
" Kelakuan istri kamu sungguh bikin malu. Di saat kamu pergi bekerja dia sudah main gila dengan pria di kamarnya. Pria yang bukan muhrimnya. Baru juga 2 hari kamu pergi. Lihat apa yang di lakukannya di belakangmu," ucap Iren yang terus memaki Raina.
" Mbak, cukup! kita bisa bicara baik-baik. Tanpa melebar-lebarkan masalah," sahut Ratih.
" Melebarkan masalah kamu bilang. Lihat menantu kamu itu. Aku sudah mengatakan kepada kalian di awal untuk menjauh dari wanita. Tapi apa lihatlah sifat tercelanya yang sungguh menjijikkan, perempuan murahan, berselingkuh dengan Gilang, kamu itu sungguh tidak tau diri," tegas Iren
" Cukup!" bentak Rendy lama-lama tidak bisa menahan dirinya dia sungguh darah tinggi melihat istrinya yang di hina.
" Tante, jangan bicara sembarangan. Aku adalah suaminya dan aku tidak suka. Jika ada yang menghinanya di depanku. Jadi tolong hargai aku sebagai suaminya," tegas Rendy.
" Kamu masih membela wanita itu. Kamu tidak melihat apa yang terjadi. Tante melihat sendiri dengan mata kepala Tante, apa yang di lakukannya. Tanya istri kamu bagaimana dia memberi izin pada pria masuk kedalam kamarnya," sahut Iren.
" Aku tidak akan bertanya kepadanya. Karena itu kamarnya. Aku akan bertanya pada Gilang. Kenapa dia ada di rumah ini dan masuk ke kamar kami," ucap Gilang menatap dingin Gilang. Dan Gilang tampak gelisah.
" Kenapa kau diam jawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di kamarku," ucap Rendy menekan suaranya.
" Aku tidak akan masuk kekamarnya. Kalau dia tidak mengundangku," sahut Gilang.
" Apa yang kau katakan Gilang. Kapan melakukan itu hiks, kau yang masuk kedalam kamarku saat aku tertidur hiks," ucap Rania yang masih menangis dengan tangannya yang mungkin lukanya semakin sakit.
" Rania, aku tau kita salah melakukannya. Tapi jujurlah pada suamimu. Karena semuanya sudah ketahuan," sahut Gilang dengan wajah senduhnya.
" Gilang apa kamu punya bukti, jika Rania yang mengajakmu," sahut Zahra.
" Zahra, jelas-jelas Tante melihatnya," sahut Iren.
" Aku bertanya pada Gilang bukan Tante," sahut Zahra tegas.
" Iya ada bukti," sahut Gilang. Membuat Rania kaget mendengarnya. Dia jelas tidak mengajak Gilang dan bukti apa yang akan di tunjukkan Gilang. Gilang mengeluarkan handphonenya dan langsung memberi pada Rendy.
" Kamu bisa lihat sendiri Rendy. Bagaimana Rania memberiku pesan menyuruhku untuk datang kekamarnya. Kamu baca sendiri," ucap Gilang yang menunjukkan pesan dari Rania.
Rendy melihatnya dengan mengepal handphone itu dengan kuat. Sementara Rania menangis tersedu-sedu yang pasrah dengan fitnah yang di terimanya.
__ADS_1
" Syukurin kamu Rania. Aku yakin Rendy akan langsung menalak mu hari ini. Lihatlah dia yang sudah marah dengan perbuatan binamu," batin Anisa yang tidak sabar menunggu kelanjutan dari Drama yang terjadi.
" Astagfirullah, kamu benar-benar wanita ******," sahut Iren, " kamu tidak tau diri dengan mudah menyuruh anakku masuk kekamarmu," geram Iren yang tampak kehilangan kesabaran.
Nia dan Zahra saling melihat. Mereka memang tidak akan percaya dengan apa yang terjadi. Tetapi chat dari Rania membuktikan segalanya.
" Kau tidak bohong Rendy. Tetapi memang itulah yang terjadi. Aku dan Rania tidak tau jika kamu akan pulang secepat itu," sahut Gilang bicara dengan tenang.
Rendy yang sudah kehabisan kesabaran langsung membanting handphone itu.
Pranggg.
Handphone tersebut sampai pecah membuat semua orang tersentak kaget. Rendy melihat Gilang dengan tajam dan langsung melangkah mendekati Gilang.
Bugh, Rendy langsung memukulnya dengan kuat membuat semua orang kaget.
" Rendy apa yang kamu lakukan?" tanya Iren dengan panik melihat anaknya yang di pukul.
" Berani sekali kau memfitnahnya," ucap Rendy membuat Gilang kaget. Anisa juga kaget yang mana Rendy tidak menyalahkan Rania sama sekali.
" Apa yang kau katakan Rendy. Fitnah. Jelas dia mengirim pesan itu pada Gilang," sahut Iren.
" Cukup!" bentak Rendy dengan suara menggelar.
" Apa yang Tante ingin sebenarnya. Kenapa mengusik hidupnya," sahut Gilang.
" Apa maksud kamu?" tanya Iren.
" Saat aku tidak ada di sini. Kenapa Tante harus berada di rumah ini. Untuk membukakan pintu pada pria bajingan ini. Mempersilahkan masuk kekamar Rania. Itu yang Tante lakukan," teriak Rendy melepas cengkramannya dari kerah baju Gilang.
" Apa yang kamu bicarakan Rendy, kamu menuduh Tante melakukan semua ini. Istri kamu yang salah dan lihat pesan itu. Dia mengirimnya," teriak Iren tidak terima di salahkan.
" Benarkah, Rania mengirimnya. Dia kirim dari mana. Handphone siapa. Nomor yang di tunjukkan Gilang adalah nomor yang handphone jatuh kedalam lautan bersama dengan mobil Rania. Saat Rania mengalami kecelakaan setelah memergoki dia tidur dengan wanita lain di hotel," teriak Rendy.
__ADS_1
Pernyataan Rendy membuat semua orang kaget. Zahra menyunggingkan senyumnya dia yang sudah tau masalah itu. Tersenyum puas. Sudah lama mulutnya ingin mengatakan hal itu.
" Jangan menuduh anakku sembarangan Rendy," teriak Iren.
" Menuduh Tante bilang, aku menuduh. Apa yang aku katakan adalah kenyataan dan itu membuat Rania membatalkan pernikahannya dengan pria bajingan ini," tunjuk Rendy pada wajah Gilang dengan geram.
" Apa yang di bicarakannya Gilang?" tanya Iren.
" Itu tidak benar ma," sahut Gilang mencari pembelaan.
" Itu kenyataan Gilang. Kami semua tau masalah itu dan kejadian malam itu. Rania berada di sini. Dia hampir mati karena ulahmu," sahut Zahra menambahi.
" Ini fitnah mah, ini fitnah," sahut Gilang.
" Fitnah katamu. Kau lah yang sudah memfitnah Rania dan satu lagi kau juga kurang ajar masuk kekamarku dan mengganggu Rania. Dengarkan aku Gilang. Aku punya batas kesabaran. Apa yang kau lakukan malam ini pada Rania berurusan dengan hukum," tegas Rendy membuat Gilang kaget.
" Apa maksudmu Rendy?" tanya Iren panik.
" Dia mencoba untuk melecehkan istri ku 2 kali pertama di depanku. Di saat malam kematian ibu Faridah dan kali ini dia kurang ajar masuk kekamar dan melakukan tindakannya. Kau sangat berbahaya hilang dan kau harus di tempatkan di dalam jeruji besi untuk kenyamanan Rania," tegar Rendy dengan keputusannya.
" Dan siapapun yang terlibat dengan kejadian malam ini. Fitnah kejam yang kalian lakukan di rumahku. Akan ikut bersamanya," tegas Rendy lagi.
" Anisa mendengarnya kaget dengan menelan salavinanya dan wajahnya yang mendadak pucat.
" Mama setuju," sahut Ratih. Membuat semua orang melihatnya, " ini sudah keterlaluan. Rania menantu di rumah ini. Tapi dia mendapatkan perlakukan yang tidak baik. Aku tidak mungkin membiarkan menantuku di perlakukan seperti ini. Untuk mendapat keadilan baginya. Maka masalah akan di selesaikan dengan hukum," sahut Ratih.
Iren sudah tidak bisa berkutik lagi. Dia terlihat panik. Begitu juga dengan Gilang. Rendy menghadap Rania yang melihat Rania masih menangis Rendy mengusap rambut Rania lembut.
" Ayo kita istirahat," ucap Rendy lembut. Rania mengangguk-angguk dan Rendy meletakkan tangannya di pundak Rania dan membawa istrinya pergi dari ruang tamu.
" Kembali istirahat, jika masih ingin istirahat," sahut Ratih yang langsung pergi. Nia dan Zahra pun menyusul dan membiarkan Iren dan Gilang. Ibu dan anak itu sama sekali tidak ada yang mempedulikannya.
Bersambung
__ADS_1