
Elang dan Willo pun kembali memasuki rumah dan sekarang mereka sudah berada di ruang tamu.
" Aku bikinkan kamu minum sebentar. Teh panas, supaya terlihat segar," ucap Willo.
" Tidak usah Willo, langsung saja, apa yang ingin kamu tanyakan. Soalnya aku juga harus kembali," sahut Elang yang menolak. Karena tetap dia merasa tidak enak.
" Hanya minum sebentar apa susahnya. Kamu tunggu sebentar," sahut Willo yang langsung pergi dia memang seakan tidak peduli dengan Elang yang menolak
Elang pun pasrah, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Sementara Willo langsung kedapur dan membuatkan minuman.
" Semoga Rania tidak berpikir apa-apa," batin Elang.
Willo membuatkan teh panas. Namun saat mengaduk-aduk teh tersebut Willo melihat di sekelilingnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya berupa botol kecil. Tidak berpikir lama Willo langsung menuangkan 3 tetes kedalam cangkir teh itu.
" Finally. Kamu akan tau rasa Rania. Bagaimana kehidupan yang sesungguhnya," batin Willo yang menyunggingkan senyumnya sambil mengaduk-aduk teh tersebut.
" Huhhhh, tidak sabar untuk melihat hasilnya," desisnya dengan wajahnya yang penuh dengan kebahagian yang tidak sabar untuk melihat tahap selanjutnya.
*************
Tidak lama Willo pun kembali menghampiri ruang tamu. Yang Elang masih ada di sana.
" Maaf ya lama," ucap Willo memberikan teh itu pada Elang.
" Makasih, seharunya ini tidak perlu," sahut Elang mengambilnya.
" Hmmm, minumlah," sahut Willo yang mempersilahkan. Elang mengangguk dan mungkin memang merasa dingin yang akhirnya Elang langsung meminumnya setelah meniupnya membuat Willo tersenyum miring.
" Hmmm, aku ke toilet sebentar ya," ucap Willo pamit. Elang mengangguk dan akhirnya Willo pun pergi. Namun masih tetap melihat-lihat kebelakang di mana Elang yang masih meminum teh itu.
Willo memang sengaja ke toilet. Agar Elang tidak bertanya apa-apa lagi dan hanya Fokus untuk minum.
*********
Kediaman Rendy.
Karena macet Rendy harus pulang ke rumah larut malam. Padahal seharusnya jam 10 dia sudah pulang dan supir juga sudah menunggunya di bandara sebelum jam 10. Namun ada kecelakaan lalu lintas membuat perjalanan macet dan Rendy sampai rumah harus selarut itu.
__ADS_1
Rendy ke luar dari mobil dan supir mengeluarkan koper-koper Rendy dari dalam bagasi, hujan deras masih saja turun. Rendy melihat sebentar ke arah derasnya hujan. Lalu langsung memasuki rumahnya.
" Assalamualaikum," sapa Rendy.
" Walaikum salam," sahut semuanya serentak. Yang di ruang tamu ada Ratih, Oma, Anisa, Sarah, Nia dan Zahra.
" Akhirnya Rendy pulang juga. Episode 2 sudah di mulai. Rania sekarang kamu benar-benar akan tau di mana letak posisi kamu sebenarnya," batin Anisa dengan menyunggingkan senyumnya.
" Kak Rendy!" Nia langsung menghampiri Rendy dan memeluknya. Maklumlah, Nia memang sangat merindukan makanya itu.
" Kakak apa kabar?" tanya Nia yang sudah melepas pelukan kerinduannya itu.
" Baik, seperti yang kamu lihat," sahut Rendy tersenyum lebar.
Rendy pun langsung mendekati sang mama, mencium punggung tangan sang mama, memeluk dengan penuh kerinduan.
" Mama senang Rendy akhirnya kamu pulang," ucap Ratih.
" Iya, mah," sahut Rendy. Rendy juga memeluk Omanya.
" Syukurlah kamu pulang dengan selamat," sahut Oma Wati. Rendy hanya mengangguk tersenyum.
" Hmmm, Rendy Anisa juga sudah membuatkan makanan untuk kamu. Kita sebaiknya makan," sahut Sarah.
Namun Rendy melihat di sekelilingnya yang seperti mencari-cari seseorang.
" Di mana Rania?" tanya Rendy mencari istrinya.
" Rania menginap di tempat Pak Rudi, soalnya pak Rudi sedang sakit," sahut Zahra.
" Sakit apa," sahut Rendy panik.
" Jangan khawatir Rendy, tidak apa-apa. Rania bilang hanya demam, nanti juga kalau ada apa-apa. Rania akan menelpon," sahut Ratih. Rendy merasa lega mendengarnya.
" Lagi pula, Pak Rudi juga sudah di tangani Dokter Elang. Dan Elang tampaknya menginap di sana. Karena belum pulang sama sekali," sahut Anisa tiba-tiba. Hal itu membuat Rendy kaget dan langsung melihat serius ke arah Anisa.
" Apa maksud kamu Elang yang menanganinya. Rania perasaan tidak memanggil Elang," sahut Zahra.
__ADS_1
" Memang bukan Rania yang memanggilnya. Tapi pak Rudi," sahut Anisa.
" Kok Pak Rudi kenal sama kak Elang?" sahut Nia bertanya-tanya.
Anisa tersenyum tipis. Namun Rendy sudah terlihat gelisah dengan pikirannya yang kemana-mana.
" Hmmm.... Jadi kalian tidak ada yang tau," sahut Anisa yang tampak ingin memperkeruh suasana.
" Tau apa Anisa," sahut Ratih yang merasa ada yang tidak beres.
" Bukannya Rania dan Elang itu adalah mantan kekasih," sahut Anisa membuat semua orang kaget.
" Apa maksud kamu," sahut Zahra.
" Mereka itu adalah mantan kekasih dan Elang sangat dekat dengan Rania dan keluarganya. Sebelum Elang Kerumah ini kan. Elang terlebih dahulu menemui Pak Rudi. Makanya pas Pak Rudi sakit, Pak Rudi menelpon Elang. Tapi Rania yang mendengar Elang ada di sana langsung pergi. Padahal kan jelas Rania dan Pak Rudi tidak memiliki hubungan sebaik itu. Ya mungkin saja Elang membujuk Rania untuk datang kesana. Atau Rania datang kesana karena ada Elang," jelas Anisa yang menuduh Rania dengan suka-sukanya.
Rendy tidak merespon apapun. Namun jelas dari wajahnya. Rendy terlihat marah. Namun masih menahan diri.
" Kamu jangan bicara sembarangan Anisa. Belum tentu. Rania kesana karena Elang atau bukukan apapun," sahut Zahra yang pasti akan membela sahabatnya.
" Iya betul," sahut Nia.
" Zahra, Nia. Anisa tidak bicara sembarangan. Buktinya lihatlah Rania semenjak menikah apa pernah ada di sana. Nggak pernahkan dan baru ini dia ada di sana karena ada Elang. Lagian pantesan selama Rendy tidak ada, aku juga sering melihat Rania dan Elang sering berduaan dan ternyata mereka mantan," sahut Sarah yang semakin memperkeruh suasana.
" Ya, namanya juga cinta pertama ma, kalau cinta pertamakan, memang susah di di lupakan. Walau sudah bertahun-tahun berpisah. Tapi ya lihatlah kenyataan yang ada," sahut Anisa lagi.
" Anisa, kamu jangan bicara yang belum tentu benar. Mungkin saja semua hanya kebetulan," sahut Ratih yang pasti sangat mempercayai menantunya itu.
" Rendy, apa kamu tau, jika Rania dan Elang punya hubungan," sahut Oma Wati yang langsung bertanya pada Rendy.
" Mana mungkin Rendy tau. Rania hanya menganggap Rendy sebagai orang asing saja," sahut Anisa. Rendy tampak terdiam dengan menelan salavinanya. Sangat bohong jika Rendy tidak panas dengan apa-apa yang di dengarnya tadi. Matanya bahkan sampai memerah.
" Ya Allah, apa lagi ini. Kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini," batin Ratih mulai panik.
" Lihatlah wajah Rendy sekarang begitu marah ternyata rencana kami benar-benar sangat berhasil," batin Anisa.
" Ini belum seberapa masih ada tahap selanjutnya. Rania jadi kan malam ini sejarah untuk mu," batin Sarah dengan tersenyum miring.
__ADS_1
Bersambung.