
Rendy dan Rania duduk bersebelahan dengan bersandar di dingding dan rujak di dalam ulek itu masih tetap berada di lantak di tempatnya semula dan Rania juga tidak memakannya lagi.
Kepala mereka saling berdempetan. Namun belum ada lagi pembicaraan yang keluar dari mulut ke-2nya. Rania duduk dengan kaki melurus yang berusaha untuk tenang dan mengembalikan emosinya.
Rendy menoleh ke arah Rania, Rendy menggenggam tangan Rania dengan erat lalu dia langsung meletakkan kepalanya di paha Rania yang berbaring berbantal kan paha istrinya dengan Rendy meletakkan tangan Rania di dadanya, genggaman itu sangat erat kepada tangan istrinya.
Rania pun menghadapkan wajahnya pada perut ramping Rania dan mencium lembut perut itu membuat Rania meneteskan air matanya. Dia memang menginginkan hal itu. Namun tidak dapat di terimanya. Karena Rendy yang belum menerima kehamilannya.
" Maafkan ayah nak. Ayah sudah membuat ibumu menangis. Ayah sangat bahagia dengan kehadiran kamu di dalam rahim ibumu. Maafkan ayah jika sempat meragukanmu," ucap Rendy yang merasa bersalah.
Rendy melihat kearah Rania dengan mengusap air mata Rania yang di pipinya.
" Maafkan aku," ucap Rendy. Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kita sama-sama berjuang ya," ucap Rendy. " jika kamu mengalami sesuatu katakan kepadaku, jangan berbohong padaku, mau itu seberat apapun. Jangan menutupinya. Kamu juga harus mendengarkan ku. Kita sama-sama berjuang insyallah akan ada jalan yang terbaik. Kamu mau kan?" tanya Rendy.
" Aku mau. Tetapi tidak dengan jalan harus mengorbankan janin ini," sahut Rania.
" Iya aku tidak akan mengorbankannya. Tetapi kamu juga harus janji tidak akan mengorbankan dirimu. Karena kebahagiaanku adalah kamu bukan anak atau apapun," ucap Rendy.
" Aku janji, aku akan mengikuti instruksi Dokter jika itu bisa mempertahan janin ini. Aku janji akan meminum obat apapun asalkan bayi ini tetap ada. Aku janji," ucap Rania.
" Iya, kita akan terus berusaha untuk yang terbaik untuk kamu dan juga anak kita," sahut Rendy Rania mengangguk-angguk yang mana dia merasa jauh lebih tenang sekarang. Karena Rendy sudah menerima semua keputusannya.
" Insyaallah, aku menjalani semua ini. Aku tidak bisa egois yang hanya mementingkan diriku. Tanpa ingin tau perasaan istriku," batin Rendy.
***********
Kehamilan Rania melewati hari demi hari dan pasti kehamilan itu berpengaruh untuk kesehatannya. Apa lagi akibat-akibat yang sudah mulai di dapatkannya. Terutama mual-mual berlebihan yang tidak akan ada hentinya.
__ADS_1
Seperti sekarang ini Rania harus mual-mual di wastafel. Di mana dia mengeluarkan semua isi perutnya yang baru beberapa jam lalu di isinya. Suaminya pasti selalu ada bersamanya. Seperti sekarang ini Rendy berdiri di belakangnya dengan memijat-mijat belakang leher Rania. Agar Rania bisa muntah dengan lancar.
Eheggk, eheggk, eheghhhk, Rania terus mual-mual. Ini lah yang membuat Rendy tidak tega sebenarnya. Hal ini yang akan membuat istrinya menjadi lemas. Rania menghidupkan keran air dan mencuci mulutnya dan Rendy langsung mengambil tisu melap mulut istrinya.
" Makasih," ucap Rania dengan suara lemasnya. Rendy hanya mengangguk dan Rendy juga melap keringat di dahi Rania.
Mereka langsung ke luar dari kamar mandi dan mendudukkan Rania di sofa. Lalu Rendy terlihat menuju nakas dan mengambil obat. Lalu kembali ketempat istrinya.
" Ayo minum dulu!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan langsung meminum obat tersebut.
" Kamu sudah jauh lebih baik?" tanya Rendy. Rania langsung memeluk pinggang suaminya yang mana Rendy masih berdiri di depannya.
" Aku jauh lebih baik. Tetapi aku kembali lapar
.Karena perutku sudah kosong lagi," ucap Ranai.
" Aku mau makan di luar. Sudah lama kita tidak lunch, tidak dinner. Jadi aku mau makan di luar," ucap Rania dengan manjanya.
" Baiklah, kita akan makan di luar," ucap Rendy Rania mengangguk. Rendy hanya mengusap-usap pucuk kepala Rania.
*************
Anisa dan Agam sedang menikmati makan malam di luar yang mana ke-2nya habis nonton bioskop dan akhirnya melanjutkan dengan makan bersama.
" Kasian banget ya Rania," ucap Anisa tiba-tiba.
" Rania, memang dia kenapa tumben-tumbennya kamu membahasnya?" sahut Agam heran.
" Dia sedang hamil," jawab Anisa.
__ADS_1
" Hamil kok kasihan, dia kan ada suami. Jadi kenapa kasihan?" tanya Agam heran dengan kata-kata istrinya.
" Kasihan dong sayang. Kan dulu janin Rania di angkat karena dia juga sedang hamil," sahut Anisa.
" Rania pernah angkat janin?" sahut Agam yang tampaknya kaget. Anisa mengangguk.
" Kok bisa?" tanya Agam.
" Rania di vonis menderita kanker rahim dan terpaksa janinnya harus di angkat. Kalau tidak akan berbahaya untuk ibunya. Jadi dia sudah melakukan pengobatan dengan teratur sesuai dengan saran Dokter. Tetapi malahan beberapa bulan yang lalu aku dengar dari Zahra. Kankernya Rania bukannya sembuh. Malah naik. Dan sekarang Rania memutuskan untuk hamil dan itu sangat berbahaya untuknya. Nyawanya bisa menjadi taruhan," ucap Anisa yang dengan wajahnya simpatik.
" Ya ampun kok bisa sih, orang sebaik dia dan juga suaminya baik. Kok bisa gitu mendapatkan hal seperti itu," sahut Agam yang ikut prihatin.
" Tante Ratih selalu mengatakan Rania itu wanita pilihan. Makanya Rania di berikan ujian begitu banyaknya. Ya aku tidak tau ini adil atau tidak untuknya. Aku saja yang tidak sebaik dirinya yang begitu munafik. Tetapi Allah tidak menguji seberat yang di alaminya. Ya dia memang wanita pilihan," ucap Anisa yang harus mengakui jika wanita yang dianggapnya saingan selama ini adalah wanita yang istimewa.
" Lalu jika kamu bilang kehamilannya berbahaya apa itu artinya...." sahut Agam yang tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
" Aku pernah melihat di artikel. Banyak yang seperti Rania yang berani mengambil resiko dan memang jika resiko itu di ambil itu artinya menyelamatkan bayi dan mengorbankan ibunya sendiri. Dan mungkin-mungkin orang-orang seperti itu sudah siap dan Rania sendiri pasti berpikir panjang sebelum mengambil keputusan," ucap Anisa.
" Itu berarti banyak kemungkinan Rania hanya ingin bayinya selamat?" tanya Agam.
" Kecintaannya pada suaminya membuatnya mengorbankan dirinya. Dan suaminya mencintainya sehingga mengambil keputusan untuk mengorbankan anaknya. Mereka pasangan yang sama-sama punya pengorbanan besar," ucap Anisa dengan wajah sendunya.
" Aku yakin Anisa akan ada mukjizat untuk Rania. Bukannya dia wanita pilihan pasti dia juga akan di berikan kebahagian untuk mengganti penderitaannya," ucap Agam.
" Hmmm, aku juga berharap seperti itu," sahut Anisa.
" Seharunya aku yang mengalami semua itu, dosaku terlalu banyak. Hamil di luar nikah bukanlah karma. Tetapi Allah terus menguji Rania, dari keluarganya, pernikahannya dan sekarang kesehatannya. Aku sungguh iri kepadanya yang benar-benar di perhatikan oleh engkau Tuhan sang pencipta," batin Anisa yang terasa begitu haru. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.
Bersambung
__ADS_1