang harus aku katakan?" batin Rania penuh kegugupan.

__ADS_1


" Rania, jawab Rendy. Apa kamu mau menikah dengannya?" tanya Faridah.


" Aku memang harus mengambil keputusan mungkin ini jalan satu-satunya untuk mengubah diriku. Pantas tidak pantas aku menjadi istrinya. Tetapi pada hakikatnya. Aku memang harus menikahinya karena aku juga juga tidak ingin membuat banyak kesalah pahaman lagi dengan kak Willo," batin Rania.


" Kenapa kak Rania diam. Apa dia tidak menerima lamaran kak Rendy," batin Nia yang cemas.


" Rania, menikahlah dengan Rendy. Dia laki-laki yang sangat baik. Aku yakin dia akan memberimu kebahagian," batin Zahra yang memang pasti mendukung sahabatnya.


" Rania!" tegur Faridah lagi, " Ayo di jawab," ucap Faridah.


" Benar, kak Rania, kakak menerima atau tidak lamaran kak Rendy," sahut Della. Rania melihat semua orang satu persatu termasuk Rendy yang menunggu jawaban darinya.


" Iya," jawab Rania. " Aku menerima lamarannya," sahut Rania dengan yakin.


Membuat Faridah, Ratih, Zahra, Nia, dan Della tersenyum.


" Jika dia tau siapa aku, tau masalahku. Tau kehidupanku dan masih ingin menikahiku. Maka aku akan menerima lamarannya," sahut Rania dengan yakin.


Rendy membuang napasnya lega dengan Rania yang menerimanya yang pasti membuatnya lega.


" Alhamdulillah," sahut Ratih yang dengan wajahnya penuh kebahagian.


Faridah juga merasa haru dengan adanya Pria yang melamar putrinya dalam waktu dekat. Sementara suaminya Rudi hanya diam dan menanggapi dengan datar.


Setelah mendengar Rendy bicara tadi memang tidak membuat Rudi bicara lagi. Sementara Willi di atas sana sudah mengepal ke-2 tangannya dengan wajahnya yang penuh emosi karena ada yang melamar Rania.


" Kurang ajar, jadi dia akan menikah dengan selingkuhannya," batin Willo dengan kompor yang meledup di dalam sana.


" Kalau Rania sudah menerima pernikahan ini. Itu berarti besok akan di adakan pernikahannya. Rendy apa ini tidak membuat kamu terlalu terburu-buru. Jika kamu merasa buru-buru Keta bisa tunda beberapa hari ke depan," sahut Faridah yang pasti kasihan dengan Rendy dan keluarganya yang sangat singkat untuk pernikahan.


" Tidak ada yang perlu di tunda untuk niat baik. Bukannya semuanya sudah di persiapkan. Jadi tidak ada yang perlu di Khawatirkan," sahut Rendy yang sangat tenang bicara.


Tujuan Rendy memang untuk menikahi Rania salah satunya adalah untuk menghindari hari esok yang pasti banyak media yang memastikan pernikahan itu. Karena mereka sudah mendengar isu-isu tentang batalnya pernikahan Rania dan Rendy seakan ingin menutup aib Rania.


" Ya sudah jika kamu memang sudah bulat dan yakin untuk menikah. Menikahlah besok, asalkan jangan ada Drama besok," sahut Rudi.


" Mas, apa yang mas bicarakan!" tegur Faridah pelan.


" Kita sama-sama berdoa untuk besok semoga semuanya di lancarkan," sahut Faridah dengan bijak.


" Iya mbak, saya dan keluarga saya juga akan kembali mengecek persiapan yang sudah tertunda," sahut Ratih. Faridah mengangguk. Rania dan Rendy kembali saling melihat dengan hati mereka yang masih sama-sama bergetar dan pasti sama-sama canggung.


" Aku berharap semuanya di permudahkan," batin Rendy dengan doanya.


" Sial," geram Willo yang langsung pergi karena emosian yang lagi-lagi adiknya jauh lebih beruntung di bandingkannya. Padahal dia sudah senang dengan berita yang akan mengguncang karir Rania. Dia memang paling senang kalau adiknya jatuh sejatuh-jatuhnya.


*************


Rania dan Zahra berbincang-bincang di luar rumah.


" Aku sangat bahagia Rania, kamu menerima lamaran Rendy," ucap Zahra dengan wajahnya yang sangat ceria.


" Zahra, aku tau. Tetapi aku malah takut. Aku takut, jika aku menikah dengan Rendy. Di akan dalam masalah," sahut Rania yang mengungkap kerisauan hatinya.


" Apa yang kamu katakan. Masalah apa. Tidak ada yang bersalah, semuanya baik-baik saja. Rendy berani melamarmu. Pasti dia sudah memikirkannya terlebih dahulu. Jadi kamu tidak perlu takut. Apa lagi khawatir," ucap Zahra.


" Aku jelas takut dan khawatir. Karena aku telah menikah dengan orang yang baik. Rendy menikahiku karena tidak ingin suami kak Willo mengganggu ku. Juga tidak ingin orang-orang tau tentang batalnya pernikahan ku. Seakan dia ingin sebagai penggantinya," batin Rania dengan wajah yang masih gelisah.


" Rania kamu kenapa?" tanya Zahra bengong melihat Rania yang diam saja.


" Hmmm, tidak apa-apa," sahut Rania.


" Sudahlah, kamu jangan memikirkan apa-apa. Ingat besok adalah pernikahan kamu. Jadi istirahatlah dengan baik," ucap Zahra memberi saran.

__ADS_1


" Makasih ya Zahra," sahut Rania tersenyum tipis. Zahra mengangguk-anggukan kepalanya.


Bersambung


__ADS_2