
Mentari pagi kembali tiba. Rania yang sudah bangun yang sekarang di periksa boleh Dokter. Di mana Rania duduk dan bersandar di kepala ranjang. Saat di periksa Dokter Anita. Rania tidak akan pernah bertanya bagaimana keadaanya. Karena pasti tidak akan ada jawaban baik. Ya dia tau kondisinya dan lebih baik tidak bertanya.
" Bu Rania jangan lupa nanti minum obatnya ya!" ucap Dokter memberikan pesan pada Rania.
" Naik Dokter," jawab Rania.
" Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit.
" Dokter tunggu!" panggil Rania. Membuat Dokter itu tidak jadi pergi.
" Ada apa Bu?" tanya Dokter.
" Suami saya di mana?" tanya Rania yang memang saat bangun tidak melihat suaminya.
" Dokter Rendy lagi ada pasien. Sebentar lagi juga akan datang," jawab Dokter.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah," sahut Rania mengangguk tersenyum dan Dokter tersebut pun langsung pergi.
Rania pun menoleh ke arah nakas dan melihat ada amplop merah yang mencuri perhatiannya dan Rania langsung mengambilnya. Sebelum membukanya Rania mencium harumnya amplop itu yang aromanya tidak asing baginya. Parfum suaminya yang membuatnya mabuk dan malah merindukan suaminya. Mungkin Rendy menyemprotkan banyak parfum di dalam surat itu.
Ya bisa di pastikan itu adalah surat. Rania yang penasaran pun langsung membukanya dan benar tulisan indah dari suaminya. Tulisan Rendy begitu rapi berbeda dengan tulisan Rendy saat menulis resep yang sangat cepat dan hanya terbaca orang-orang yang bekerja di apotik. Namun jika masalah dengan istrinya tulisannya akan beda lagi yang begitu cantik tersusun dengan rapi.
...Selamat pagi sayang....
...Aku tau kamu sudah bangun. Tadi pagi-pagi sekali aku ada operasi. Aku minta maaf aku tidak membangunkan mu saat ingin kerja. Aku juga minta maaf tidak membangunkanmu saat subuh tadi. Kamu pasti kesal karena tidak sholat subuh. Aku minta maaf ya sayang. Dan iya aku juga minta maaf sudah membaca surat kamu. Padahal belum kamu berikan kepadaku. Maaf sayang aku terkadang tidak sempat membaca surat kamu yang pasti itu bukan karena aku sengaja tidak membalasnya. Karena terkadang aku lupa. Tetapi percayalah apapun yang kamu tulis akan aku ingat dan kamu juga tidak perlu balasannya. Karen kamu sudah tau apa balasannya....
...Sayang aku tau kamu menahan sakit kemarin, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Karena tidak bisa berbuat apa-apa. Kita sama-sama berdoa ya supaya sakitnya hilang. Allah tidak akan membiarkan hambanya dalam kesulitan. Kita percaya semua itu kan. Jadi kamu jangan takut. Karena rasa sakit itu akan hilang secepatnya....
__ADS_1
...Ya sudah sayang terima kasih untuk semua surat-surat kamu. Balasan ini mewakili surat-surat kamu yang tidak terbalaskan. Pada intinya aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah menggantikan posisimu di hatiku. Percayalah sayang kau akan tetap menjadi wanita satu-satunya di dalam hati ku, hidupku dan bagian ceritaku. I love you," tulis Rendy panjang lebar...
Balasan surat itu mampu membuat Rania tersenyum lebar.
" I Love you more," ucap Rania membalas ucapan cinta itu dan menempelkan surat itu di dadanya dengan tersenyum lebar.
Ceklek.
Pintu kamarnya di buka yang akhirnya menampilkan sosok Pria yang baru membalas suratnya. Pria tampan yang datang membawakan bunga untuknya. Rania semakin tersenyum lebar ketika suaminya sudah berdiri di depannya dan mencium keningnya lembut. Pipi kanan dan kirinya dan berhenti di bibirnya yang sedikit lama.
" Kamu sudah bangun?" tanya Rendy setelah melepas ciuman itu. Rania menganggukkan kepalanya dan langsung mendapat bunga dari suaminya yang membuatnya begitu bahagia dan langsung memeluk suaminya tercinta.
" Aku sangat bahagia hari ini," ucap Rania.
Walau Rania tidak mengatakannya Rendy tau karena wajah berbunga-bunga istrinya itu memang menunjukkan berapa bahagianya istrinya saat ini.
" Bawa makanan untukku?" tanya Rania yang kelihatannya sudah lapar.
" Pasti sayang," sahut Rendy yang langsung membuka paper bag yang pasti berisi makanan.
" Waooo, enak sekali," sahut Rania takjub belum mencoba sudah mengatakan enak. Mungkin karena itu makanan kesukaannya.
" Kita makan ya," ucap Rendy. Rania mengangguk dan Rendy langsung duduk di samping istrinya yang pasti akan menyuapi Rania dengan penuh kasih sayang dan Rania apalagi yang di lakukannya jika tidak bermanja pada suaminya itu.
***********
Rania mungkin merasa kesulitan, sakit dan pasrah akan hidup. Namun tetap menjalani hari-harinya dengan kebahagian yang pasti karena selalu di tabur cinta dengan orang-orang di sekelilingnya.
__ADS_1
Tidak dengan Anisa yang sudah kehilangan yang bisa murung yang sekarang duduk di atas tempat tidur rumah sakit dan juga masih memakai baju pasien. Tangannya masih di infus dan wajahnya juga masih pucat yang kondisinya belum pulih karena melahirkan dan sang anak tidak selamat.
Tidak lama Sarah memasuki ruangan itu dengan membawa makanan dan langsung berjalan mendekati Anisa meletakkan makanan itu di atas nakas.
" Jangan sok sedih anak haram memang tidak pantas lahir," desis Sarah membuat air mata Anisa jatuh.
Pasti sakit dengan kata-kata mamanya yang bicara tanpa memikirkan perasaannya. Mamanya memang akhirnya tau. Jika dia hamil sebelum menikah dan terbongkar saat pernyataan Dokter saat dia melahirkan. Sarah pasti marah. Tetapi mau bagaimana lagi Anisa dan Agam sudah menikah dan Sarah justru bahagia dengan anak itu yang telah tiada.
" Kamu makan?" titah Sarah dengan ketus.
" Kenapa mama jahat sekali," Anisa menanggapi apa yang di bicarakan mamanya dengan pertanyaan.
" Siapa yang jahat," sahut Sarah.
" Mama, kenapa tega mengatakan anak itu haram," sahut Anisa yang terasa sesak harus mengeluarkan kalimat itu.
" Jadi maksud kamu anak itu tidak haram. Anna yang ada di kandungan kamu saat kamu belum menikah itu anak haram," ucap Sarah marah-marah pada Anisa.
" Bukan anak itu yang haram mah. Tapi perbuatan ku. Dia tidak salah," sahut Anis yang mati-matian membela anaknya.
Sarah yang naik pitam langsung menoel kepala Anis yang membuat Anisa hampir jatuh, " memang perbuatan kamu haram. Mama tidak menyangka, jika kamu bisa-bisanya berbuat hal menjijikkan itu berasa Agam. Lalu menikah dengannya. Apa kamu juga mengemis pertanggung jawaban kepadanya hah!" ucap Sarah yang baru mengeluarkan emosinya saat ini.
Karena sebelumnya memang tidak bisa karena Anisa masih sakit parah dan baru sekarang kondisi Anisa sudah jauh lebih baik dan kesempatan untuknya mencaci maki anaknya yang merasa membuatnya malu dan tidak punya muka jika orang-orang tau hal itu Padahal masalah itu sudah lama sekali dan seharusnya biarlah menjadi aib dan Anisa juga sedang berduka.
Bersambung.
"
__ADS_1