
" Aku ambil makan dulu!" ucap Rania pada Rendy yang sudah selesai mengeringkan rambut Rania dan sekarang membelai rambut itu.
" Ya sudah," jawab Rendy.
" Kamu laparkan?" tanya Rania.
" Iya aku lapar sama seperti mu," sahut Rendy.
" Mau makan apa?" tanya Rania.
" Apa yang kamu makan," jawab Rendy.
" Oke aku akan ambil," jawab Rania. Rendy menganggukan matanya dan Rania langsung pergi. Rendy tersenyum menggeleng.
**********
Tiba di dapur Rania seperti biasa mengambil makanan di dapur. Namun ternyata ada Anisa di sana yang sedang membuat minuman. Anisa langsung melihat kedatangan Rania.
Mata Anisa pasti mengamati Rania dan fokus pada leher Rania yang terdapat kemerahan bahkan rambut Rania yang basah yang pasti Anisa bisa menebak apa yang terjadi pada Rania.
Rania tampak santai dan tidak menyapa atau apapun pada Anisa. Dia langsung mengambil piring dan mengisi nasi dan lauk. Meski berada di dalam dapur bersamaan.
Namun ke-2nya tidak saling bicara. Anisa juga tidak berbicara apapun kepada Rania yang biasa pasti mencari gara-gara dengan menyinggung sana-sini. Tetapi kali ini benar-benar tidak.
Rania yang selesai mengambil makanannya langsung pergi yang tidak mempedulikan Anisa. Tetapi Anisa melihat kepergian Rania.
" Hubungan mereka sudah semakin dekat. Bahkan tidak ada cela lagi untuk memisahkannya. Kalau begitu apa gunanya aku dan mama ada di sini. Mungkin memang ini takdirku yang hanya bisa mencintai Rendy. Tanpa memilikinya," batin Anisa yang tampak sendu.
Anisa beberapa kali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dari hembusan napasnya memang sangat terlihat Anisa menyerah dengan perjuangannya untuk mendapatkan Rendy.
***********
Sementara Rania yang sudah mendapatkan makanan itu langsung menuju kamar. Namun saat ingin menuju kamar dari jendela bagian ruang keluarga. Rania melihat Zahra di taman belakang dari jendela.
" Itu Zahra. Aku lupa menyuruhnya mengirim email tentang proyek kemarin. Sebaiknya aku bilang terlebih dahulu. Dari pada nanti aku lupa lagi," ucap Rania yang memutuskan untuk menemui Zahra dulu. Baru mengantarkan makan ke dalam kamar.
Ternyata Zahra tidak sendiri. Zahra bersama Elang. Yang mana ke-2nya saling berhadapan dan sepertinya berdebat terlihat dari gerakan tangan Zahra.
Rania yang heran dengan Zahra dan Elang, langkahnya sempat terhenti. Namun Rania tetap melanjutkan langkahnya untuk mendekati Zahra dan Elang.
__ADS_1
" Tapi aku sudah terlanjur hamil apa lagi semuanya," ucap Zahra tiba-tiba. Langkah Rania berhenti kembali saat mendengar pernyataan dari Zahra dan Rania begitu terkejut dengan kalimat itu.
" Kamu terus saja bilang, akan menyelesaikannya. Tapi lihat semuanya sudah seperti ini. Aku sudah hamil dan kamu masih saja tidak melakukan apa-apa," ucap Zahra yang menagis bicara pada Elang.
" Zahra, aku tau!" lirih Elang yang berusaha untuk menenangkan Zahra.
" Sudah jangan menyentuhku!" bentak Zahra menepis tangan Elang. Zahra mengusap wajahnya dengan menyibak rambutnya kebelakang. Namun saat matanya melihat kesamping. Zahra di kejutkan dengan kehadiran Rania yang berdiri mematung dengan tangan Rania yang bergetar memegang piring.
" Rania!" lirih Zahra. Elang pun langsung melihat ke arah mata Zahra memandang. Elang pun terkejut dengan ke hadiran Rania. Elang memejamkan matanya dengan hembusan napas panjang yang berat.
" Zahra apa yang kamu bicarakan?" tanya Rania dengan suara serak. Rania bahkan sangat sulit mengeluarkan kata-kata itu.
Zahra diam dengan memejamkan matanya. Seakan pasrah dengan pertanyaan Rania yang pasti Rania sudah mendengar semuanya. Sementara Elang panik. Namun pasrah dengan semuanya.
" Zahrah kamu kenapa diam?" tanya Rania lagi. Zahra melihat ke arah Elang.
" Kamu pergilah!" usir Zahra dengan suara rendah pada Elang.
" Iya," sahut Elang yang mau tidak mau pergi. Dia juga tidak bisa mencegah jika Zahra akan menceritakan semuanya pada Rania.
**********
Masalah yang terjadi di rumah membuat Elang frustasi. Rendy benar-benar menegurnya karena permasalahan yang terjadi. Kehadiran Elang yang membuat rumah tangga Rendy dan Rania berantakan dan bahkan menimbulkan banyak fitnah.
Elang merasa bersalah berada di dalam kamarnya dengan meminum obat penenang dan pasti Elang tau dosis obat yang di minumnya. Karena dia seorang Dokter.
Mobil Zahra berhenti di depan rumah yang kebetulan Zahra pulang dengan di antar supir. Karena Zahra tidak sanggup menyetir karena kondisi tubuhnya yang sakit.
Ketika sampai Zahra langsung membuka pintu mobil dengan pandangannya kepalanya yang terasa berat. Namun Zahra masih bisa berjalan. Walau dia sebenarnya begitu lemah.
Zahra pun memasuki rumah yang sudah tidak sabaran ingin buru-buru untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang agar bisa istirahat. Di saat Zahra berjalan melewati kamar Elang dan bertepatan Elang yang juga mulai pusing keluar dari kamar dan alhasil membuat mereka saling bertabrakan.
" Sorry, sorry, Zahra," ucap Elang dengan memegang ke-2 bahu Zahra agar tidak jatuh.
" Tidak apa-apa, aku juga yang salah," sahut Zahra yang kepalanya terasa berat.
" Kamu kenapa, kamu sakit?" tanya Elang yang melihat pucatnya wajah Zahra.
" Aku tidak tau, tiba-tiba saja pusing," sahut Zahra yang memegang kepalanya yang semakin berat.
__ADS_1
" Ya sudah, aku kekamar dulu," ucap Zahra.
" Kamu mau aku periksa biar bisa minum obat?" tanya Elang yang jujur dia juga terlihat begitu pusing.
" Tidak usah Elang, aku tidak apa-apa kok. Aku minta tolong Nia aja nanti," jawab Zahra.
" Nia, Bu, Ratih, dan Oma sedang pergi ke luar kota," ucap Elang.
" Kok, aku nggak tau," sahut Zahra.
" Kata Nia handphone kamu tidak bisa di hubungi. Jadi mereka meminta aku untuk menyampaikannya dan meminta kamu untuk menyusul," jelas Elang.
" Memang ada apaan?" tanya Zahra panik.
" Katanya, adiknya Oma sakit parah," jawab Elang.
" Ya ampun, ya sudah nanti kalau sudah baikan aku akan menyusul mereka," ucap Zahra yang sepertinya sudah tidak peduli dengan sakitnya lagi.
" Kamu yakin bisa?" tanya Elang.
" Aku istirahat sebentar. Lalu aku akan menyusul," ucap Zahra.
" Ya sudah terserah kamu," sahut Elang.
" Kamu sendiri bagaimana, kamu tidak pergi?" tanya Zahra.
" Tidak, aku merasa kurang fit. Bahaya kalau pergi," jawab Elang.
" Hmmm, begitu. Lalu Anisa dan Tante Sarah mana?" tanya Zahra.
" Mereka barusan sudah menyusul. Tadi mau menunggu kamu. Tapi takut kelamaan," jawab Elang.
" Ya sudah lah kalau begitu aku istirahat saja dulu. Nanti baru pergi," ucap Zahra memutuskan.
" Ya sudah. Kalau ada apa-apa. Kamu panggil aku. Aku Dokter, jadi jangan khawatir," ucap Elang.
" Iya Elang," sahut Zahra tersenyum dan langsung pergi. Elang melihat punggung Zahra yang berjalan memasuki kamar. Elang menggoyang-goyangkan kepalanya yang begitu berat.
" Aku sebaiknya mencari buah agar bisa fokus dan tidak pusing seperti ini. Dosis obat yang ku minum terlaku tinggi," ucap Elang yang langsung pergi menuju dapur.
__ADS_1
Bersambung