
Rania dan Rendy pun akhirnya pergi untuk jalan-jalan malam untuk menghilangkan penat dan beban pikiran mereka. Pasangan itu berjalan berdampingan dengan langkah serentak tangan yang saling menggenggam berjalan di antara keramaian orang-orang yang ada di sana.
Malam Minggu memang tampak ramai. Banyak para bocah yang pacar-pacaran. Ada juga orang dewasa. Bahkan para keluarga yang juga mengajak anak-anaknya. Sekedar untuk menikmati berbagai macam kuliner di sana.
" Ternyata seramai ini kalau malam," ucap Rania.
" Kalau belum pernah malam-malam ke sini?" tanya Rendy. Rania menggeleng.
" Dulu waktu kerja kalau pulang malam hanya lewat saja. Pantesan macet kalau malam ternyata seramai ini," jawab Rania yang melihat ke arah suaminya.
" Memang seramai ini," sahut Rendy.
" Hmmmm, kamu sering datang kemari?" tanya Rania.
" Bagaimana ceritanya aku sering datang kemari. Bukannya kita selalu berduaan. Jadi kapan aku datangnya," sahut Rendy.
" Lalu dari mana tau kalau tempat ini seramai ini?" tanya Rania.
" Sebelum kita menikah aku pernah ada pasien rutin di sana!" Tunjung Rendy pada sebuah gedung, " jadi aku tau kalau tempat ini ramai," sahut Rendy.
" Hmmmm, begitu rupanya. Tapi memang asyik banget, selain bisa menikmati makanan, juga bisa melihat orang main skateboard, main sepeda, asyik," ucap Rania yang melihat di sekelilingnya yang memang begitu ke asyikan.
" Ya semoga saja tempat ini menjadi tempat yang selalu positif. Kamu lihat sendiri. Bahkan tidak ada sama sekali," sahut Rendy. Rania melihat di sekelilingnya dan memang tidak ada sampah yang berserakan.
" Kamu makan sesuatu?" tanya Rendy. Rania melihat-lihat di sekelilingnya.
" Itu ramai sekali. Kira-kira makanan apa yang di jual?" tanya Rania kebingungan.
" Mau kita lihat?" tanya Rendy. Rania mengangguk dan mereka pun akhirnya pergi melihat jualan apa yang di serbu oleh orang-orang itu. Mereka juga mengikuti antri.
" Ternyata telur gulung," ucap Rania yang melihat salah satu pembeli yang membawa telur gulung.
" Kamu menyukainya?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
" Kalau seramai ini pasti rasanya begitu lezat," ucap Rania.
" Kita coba aja dulu," sahut Rendy. Rania hanya mengangguk dan ikut mengantri dengan Rendy.
" Dokter Rendy, Tante Rania," tiba-tiba ada seseorang yang menyapa mereka dah membuat Rendy dan Rania melihat kearah orang tersebut.
__ADS_1
" Ya ampun Sandi," ucap Rania yang begitu terkejut melihat bocah laki-laki itu. Rania sampai berjongkok di depan Sandi.
" Kamu apa kabar, ya ampun kaki kamu sudah sembuh," ucap Rania mengusap-usap pundak Sandi yang memang begitu terkejut dengan apa yang lihatnya. Dia jelas mengingat bocah Pria itu yang mana membuat pertemuannya pertama kali dengan Rendy.
" Iya Tante aku sudah sembuh. Bahkan sudah lama. Tante apa kabar, Dokter juga apa kabar?" tanya Sandy.
" Baik sayang," sahut Rania
" Dokter baik-baik aja," sahut Rendy juga.
" Oh iya Sandi kamu ngapain di sini?" tanya Rania heran.
" Bantuin nenek jualan," jawab Sandi.
" Jualan apa sayang?" tanya Rania. Sandi mengarahkan kepalanya pada antiran itu yang membuat Rania kaget.
" Ini punya kalian?" tanya Rania yang benar-benar tidak percaya. Sandi mengangguk.
" Ayo Sandi ajak ketempat nenek," sahut Sandi yang langsung menarik tangan Rania dan Rania pun langsung ikut. Juga di ikuti oleh Rendy. Terlihat nenek yang sedang melayani pembeli bersama 2 orang wanita yang seperti karyawan si nenek.
" Nenek, lihat siapa yang Sandi bawa," ucap Sandi.
" Memang siapa," sahut nenek yang langsung melihat ke arah Sandi dan betapa terkejutnya melihat Rania yang datang bersama Rendy.
" Nenek apa kabar?" tanya Rania.
" Nenek baik-baik aja. Kamu sendiri apa kabarnya. Nenek tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu," ucap nenek yang begitu terharu
" Rania baik-baik aja nek," sahut Rania yang sudah melepas pelukan itu. Pandangan nenek langsung mengarah pada Rendy.
" Dokter Rendy," ucap nenek. Rendy langsung mencium punggung tangan nenek.
" Ya ampun tidak menyangka nenek bisa bertemu dengan kalian di sini. Ya Allah ini sungguh mukjizat," ucap nenek yang kelihatan bahagia.
" Sama nek. Rania juga tidak menyangka dan Alhamdulillah nenek sekarang jualan dan seramai ini," ucap Rania yang tidak bisa berkata apa-apa.
" Iya Alhamdulillah, ini semua berkat kamu Rania," sahut nenek.
" Nenek berlebihan. Perasaan Rania tidak melakukan apa-apa," sahut Rania.
__ADS_1
" Hmmm, kalian berdua ini kok bisa bersamaan. Lagi pacaran?" tebak nenek. Rania dan Rendy saling melihat dengan tersenyum tipis.
" Alhamdulillah nek. Saya dan Rania sudah menikah," sahut Dokter Rendy. Hal itu membuat nenek kaget.
" Ya ampun kalau jodoh memang tidak kemana. Kalian bertemu dengan singkat dan sekarang sudah berumah tangga," ucap nenek yang tidak percaya.
" Alhamdulillah nek," sahut Rania.
" Kapan kalian menikahnya?" tanya nenek.
" Sudah Hampir 8 bulan nek," jawab Rendy.
" Ya ampun itu udah lama sekali," sahut nenek begitu bahagia.
" Nenek minta doanya ya untuk kamu berdua," ucap Rania.
" Pasti neng. Nenek senang sekali. Hmmmm, ayo duduk, nenek buatkan dagangan nenek untuk kalian," ucap nenek yang begitu semangatnya menyuruh Rania dan Rendy duduk dan mereka langsung duduk.
" Nenek akan buatkan dengan tangan nenek sendiri," sahut nenek dengan semangat Rania dan Rendy mengangguk dengan tersenyum.
" Sandi cari minuman sebentar," ucap Sandi yang langsung pergi. Ya mereka menjadikan raja dan ratu Rania dan Rendy.
" Kalau aku tidak menabrak Sandi saat itu. Apa kita akan menikah?" tanya Rania.
" Aku juga tidak tau. Lewat mana lagi pertemuan itu. Tapi dengan adanya Sandi aku menjadikanmu istri," sahut Rendy dengan tersenyum.
" Aku jadi ingat, saat itu kamu tampak kesal kepadaku dan terlihat sangat dingin. Apa kamu marah padaku saat itu?" tanya Rania.
" Iya aku memang kesal kepadamu yang mana wanita yang tidak bertanggung jawab pergi begitu saja yang tidak mempedulikan korban. Tetapi ternyata aku salah dua sangat peduli dengan korban itu. Sangat berusaha untuk bertanggung jawab, ikut merawatnya memberikannya tempat ternyaman," ucap Rendy yang melihat istrinya dengan tatapan tulus.
" Lalu kesan apa lagi yang kamu ingat saat pertama kita bertemu?" tanya Rania.
" Selain itu. Kamu tipe wanita malu-malu. Aku ingat waktu kita makan di rumah nenek Sandi. Di mana nenek sudah menyuruhmu untuk makan banyak tapi kamu menolaknya. Tetapi pada akhirnya kamu malah minta izin tambah," ucap Rendy yang membuat Rania tertawa mengingatnya.
" Apa aku sungguh memalukan?" tanya Rania.
" Sedikit memalukan," sahut Rendy.
" Ya tapi walau seperti itu. Bukannya itu yang membuat kamu mencintaiku?" tanya Rania.
__ADS_1
" Kamu benar. Itu alasan yang membuatku mencintaimu," jawab Rendy. Rania tersenyum dengan menyandarkan kepalanya di bahu Rendy menunggu telur gulung buatan nenek.
Bersambung