
Zahra menuruni anak tangga untuk melakukan sarapan bersama, Rendy, Tania, dan juga Rendy dan pastinya Ratih.
" Pagi semuanya," sapa Zahra dengan sopan.
" Pagi," sahut semuanya serentak.
" Ayo Zahra kamu langsung makan," ucap Ratih.
" Iya Tante," sahut Zahra.
" Hmmm, oh iya kak Zahra bagaimana dengan janji kakak untuk mempertemukan Tania dengan teman kakak yang seorang direktur itu?" tanya Tania yang tiba-tiba menuntut janji.
" Hmmm, oh itu. Kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah. Kakak akan atur jadwal dengan teman kakak dan juga kamu," sahut Zahra.
" Serius?" tanya Tania. Zahra mengangguk kesenangan.
" Tapi, orangnya bagaimana apakah baik, atau galak?" tanya Tania yang dek-dekan.
" Kamu tenang saja. Orangnya baik-baik aja. Jadi tidak akan ada masalah," sahut Zahra menjamin.
" Benar?" tanya Tania yang tidak percaya.
" Iya Tania," sahut Zahra meyakinkan.
" Hmmm, syukurlah jika begitu, yang jelas tugas kuliahku akan secepatnya selesai," ucap Tania merasa lega.
" Kamu ini ya Tania, merepotkan Zahra saja," sahut Ratih.
" Tidak apa-apa Tante," sahut Zahra.
" Tuh, kan mah, tidak apa-apa," sahut Tania kesenangan karena ada membelanya.
" Tetap saja, kamu merepotkan," ucap sang mama. Tania dan Zahra saling melihat dengan tersenyum.
" Sudah, lanjutkan sarapannya, jangan mengobrol terus," ucap Rendy menyuguhkan.
" Assalamualaikum," sapa Anisa yang datang kerumah itu.
" Walaikum salam," sahut Semuanya serentak dan melihat kedatangan Anisa yang datang dengan membawa rantang.
" Anisa," sahut Ratih. Anisa tersenyum dan melangkah mendekati meja makan.
" Tante," sapa Anisa mencium punggung tangan Ratih.
" Ini bubur ayam dari mama," ucap Anisa meletakkan di atas meja.
" Ya ampun repot-repot amat," sahut Ratih langsung membukanya. " Ayo kamu duduk ikut sarapan sekalian," ucap Ratih menjamu dengan baik Anisa.
" Baik Tante," sahut Anisa yang mengambil posisi duduk di samping Rendy.
" Kita coba masakan mama Anisa," ucap Ratih.
__ADS_1
" Anisa juga ikut memasakkanya," sahut Anisa yang tidak mau kalah.
" Benarkah! pasti sangat enak," sahut Ratih tersenyum dan langsung menyuruh orang-orang di meja makan itu untuk menikmatinya.
" Rendy, kamu tidak memakannya?" tanya Anisa yang melihat Rendy tidak memakan sama sekali makanan itu.
" Hmmm, aku sudah memakan nasi goreng, mungkin nanti aku akan memakannya," jawab Rendy yang memperlihatkan apa yang di makannya. Dia Dokter dia juga tau pastinya cara makan yang baik dan tidak memakan semua jenis makanan di pagi hari.
" Begitu, rupanya," sahut Anisa yang tampak kecewa.
" Oh, iya Zahra kita jadi perginya?" tanya Anisa yang sepertinya sudah punya janji dengan Tania.
" Iya, jadi dong," sahut Zahra.
" Memang mau kemana?" tanya Tania heran.
" Teman kakak, ada yang mau cari rumah dan kebetulan rumah mamanya Anisa cocok dan sekarang mau melihat rumah itu," jelas Zahra.
" Ohhhh, begitu," sahut Tania mengangguk-angguk.
" Hmmm, Rendy apa kamu sibuk hari ini?" tanya Anisa tiba-tiba.
" Tidak terlalu, memang ada apa?" tanya Rendy.
" Kalau tidak keberatan, kamu bisa mengantar aku dan Zahra untuk melihat rumah dan menemui Tan Zahra," ucap Anisa.
" Nggak usah, kali Anisa. Rendy kan harus Kerumah sakit," sahut Zahra yang tidak mau merepotkan Rendy.
" GK perlu Anisa, teman aku orangnya santai kok," sahut Tania.
" Memang jam berapa?" tanya Rendy yang sepertinya memberikan harapan.
" Sebentar lagi," sahut Anisa.
" Ya sudah, aku juga agak senggang hari ini. Aku bisa mengantar kalian," ucap Rendy tidak keberatan sama sekali.
" Hmmm, makasih kalau begitu," sahut Anisa tersenyum lebar yang bisa berdekatan dengan Rendy.
" Maaf ya Rendy, harus merepotkan kamu," sahut Zahra merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa. Santai aja," sahut Rendy yang tidak masalah.
" Ya sudah, ayo kita lanjutkan makannya. Jangan di anggurin terus makannya," ucap Ratih. Yang lainnya mengangguk.
***********
Rendy, Zahra dan Anisa sudah berada di dalam mobil dengan Anisa dan Zahra yang berada di belakang dan Rendy yang menyetir fokus di depan. Tadinya Anisa ingin duduk di sebelah Rendy. Hanya saja nanti Zahra berpikiran lagi. Kalau dia wanita yang tidak baik.
" Di mana teman kamu Zahra?" tanya Rendy.
" Bentar ya aku tanya dulu," sahut Zahra.
__ADS_1
" Hmmm, kayaknya nunggu di depan kantor aku deh," sahut Zahra. ," Oh itu dia," tunjuk Zahra pada Rania yang menunggu di depan perusahan.
" Rania," batin Rendy yang mengenali wanita itu.
" Bukannya dia wanita itu, jadi dia yang mau melihat rumah itu," batin Anisa yang salah sasaran.
" Mobil Rendy pun berhenti tepat di depan Rania dan Zahra langsung menurunkan kaca mobilnya.
" Rania ayo masuk!" ucap Zahra memanggil sedikit keras. Rania kebingungan dan mengangguk saja.
" Di depan!" titah Zahra. Rania mengangguk dan membuka pintu mobil saat mau masuk dia di kagetkan dengan Rendy yang ternyata mengemudi dan membuatnya kebingungan.
" Buruan Rania, ada mobil di belakang," ucap Zahra mendesak. Rania yang masih bingung langsung duduk di sebelah Rendy dan pasti membuat Anisa kesal yang sudah salah sasaran.
" Hmm, kalian kok bisa samaan?" tanya Rania gugup.
" Oh, iya ini Anisa yang mamanya punya rumah yang aku ceritain kemarin, kalian pasti sudah saling kenal," ucap Zahra. Rania menganggu senyum dengan melihat kebelakang. Sementara Anisa yang duduk di belakang Rendy tampak ketus.
" Ohhh, jadi mama Anisa yang punya rumah," sahut Rania.
" Iya tepat sekali dan Anisa yang akan membawa kita kesana dan untuk Rendy kebetulan waktunya senggang dan tidak keberatan untuk mengantar kita," jelas Zahra.
" Ohhh, begitu rupanya," sahut Rania mengangguk-angguk.
" Kenapa temannya Zahra jadi wanita ini. Dan sekarang malah duduk di samping Rendy. Dia pasti kesenangan," batin Anisa dengan penuh kekesalan.
" Aku tidak percaya, jika Dokter sepertinya punya waktu sebanyak itu," batin Rania yang tidak percaya dengan kehadiran Rendy.
" Apa rumah yang di maksud untuk nenek dan juga Sandi," batin Rendy menebak-nebak.
************
Randy terus menyetir dengan fokus dan Anisa harus kesal di belakang dengan wajah merengutnya melihat Rendy dan Rania yang duduk bersebelahan.
Padahal Rania dan Rendy juga hanya diam saja tanpa obrolan. Tetapi Anisa sudah manyun di penuhi rasa cemburu. Rania dan Rendy memang tidak sedekat itu. Jadi wajar jika mereka tidak ada obrolan.
" Rumahnya masih jauh Anisa?" tanya Zahra.
" Nggak kok, sebentar lagi sampai, aku juga sudah kepanasan di dalam mobil," sahut Anisa ketus.
" Memang ac-nya mati," sahut Rendy dari depan.
" Tidak," jawab Anisa dengan ketus yang tampak cemberut terus.
" Di kirain AC nya mati," sahut Rendy.
" Tidak, kok tidak panas," ucap Zahra yang memang tidak kepanasan dan merasa Anisa saja yang aneh.
" Kenapa sih, hari ini sangat menyebalkan. Kenapa juga temannya Zahra itu wanita itu dan sekarang pakai duduk segala lagi di samping Rendy. Tau gitu aku tadi tidak peduli dengan pemikiran Zahra. Biar aku saja yang duduk di samping Rendy," batin Anisa yang tampak sewot dengan Rania yang duduk bersebelahan dengan Rendy. Belum lagi dia merasa semakin pengap di dalam mobil yang terbakar cemburu.
Bersambung
__ADS_1