Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Epiosede 113 Video Call.


__ADS_3

Karena tidak ada suaminya di rumah Rania memang memilih untuk bekerja dan ketika pulang bekerja dia akan langsung bertapa di dalam kamar untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan.


Bahkan Rania jarang makan bersama yang lainnya. Karena dia tau mulut Sarah akan tidak bisa di kondisinkan sama saja dengan Anisa dan belum lagi Rania takut, jika Elang lancang bicara dengannya jadi kamar adalah tempat ternyaman untuknya.


Rania duduk di meja kerjanya yang fokus pada laptopnya yang menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Dratt-dratt-drattt. Tiba handphonenya yang berada di sebelahnya berdering dan Rania melihat panggilan Vidio Call dari Rendy.


" Rendy!" pekiknya tampak terkejut dan dengan cepat Rania berdiri. Rania berlari kedepan cermin, merapikan buru-buru rambutnya yang berantakan dan menoleh wajahnya dengan bedak.


Lalu memberi lipstik di bibirnya dan mengambil handphonenya dengan cepat. Lalu langsung menaiki ranjang bersilah kaki di ranjang. Rania menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu mengangkat telpon itu dan muncul wajah tampan suaminya yang membuat Rania gugup yang pertama kali menerima panggilan Vidio.


" Assalamualaikum!" sapa Rendy dengan lembut.


" Walaikum salam," sahut Rania dengan gugup.


" Kamu sedang apa?" tanya Rendy.


" Hmm, aku, aku tidak ngapain-ngapain. Aku tadi hanya mau tidur," jawab Rania gugup.


" Oh, iya maaf aku mengganggumu. Kalau begitu istirahatlah, aku tutup telponnya," sahut Rendy.


" Eh, tidak-tidak," sahut Rania dengan cepat membuat Rendy heran, " Issshhh kenapa cepat sekali menutupnya. Aku belum mau tidur. Lagian aku juga tadi lagi ngerjain beberapa pekerjaan jadi belum mengantuk," ucap Rania dengan wajah cemberutnya. Rendy tersenyum mendengarnya. Istrinya dari jauh terlihat begitu menggemaskan.


" Benarkah! berarti aku boleh terus bicara denganmu?" tanya Rendy meminta izin.


Mereka itu layaknya orang pacaran yang sangat sopan.


" Bolehkan?" tanya Rendy lagi. Rania langsung mengangguk cepat yang jelas tidak masalah dengan suaminya yang menelponnya dan bahkan dia begitu bahagia saat melihat wajah tampan suaminya itu.


" Hmm, kapan kamu pulang?" tanya Rania langsung pada intinya.


" Kenapa apa kamu merindukanku?" tanya Rendy menggoda Raina membuat Rania tersenyum memerah.


" Memang kamu tidak?" tanya Rania balik.


" Iya, aku sangat merindukanmu," jawab Rendy tanpa basa-basi membuat Rania ingin melayang sampai ke langit ke-7. Hanya simple kata-kata itu. Tetapi mampu membuatnya berbunga-bunga. Mungkin jika Rendy tidak melihatnya. Pasti dia sudah melompat-lompat.


" Rania, kamu kenapa diam. Kamu belum menjawab pertanyaan ku," ucap Rendy yang ternyata masih menunggu jawaban itu.


" Memang masih perlu?" tanya Rania. Rendy mengangguk.

__ADS_1


" Hmmm, sama," sahut Rania pelan.


" Sama apanya?" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya yang ingin kejelasan.


" Iya, aku juga merindukanmu. Makanya cepat pulang," sahut Rania yang sangat gugup mengatakannya dia hanya mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu. Namun pasti Rendy sangat bahagia mendengar ucapan istrinya itu.


" Pekerjaanku akan secepatnya selesai dan pasti aku akan kembali secepatnya," sahut Rendy. Rania mengangguk-angguk. Dengan tersenyum lebar yang tidak sabaran Rendy akan pulang.


Rania dan Rendy terus melanjutkan Vidio Call mereka, tampaknya mereka hanya saling bicara mengenai keseharian Rania dan juga Rendy di Jerman.


Layaknya orang pacaran yang menghabiskan waktu di malam hari dengan telponan. Mereka memang tidak pacaran sebelum menikah. Jadi mereka pacaran setelah menikah dan banyak momen yang membuat pasangan itu memang semakin dekat.


Pintu kamar Rania Yeng terbuka sedikit membuat Anisa yang mengintip di depan pintu kamar itu langsung kesal.


" Sial!" geram Anisa. " Kenapa sih Rania dan Rendy itu susah sekali di pisahkan. Bahkan sekarang hubungan mereka sangat dekat," desis Anisa yang emosi melihat Rania yang senyum-senyum saat Vidio call dengan suaminya.


" Aku sudah melakukan semuanya. Tapi tetap saja mereka tidak bisa di pisahkan dan terus semakin dekat. Apa gunanya semua ini. Elang dia bahkan tidak ada gunanya di rumah ini. Sama sekali tidak berpengaruh pada hubungan Rendy dan juga Rania. Benar-benar memuakkan!" geram Anisa.


Rania yang masih tetap Vidio calling dengan Rendy. Tiba-tiba melihat ke arah pintu dan melihat Anisa di sana.


" Hmmm, Rendy sebentar ya," ucap Rania pamit.


" Ngapain kamu?" tanya Rania membuat Anisa tersentak kaget.


" A-a-aku, aku hanya," sahut Anisa gugup.


" Hanya apa. Apa yang kamu lakukan di depan kamarku. Kamu ingin menguping," ucap Rania dengan wajahnya yang ketus.


" Aku tidak sengaja lewat," sahut Anisa.


" Tidak sengaja lewat, mendengarku sedang menelpon Rendy dan akhirnya membuatmu menghentikan langkahmu dan menguping pembicaraan orang lain," ucap Rania yang tau apa yang di lakukan Anisa.


" Kamu jangan menuduh sembarangan, untuk apa aku menguping," sahut Anisa dengan membantah tuduhan Rania.


" Jelas untuk kepo. Kamu paling tidak suka melihatku dekat dengan Rendy. Padahal kamu tidak sadar, jika aku sudah menikah dengannya," ucap Rania. Anisa tersenyum mendengarnya.


" Kamu bangga menikah dengannya. Kamu juga seharusnya sadar Rania. Jika Rendy menikah denganmu hanya terpaksa," sahut Anisa menegaskan.


" Terpaksa atau tidak. Yang jelas aku istrinya dari sah di mata agama dan juga hukum," sahut Anisa menegaskan.


" Jadi sebaiknya kamu jangan mengganggu urusanku dengan Rendy," tegas Rania lagi.

__ADS_1


" Kamu tidak punya hak untuk melarangku," sahut Anisa, " aku menyukai Rendy dan kamu juga tau itu. Rendy adalah cinta pertamaku sama sepertimu di mana Elang juga cinta pertamamu!" ucap Anisa membuat Rania kaget dan melihat Anisa serius.


" Ada apa Rania. Kenapa kamu kaget seperti itu. Aku hanya menebak-nebak. Apa memang benar Elang adalah cinta pertamamu yang belum selesai," sahut Anisa menyunggingkan senyumnya.


" Ohhh, Aku tau. Atau jangan-jangan Rendy tidak tau masalah itu. Bagaimana jika Rendy tau istrinya tinggal dengan seorang Pria di masa lalunya, apa ya tanggapannya," ucap Anisa yang membuat Rania menatap tajam. Namun seketika tersenyum tipis.


" Kamu sangat sepenasaran itu dengan tanggapannya?" tanya Rania. " Anisa jika sepenasaran itu. Nanti aku akan memberitahumu," ucap Rania dengan santai.


" Apa maksudmu?" tanya Anisa. Rania tersenyum pada Anisa.


" Tidak ada maksud apa-apa. Sudahlah kembali sana kekamarmu. Jangan menggangguku. Aku masih menelpon suamiku. Jadi pergilah!" usir Rania menegaskan.


Anisa yang kalah pun akhirnya memilih pergi dengan penuh kekesalan.


" Dasar tukang ganggu, dia selalu saja kepo masalahku. Tapi dari mana dia tau. Kalau Elang adalah mantanku," batin Rania yang tiba-tiba kepikiran.


" Aku yakin adanya Elang di rumah ini. Bukan kebetulan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres," Rania mulai mencurigai sesuatu.


" Astaga Rendy, aku telponnya masih tersambung," ucapnya yang baru teringat dan kembali memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Lalu langsung kembali ke atas tempat tidur untuk melanjutkan berkomunikasi dengan suaminya.


" Maaf Rendy aku lama," ucap Rania merasa bersalah.


" Tidak apa-apa. Memang kamu dari mana?" tanya Rendy.


" Menutup pintu," jawab Rania.


" Ohh, apa ada sesuatu?" tanya Rendy.


" Tidak ada apa-apa," sahut Rania.


" Ya, sudah sebaiknya kamu istirahat. Ini sudah larut malam, jangan bekerja lagi," ucap Rendy. Rania mengangguk.


" Kamu tidur ya, mimpi yang indah," ucap Rendy dengan manis. Rania mengangguk tersenyum.


" Assalamualaikum," sahut Rendy yang pamitan.


" Walaikum salam!" sahut Rania melambaikan tangannya dan mematikan panggilan itu.


Rendy tersenyum yang merasa bahagia bisa berkomunikasi dengan suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2