
Anisa berada di kamar mandi benar-benar kesal dengan kelakukan Agam. Dia sudah berusaha untuk memulai semuanya tetapi Agam seperti orang yang tidak peka yang membuatnya emosi tingkat dewa.
Anisa di kamar mandi dengan kesal mencuci wajahnya dengan kasar untuk menghilangkan makeup di wajahnya itu dengan air matanya yang akhirnya menetes. Anisa juga sudah memakai baju mandi untuk menutupi tubuh seksinya karena dia memakai pakaian yang sangat terbuka.
Tidak ada kata yang di keluarkannya dari mulutnya, hanya suara tangis yang membuatnya kecewa. Dia bahkan sudah merendahkan dirinya di depan Agam.
Tok-tok-tok-tok.
" Anisa!" panggil Agam mengetuk pintu kamar mandi. Anisa mengusap kasar air matanya yang tidak peduli dengan Agam yang mengetuk pintu. Anisa bahkan menghidupkan shower supaya tidak mendengar suara Agam yang membuatnya begitu kesal.
" Anisa ada apa dengan kamu, buka pintunya," ucap Agam. Anisa diam saja dan masa bodo dengan Agam yang membuat Agam cemas.
" Kenapa dia semarah itu," batin Agam yang kebingungan dan Agam yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya langsung menekan kenopi pintu dan untung saja tidak di kunci sama sekali.
Agam melihat Anisa terus mencuci muka dengan kasar dan melihat air shower yang terbuang sia-sia. Agam pun memasuki kamar mandi dan langsung mematikan air shower tersebut dan mendekati Anisa memegang pundak Anisa namun Anisa langsung menggeser dirinya seakan tidak ingin di sentuh Agam.
Agam jelas melihat air mata Anisa yang jatuh dengan wajahnya yang tampak begitu marah. Karena Agam di sana, Anisa langsung pergi dari kamar mandi yang tidak ingin melihat wajah suaminya itu. Namun Agam langsung menangkap tangannya dan langsung memeluknya.
" Lepaskan aku!" berontak Anisa di dalam pelukan itu yang barusan menjauh dari Agam. Namun tenaga Agam jauh lebih kuat dan terus memeluknya dengan erat.
" Aku bilang lepaskan!" teriak Anisa yang berhasil melepaskan diri dan mendorong Agam.
" Jangan menyentuhku!" bentak Anisa dengan suara kerasnya.
__ADS_1
" Kamu kenapa sih Anisa?" tanya Agam yang mulai tenang.
" Kamu masih bertanya aku kenapa? kamu itu pura-pura atau bagaimana. Atau jangan-jangan kamu mengerjaiku dan menertawakanku yang pernah menolakku dan sekarang aku seperti kecanduan dengan dirimu dan kamu menolakku. Kamu sengaja melakukannya, kamu balas dendam dan menertawakan ku," ucap Anisa dengan umpatan hatinya.
" Aku tidak menolakmu Anisa," ucap Agam dengan suara lembutnya.
" Lalu apa namanya jika tidak menolak. Kamu tidak mungkin tidak tau apa namanya tadi, kamu tidak mungkin tidak mengerti dengan maksudku," ucap Anisa dengan air matanya yang tidak berhenti keluar.
Agam pun langsung mendekati Anisa memegang lengan Anisa. Namun Anisa menepis tangan Agam dan Agam memulai lagi seakan tidak peduli dan tetap memegang Anisa. Anisa tetap menepis tangan Agam sampai akhirnya Agam memegang kedua pipi Anisa dengan wajah Anisa. Namun wajah Anisa miring kesamping yang tidak ingin melihat wajah Agam.
" Dengarkan aku Anisa!" ucap Agam lembut dengan mengusap air mata itu dengan jempolnya.
" Anisa aku bukan laki-laki bodoh yang tidak mengerti apa yang kamu lakukan tadi. Aku sangat mengerti Anisa. Ya aku bukan tidak ingin melakukannya. Tetapi aku hanya ingin memberikan kamu waktu untuk benar-benar menerimaku sebagai suamimu. Aku mengakui pernikahan kita di awal adalah keterpaksaan yang kamu lakukan dan malam-malam yang kita lewati di atas ranjang juga adalah keterpaksaan yang kamu lakukan,"
" Dengan kamu marah waktu itu dan aku juga marah dengan opini yang banyak. Namun pada akhirnya aku sadar dengan kesalahanku yang terlalu memaksamu. Aku tidak melakukannya lagi. Dan itu tidak mudah Anisa aku menahan diri. Agar tidak melakukannya. Aku sangat menderita Anisa. Dan bukan aku menunggu kamu yang memulainya. Tetapi dengan yang kamu lakukan tadi seolah kamu juga hanya menginginkannya. Aku hanya ingin melakukannya dengan kita yang sudah saling mencinta, saling menerima, saking nyaman dan bukan hanya sebatas kewajiban saja," jelas Agam dengan tutur kata yang lembut dan sangat bijak.
" Aku selalu berusaha untuk jatuh cinta kepadamu. Bukan hanya sekedar suka. Tetapi juga cinta. Tetapi kamu Anisa sendiri. Aku yang bertanya. Apa kamu sudah membuka hati kamu untukku. Atau hanya karena pernikahan dan ingin membangun rumah tangga saja dengan formalitas," ucap Agam yang bertanya kembali.
Anisa diam saja yang tidak bisa menjawab pertanyaan Agam.
" Kamu belum mencintaiku Anisa," ucap Agam menebak hati Anisa.
" Kenapa kamu lebih tau perasaan ku. Aku saja tidak bicara apa-apa," sahut Anisa.
__ADS_1
" Aku bisa melihat dari matamu, jika kamu sangat sulit untuk menerimaku sepenuhnya di hatimu," ucap Agam.
" Kamu salah Agam," sahut Anisa yang melepas ke-2 tangan Agam di pipinya.
" Kamu salah menilaiku. Aku mengira kamu mengerti selama ini. Tetapi ternyata tidak. Kamu sudah berubah menjadi lebih baik dan membuatku setiap hari mengangumi mu, setiap hari kamu menjadi orang bijak, menjadi suami yang membuat hatiku bergetar. Aku mengira kamu paham dan mengerti perasaanku. Ternyata tidak kamu tidak bisa membedakan mana yang aku inginkan karena suatu keinginan atau karena perasaan. Asal kamu tau Agam aku berusaha mati-matian untuk membuka hati kepadamu. Karena aku ingin hidup tenang dengan rumah tangga yang penuh dengan cinta,"
" Tetapi ternyata tidak. Kamu tidak mengerti dan bahkan mengatakan aku tidak membuka hati kepadamu. Jika aku tidak mencintaimu aku tidak akan sesakit ini Agam. Aku tidak akan gila dengan setiap hari bertanya-tanya. Aku tidak akan menangis seperti ini. Jika aku sudah tidak bermain perasaan!" tegas Anisa yang mengungkap isi hatinya yang membuat Agam terdiam.
" Kamu tau Agam, aku mengira apa yang terjadi barusan itu menyakitiku. Tetapi tidak justru kamu yang meragukan hatiku. Ternyata itu yang lebih menyakitkan. Aku tidak percaya jika usahaku untuk mencintai suamiku tidak di anggap. Aku merasa kau lebih sakit jika perasaanku yang ikut di permainkan," lanjut Anisa dengan suaranya yang tertahan yang seolah merasa sesak di dadanya dan Agam hanya diam mendengar kata-kata Anisa yang pasti Agam juga kaget dengan kata-kata Anisa.
Anisa yang merasa sudah mengeluarkan semua isi hatinya mengusap air matanya dan langsung berlalu dari Agam keluar dari kamar mandi dengan penuh rasa kecewa untuk yang ke-2 kalinya.
Namun dengan cepat Agam menyusul keluar dan langka menarik tangan Anisa, dengan cepat membuat Anisa menghadap dirinya dan langsung memegang ke-2 pipi Anisa dan mencium bibir Anisa.
Awalnya Anisa memberontak dengan mendorong dada Agam. Namun Agam yang lebih kuat tidak bergerak sama sekali yang akhirnya membuat Anisa tidak bisa apa-apa dan memejamkan matanya yang seakan memberikan Agam izin untuk menciumnya.
Mereka berciuman dengan beradu perasaan yang sebenarnya sudah ada bahkan sudah terungkap tadi. Namun sama-sama salah paham yang merasa pasangan mereka yang tidak bisa membuka diri.
Beberapa menit berciuman dengan gelora dalam perasaan itu. Akhirnya Agam melepas ciuman itu. Anisa dan Agam sama-sama membuka mata mereka dengan napas yang sama-sama naik turun dengan mata mereka yang sama saling melihat.
" Maafkan aku Anisa, aku sudah melukai perasaanmu. Aku mengira aku yang mencintaimu. Tetapi justru kamu yang mencintaiku. Aku sungguh minta maaf," ucap Agam dengan suara seraknya yang menyesal tidak pernah peka dengan perasaan Anisa. Anisa mengangguk dengan menerima maaf itu.
Agam pun kembali mencium istrinya itu, menempelkan bibirnya kembali di bibir Anisa dan Anisa pun memejamkan matanya yang kembali menerima ciuman itu. Dengan tangannya yang memegang kuat baju Agam.
__ADS_1
Mereka kembali berciuman dengan panas. Dengan air mata Anisa yang masih menetes dengan perasaan yang akhirnya terungkap yang terangkum dalam ciuman semakin dalam yang membuat ke-2nya sama-sama saling menikmati.
Bersambung