
Orang-orang yang ada di ruang tamu masih penuh kebingungan dengan kehadiran Agam yang ada di sana. Mereka juga melihat Anisa, seakan meminta klarifikasi dari Anisa. Tentang Adam. Namun Anisa malah diam tanpa kata, seperti orang linglung.
" Anisa dan pria ini saling mengenal. Lalu kenapa Anisa malah seperti orang shock," batin Rania yang mengamati wajah Anisa.
" Anisa apa kamu memang benar, mengenal Pria itu?" tanya Oma Wati yang memastikan pada Anisa.
" A_ a_ aku, aku," sahut Anisa yang penuh kebingungan. Dia tidak tau apakah harus mengakui Adam atau tidak.
" Anisa masa kamu lupa, bukannya kemarin aku membawamu ke....."
" Ha, iya aku mengenalnya," sahut Anisa yang langsung memotong pembicaraan Adam. Sebelum Adam mengatakan hal yang aneh-aneh pada keluarga itu. Adam tersenyum mendengar Anisa yang akhirnya mengakuinya.
" Tuh, saya benarkan. Kami memang saling mengenal," sahut Agam dengan santainya.
" Sial, kenapa sih dia kemari segala. Bagaimana jika dia mengatakan kepada semua orang yang ada di sini. Kalau pernah di bawa kerumahnya dan.... Aisss ini tidak bisa di biarkan," batin Anisa yang bergerutu sendiri di dalam hatinya.
" Apa kalian berteman atau punya hubungan special," sahut Zahra yang kepo.
" Ya, doakan hubungan kami akan lebih dari kata special," sahut Adam. Orang-orang di sana saling melihat dan sepertinya ikut bahagia mendengarnya.
" Hmmm, Tante, aku bicara sebentar dengannya," sahut Anisa yang harus menyelematkan diri sendiri. Sebelum Adam semakin bicara yang tidak-tidak di sana.
" Oh, ya sudah Anisa. Kalian bicara lah," sahut Ratih yang tidak masalah sama sekali. Anisa mengangguk dan langsung menarik tangan Agam.
" Ayo ikut denganku!" geram Anisa yang memaksa Agam begitu saja.
" Permisi," sahut Agam yang sudah tertarik Anisa. Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Namun tetap masih terlihat bengong.
" Aku nggak percaya. Kalau ternyata kak Anisa diam-diam punya hubungan degan Pria," sahut Nia.
" Tapi Anisa exsperesinya aneh banget. Kayak panik dan kelihatan banget schocknya," sahut Zahra yang sedari tadi mengamati mimik wajah Anisa.
" Sudahlah, biarkan saja seperti itu. Kan mereka lagi bicara, yang terpenting kita doakan saja. Anisa dan Pria itu baik-baik saja," sahut Ratih.
__ADS_1
" Hmmm, benar, lagian kak Anisa memang nggak boleh jomblo mulu," sahut Nia.
" Syukurlah jika Anisa menemukan pria yang tepat untuknya dengan begitu dia tidak akan berharap lagi pada suamiku," batin Rania yang kelihatan bahagia dengan Anisa dengan Adam.
" Ya sudah Elang, Zahra kalian sebaiknya istirahat," sahut Oma Wati menyarankan.
" Iya Oma," sahut Zahra, " Ayo elang!" ajak Zahra. Elang mengangguk dan mereka langsung menaiki anak tangga menuju kamar Zahra.
" Elang dan Zahra pasti akan lama- kelamaan terbiasa dengan pernikahan itu dan pasti akan jatuh cinta sama seperti Raihan dan Rania," batin Ratih yang menatap nanar ke-2 punggung wanita itu.
" Hmmm Rania, Rendy kalian mau makan?" tanya Ratih. Rania melihat suaminya seakan ingin bertanya mau makan atau tidak. Dan Rendy mengangguk.
" Iya mah, tapi biar Rania yang ambilkan makan Rendy," sahut Rania.
" Kita makan di kamar aja," sahut Rendy. Rania mengangguk.
" Ya elah pasutri, apa harus makan di kamar mulu, memang dasar ya bikin iri aja," sahut Nia dengan sewot.
" Nia, kamu ini ya nggak boleh gitu sama kakak kamu," sahut Ratih.
" Ya sudah aku ambil nasi dulu. Kamu duluan aja kekamar," ucap Rania. Rendy mengangguk, Rania pun langsung pergi menuju dapur.
**********
Tidak lama akhirnya Rania memasuki kamar dengan membawa 1 piring lengkap dengan lauk dan 1 gelas air putih.
" Kok hanya satu kamu tidak makan?" tanya Rendy yang menunggu istrinya duduk di sofa.
" 1 piring berdua. Aku ingin seperti Rasullullah yang sering makan sepiring berdua dah tidak apa-apa. Kita sekali-kali makan sepiring berdua," sahut Rania yang sudah duduk di depan suaminya.
" Aku tidak mau sekali-kali harus setiap hari," sahut Rendy.
" Hmmm, baiklah," sahut Rania tersenyum lebar dan langsung menyendokkan nasi kemulut suaminya. Dan Rendy langsung membuka mulutnya menerima suapan istrinya.
__ADS_1
" Hmmm, menurut kamu apa tanggapan kamu tentang Pria yang bersama Anisa tadi?" tanya Rania tiba-tiba yang ingin membahas Anisa.
" Hmmm, aku juga bingung harus menanggapi apa tentang itu. Anisa sudah dewasa yang aku rasa dia bisa menilai yang mana yang baik dan buruk dan masalah pria itu. Mungkin Anisa juga bisa menilainya," sahut Rendy.
" Bukan itu maksudku Rendy. Aku bertanya tentang kedekatan mereka ya menurut kamu bagaimana?" tanya Rania.
" Ya bagaimana seperti yang aku katakan. Kalau mereka sama-sama cocok ya sebaiknya hubungannya di lanjutkan jenjang yang serius. Agar tidak terjadi zina atau yang lainnya," sahut Rendy yang kembali menerima suapan dari istrinya.
" Hmmm, aku senang sih. Kalau pada akhirnya Zahra bisa bersama Pria lain dengan begitu rasa sukanya akan hilang kepadamu," sahut Rania.
" Memang dia menyukaiku?" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya. Rania mengangguk membenarkan semuanya.
" Dia sangat menyukai. Walau dia tau kamu sudah memliki istri," sahut Rania.
" Apa jika ada wanita lain yang menyukaiku, apakah kamu cemburu?" tanya Rendy. Rania mengangguk jujur apa adanya.
" Hanya menyukaimu saja dan kamu tidak. Aku sangat cemburu. Apa lagi kamu sampai harus berbagi hati. Mungkin kecemburuanku sudah tidak akan bisa di gambarkan," sahut Rania. Rendy tersenyum mendengarnya dan meraih 1 tangan Rania.
" Rania jatuh cinta kepada adalah anugrah, keindahan terbesar dalam hidupku dan aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Apa lagi harus berbagi hati. Karena semuanya sudah menjadi milikmu," ucap Rendy dengan tulus.
" Jadi bagaimana, jika suatu saat nanti. Hmmm amit-amit aku memiliki kekurangan yang harus membuat kamu berbagi hati. Apakah kamu akan berbagi hati?" tanya Rania.
" Tidak akan, aku hanya mencintaimu. Walau kamu sudah tidak ada aku akan tetap mencintaimu. Manusia tidak ada yang sempurna. Tetapi bagiku kamu sangat sempurna," ucap Rendy dengan mengusap lembut pipi Rania. Rania memang istri yang paling bahagia dengan keromantisan Rendy.
Rendy memang tipikal cowok yang sebenarnya tidak romantis. Namun Rania bisa merasakan Rendy begitu sangat romantis dari kata-kata Rendy yang tulus yang membuatnya sangat bahagia.
" Kamu mempercayaiku?" tanya Rendy.
" Hmmm, jelas aku sangat mempercayaimu. Dan aku tau kamu memang hanya akan mencintaiku. Mau beribu wanita di luaran sana yang menyukaimu, mencintaimu atau menginginkanmu. Tetapi aku percaya, kamu hanya mencintaiku," sahut Rania. Rendy tersenyum mendengarnya.
" Hmmm makan lagi," ucap Rania kembali menyuapi Rendy.
" Kamu juga," sahut Rendy memutarkan sendok menghadap Rania. Rania membuka mulutnya yang akhirnya mereka saling suap-suapan dengan romantis yang begitu sederhana.
__ADS_1
Bersambung