Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 54 pesan dari mama.


__ADS_3

Rendy dan Rania berada di ruang perawatan Faridah. Rania memang menuruti Rendy untuk tidak kekantor dan menjaga ibunya di rumah sakit.


Rania merasa memang dia harus melakukannya. Karena bagaimanapun itu kewajibannya. Rania baru kepikiran masalah kewajiban dan tugas seorang anak setelah menikah.


Selama ini memang dia tidak sadar bahwa dia anak yang harus menjaga mamanya. Karena yang di butuhkan orang tua adalah anaknya yang ada di sampingnya. Bukan materi dan segalanya.


Di dalam ruang perawatan itu. Suara mesin jantung terdengar. Faridah masih tetap kritis dan di sana Rendy memeriksa kondisi mertuanya sementara Rania duduk di samping mamanya dengan memegang tangan mamanya erat.


Rania melihat Rendy tampak serius dengan apa yang di kerjakan Rendy.


" Rendy!" tegur Rania.


" Ada apa?" tanya Rendy.


" Aku mau keluar sebentar Astri menunggu ku di mobil. Aku tidak kekantor kok. Aku hanya menemui Astri di mobil. Kebetulan ada beberapa yang harus aku tanda tangani," ucap Rania dengan penjelasan yang banyak supaya Rendy tidak salah paham dan tidak mengira bahwa dia pergi kekantor.


" Ya sudah pergilah!"sahut Rendy memberi izin dengan cepat.


" Hmmm, ya sudah, aku pergi dulu. Aku titip mama ya," ucap Rania tampak gugup yang tidak enak dengan Rendy.


" Iya," jawab Rendy.


" Baiklah, makasih. Aku keluar sebentar," ucap Rania Rendy mengangguk kan matanya dan Rania mengambil tasnya dan langsung pergi.


Rendy melanjutkan memeriksa infus Faridah dan hal-hal lainnya. Sambil mencatat-catat apa yang penting. Di tengah kesibukannya tiba-tiba jari Faridah bergerak seakan tersentak kaget. Dan untung saja mata Rendy mengarah kesana dan melihat apa yang terjadi.


" Ibu," ucap Rendy yang sedikit kaget dan langsung mengambil tindakan untuk memeriksa. Perlahan-lahan mata Faridah terbuka. Rendy semakin kaget.


" Alhamdulillah, ibu sudah sadar," ucap Rendy dengan wajah bahagianya melihat ibu mertuanya sudah sadar.


Faridah masih sangat lemah dengan mata yang masih terbuka- tertutup. Tetapi dia tau di mana keberadaannya. Karena ada Rendy yang memakai pakaian Dokter dan juga matanya berkeliling melihat di mana keberadaannya.


" Apa ibu mengenal saya?" tanya Rendy. Faridah mengangguk kan matanya.


" Alhamdulillah... Saya akan panggil Rania!" ucap Rendy tampak bergegas ingin memanggil Rania. Namun tangannya langsung di hentikan Faridah. Membuat Rendy heran.


" Ada apa Bu. Apa ibu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rendy. Faridah menganggukkan matanya. Dan seolah menyuruh Rendy untuk mendekat dan Rendy yang langsung pekat pun mendekat dengan memegang tangan Faridah erat.


" Terimah kasih, kamu sudah mau menikahi Rania," ucap Faridah dengan pelan. Dia masih kesulitan bicara.


" Ibu jangan banyak bicara dulu. Kondisi ibu masih lemah," ucap Rendy pelan.


" Rendy, kamu adalah Pria yang baik. Ibu sangat bahagia. Jika pada akhirnya Rania menikah dengan laki-laki yang tepat. Ibu sangat lega dengan semua ini. Ibu merasa gagal menjadi orang tuanya. Ibu tidak bisa membingbing Rania. Ibu sebagai orang tua yang sudah mengarahkan dia kedalam hal yang salah dia lupa segalanya dan lebih mementingkan dunia ibu sangat salah sebagai ibunya," ucap Faridah meneteskan air mata.


" Apa yang ibu katakan. Tidak ada orang tua yang salah dalam membina anak. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri," sahut Rendy yang berbicara dekat dengan mertuanya itu.


" Rendy, dulu keluarga kami. Keluarga yang serba kekurangan. Kami selalu di hina dan pandang sebelah mata oleh orang-orang. Rania mengangkat derajat kami. Tetapi kami sebagai orang tua. Salah mengarahkan dia. Kami pelan-pelan lupa pada apa yang kami dapat. Sampai anak-anak kami mengikuti jejak orang tuanya yang tidak pernah beribadah termasuk Rania,"


" Ibu baru menyadari semuanya. Dan dari apa yang di dapatkan Rania membuat kebahagian tidak pernah ada di dalam dirinya. Dia selalu bertengkar dengan papa dan kakaknya. Dia selalu di pukul dan tidak pernah mendapat pembelaan. Rania memang bicara suka kasar dan membuat papanya kehilangan kendali. Tetapi Rendy. Dia anak yang baik pada dasarnya," ucap Faridah yang banyak bicara.


" Saya tau Bu, saya sudah mengenal Rania. Dia anak yang baik. Dan saya menikahinya tidak melihat siapa dia dan apa kata orang. Tetapi saya menikahinya karena saya tau dia wanita yang baik," sahut Rendy. Faridah tersenyum dengan cucuran air mata.

__ADS_1


" Terimakasih Rendy. Terimakasih untuk kebaikan kamu. Rendy ibu sudah tidak bisa mengarahkan Rania. Semuanya sudah terlambat ibu menyerahkan Rania kepada kamu," ucap Faridah.


" Apa maksud ibu. Semuanya akan baik-baik saja dan ibu masih bisa akan kembali mengarahkan Rania kejalan yang benar," ucap Rendy.


" Tidak Rendy, ibu sudah tidak bisa. Ibu berpesan sama kamu. Tolong jaga Rania, jangan tinggalkan dia sekalipun bimbinglah dia. Jadi kan lah dia istri yang akan menjadi penghuni surga. Dekatkan dia pada Allah. Ibu mohon sama kamu. Bersabarlah menghadapi Rania," ucap Faridah dengan menitip pesan pada menantunya.


" Iya, itu adalah tugas saya. Saya akan melakukan semuanya," ucap Rendy.


" Ibu berterima kasih sama kamu atas apa yang keberikan kepadanya," ucap Faridah.


" Saya tidak memberikan apapun kepadanya," sahut Rendy.


" Rendy, kuatlah lah, Rania dalam hal kelemahan yang iya miliki. Lindungi dua dan teruslah memberikan dia kebahagian. Jadikan dia wanita jauh lebih sabar dan tetap lah ada disisinya," ucap Faridah memberi pesan lagi.


" Hmmm, iya pasti. Rania adalah istriku dan aku yang bertanggung jawab atas dirinya. Ibu jangan khawatir. Jangan memikirkan apa-apa," ucap Rendy. Faridah tersenyum mendengarnya. Seakan lega mengucapkan apa yang di katakannya walau dia begitu kesulitan berbicara.


" Makasih, Rendy. Terima kasih nak, semoga pernikahan kalian di karunia putra-putri yang cantik dan Sholeh, Sholeha," ucap Faridah.


" Amin," sahut Rendy.


Ceklek.


Pintu rungangan Faridah terbuka.


" Mama sudah sadar," sahut Willo yang masuk dan melihat mamanya sadar. Dan Della, Rudi menyusul. Willo mendekati mamanya.


" Kamu kenapa nggak bilang kalau mama sadar kamu sengaja," ucap Willo yang langsung emosian dengan Willo.


" Mama tidak apa-apa kan," sahut Della yang langsung memeluk mamanya.


" Mama tidak apa-apa, Della," sahut Faridah dengan nada suaranya yang lemah.


" Di mana Rania?" tanya Faridah.


" Mama kenapa malah mencari Rania. Apa lagi kalau dia tidak bekerja. Mama kebanyak membelanya. Lihat dia saja tidak peduli dengan mama," sambar Willo yang sinis.


" Rania, berada di mobil aku akan memanggilnya," sahut Rendy. Faridah mengangguk.


" Ishhh, caper," desis Willo dan Rendy tidak peduli langsung keluar.


" Willo, kamu jangan pernah bertengkar lagi dengan Rania," ucap Faridah.


" Aku tidak akan bertengkar sama dia kalau dia tidak cari gara-gara dan apa yang terjadi sama mama. Adalah ulah dia," ucap Willo.


" Kak, kakak bisa diam tidak. Mama itu lagi sekarat dan kakak masih aja bicara yang tidak-tidak. Papa juga bukannya di marahi malah diam aja," sahut Della yang geram dengan kakaknya.


" Apa-apaan sih, kamu sudah mulai ikut-ikutan sama Rania. Pakai nyalahin papa segala lagi," sahut Willo kesal.


" Sudah, kalian diam lah, jangan terus ribut," sahut Rudi pusing dengan anak-anak nya.


" Mas," panggil Faridah dengan lembut.

__ADS_1


" Iya ada apa," sahut Rudi.


" Tolong, kamu bijaksana lah dalam menangani anak-anak. Aku sudah tidak kuat untuk semua ini. Aku sudah cukup sampai di sini," ucap Faridah membuat semua orang kaget.


" Apa yang mama bicarakan. Jangan aneh-aneh ma," ucap Della yang langsung panik.


" Mama jangan bicara yang tidak-tidak," sahut Willo.


" Benar Faridah, kamu jangan memikirkan apa-apa, kamu istirahat lebih baik," sahut Rudi.


" Mas, aku memang akan istirahat. Aku sudah cukup di sini. Maaf jika aku banyak kekurangan dan kesalah saat menjadi istrimu. Della, Willo maafkan mama mama tidak bisa menjadi ibu yang kalian," ucap Faridah.


" Mama bicara apa. Mama adalah ibu yang baik," sahut Della.


" Sayang, mama sangat menyayangi kamu. Willo mama juga menyayangi kamu. Mama membela Rania bukan karena mama tidak sayang pada kamu. Kamu adalah kakak yang mana seharusnya kamu menjaga Rania dan tidak menyakitinya. Mama berpesan sama kamu tolong jangan mencari masalah lagi dengan Rania. Hentikan semuanya dan kamu mas tolong adilah pada anak-anak kita bimbing mereka. Jangan sampai kamu menyesal seperti aku," ucap Faridah dengan pesannya pada anak-anaknya.


" Apa kamu katakan Faridah, kamu bicara yang tidak-tidak," sahut Rudi.


" Mama, mama jangan bicara lagi. Della tidak mau kehilangan mama," ucap Della yang sudah menagis.


" Della, mama harus pergi," ucap Faridah.


" Tidak mah, mama pasti sembuh mama pasti sembuh kita akan bersama-sama lagi. Jadi jangan bicara apa-apa lagi," ucap Della yang sudah penuh ketakutan.


" Mama," sahut Rania tiba-tiba yang datang dengan wajah paniknya dan langsung menghampiri mamanya bahkan menggeser Willo. Rania memegang tangan mamanya dengan erat dan menunduk mengusap-usap pucuk kepala mamanya.


" Rania!" lirih Faridah.


" Mama kenapa tidak bilang kalau mama sakit," ucap Rania panik.


" Mama sudah tidak akan sakit lagi. Rania, terima kasih ya nak. Selama ini kamu sudah menjadi tulang punggung di rumah. Kamu memberikan mama kebahagian. Terima kasih ya nak," ucap Faridah membuat Rania bingung.


" Apa yang mama katakan, semua itu adalah tugasku," ucap Rania.


" Itu bukan tugas kamu. Tapi mama bersyukur bisa memiliki anak seperti kamu. Maafkan mama, gagal menjadi ibu. Rania kamu sudah menikah dengan Rendy," ucap Faridah melihat ke arah Rendy yang di samping Rania.


" Dia adalah suami kamu. Jika dia bertanggung jawab sepenuhnya dengan kamu. Maka jadi lah istri yang melakukan tugas dan kewajiban kamu dengan baik. Jangan pernah melawannya. Atau menantangnya sedikitpun," ucap Faridah memberi pesan.


" Iya mah Rania mengerti. Mama tenanglah, jangan banyak bicara dulu," ucap Rania terlihat panik.


" Mama sekarang lega. Jika pergi sudah melihat kamu di tangan yang tepat. Mama bahagia dan maafkan kesalahan mama. Mas tolong jangan pernah katakan itu pada Rania dan Willo jangan lagi marah-marah pada Rania, Rania kamu juga seorang kakak. Jadi jagalah Della," ucap Faridah memberi pesan.


" Iya ma pasti," sahut Rania.


" Alhamdulillah, akhirnya mama bisa pergi dengan tenang," ucap Faridah tersenyum.


" Mah, jangan bicara seperti itu," ucap Rania yang panik dan yang lainnya juga panik bahkan wajah mereka sudah mulai serius


Faridah melihat satu per satu orang-orang yang ada di sana. Lalu tersenyum dan perlahan memejamkan matanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2