
Malam sudah berlalu dan sekarang sudah kembali pagi. Rania yang posisi tidurnya sudah berbaring lurus membuka -matanya perlahan. Lumayan kesulitan membuka matanya. Karena sebelumnya dia kebanyakan menangis dan akhirnya matanya lengket. Saat mata itu terbuka sempurna.
Rania mencoba untuk duduk dengan perlahan dan melihat ke arah jendela yang sudah begitu terang. Dan menoleh kesampingnya yang mana sudah tidak ada Rendy lagi.
" Apa aku kesiangan," batin Rania yang terlihat panik dan mencoba untuk turun dari ranjang saat turun dari ranjang Rania menginjak selembar kertas yang mana kertas itu adalah surat yang di tulisnya sebelumnya kepada suaminya.
" Apa dia tidak membacanya. Apa Rendy benar-benar masih marah kepadaku," batin Rania yang terlihat begitu gelisah dengan wajahnya yang tampak sangat panik.
" Ya Allah, suamiku sampai saat ini masih terus marah kepadaku. Apa dia sungguh membenciku," batin Rania yang kembali menangis karena takut Rendy berlarut-larut marah kepadanya apa lagi ini pertama kali Rendy kalau marah sangat lama yang mungkin memang apa yang di lakukan Rania membuatnya begitu kecewa.
*********
Rendy berada di dalam ruangannya yang melihat handphonenya dan melihat kontak istrinya. Ada rasa ingin menelpon. Tetapi tidak tau dari mana harus bicara apa kepada Rania. Rendy juga terlihat penuh kebingungan yang apa-apa selalu serba salah yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Rendy tidak jadi menghubungi Rania. Padahal pasti dia sangat merindukan Rania walau sudah dua hari diam dan tidak berteguran sama sekali. Tidak Rania dan tidak Rendy sama-sama ingin berdamai, namun masih ada gebgsi-gengsian sedikit.
**********
Sore ini Rendy lumayan pulangnya cepat dan mobilnya sudah berhenti di depan rumah dan Rendy langsung memasuki rumah.
" Assalamualaikum," sapa Rendy begitu tiba di ruang tamu yang ada Elang, Zahra, Nia, Rania dan mamanya yang ada diruang tamu.
" Walaikum salam," jawab semuanya serentak dan Rania sendiri juga menjawab namun menyibukkan diri dengan membuka-buka katalog dan Rendy melihat Rania yang sepertinya menghindari kontak mata dengannya.
" Pulang sore juga Rendy," sahut Elang yang membuat mata Rendy beralih melihat istrinya.
" Iya," jawab Rendy.
" Ya sudah ayo duduk nak, kita lagi membahas masalah liburan ke puncak," ucap Widia.
" Kepuncak, memang ada acara apa?" tanya Rendy heran yang akhirnya duduk di samping Nia dan berhadapan dengan Rania yang tetap menyibukkan dirinya.
" Kakak lupa. Kalau mama berulang tahun yang ke 63," jawab Nia.
" Ya ampun aku sampai lupa itu besokkan mah," jawab Rendy mengusap wajahnya yang tidak percaya bisa lupa dengan ulang tahun mamanya.
__ADS_1
" Iya nak, itu namanya kamu belum lupa. Kamu masih ingat dan ini Nia ada-ada saja. Katanya pengen ulang tahun mama di adakan di puncak. Padahal mama mau syukuran aja di rumah," sahut Ratih.
" Kamu ini ya Nia, kemarin di Bali, sekarang mama juga di bawa-bawa buat merayakan di puncak," sahut Rendy geleng-geleng.
" Tidak apa-apa kak, kan hanya sekali-sekali. Lagian biar mama juga bisa reflesing," sahut Nia yang senyum cengengesan tanpa dosa.
" Mama yang mau reflesing atau kamu," sahut Rendy.
" Dua-duanya dong," sahut Nia yang tertawa-tawa.
" Sudah-sudah, baiklah mama menuruti Nia lagi kali ini. Kamu bisakan Rendy?" tanya Ratih.
" Bisa mah," sahut Rendy tanpa masalah.
" Alhamdulillah kalau begitu," sahut Ratih.
" Kalau begitu besok pagi kita kepuncak," sahut Elang.
" Iya benar, besok pagi waktu yang paling tepat," sahut Zahra. Dalam pembahasan itu Rania tetap diam tanpa bicara apa-apa dan Ratih merasa ada yang aneh tiba-tiba melihat kearah Rania yang sibuk sendiri dan Rendy juga tidak ada menegur istrinya sedari tadi.
Hal itu membuat Ratih menjadi tanda tanya besar apa yang terjadi pada anak dan menantunya itu.
" Iya ma," jawab Rania mengangkat kepalanya.
" Kamu bisa ikutkan?" tanya Ratih. Rania mengangguk-angguk.
" Hmmm, ya sudah Rania mau ke atas dulu. Soalnya ada tadi yang lagi Rania kerjakan," ucap Rania yang langsung berdiri dan tersenyum yang langsung pergi begitu aja dan tidak melihat Rendy sama sekali.
" Rendy apa terjadi sesuatu?" tanya Ratih yang langsung bertanya pada putranya.
" Tidak apa-apa mah," jawab Rendy yang bohong yang sepertinya tidak mungkin terus-menerus membahas permasalahan rumah tangganya dengan mamanya.
***********
Makan malam di rumah itu seperti biasanya dan mereka makan sambil berbincang-bincang kecil. Rendy dan Rania tumben-tumbennya makan tidak bersebelahan dan hanya berhadapan.
__ADS_1
" Kak Anisa tidak di ajak?" tanya Nia tiba-tiba mengingat Anisa.
" Memang tidak sibuk. Bukannya Agam juga banyak pekerjaan. Jadi mana mungkin dia pergi tanpa suaminya," sahut Ratih.
" Ya siapa tau aja bisa," sahut Nia.
" Ya sudah nanti biar aku aja yang tanya Anisa," sahut Zahra mengambil tindakan.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Tiba-tiba Rendy terbatuk-batuk dan membuat Rania ingin berdiri namun tidak jadi.
" Ya ampun kak Rendy pelan-pelan, nih minum dulu," ucap Nia yang langsung memberikan Rendy minum dan Rendy langsung mengambilnya yang tadinya Rania juga ingin memberikan minum pada suaminya.
" Rania, benar-benar diam tanpa bicara apa-apa. Apa sikap ku berlebihan kepadanya sampai membuatnya diam seperti ini dan tidak bicara sama sekali," batin Rendy yang melihat ke arah Rania yang sepertinya tidak peduli dengan Rendy.
" Seharusnya kalau makan pelan-pelan. Kenapa tidak hati-hati," batin Rania yang menunduk makan yang diam-diam kepikiran dengan suaminya.
***********
" Rendy!" panggil Ratih saat melihat Rendy menaiki anak tangga.
" Iya ma," jawab Rendy. Ratih berdiri di depan Rendy dengan mengusap pundak Rendy.
" Ada apa nak, lagi marahan dengan istrimu," ucap Ratih yang tidak bisa di bohongi. Dan Rendy mengangguk jujur apa adanya.
" Pastinya masalahnya sangat besar sampai kamu sendiri tahan seperti ini," tebak Ratih.
" Aku hanya mencoba untuk memahami Rania ma. Dia jelas tau aku mengkhawatirkannya, dia jelas tau aku mencintainya dan lebih ingin dia sembuh dari pada memikirkan masalah anak. Aku kira Rania memahami masalah itu. Tetapi ternyata tidak. Dia melanggar semuanya dan benar-benar ingin hamil dengan alasan ingin memberiku kebahagian," ucap Rendy jujur pada mamanya dengan masalahnya pada istrinya.
" Mama mengerti perasaan kamu dan mama juga mengerti perasaan Rania. Rendy posisi Rania tidaklah mudah nak dan kamu seorang Dokter dan pasti tau bagaimana mental pasien dan pikiran pasien sama dengan istri kamu dan kamu juga harus tau, sebelum Rania mengambil keputusan besar itu dia sudah pasti memikirkan resikonya. Rendy mama tidak membelanya. Jika mama membelanya itu sama saja mama juga bahagia dengan melihat dia akan kesakitan dengan keputusannya. Tapi mama hanya mencoba memahami perasaannya dan kamu sebagai suami harus lebih memahaminya. Walau itu sangat sakit, walau kamu takut. Tapi sayang hanya kamu yang di inginkannya,"
" Mungkin dia akan menerima semua resikonya dalam bentuk sakit apapun. Tetapi mungkin sakitnya tidak akan ada apa-apanya. Jika kamu terus mendukungnya," ucap Ratih yang mencoba netral untuk masalah anak dan menantunya itu.
" Sudah ya nak, jangan di pikirkan lagi, sana kembali pada istrimu, pahami lagi perasaannya. Mama tau kamu sangat merindukannya, sana peluk dia," ucap Ratih yang memberi saran pada Rendy. Rendy mengangguk dan mungkin sudah merasa lega.
__ADS_1
" Aku kekamar dulu," ucap Rendy. Ratih menganggukkan kepalanya.
Bersambung