Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 252 Kontraksi.


__ADS_3

Larut malam seperti biasa penghuni rumah biasanya sudah pada tidur. Namun tidak dengan Zahra yang tiba-tiba merasa sakit pada perutnya yang membuatnya harus terbangun.


" Ya Allah, kenapa perutku sakit sekali. Tidak biasanya seperti ini. Kenapa tiba-tiba ya Allah. Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa sesakit ini," batin Zahra yang mencoba untuk duduk dengan memegang perut buncitnya. Setelah duduk Zahra melihat Elang tertidur lelap.


Zahra tidak ingin membangunkan Elang dan berusaha untuk berdiri sendiri menuju kamar mandi dengan rasa sakit yang tidak biasanya.


" Perutku benar-benar mules," ucap Zahra yang berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi tanpa membangunkan Elang suaminya. Karena tidak mau Elang harus repot-repot mengurusinya.


Ketika di kamar mandi, hanya terdengar suara air dari keran yang tidak tau apa juga yang terjadi dengan Zahra. Namun Elang tetap berada di atas tempat tidur yang tertidur pulas dan tidak tau apa yang terjadi pada istrinya.


" Elang!!!!!" tiba-tiba terdengar suara teriakan Zahra yang membuat Elang terbangun dan menoleh ke arah sampingnya dan tidak ada Zahra di sana.


" Elang tolong aku! sakit, Elang sakit! tolong aku!" teriakan suara Zahra membuat Elang duduk dengan cepat.


" Zahra apa yang terjadi. Zahra!" lirih Elang panik dan langsung menuruni tempat tidur.


Elang tidak mengetuk pintu lagi dan langsung membukanya. Lalu kaget dengan Zahra yang tiba-tiba sudah duduk dengan memegang perutnya dan terlihat cairan yang mengalir di pahanya.


" Zahra!" pekik Elang kaget.


" Tolong aku Elang!" ucap Zahra panik yang menahan sakit dan Elang pun langsung menghampiri Zahra.


" Ya Allah apa yang terjadi pada kamu?" tanya Elang panik.


" Aku tidak tau, tiba-tiba perutku sakit dan ketubanku sepertinya pecah," ucap Zahra.


" Apa itu artinya kamu akan melahirkan," tebak Elang.


" Mungkin iya," sahut Zahra.


" Ya sudah ayo!" ucap Elang yang berusaha membantu Zahra untuk berdiri dengan memapah Zahra keluar dari kamar mandi membawanya kembali keranjang dan mendudukkan Zahra di sana.


" Kamu tunggu di sini ya, aku akan panggil Tante Ratih," ucap Elang. Zahra mengangguk dan Elang langsung berlari keluar dari kamar untuk memanggil bantuan.


************


Setibanya di luar kamar Elang langsung berlari dengan untuk membangunkan orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


" Tante, Rendy, Rania, Nia!" panggil Elang dengan suaranya yang panik yang terus memanggil-manggil. Bahkan mengetuk-ngetuk pintu kamar Ratih.


" Tante bangun, Tante!" Elang terus mengetuk pintu kamar Ratih dan akhirnya Ratih membuka pintu kamar itu.


" Elang ada apa?" tanya Ratih.


" Zahra Tante, Zahra mau melahirkan ketubannya sudah pecah," ucap Elang dengan paniknya.


" Ya ampun sungguh?" tanya Ratih tidak percaya.


" Iya Tante," sahut Elang.


" Ya sudah, ayo kita bawa kerumah sakit," ucap Ratih dengan terburu-buru. Elang mengangguk dan berjalan cepat bersama Ratih. Nia juga keluar kamarnya yang mendengarkan suara teriakan yang membuatnya bingung.


" Ada apa ma?" tanya Nia dengan wajahnya yang masih mengantuk.


" Zahra mau melahirkan, ayo kamu bantu," jawab Ratih.


" Ya ampun benaran?" tanya Nia tidak percaya


" Iya Nia, ayo cepat!" ajak Ratih yang tergesa-gesa. Nia mengangguk dan lari-larian kekamar Zahra untuk melihat keadaan Zahra.


" Sayang! sayang!" Rania membangunkan Rendy dengan menggoyang-goyangkan lengan Rendy.


" Sayang bangun! bangun sayang!" ucap Rania lembut membuat Rendy membuka matanya sipit dan melihat istrinya yang membangunkannya.


" Ada apa Rania?" tanya Rendy.


" Kayaknya ada kejadian. Elang berteriak-teriak," ucap Rania yang masih menahan kantuk yang sudah duduk walau begitu berat untuk duduk.


" Kejadian apa?" tanya Rendy yang malah panik.


" Aku tidak tau, ayo kita keluar, kita coba lihat!" ajak Rania.


" Ya sudah," sahut Rendy. Mereka ber-2 pun langsung menuruni tempat tidur untuk keluar kamar dan melihat apa yang terjadi. Karena berisiknya Elang yang membangunkan semua orang.


Tidak melihat ada orang. Rania dan Rendy memutuskan langsung untuk kekamar Elang. Karena terdengar suara berisik dan pintu yang tidak tertutup itu pun membuat Rendy dan Rania langsung memasuki kamar itu dan melihat Zahra sudah di kerumuni.

__ADS_1


" Ya Allah apa yang terjadi?" tanya Zahra panik.


" Kak Zahra mau melahirkan kak Rania," jawan Anisa.


" Ya ampun," sahut Rania kaget yang menutup mulutnya dan langsung menghampiri Zahra yang kesakitan.


" Ya sudah kita bawa ke rumah sakit langsung," sahut Rendy memutuskan.


" Iya ayo bawa kerumah sakit, kasihan Zahra," sahut Rania setuju.


" Biar aku siapkan mobil," sahut Rendy yang mengambil tindakan dengan cepat dan langsung keluar dari kamar.


" Nia kamu siapkan baju-baju kak Zahra!" titah Ratih.


" Iya mah, mama dan yang lainnya bawa kak Zahra kerumah sakit terlebih dahulu. Biar Nia menyiapkan yang lainnya. Nanti Nia menyusul," sahut Nia.


" Ya sudah ayo kita bawa Zahra," sahut Ratih. Mereka pun membantu Zahra untuk berdiri dan membantu Zahra untuk keluar dari kamar di mana Zahra yang berjalan dengan tertatih-tatih. Karena memang menahan sakit dari tadi.


Elang tidak menggendongnya mungkin karena Elang tidak kuat. Jadi ya hanya membantu saja dengan memapah istrinya.


**********


Rumah sakit.


Akhirnya mereka sudah tiba di rumah sakit. Zahrah juga sudah berada di ruang persalinan yang di temani oleh Elang. Sementara Rania, Rendy, Ratih dan Nia menunggu di luar. Karena memang tidak boleh masuk banyak-banyak.


" Ya ampun padahal akhir bulan prediksi Dokter. Tetapi tiba-tiba sudah secepat ini," ucap Nia.


" Terkadang prediksi bisa meleset Nia," sahut Rendy.


" Semoga saja persalinannya lancar. Zahra juga semoga baik-baik saja. Ibu dan bayinya semoga selamat," ucap Ratih yang penuh dengan doa.


" Iya ma, kita doakan saja yang terbaik untuk Zahra," sahut Rendy.


" Aku juga nanti akan melahirkan dan itu adalah kesempurnaan seorang wanita, seorang istri yang bisa melahirkan secara normal. Ya Allah aku mohon terus berikan aku kesehatan dan kelancaran. Agar kelak aku bisa melahirkan dengan normal yang sesuai dengan keinginan ku," batin Rania yang tidak sabar jika perutnya akan semakin membesar.


Di ruang persalinan Zahra terus mendengarkan arahan dari Dokter, di mana Zahra terus berteriak-teriak untuk mengeluarkan bayi dari dalam perutnya dan Elang terus di sampingnya dengan menggengam erat tangan istrinya.

__ADS_1


Panik pasti. Apa lagi melihat Zahra yang meneteskan air mata yang merasa kesakitan yang membuat Elang tidak tega. Di luar sana Rania dan yang lainnya juga terus berdoa dengan wajah mereka yang panik dengan kondisi Zahra.


Bersambung


__ADS_2