Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 124 bercanda bersama.


__ADS_3

Hari Ke-3 mereka berada di Mekkah sekalian untuk berbulan madu yang sudah tertunda. Rendy yang memang sudah sering ke tanah suci mengajak Rania kesemua tempat yang bersejarah di Mekkah.


Rania tetap cantik dengan gamisnya dan juga jilbab Syar'i yang menutup auratnya dengan tangannya yang tidak lepas dari genggaman Aditya. Nyaman sudah pasti namanya juga sudah bermain perasaan.


Pasangan itu sekarang duduk di salah satu tempat untuk beristirahat. Karena memang lelah dengan segala hal-hal yang mereka lakukan.


" Kamu haus?" tanya Rendy.


" Hmmm," jawab Rania.


" Aku cari minum dulu," ucap Ardian.


" Iya," sahut Rania. Rendy pun langsung pergi. Rania melihat-lihat di sekitarnya. Tersenyum dengan penuh kebahagian saat melihat indahnya tanah suci yang di injaknya dan masih tidak percaya jika dia bisa ada di tempat itu.


" Kenapa kebahagian itu sebenarnya sangat simple," batin Rania yang merasa hidupnya sangat sempurna.


Tidak lama pun akhirnya Rendy kembali ketempat Rania dan membawakan air putih di dalam gelas plastik kecil.


" Minumlah!" ucap Rendy.


" Tidak ada air mineral?" tanya Rania.


" Kamu minum air zamzam dulu. Nanti kita akan cari air mineral," ucap Rendy.


" Jadi ini namanya air zamzam," sahut Rania yang kelihatan kaget.


" Jangan bilang kalau kamu tidak pernah meminumnya!" tebak Rendy.


" Memang, aku belum pernah meminumnya," sahut Rania yang mengambil gelas itu dari Rendy. Rania langsung ingin meneguknya.


" Tunggu!" sahut Rendy menghentikannya.


" Ada apa?" tanya Rania heran.


" Kamu lupa membaca bismillah," sahut Rendy mengingatkan istrinya.


" Oh, iya maaf," sahut Rania yang langsung berdoa sebelum minum dan meneguk air yang di berikan suaminya yang terasa nikmat itu.


" Hmmm, ternyata sangat segar. Di mana kamu mendapatkannya?" tanya Rania.


" Di sana!" tunjuk Rania.


" Aku boleh minta lagi?" tanya Rania yang masih kurang.


" Aku bukan pemiliknya. Jika ingin lagi jangan memintanya padaku," jawab Rendy.


" Hmmm, baiklah, aku akan mengambilnya sendiri," ucap Rania yang langsung berdiri dan ingin mengambilnya. Kerena tempatnya tadi sudah di katakan Rendy di mana. Namun Rendy ikut mengambilnya. Mana mungkin dia membiarkan istrinya pergi sendiri.


Ternyata Rania yang benar-benar ketagihan dengan air zamzam itu. Dengan duduk bersama Rendy dia menikmatinya dan beberapa kali tambah. Rania juga sambil meminumnya sambil mendengarkan cerita Rendy tentang berasal dari mana air zamzam itu.

__ADS_1


" Aku juga ingin seperti nabi Muhammad Saw yang meski sudah tidak ada. Tetapi dia masih bermanfaat. Contohnya air zamzam ini. Sampai detik ini masih ada saja," ucap Rania yang begitu menyimak cerita suaminya itu.


" Semua orang ingin sepertinya," sahut Rendy.


" Hmm, oh iya Rendy. Aku pernah dengar kata-kata orang. Pria yang sangat paham agama dia juga pasti akan mengikuti nabinya. Yang termasuk menikah lebih dari 1 kali. Hmm apa itu memang boleh?" tanya Rania.


" Iya. Pria di perbolehkan menikah lebih dari 1 kali. Asalkan adil," jawab Rendy. Rania mendengarnya begitu murung.


" Kamu kenapa?" tanya Rendy yang melihat perubahan wajah Rania.


" Ya pantesan saja. Banyak para ulama yang memiliki istri lebih dari 1 kali," sahut Rania dengan wajahnya yang cemberut.


" Tapi Rania banyak juga orang yang salah pengertian dengan hal itu. Mereka kebanyakan yang menikah lebih dari 1 kali bukan berdasarkan mengikuti Nabi. Tapi kesombongan diri. Karena paling hebat, merasa cukup sampai sudah merasa pantas untuk berpoligami," ucap Rendy dengan sedikit penjelasan.


" Begitu ruoanha. Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Rania pada Rendy.


" Aku kenapa dengan ku?" tanya balik Rendy heran.


" Bukannya kamu juga sangat mengerti agama. Kamu Sholeh. Secara agama dan materi kamu punya. Apa kamu tidak ada berniat untuk menikah lagi?" tanya Rania dengan konyol. Rendy sampai tersenyum mendengar pertanyaan melantur Rania.


" Aku tidak ada alasan untuk menikah lagi. Lagian mengurus satu istri saja sudah pusing dan lagian apa kamu menyetujuinya?" tanya Rendy.


" Tidak!" sahut Rania dengan cepat. Rendy mendengus tersenyum mendengarnya.


" Ahhhhh, sudahlah jangan membahas masalah itu," sahut Rania yang terakhirnya kesal sendiri. Rendy hanya tersenyum geleng-geleng. Dengan tingkah Rania yang ada-ada saja. Dia yang bertanya dia pula yang sewot sendiri.


********


Sementara Rania yang duduk di sebelahnya duduk dengan meluruskan ke-2 kakinya. Pasangan suami istri itu ternyata sedang menikmati beberapa macam kurma.


" Kenapa di Indonesia, sulit sekali pohon kurma tumbuh?" tanya Rania dengan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah.


" Karena perbedaaan suhu dan juga tanahnya," jawab Rendy simpel.


" Di sini banyak sekali jenisnya. Rasanya juga berbeda-beda. Benar-benar enak," ucap Rania melihat suaminya. Rendy hanya tersenyum yang melihat Rania makan dengan lahap. Sampai bibir yang indah itu berantakan.


Melihat hal itu membuat tangan Rendy gatal. Di mendekati istrinya dan dengan spontan mengusap bibir itu untuk membersihkan makanan itu. Rania tiba-tiba langsung kaget dengan apa yang di lakukan Rendy.


" Kamu sudah dewasa, tapi makan begitu berantakan," ucap Rendy dengan suara seraknya dengan menatap dalam mata Rania.


Huhhhh yang adanya jantung Rania kembali bergemuruh dengan hal spontan yang di lakukan Rendy. Mata Rendy juga turun pada bibirnya dan mengecup bibir Rania membuat mata Rania terpejam. Hanya kecupan singkat yang begitu manis. Namun langsung di lepas dengan cepat dan menatap mata itu saling bertemu lagi dan Rendy ingin menciumnya lagi.


" Kamu mau ngapain?" tanya Rania tampak mencegah Rendy dan Rendy bingung.


" Hmmm, maksudku. Jika mau melakukan itu. Aku kekamar mandi dulu. Bukannya aku habis makan. Aku juga belum memakai parfum dan lainnya," lanjut Rania dengan pelan. Rendy tersenyum mendengarnya.


" Apa berciuman akan berakhir di atas ranjang?" tanya Rendy dengan menaikkan alisnya.


" Ya, bukannya biasanya seperti itu," jawab Rania pelan. Rendy pun mengecup kembalikan bibir Rania.

__ADS_1


" Rania meski kita ber-2 sudah saling terbuka. Saling menerima. Bukan berarti setiap hari. Kamu harus melayaniku. Kamu bukan pelayan untuk di ranjangku. Kamu jangan pernah memposisikan diri kamu sebagai itu," ucap Rendy dengan mengusap-usap rambut istrinya dengan lembut.


Rania tersenyum dan langsung membaringkan tubuhnya dengan kepalanya berada di paha Rendy yang bagian kakinya di tekuk. Di mana Rania yang mulai bermanja dengan suaminya.


" Rendy, aku hanya merasa bahagia. Karena mendapat kebahagian yang begitu banyak dari mu. Aku hanya ingin memberikan terbaik sebagai istri. Aku banyak kekurangan. Jadi aku berharap kelebihan ku hanya itu," ucap Rania yang menatap suaminya dengan tulus.


" Bagimu kamu banyak kekurangan. Tetapi bagiku kamu sangat banyak kelebihan. Jadi jangan terus merasa kurang," ucap Rendy. Rania mengangguk dan melanjutkan memakan kurmanya dengan Rendy yang terus mengusap-usap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


" Rendy aku sangat nyaman tinggal di Mekkah , di sini terasa sangat teduh, damai," ucap Rania.


" Apa kita harus pindah kemari?" tanya Rendy.


" Nggak harus pindah juga," sahut Rania, " Hmmm oh iya. Kapan-kapan aku mau ngajak papa dan Della kemari. Apa mereka suka tidak ya," ucap Rania terlihat ragu.


" Kamu belum mencobanya. Jadi mana tau mereka suka atau tidak," sahut Rendy.


" Kalau mereka mau. Kamu mau menemaniku kan?" tanya Rania.


" Hmmm, iya aku akan menemanimu. Apapun itu aku pasti menemanimu," sahut Rendy. Rania tersenyum mendengarnya dan memberikan Rendy kurma.


Saat Rendy ingin memakannya dengan jahil tangan Rania bergeser. Sampai kurma itu tidak di raihnya. Namun Rendy tetap ingin memakannya dan Rania malah mengajaknya bercanda dengan mengelakkan tangannya kesana kemari. Agar Rendy tidak meraihnya. Sampai akhirnya Rania memasukkan kedalam mulutnya.


" Kamu ingin aku mengambilnya dari dalam sana?" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya. Rania menggeleng dengan cepat. Namun Rendy menundukkan kepalanya yang ingin mengambil kurma yang sudah di makan Rania tadi. Namun dengan cepat Rania menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya.


" Lepas! kamu sudah menawarkan ku. Jadi harus bertanggung jawab," ucap Rendy. Rania menggeleng dengan pertahannya yang tidak ingin Rendy menciumnya lagi. Namun Rendy tetap kekeh sampai berusaha melepas tangan Rania.


Ke-2nya memang bucin akut yang sama-sama jatuh cinta.


" Sudah Rendy cukup!" ucap Rania menahan dada Rendy.


" Kenapa? bukannya kamu yang memancingku," sahut Rendy dengan menaikkan 1 alisnya. Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu mengambil 1 buah kurma lagi dan menyuapi Rendy.


" Maaf, aku tidak bermaksud," sahut Rania. Rendy hanya tersenyum dengan memakan apa yang di berikan istrinya.


" Aku mengantuk. Aku mau tidur," ucap Rania dengan memejamkan matanya yang masih tetap berbaring di paha suaminya.


" Jika ingin tidur naiklah ke tempat tidur," ucap Rendy.


" Aku mau tidur seperti ini," sahut Rania mengambil tangan Rendy. Meletakkan di kepalanya memberi kode pada Rendy. Agar kepala itu di hapus-hapus.


Rendy tersenyum dan melakukannya. Mengusap-usap lembut kepala itu.


" Jika aku benar-benar tertidur. Maka angkatlah aku ke atas ranjang," ucap Rania masih dengan matanya yang terpejam.


" Baiklah. Aku akan melakukannya. Maka istirahatlah," ucap Rendy dengan terus mengusap-usap pucuk kepala Rania.


Rendy juga mencium lembut kening Rania. Tetapi tidak lama Rendy langsung mengangkat istrinya. Menggendongnya ala bridal style ke atas tempat tidur. Membaringkan dengan perlahan. Menarik selimut sampai ke dada Rania.


Lalu Rendy beralih untuk membereskan apa yang berantakan. Bekas makanan mereka dan yang lainnya. Rendy juga menutup jendela dengan tirai. Mematikan lampu kamar dan setelah semuanya selesai dengan rapi.

__ADS_1


Rendy pun akhirnya beralih ke atas ranjang di mana Rendy langsung membaringkan tubuhnya di samping Rania dan membawa Rania kedalam pelukannya mencium kembali dengan lembut kening Rania lalu perlahan dia memejamkan matanya yang ikut tertidur nyenyak bersama Rania.


Bersambung


__ADS_2