Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 210 Salah paham.


__ADS_3

Air mata Zahra menetes dengan apa yang di lihatnya dan pasti Zahra tidak percaya jika hal ini akan di lihatnya di depan matanya.


" Zahra!" lirih Elang. Cindy yang mendengar nama Zahra dan langsung membalikkan tubuhnya perlahan dan melihat Zahra ada di sana. Zahra menatap marah pada Elang dan juga Cindy dengan air mata yang terus menetes dan setelah itu Zahra memilih pergi dengan menyeka air matanya.


" Zahra!" panggil Elang yang langsung mengejar Zahra. Namun Cindy menahan tangannya.


" Aku belum selesai bicara Elang," ucap Cindy.


" Lepaskan aku!" ucap Elang yang langsung melepaskan tangannya dari Cindy.


" Aku tegaskan sama kamu Cindy. Aku sudah menikah dengan Zahra dan itu sudah menjelaskan tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita dan kamu jangan pernah mengnggaguku dan juga pernikahan ku. Aku tidak peduli dengan kamu yang masih mencintai atau tidak yang jelasnya aku hanya mencintai istriku," tegas Elang dengan penuh penekanan dan juga penegasan dan langsung pergi.


" Elang!" panggil Cindy. Elang tetap pergi untuk mengejar Zahra dan sampai akhirnya Elang yang mengejar Zahra dan langsung menarik tangan Zahra.


" Dengarkan aku Zahra," ucap Elang. Zahra melepas tangannya dari Elang dan langsung menampar Elang.


Plakkk


" Brengsek. Kamu itu memang penipu!" ucap Zahra dengan penuh kebencian. Elang pasrah mendapatkan tamparan itu.


" Apa yang kamu katakan kemarin, ingin memperbaiki hubungan kamu dan dia selesai. Setelah kamu bersandiwara dan berhasil tidur lagi dengan ku. Kau kembali kepadanya. Kau itu memang bajingan," maki Zahra yang marah-marah yang tidak bisa mengendalikan dirinya.


" Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan," ucap Elang dengan suara rendahnya.


" Kamu pikir aku buta hah! kamu pikir aku tuli! kamu sendiri saja memberitahu dia dengan pernikahan kita. Pernikahan yang akan selesai setelah anak ini lahir. Seharusnya aku tidak bodoh Elang. Apa yang terjadi di Bali memang itu hanya rencanamu dan juga dia untuk mengelabuiku. Kau memang bajingan Elang, kau sudah mempermainkan ku," teriak Zahra yang terus menangis yang merasa sakit hati.


" Zahrah itu tidak benar," sahut Elang.


" Busyyit. Omong kosong. Kau itu manusia paling kejam. Kau sampai-sampai pergi ketanah suci seakan-akan orang yang paling berdosa. Tetapi kenyataannya. Semua yang kau lakukan hanyalah untuk menutupi pikiran busuk mu itu," tegas Zahra dengan napasnya yang naik turun.


" Zahra dengarkan aku dulu, aku sungguh tidak ada hubungan apa-apa dengannya lagi. Percayalah Zahra," ucap Elang yang berusaha untuk menjelaskan.


" Sudah cukup. Kau capek mengikuti permainan mu," sahut Zahra menyeka air matanya dan langsung pergi dari hadapan Elang.


" Zahra! Zahra!" panggil Elang. Zahrah tidak menggubris sama sekali. Mungkin dia benar-benar begitu lelah.


" Argggghhh," teriak Elang dengan mengacak rambutnya frustasi, mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


" Kenapa semuanya bisa seperti ini. Cindy apa dia sudah gila," desis Elang yang terlihat stres dengan masalah yang kembali ada.


***********


Setelah merasa tenang Zahra langsung kembali ke kamar Rania yang pasti orang-orang sudah menunggunya dan di sana juga ada Elang. Zahra sama sekali tidak ingin melihat Elang.


" Maaf lama," ucap Zahra.


" Tidak apa-apa Zahrah. Ya sudah ada sebaiknya sekarang kita pulang," sahut Ratih. Yang lainnya mengangguk. Rania yang sudah di atas kursi roda langsung di dorong oleh Rendy dan mereka keluar dari kamar perawatan itu dan Zahra sama sekali tidak ingin bicara dengan Elang. Salah paham membuatnya marah.


**************


Setibanya sampai di rumah Rania dan yang lainnya pun memasuki rumah masing-masing. Anisa pun menuruni anak tangga untuk melihat orang-orang yang sudah berpulangan itu.


" Rania sudah pulang ternyata," batin Anisa yang hanya melihat datar dengan kondisi Rania.


" Anisa apa kamu sudah menyiapkan apa yang tante suruh tadi?" tanya Ratih.


" Sudah Tante. Jika mau di makan sekarang. Biar Anisa ambilkan," sahut Anisa.


" Rania kamu makan bubur dulu ya," ucap Ratih.


" Nanti biar Rendy saja yang kasih. Aku bawa Rania kekamar dulu," sahut Rendy.


" Baiklah kalau begitu," sahut Ratih.


Rendy langsung mendekati istrinya mengangkat istrinya dari kursi roda dan menggendongnya ala bridal style dan langsung menaiki anak tangga dengan tangan Rania yang mengalung di leher suaminya.


" Tante jika mau makan, Anisa sudah siapkan," sahut Anisa.


" Iya Anisa, kita bersih-bersih dulu. Makasih ya kamu sudah menjaga rumah ini," sahut Ratih. Anisa hanya mengangguk saja.


" Ya sudah, Nia mau mandi dulu soalnya lengket-lengket," sahut Nia yang langsung pergi. Zahra pun juga langsung pergi. Tanpa pamitan dan Elang langsung menyusulnya. Ratih melihat Zahra dan Elang seperti merasa ada sesuatu.


" Apa mereka baik-baik saja. Kenapa aku merasa jika mereka tidak baik-baik saja," batin Ratih yang mempunyai firasat yang tidak baik.


" Tante!" tegur Anisa yang melihat Ratih bengong.

__ADS_1


" Iya Anisa," sahut Ratih sedikit terkejut.


" Ada apa Tante?" tanya Anisa.


" Tidak apa-apa. Tante hanya lelah saja. Ya sudah Tante juga mau kekamar dulu mau bersih-bersih. Nanti Tante akan makan," sahut Ratih. Anisa hanya mengangguk saja dan Zahra pun langsung pergi kekamarnya. Anisa menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu juga pergi dari tempat itu.


*********


Rendy membaringkan istrinya perlahan di atas tempat tidur dan juga mencium kening Rania dan duduk di samping Rania dengan memegang tangan Rania sembari mengusap-usap pelan.


" Kamu baik-baik aja?" tanya Rendy. Rania menganggukkan kepalanya.


" Aku mandi sebentar ya," ucap Rendy. Rania mengangguk lagi.


" Kamu mau ikut?" tanya Rendy menggoda Rania. Rania dengan cepat menggeleng dengan tersenyum.


" Baiklah jika tidak mau ikut," sahut Rendy.


" Ya sudah mau mandi dulu," ucap Rendy yang kembali mencium kening Rania dan langsung pergi. Rania tersenyum saja melihat suaminya yang menuju kamar mandi.


**********


Sama dengan di kamar Zahra dan juga Elang yang terlihat Zahra masih mendiamkan Elang saja.


" Zahra kita harus bicara," ucap Elang dengan lembut.


" Nggak ada yang perlu di bicarakan apa yang aku lihat sudah jelas," sahut Zahra.


" Apa yang kamu lihat tidak benar Zahra," sahut Elang yang menegaskan berkali-kali.


" Sudahlah aku malas ribut dengan kamu. Aku mau istirahat," sahut Zahra.


" Zahra!" ucap Elang. Zahra tidak peduli dan langsung menaiki tempat tidur menarik selimut berbaring miring dengan meneteskan air matanya.


" Aku berani bersumpah Zahra. Kau tidak pernah melakukan hal itu. Jika aku mengatakan aku sudah berubah. Maka aku sudah berubah dan apa yang kamu lihat bukanlah kebenarannya," ucap Elang menegaskan.


Zara hanya diam tanpa merespon apapun yang sepertinya dia begitu kecewa sehingga menutup penjelasan.

__ADS_1


Bersambung


.


__ADS_2