
Pagi hari kembali tiba. Cerita liburan sudah berakhir dan sekarang sudah kembali ke Jakarta dan kembali melanjutkan pekerjaan dan rutinitas seperti biasanya yang harus di lakukan.
Pagi ini Rania dan Rendy sudah siap-siap sudah rapi-rapi, Rania bahkan membantu suaminya memakaikan dasi.
" Kamu selesai meeting jam berapa?" tanya Rendy.
" Paling jam 11. Kenapa mau mengajakku makan siang?" tanya Rania.
" Bukannya memang harus makan siang bersama," sahut Rendy.
" Hmmmm, kamu benar sih," sahut Rania mengangguk tersenyum.
" Ya sudah. Nanti kita makan siang bersama. Sekalian kamu juga harus cek kandungan," ucap Rendy.
" Memang sudah dapat Dokter kandungannya?" tanya Rania.
" Sudah aku sudah mendapatkannya," sahut Rendy.
" Perempuan kan?" tanya Rania.
" Iya sayang," sahut Rendy dengan mengusap pipi Rania.
" Baiklah kalau begitu. Nanti aku selesai meeting aku kabari kamu," ucap Rania. Rendy mengangguk dengan tersenyum.
" Ya sudah sekarang kita pergi?" tanya Rania. Rendy mengangguk. Dan merekapun sama-sama keluar dari kamar dengan tangan mereka yang bergandengan.
************
Orang-orang melakukan aktivitas dan rutinitas mereka seperti biasanya dan tidak dengan Anisa yang terlihat begitu murung di dalam kamarnya. Anisa hanya berdiri di depan jendela tanpa memakai jilbabnya rambutnya di gerai yang terurai panjang yang masih basah. Mungkin itu alasan Anisa belum memakai jilbabnya.
Kemiringannya pasti terjadi karena kehancuran hidupnya yang mana Anisa hanya bisa menyesali tanpa melakukan apa-apa.
" Sekarang bagaimana ini. Semuanya sudah berantakan. Aku sudah hancur. Jangankan Rendy laki-laki manapun tidak akan ada yang mau denganku. Tidak ada yang akan menerima wanita kotor, wanita rusak, wanita menjijikkan seperti ku. Tidak akan ada yang mau sama sekali," batin Anisa yang kepercayaan dirinya telah hilang.
" Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Apa ini semua adalah teguran, apa semua ini adalah karma yang aku dapatkan. Mulutku sering mengatakan Rania adalah wanita yang suka berhubungan di luar pernikahan dia wanita murahan. Semua itu berbalik kepadaku. Aku sekarang telah menjadi wanita yang begitu hina," batin Anisa dengan meneteskan air matanya yang menyadari semua kesalahannya.
" Hiks, hiks, sekarang semuanya benar-benar hancur, semuanya sudah berantakan. Aku bukan wanita suci lagi hiks. Tidak akan ada yang mau denganku. Tidak akan ada lagi. Tidak ada sama sekali," ucapnya yang terus merasa begitu terhina.
__ADS_1
Penyesalan datangnya terlambat Anisa hanya menangis terisak-isak dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Dia begitu hancur dan sangat hancur. Suara tangisan itu ternyata terdengar di telinga Ratih yang berdiri di depan kamar Anisa.
Niatnya tadi ingin mengetuk pintu kamar Anisa. Namun di urungkannya. Karena mendengar suara tangisan yang begitu kuat yang membuat Ratih tidak jadi mengetuk pintu itu.
" Apa yang terjadi, kenapa Anisa menangis, aku juga memperhatikan Anisa yang tiba-tiba menjadi pendiam," batin Ratih yang merasakan jika ada yang tidak beres.
" Ya Allah semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Anisa. Jika dia mempunyai masalah, semoga masalahnya cepat selesai, semoga saja Anisa bisa melewati masalah sebanyak apapun nanti," batin Ratih yang hanya mendoakan yang terbaik untuk Anisa. Karena dia juga tidak tau masalah apa yang di hadapi Anisa.
*********
Elang dan Zahra sedang menikmati makan siang di salah satu Restauran yang tidak jauh dari tempat Zahra bekerja. Sangat aneh tiba-tiba Elang mengajak Zahra untuk makan siang bersama.
" Kamu pesan apa?" tanya Elang yang menunjukkan menu pada Zahra.
" Hmmm, aku pesan nasi bakar aja," jawab Zahra.
" Pakai ikan, atau ayam?" tanya Elang.
" Ayam aja deh," sahut Zahra.
" Orens jus saja," jawab Zahra.
" Mbak, nasi bakarnya 2 orens jus 2!" ucap Elang pada pelayan. Pelayan menulis apa yang mereka pesan.
" Hmmmm, ya sudah Pak silahkan di tunggu," sahut pelayang. Zahra dan Elang sama-sama mengangguk.
" Kamu suka nasi bakar juga?" tanya Zahra.
" Ya termasuk makanan favorite ku dan aku tidak percaya kalau kamu memesan itu," sahut Elang.
" Ya memang itu makanan paling enak bagiku dan apa lagi kalau Tante Ratih yang membuatkannya," sahut Ratih tersenyum.
" Aku belum pernah mencoba nasi bakar buatan Tante Ratih. Tetapi nanti pasti akan aku coba," sahut Elang. Zahra hanya tersenyum saja melihat Elang.
" Tumben sekali Elang mengajakku makan. Aneh sekali tidak biasanya dia seperti itu," batin Zahra yang kebingungan. Mata Zahra juga tiba-tiba melihat ke arah jari manis Elang. Yang mana cincin pernikahan mereka masih tetap di pakai Elang dan tidak tau kenapa Zahra begitu bahagia melihat cincin tersebut.
" Hmmmm, oh iya Zahra kamu masih bisa ambil cuti tidak?" tanya Elang tiba-tiba.
__ADS_1
" Cuti, untuk apa?" tanya Zahra heran.
" Mama dan papa lusa akan mengadakan Anniversary pernikahan mereka. Jadi aku rencana untuk pulang ke Amerika dan membawa kamu," jawab Elang. Zahra cukup keget mendengarnya yang Elang punya ide untuk mengajaknya pulang kampung.
" Kamu bisa cuti tidak?" tanya Elang yang memastikan kembali.
" Hmmmm, aku sih tidak tau masalah itu. Tapi kalau memang harus aku akan coba bicara dengan Rania. Siapa tau Rania bisa memberiku ijin," ucap Zahra yang sepertinya tidak keberatan dengan ajakan Elang yang ingin pulang kampung bersamanya.
" Apa itu artinya kamu tidak akan keberatan kan bila aku ajak ke sana?" tanya Elang memastikan. Zahra mengangguk pelan membuat Elang tersenyum lega.
Tidak lama makanan mereka pun akhirnya datang dan pelayan menata makanan itu di depan mereka.
" Selamat menikmati Bu, pak," ucap pelayan dengan ramah.
" Terima kasih," sahut Elang. Pelayan mengangguk dan langsung pergi.
" Ayo makan!" titah Elang.
" Kamu juga," sahut Zahra. Elang mengangguk dan mereka pun kembali sama-sama makan
" Elang memang sangat aneh tidak biasanya Elang seperti ini. Biasanya dia sangat menjagakan untuk bertemu di tempat terbuka. Tetapi justru kali ini mengajakku untuk makan," batin Zahra yang tidak bisa berkata apa-apa. Kalau di tanya senang dia memang senang dan itu tulus dari hatinya.
Tiba-tiba di tempat yang sama terlihat Cindy yang memasuki Restaurant. Cindy sendirian tanpa suaminya Frans dan kedatangan Cindy di lihat oleh Elang. Elang yang tiba-tiba fokus melihat sesuatu yang membuat Zahra melihat ke arah pandang Elang dan melihat Cindy yang juga melihat Elang.
Zahra hanya memperhatikan Elang yang melihat Cindy tanpa mengedip dan terlihat wajah Elang masih terlihat marah dan penuh kebencian pada Cindy.
" Kalian sudah sama-sama tau," sahut Zahra tiba-tiba membuat pandangan Elang langsung beralih cepat pada Zahra.
" Jangan membahasnya kamu makan saja," sahut Elang dengan suara dinginnya. Zahra minum dan mengambil handphonenya lalu berdiri yang membuat Elang heran.
" Zahra kamu mau kemana?" tanya Elang.
" Aku sudah tau kenapa sikap berubah. Dia sudah tau tentang hubungan kita dan mungkin kamu juga tau kenyataan tentang dia. Tapi kamu dengar Elang. Aku bukan pelarianmu," tegas Zahra yang langsung pergi dari tempat duduk itu.
" Zahra tunggu?" panggil Elang yang langsung mengejar Zahra.
Bersambung
__ADS_1