
Gilang masih saja memeluk Rania. Walau Rania sudah bersih keras ingin melepas diri. Bahkan pelukan itu sampai tibanya Rendy datang di lokasi dan Rania mendorong Gilang karena merasa Gilang begitu kurang ajar kepadanya.
Plakkk.
Rania langsung melayangkan tamparan di pipi Gilang, sehingga Gilang kaget dengan memegang pipinya yang panas.
" Aku peringatkan kepadamu, Jangan menyentuhku sedikitpun. Aku sudah menikah. Jangan kurang ajar kepadaku!" gertak Rania menunjuk-nunjuk tepat di wajah Gilang.
" Rania, kamu menamparku," sahut Gilang yang masih memegang pipinya.
" Aku bukan hanya akan menamparmu, tapi juga bisa berbuat yang lebih. Jika kau tidak bisa menjaga sikapmu. Kau tau aku sudah menikah dan aku menikah dengan sepupumu. Seharusnya kau malu dengan hal itu," ucap Rania menekankan dengan matanya yang melotot.
" Kenapa aku yang harus malu. Seharunya kamu yang malu. Kita merencanakan pernikahan. Tetapi apa kamu membatalkannya dan menikah dengan Rendy. Siapa yang harus malu. Aku apa kamu!" teriak Gilang.
" Aku membatalkan pernikahan dengan mu. Itu karena ulahmu sendiri. Karena kamu berselingkuh dengan teman kantorku. Jadi jangan salahkan aku jika pernikahan itu batal, itu karena ulahmu," sahut Rania menekankan pada Gilang.
" Alahhh, itu hanya alasan kamu saja. Pada dasarnya kamu memang ingin menikah dengan Rendy," sahut Gilang.
" Sudah ya Gilang, sepertinya tidak ada gunanya aku bicara denganmu. Aku muak bicara dengan mu. Kamu tidak akan mengerti- ngerti," sahut Rania yang tidak ingin meladeni dan memutuskan kembali untuk pergi.
Namun Gilang tampaknya tidak peduli dan berusaha lagi untuk memeluk Rania. Dan saat melihat hal itu Rendy terlihat marah bahkan tangannya mengepal dan langsung melangkah dengan cepat.
Tiba berada di dekat Gilang. Rendy langsung menarik Gilang dan langsung melayangkan pukulan pada Gilang.
Brukkkk.
Gilang sampai oleng dengan pukulan Rendy. Dan Rania yang ada di sana kaget melihat kehadiran Rendy tiba-tiba yang langsung melayang kan tangan kepipi Gilang.
" Rendy!" lirih Gilang.
" Apa yang kamu lakukan kepadanya. Apa kamu tidak sadar jika aku suaminya. Bisa-bisanya kamu memaksa untuk memeluknya. Bahkan kamu berkata yang tidak-tidak kepadanya," ucap Rendy yang masih menahan emosinya.
" Kamu salah paham," sahut Gilang masih membela diri.
" Aku salah paham. Salah paham di mananya. Aku jelas melihat apa yang kamu lakukan kepada Rania. Dan kamu masih bilang salah paham. Gilang aku peringatkan kepadamu. Jangan berani-berani sekalipun kamu mendekatinya," ucap Rendy menegaskan pada sepupunya itu dengan menunjuk Gilang. Namun Gilang tampak mengendus mendengarnya.
" Kenapa jika aku mendekatinya," sahut Gilang dengan seriangi nakal di wajahnya dan Rania mendengarnya kaget.
" Aku rasa kau tau alasannya kenapa harus kau tidak mendekatinya. Karena dia istriku. Kau tau kan aku sudah menikah dengannya," tegas Rendy. Gilang tersenyum mendengar ucapan Rendy.
" Kau merasa bangga, telah menikah dengan wanita yang menjadi selingkuhan mu," ucap Gilang tiba-tiba yang membuat Rendy dan Rania kaget mendengarnya.
" Tutup mulutmu Gilang," sahut Rania yang kesal dengan Gilang. Bahkan geram dengan kata-kata Gilang yang sembarangan.
" Itu adalah kenyataan, kalian berdua selama ini berselingkuh di belakangku. Kau wanita murahan, wanita ****** yang hanya ingin semua Pria kau miliki," maki Gilang pada Rania.
" Hentikan bicaramu Gilang!" gertak Rendy yang panas.
" Rendy sudah ayo kita pergi dari sini, tidak ada gunanya kita meladeninya. Kita sebaiknya pergi," sahut Rania memegang tangan Rendy yang berusaha untuk mengehentikan keributan.
__ADS_1
" Kenapa, apa yang aku katakan tidak benar, kau pasti sudah tidur dengan wanita itu kan dan kau pasti tau dia wanita bekas yang sering di pakai oleh semua Pria," ucap Gilang membuat Rendy melotot dengan mendengar kata-kata Gilang yang di luar batas. Yang sangat tidak pantas bicara seperti itu kepada istrinya.
Brukkkk, Rendy tidak tahan dan langsung memukul Gilang karena sudah menghina istrinya.
" Rendy, sudah ayo!" ajak Rania kelihatan panik yang melihat suasana mulai memanas.
" Kau memukulku 2 kali Rendy, kau pikir kau siapa!" bentak Gilang.
" Apa yang kau katakan telah menjelaskan siapa dirimu sebenarnya," sahut Rendy menekan suaranya.
" Jangan sok suci kamu Rendy," sahut Gilang yang langsung membalas pukulan itu.
" Astaga, Rendy," teriak Rania yang panik dengan menutup mulutnya yang melihat Rendy di pukul Gilang.
Yang akhirnya Rendy dan Gilang pun saling membalas pukulan di tengah-tengah Rania yang mencoba untuk melerai. Tetapi dia juga tidak tau bagaimana caranya.
Di tengah-tengah keributan itu, Zahra pun datang dan kaget melihat kericuhan yang terjadi.
" Astagfirullah Al Azdim," lirih Zahra yang menutup mulutnya kaget dengan apa di lihatnya tidak lama, Anisa juga datang yang ternyata membawa Iren, Jaya, Oma, Wati, Ratih, di sana juga ada, Nia, Willo, Della, dan Rudi yang pasti juga terkejut dengan pemandangan itu.
Mungkin saja Anisa sudah mengarang cerita atau menambah-nambahi cerita dan mereka harus menyaksikan semuanya.
" Astagfirullah Al Azdim," lirih Ratih kaget.
" Rendy, cukup!" bentak Ratih yang langsung melerai perkelahian dan orang-orang di sana sama-sama menahan 2 Pria yang di penuhi emosi sehingga menimbulkan saling baku hantam.
" Apa yang kalian lakukan, ini rumah duka?" tanya Ratih berada di tengah-tengah Rendy dan Gilang yang benar-benar bingung melihat anak dan keponakannya itu.
" Rendy minta maaf Oma, Rendy khilaf," sahut Rendy yang menyadari kesalahannya.
" Ada apa sebenarnya. Pasti gara-gara kamu kan," sahut Iren yang langsung main tuduh saja.
" Ibu kamu baru saja meninggal. Tetapi kamu sudah membuat ulah, kamu apa tidak memikirkan hal itu apa," sahut Sarah yang ikut memanas manasi.
Rania hanya diam. Memang saling pukul itu terjadi karena kesalahannya.
" Kamu ya Rania, bisa-bisanya bikin ulah. Mama baru saja di kubur. Tapi kamu," sahut Willo mengambil kesempatan menyalahkan Rania.
" Kakak kenapa jadi menyalahkan kak Rania, belum tentu ini kesalahan kak Rania," sahut Della membela kakaknya.
" Maafkan saya, saya sudah membuat kegaduhan," sahut Rania dengan suaranya yang bergetar.
" Tuh kamu dengar sendiri, dia mengakui kejadian ini karena kesalahannya," sahut Willo.
" Memang dasar ya, kamu itu nggak benar di acara duka sendiri malah membuat ulah," sahut Iren yang tambah menyalahkan Rania.
" Mah, sudah jangan ikut-ikutan," sahut Jaya mencegah istrinya.
" Aneh memang, keluarganya sangat aneh," sahut Sarah.
__ADS_1
" Sudah-sudah, jangan menyalahkan Rania terus. Belum tentu ini salahnya. Kalian kenapa sih," sahut Zahra.
" Zahra, kamu jelas tau kan kenapa Rendy ada di sini dan pasti karena foto tadi," sahut Anisa. Membuat semua orang bingung.
" Foto, foto apa?" tanya Iren yang penasaran.
" Tante, tadi Anisa....
" Aku yang salah," sahut Rendy memotong pembicaraan Anisa, " Ini hanya salah paham. Aku minta maaf sudah membuat kegaduhan," sahut Rendy yang meminta maaf dan Gilang hanya memegang ujung bibirnya yang terluka.
Rania diam dan malah fokus pada wajah Rendy yang tampak terluka.
" Anisa, aku mohon kepadamu jangan menambahi masalah. Jika kamu mengetahui sesuatu kamu tidak perlu harus menunjukkan kepada orang lain. Aku saja sudah cukup," ucap Rendy menegaskan pada Anisa. Yang tidak ingin orang-orang melihat Rania berpelukan dengan Gilang yang pasti akan membuat kehebohan lagi.
Anisa mendengarnya kaget. Dia tidak percaya jika Rendy malah menyalahkannya.
" Jadi jangan lagi, mencampuri urusan Rania," tegas Rendy.
" Apa-apaan Rendy, kenapa dia jadi menyalahkan ku. Aku jelas sudah membukakan matanya melihat kelakukan istrinya. Tetapi dia malah menyalahkan ku," batin Anisa tampak shock dengan kata-kata Rendy dan Zahra yang mendengar ucapan Rendy tersenyum tipis.
" Kenapa kamu malah menyalahkan Anisa. Memang apa yang terjadi," sahut Sarah tampak tidak terima anaknya di salahkan.
" Tidak ada yang terjadi aku hanya tidak ingin ada mencampuri masalah rumah tanggaku. Anisa aku harap kamu mengerti dan berhenti untuk mencoba mencari tau," tegas Rendy lagi. Mata Anisa bahkan berkaca-kaca mendengar ucapan Rendy.
" Apa yang kamu katakan Rendy, aku hanya memberikan fakta. Tetapi kamu malah mempermalukan di depan orang lain, kenapa kamu tega sekali," sahut Anisa meneteskan air matanya yang membuat orang-orang semakin bingung.
" Aku tidak mempermalukan mu. Aku hanya ingin kamu paham," sahut Rendy.
" Sudahlah, memang seharusnya aku tidak di sini," sahut Anisa menyeka air matanya lalu langsung pergi dengan rasa kekecewaan dan juga kemarahan.
" Anisa mau kemana kamu?" tanya Sarah melihat anaknya pergi begitu saja.
" Kenapa jadi Anisa yang salah, apa-apaan sih ini," kesal Sarah yang langsung menyusul anaknya. Dan Rendy membuang napasnya dengan perlahan.
" Sudah, masalah ini sudah selesai. Oma tidak ingin kalian bertengkar lagi apapun alasannya," tegas Oma Wati. " Sekarang bubar," ucap Oma Wati yang langsung pergi.
" Ayo Gilang kita pergi dari sini. Mama sudah bilang dari awal datang kerumah ini hanya sial," kecam Iren yang langsung menarik anaknya pergi dan Gilang pasti melihat sinis Rendy. Jaya geleng-geleng dengan kebingungan lalu langsung pergi menyusul istri dan anaknya.
" Ayo masuk," sahut Rudi yang juga tidak bicara sama sekali. Biasanya dia pasti menyalahkan Rania atau melakukan apapun itu. Tetapi kali ini tidak sama sekali dia pun akhirnya masuk yang di susul oleh Della.
" Kamu ya bikin ulah aja," sahut Willo yang langsung pergi yang menyalahkan Rania lagi.
" Sudahlah Rania, Rendy, ayo kita masuk," ajak Ratih.
" Iya mah," sahut Rendy.
Ratih pun masuk yang di susul Zahra dan juga Nia. Dan Rania masih terlihat mengatur napasnya Rendy menoleh kearah istrinya itu yang pasti panik, juga masih takut.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendy. Rania menggeleng.
__ADS_1
" Ayo kita masuk!" ajak Rendy. Rania mengangguk dan mereka pun akhirnya masuk secara bersamaan dengan langkah yang secara bersamaan.
Bersambung