
Walau Anisa mengabaikan Agam. Namun sekarang dia dan Agam sudah sama-sama menikmati makan malam bersama. Mereka makan larut malam duduk di atas lantai di depan meja sebagai tempat makanan mereka.
" Tadi tidak mau makan. Tapi makanan duluan habis," ucap Agam menyindir Anisa.
" Aku tidak mengatakan tidak mau makan," sahut Anisa kesal.
" Ya, tapi kau diam. Berarti tidak mau. Untung saja aku memesan 2. Kalau tidak mungkin kau sudah kelaparan," ucap Agam tersenyum melihat Anisa.
" Setelah kau membuatku kelelahan. Kau pelit dengan makanan mu. Kau benar-benar kelewatan," ucap Anisa dengan kesal yang membuat Agam mendengus kasar.
" Benarkah kau kelelahan! berarti kau menyukainya permainan ku, apa kau masihmau," sahut Agam dengan senyum miring yang memang begitu suka menggoda Anisa.
" Diamlah Agam," sahut Anisa yang tampak kesal dengan Agam.
" Hmmm, apa kita bisa melakukannya lagi. Aku masih kuat Anisa," ucap Agam pelan dan langsung mendapat tatapan horor dari Anisa.
" Aku hanya bercanda," sahut Agam dengan cepat, " walau aku sangat menyukai seluruh tubuhmu. Tetapi aku juga tidak mungkin membuatmu harus terurai lemas seperti itu. Aku masih tau batasan," sahut Agam yang terus menggoda Anisa.
" Tutuplah mulutmu. Jangan bicara yang mengarah negatif," sahut Anisa kesal.
" Apanya yang negatif Anisa untuk pasangan suami istri memang harus sering-sering membicarakan masalah ranjang. Agar terjadinya ke harmonisan di dalam rumah tangga," sahut Agam dengan santai. Anisa kembali menatap Agam dengan kesal, di mana Anisa sudah merapatkan giginya yang begitu geram dengan Anisa.
" Iya, iya aku minta maaf. Kamu makan lagi. Aku akan membicarakan hal itu lagi saat makan. Santai saja Anisa," sahut Agam menyunggingkan senyumnya.
" Apa memang pikirannya selalu sekotor itu. Semuanya sudah terlanjur. Aku juga sudah menikah dengannya. Dan semuanya sudah resiko ya mau bagaimana lagi," batin Anisa yang sekarang hanya akan pasrah dengan kehidupannya.
************
Pagi hari kembali tiba masih dengan pasangan pengantin baru Agam dan Anisa. Di mana Anisa yang masih tertidur di samping dan Agam sudah bangun yang terus menatap wajah Anisa yang tertidur pulas. Wajah Anisa yang tertidur itu membuat Agam terus menatapnya dengan dalam-dalam dengan tangannya yang membelai-belai pipi Anisa.
" Kamu memang cantik!" bisik Agam di telinga Anisa yang sama sekali tidak membuat Anisa bangun.
__ADS_1
" Aku tidak percaya Anisa kita bisa menikah. Aku tidak percaya jika kita akan melakukan hubungan ini terus. Dan bayi ini," tangan Agam mengusap perut Anisa dengan lembut.
" Akan menjadi saksi dalam hubungan kita," lanjut Agam yang terus mengajak Anisa bicara. Namun Anisa tidak bangun sama sekali. Anisa mungkin lelah karena tadi malam tempur dengan Agam.
Agam yang terus melihat Anisa tiba-tiba matanya turun pada bibir Anisa dan mengecup bibir itu lembut. Tidak hanya mengecup. Namun Agam langsung ********** dengan perlahan yang berhasil membuat Anisa terbagun dan kaget dengan Agam yang sudah ******* bibirnya yang berada di atas tubuhnya dengan tangan Agam yang juga meraba-raba bagian bawahnya.
" Mpt, mpt," Anisa tidak bisa bersuara dan hanya berusaha mendorong Agam. Namun apa daya Agam lebih kuat dari pada dirinya dan terus mencium dalam-dalam bibir Anisa. Sampai akhirnya ciuman itu berakhir.
" Agam kau ini!" geram Anisa dengan wajahnya yang memerah dan napasnya yang naik turun melihat kelakuan Agam.
" Kenapa itu adalah morning kiss," ucap Agam lembut yang kembali mengecup bibir Anisa dan lagi-lagi Anisa selalu saja lengah dan membiarkan hal itu terjadi. Agam menyunggingkan senyumnya dan membaringkan dirinya di samping Anisa.
Anisa mengatur napasnya yang mana hampir habis karena ulah Agam. Anisa pun langsung duduk dan saat ingin pergi tiba-tiba Agam menariknya dan membuat Anisa berada di atas tubuh Agam.
" Apa yang kau lakukan Agam!" umpat Anisa dengan kesal dengan berusaha beralih dari tubuh itu. Namun Agam mengukungnya yang memeluknya agar Anisa tidak kemana-mana.
" Agam lepas. Kamu ini ya. Lepaskan aku Agam!" berontak Anisa yang masih pagi sudah di buat kesal oleh suaminya itu.
" Apa yang kamu inginkan lagi?" tanya Anisa yang sungguh begitu kesal.
" Apa lagi jika bukan kamu," sahut Agam.
" Agam apa tadi malam belum cukup," ucap Anisa.
" Tadi malam aku yang melayanimu memberikanmu kenikmatan dan membawamu kesurga dan pagi ini aku ingin kita bergantian kamu yang harus melayaniku," ucap Agam yang membuat Anisa melotot.
" Apa maksudmu Agam," ucap Anisa dengan wajah paniknya.
" Sudah jelas yang aku katakan," sahut Agam.
" Kamu jangan aneh-aneh. Aku tidak akan melakukannya dan itu aku tidak melakukannya," sahut Anisa yang terlihat panik.
__ADS_1
" Tidak ada yang tidak bisa Anisa. Jika kamu tidak bisa maka aku akan mengajari kamu," sahut Agam menyunggingkan senyumnya dan langsung ******* bibir Anisa dan lagi-lagi Anisa tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Agam sudah bereaksi maka semuanya sudah selesai dan Anisa hanya pasrah lagi dan lagi harus terlena dengan sentuhan Agam.
Pagi yang dingin itu telah di ubah menjadi panas dengan pasangan pengantin baru itu yang kembali bercinta di mana Anisa berada di atas tubuh Agam yang benar-benar kali ini dia memberikan servis pada suaminya dan itu semua Agam yang mengajari Anisa.
*********
Lain untuk lagi Rania dan Rendy yang seperti biasa Rendy akan siap-siap ke rumah sakit dan istrinya sudah menyiapkan keperluannya dengan membantu Rendy memakai kemeja yang sudah di siapkan Rania. Istrinya yang di depannya yang cantik itu selalu membuat Rendy tersenyum dan sekarang mencium kening Rania dengan lembut.
" Kamu cantik sekali," puji Rendy.
" Kamu memujiku apa ada maunya," sahut Rania.
" Memang jika memuji istrinya akan ada maunya," sahut Rendy bertanya balik.
" Bukannya aku cantik setiap hari dan sudah sewajarnya aku bertanya apa mau suamiku kalau sudah memujiku," sahut Rania.
" Aku tidak ingin apa-apa. Tapi memang ingin mengatakan kalau istriku begitu cantik," sahut Rendy lagi yang tersenyum lebar.
" Makasih suamiku atas pujiannya," sahut Rania yang mencium pipi Rendy dengan lembut.
" Kamu sudah minum obatnya?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
" Baguslah kalau begitu. Ingin sebelum dan sesudah kita seperti itu. Kamu harus meminum obatnya. Agar tidak terjadi apa yang tidak kita inginkan," ucap Rendy mengingatkan istrinya.
" Iya sayang, kamu tenang saja. Aku pasti mendengar kata-kata mu jadi santai saja," sahut Rania.
" Baiklah kalau begitu aku ke rumah sakit duku," sahut Rendy yang langsung pamitan pada istrinya ketika dia sudah siap-siap. Rania mengangguk dan langsung mencium punggung tangan suaminya dan Rendy juga menciumi wajah istrinya seperti biasanya.
" Aku berangkat, assalamualaikum," ucap Rendy pamit.
" Walaikum salam," sahut Rania dengan melambaikan tangannya pada mamanya.
__ADS_1
Bersambung