
Mereka berdua pun saling melepas pelukan itu dengan Rania yang jinjit dan langsung mencium pipi suaminya.
" I Love you," ucap Rania.
" I Love you to," sahut Rendy.
" Ya sudah kita sekarang cari makanan. Kamu ingat jangan mendengarkan apapun kata Dokter itu dan terlebih lagi menemuinya diam-diam di belakangku. Karena aku yakin aku pasti akan sangat cemburu. Jadi jangan melakukan apa yang membuatku cemburu. Aku tidak mau itu," ucap Rania menegaskan pada suaminya.
" Iya Rania aku akan melakukan apa yang kamu katakan," sahut Rendy membuat Rania tersenyum lebar.
" Tapi kamu juga harus menuruti apa yang aku katakan. Jangan menutupi apa-apa dari ku. Kalau sakit katakan. Kalau harus Kerumah sakit. Maka harus tanpa harus kamu banyak alasan. Jika ingin berjuang maka kita akan berjuang sama-sama," ucap Rendy yang juga menegaskan pada istrinya.
" Iya sayang aku tau. Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Sungguh aku akan melakukannya asal tidak melanggar kesepakatan kita," tegas Rania.
" Iya," sahut Rendy. Rania tersenyum lebar.
" Ya sudah ayo kita cari makan!" ajak Rania. Rendy mengangguk dengan tangan mereka yang saling menggenggam dengan erat.
********
Rania dan Rendy mencari makanan dengan bersama-sama. Mereka ber-2 berjalan di pinggir jalan dengan tangan Rendy yang memegang banyak kantung plastik yang pasti berisi makanan.
" Ada lagi sayang kamu mau di beli?" tanya Rendy.
" Hmmmm, untuk saat ini sih tidak ada, aku rasa sudah cukup," jawab Rania.
" Ya sudah kita pulang langsung," sahut Rendy. Rania mengangguk. Tiba-tiba Rania melihat di sebrang jalan ada yang berjualan rujak yang membuat Rania tiba-tiba rasanya ingin memakannya. Langkanya sampai terhenti dengan matanya yang tertuju ke arah sana dan membuat Rendy harus melihat apa yang tidak lihat istrinya.
" Kamu mau?" tanya Rendy. Rania langsung mengangguk cepat.
" Ya sudah kamu tunggu sini ya biar aku belikan!" ucap Rendy menitipkan kantung-kantung yang di pegangnya pada istrinya.
__ADS_1
" Baiklah, tapi buah mangga aja ya," sahut Rania.
" Iya, kamu tunggu di sana, di sini panas," ucap Rendy menunjuk pohon.
" Baik sayang," sahut Rania tersenyum dan Rendy pun langsung menyebrangi jalan untuk membeli apa yang diinginkan istrinya.
Rania hanya menunggu di bawah pohon dan matanya terus melihat suaminya. Namun tiba-tiba Rania memegang perutnya yang tiba-tiba terasa perih.
" Ahhhhhhh," keluhnya sampai sedikit membungkuk yang tiba-tiba kesakitan dan bahkan air matanya menetes langsung keringat dingin saking merasa sakit pada perutnya.
Pandangan Rania seketika menjadi rabun dan membuatnya langsung terduduk dengan menahan sakit.
" Ya Allah aku mohon jangan di sini, aku mohon ya Allah. Aku tidak ingin suami khawatir, aku mohon ya Allah. Tidak apa-apa jika sakit yang kau berikan berlipat-lipat. Tapi jangan di depannya, aku mohon ya Allah," batin Rania yang menahan sakit dengan dadanya terasa sesak.
Rendy yang membeli rujak dan terlihat sudah membayar pada penjual melihat kesebrang jalan dan melihat istrinya yang terduduk dan seperti kesakitan membuatnya kaget.
" Rania!" lirih Rendy yang langsung berlari menyebrangi jalan.
" Rania kamu kenapa?" tanya Rendy panik yang berada di depan istrinya. Rania langsung memegang tangan Rendy, meremas tangan itu menggambarkan dia sangat kesakitan.
" Sayang kamu kenapa, apa yang terjadi?" tanya Rendy lagi yang sudah memegang ke-2 pipi istrinya yang mana melihat wajah istrinya yang sudah begitu pucat dengan air mata Rania yang mengalir dan bahkan tidak jelas melihat wajah suaminya. Rendy langsung memeluk Rania dengan erat.
" Ayo kita pulang, maafkan aku seharusnya aku tidak meninggalkan mu, maafkan aku Rania," ucap Rendy yang merasa bersalah. Padahal hanya pergi sebentar saja dan melihat istrinya yang seperti itu membuatnya merasa bersalah.
" Aku tidak apa-apa. Ini bukan salah kamu, aku hanya merasa sakit sedikit," ucap Rania dengan suaranya yang terasa begitu sesak.
" Kalau begitu ayo kita pulang. Kamu harus istirahat. Kamu tidak boleh seperti ini terus. Kamu harus mendapatkan perawatan," ucap Rendy yang semakin panik.
************
Rania dan Rendy sekarang berada di salah satu tempat duduk yang mengarah pada air mancur. Di mana Rania yang ternyata tertidur di dalam pelukan Rendy dengan Rendy mengusap-usap kepalanya dan sekali-kali mencium pucuk kepala Rania.
__ADS_1
Rania yang tadi kesakitan sudah kembali membaik dan dia hanya meminta untuk istirahat di pelukan suaminya dengan tangannya yang memeluk erat pinggang Rendy. Dia tidak mau kerumah sakit atau pulang dengan di peluk Ardian dia merasa jauh lebih nyaman dan entah sudah berapa lama dia berada di pelukan itu yang tertidur di rangkulan suaminya itu.
" Ini akan terus terjadi Rania. Apa kamu akan terus seperti ini. Menahan segalanya. Rania kamu sampai kapan tidak ingin menyerah," batin Rendy yang wajahnya hanya penuh rasa Khawatir banyak ketakutan di dalam dirinya. Apa yang di katakan Dokter tidak akan salah dan baru berucap tadi sudah terjadi. Semakin membesar kandungan Rania maka Rania akan merasakan gejala-gejalanya.
" Ya Allah, kenapa harus istriku yang mengalami semua ini. Apakah salah semangatnya sampai membuatnya menjadi seperti ini," batin Rendy yang pasti sangat ingin rasa sakit Rania berpindah padanya.
" Hmmmm," tiba-tiba Rania mengeluarkan suara dan membuka matanya perlahan, mengangkat kepalanya untuk melihat suaminya. Rendy langsung menyambut dengan senyuman dan mencium kening Rania.
" Berapa lama aku tertidur?" tanya Rania dengan suara seraknya. Suara khas bangun tidur.
" Hampir dua jam," jawab Rendy.
" Lumayan lama. Lalu kamu tidak tertidur?" tanya Rendy. Rania menggelengkan kepalanya.
" Makasih sudah menjagaku. Sampai aku merasa nyaman tidur walau di tempat yang terbuka," ucap Rania.
" Sama-sama. Apa kamu haus?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
" Ya sudah kamu minum dulu ya," ucap Rendy menyodorkan minuman pada Rania. Rania mengangguk dan langsung minum air mineral yang di berikan suaminya kepadanya.
" Aku sekarang jauh lebih baik," ucap Rania yang sudah melepas pelukan itu. Rendy mengambil sapu tangan dan mengusap sisa-sisa keringat di wajah istrinya.
" Kamu tidak marahkan kepadaku?" tanya Rania.
" Kenapa harus marah?" tanya Rendy.
" Karena kejadian tadi. Dan aku benar-benar sudah tidak apa-apa," ucap Rania yang ingin meyakinkan suaminya.
" Aku percaya pada kamu," sahut Rendy membuat Rania tersenyum.
" Makasih!" sahut Rania. Rendy mengangguk dengan membelai-belai rambut Rania.
__ADS_1
Bersambung