
Rania harus di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan karena kondisinya dan sekarang Rania sedang berada di atas tempat tidur duduk bersilah kaki dengan memakai mukena yang mana dia sedang membaca Al-Qur'an.
Rendy juga berada di depannya yang juga sama-sama di atas tempat tidur yang menyimak hafalan istrinya. Ya Rania ingin hafal Alquran dan memang semenjak berhenti bekerja Rania mengisi kekosongannya untuk lebih dekat pada penciptanya dan salah satunya yang sangat ingin menghafal Alquran.
Suara dan bacaan Rania saat membaca Alquran begitu merdu sekali. Ya Rendy harus mengakui jika istrinya bukan hanya lancar membaca Alquran, tetapi juga sudah menghafal beberapa jus.
Rasa syukur Rania dan terimah kasihnya kepada Allah atas mendapatkan suami seperti Rendy membuat Rania harus menghadiahkan kepada Tuhannya dengan ketakwaannya, keimanan menjadi muslimah yang Sholeha dan pasti Rania selama di dunia ingin sebisa mungkin menjadi orang baik agar bisa menjadi bidadari surga dan bertemu dengan suaminya yang di yakini Rania suaminya akan masuk surga.
Hanya senyum dan ke Ikhlasan yang di pancarkan di wajah teduh Rania saat membaca lantunan ayat suci Al Qur'an tersebut dan senyuman lebar yang di keluarkan suaminya untuk memberikan semangat kepada istri yang tidak pernah lepas dari putus asa.
" Shadaqallahul adzim ," Rania selesai membaca Al-Qur'an, menutupnya. Lalu menciumnya dan Rendy juga mencium keningnya.
" Bagaimana hafalan ku?" tanya Rania.
" Sangat bagus," jawab Rendy.
" Alhamdulillah, dengan begitu. Nanti aku tidak perlu malu jika berada di atas sana. Aku tidak akan malu dengan penduduk langit," ucap Rania.
Rendy hanya mengangguk dengan mengeluarkan senyum tipis. Kata-kata Rania yang mengungkit kematian bukan pertama kali di dengarnya sudah hal yang biasa dan dia hanya pasrah saja.
" Ya sudah sekarang sudah malam, kita istirahat ya," ucap Rendy.
" Hmmm baiklah, tapi jangan lupa nanti jam 2 bangunkan aku. Bukannya kita akan sholat tahajud. Kamu semalam tidak membangunkanku. Malah sholat sendirian. Lupa jika ada makmumnya," ucap Rania dengan wajah merengutnya.
" Baiklah sayang! aku akan membangunkanmu," sahut Rendy. Rania tersenyum lebar.
" Ya sudah ayo tidur di sampingku," ucap Rania.
" Kamu buka mukenah kamu dulu," ucap Rendy.
" Mau seperti ini aja. Soalnya jauh lebih nyaman," sahut Rania.
" Ya sudah sayang," sahut Rendy yang langsung mengambil posisi untuk berbaring di samping istrinya yang sebelumnya menyimpan Al Qur'an itu di atas nakas. Rania juga langsung memeluk Ardian bermanja di dada bidang suaminya itu.
" Sayang kamu tau tidak seharian ini aku tidak merasa sakit apa-apa," ucap Rania yang harus laporan tiap hari dengan apa yang di rasakannya pada suaminya.
__ADS_1
" Alhamdulillah kalau begitu. Semoga selanjutnya seperti itu. Kamu tidak perlu sakit lagi," ucap Rendy.
" Amin!!!!" sahut Rania.
" Oh, iya sayang aku jadi pengen umroh lagi," ucap Rania tiba-tiba.
" Kita sama-sama berdoa ya, semoga Allah memberi kamu kesehatan supaya kita bisa kesana. Kamu juga sedang hamil dan sangat bahaya untuk terbang ke sana. Jadi pasti ada waktu yang tepat di mana kamu sudah sembuh dan kita bisa pergi kesana," ucap Rendy.
" Iya. Walau aku juga ingin kita pergi umroh bareng anak kita nanti. Ya tapi itu tidak akan kesampaian sih," sahut Rania.
" Sayang jangan mendahulukan takdir. Tidak ada yang tidak mungkin kita harus terus berdoa dan percayalah Allah akan memberikan jalan yang terbaik," ucap Rendy.
" Iya aku tau," sahut Rania, " sayang banyak sekali yang aku lakukan," ucap Rania.
" Katakan apa saja yang ingin kamu lakukan. Maka aku akan membantumu," ucap Ardian.
" Ya banyak, sangat banyakkkk" sahut Rania.
" Rania, lakukanlah apa yang kamu inginkan selagi itu membuat kamu bahagia. Tapi aku hanya mengingatkan jangan capek-capek dan pasti harus meminta bantuan kepadaku. Karena aku tidak ingin di pikiran kamu ada sesuatu yang tidak bisa kamu bagi. Mau seberat apapun, sesulit apapun. Kamu harus bercerita dan meminta pertolongan kepadaku," ucap Rendy.
" Iya sayang aku tau," sahut Rania.
" I Love you," ucap Rania mengangkat kepalanya melihat wajah suaminya.
" I Love you to," jawab Rendy dengan mengecup bibir Rania sekilas.
" Hanya sebentar," sahut Rania dengan wajahnya mengkerut membuat Rendy tersenyum dan langsung mencium kembali bibir istrinya. Ya berciuman sebentar dengan istrinya dan setelah itu melepasnya.
" Masih mau?" tanya Rendy menaikkan 1 alisnya.
" Hari ini cukup!" sahut Rania yang memeluk kembali Rendy dan perlahan memejamkan matanya. Sama dengan Rendy yang juga akhirnya perlahan memejamkan matanya.
************
Rania akhirnya sudah boleh pulang oleh Dokter. Ratih dan Nia pasti ikut mempersiapkan kepulangan Rania.
__ADS_1
" Sudah selesai semuanya?" tanya Ratih.
" Sudah mah," jawab Rendy.
" Ya sudah kalau begitu ada sebaiknya kita langsung pulang. Atau ada yang mau mampir-mampir lagi?" tanya Ratih.
" Hmmmm, kita makan siang di luar yuk," sahut Nia tiba-tiba mempunyai ide.
" Boleh juga, aku juga sudah lama tidak makan di luar," sahut Rania yang setuju.
" Ya sudah kalau begitu kita mau makan di mana," sahut Rendy. Rania dan Nia saling melihat yang tampaknya masih berpikir.
" Kali ini mama yang nentuin," sahut Nia.
" Iya benar sekali-sekali harus mama yang nentuin makan di mana," ucap Rania.
" Kok jadi mama. Mama mana tau di mana tempat yang enak. Kalau mama yang nentuin mending makan di rumah," sahut Ratih.
" Ihhhh, jangan gitu dong mah, harus makan di luar. Masa iya mama tidak punya Restauran rekomendasi," sahut Rania.
" Memang mama tidak punya," sahut Ratih.
" Ya di mana gitu mah, yang penting kita makan," sahut Nia. Rendy hanya tersenyum melihat mamanya yang di desak dua wanita yang membuat Ratih pusing.
" Ayo dong mah, ini juga keinginan cucu mama," sahut Rania yang mengandalkan bayinya.
" Tuh, masa iya mama tega bikin keponakan aku jadi ileran nanti," sahut Nia.
" Ya sudah, kita akan cari makan dan mama akan menentukan tempatnya. Apa kalian puas," sahut Ratih yang pasrah.
" Nah gitu dong," sahut Nia dan Rania serentak.
" Ya sudah kalau begitu sekarang kita pergi cari tempat makan," sahut Rendy.
" Oke," sahut Rania. Ratih hanya menarik napas panjang dengan geleng-geleng yang di kerjain anak dan menantunya.
__ADS_1
Dia lagi mana tau harus mengajak anak dan menantunya itu makan, karena dia juga tidak tau Restauran seperti apa yang harus di rekomendasikannya. Karena dia juga jarang makan di luar sana biasanya pasti makan di luar karena ajakan anak-anak nya.
Bersambung