Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 92 Kembali.


__ADS_3

Rendy menutup panggilan Vidio call dari sang adik yang merasa dengan gelang-gelengkan kepalanya.


" Kamu itu memang selalu jahil Nia, kamu selalu bicara ada-ada saja," ucap Rendy mengusap wajahnya dengan tangannya dan meletakkan handphonenya kembali di atas meja. Lalu menoleh kesamping melihat istrinya yang masih tertidur pulas.


Rendy tersenyum melihat Rania yang cantiknya minta ampun. Sebenarnya Rania baru tidur. Karena tadi malam perutnya terasa nyeri dan Rendy hanya memberikannya obat dan ketenangan supaya Rania bisa tidur kelap. Karena memang sakit pada datang bukan itu sangat biasa dan Rendy juga yang seorang Dokter pasti bisa mengatasinya.


Rendy hanya melihat sebentar sang istri. Lalu bangkit dari ranjang. Karena memang dia harus sholat subuh. Rania mencuri perhatiannya, lama-lama melihat Rania Rendy bisa ketinggalan kewajibannya.


**********


Selesai melaksanakan sholat subuh Rendy keluar kamar dan langsung kedapur tampak menyiapkan sesuatu. Yang tidak tau apa yang di kerjakannya.


Rania pun keluar dari kamar, dia masih terlihat begitu lemas. Rania berdiri di depan pintu dapur yang hanya melihat Rendy yang tidak tau sedang menjalankan kesibukan apa.


Menyadari keberadaan Rania. Rendy pun menoleh ke arah Rania. Melihat Rania masih sangat lemas dan bahkan tangan Rania memegang perutnya yang mungkin masih terasa nyeri.


" Kamu sudah bangun?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Kemarilah, aku menyiapkanmu bubur. Kau harus makan agar perutmu tidak sakit, buburnya juga masih panas. Jadi cocok untuk di nikmati," ucap Rendy.


Rania mengangguk dan akhirnya melangkah pelan menuju meja makan. Rendy menarik kursi untuk Rania duduki.


" Terima kasih," ucap Rania dengan lembut.


" Sama-sama," sahut Rendy. Yang langsung mengambil bubur yang di siapkannya. Lalu duduk di samping Raina, Rendy menyendokkan bubur tersebut. Meniup dengan pelan dan langsung menyuapi Rania. Rania pun membuka mulutnya untuk menikmati masakan suaminya.


" Mama dan Nia tadi menelpon," ucap Rendy membuat Rania menanggapi dengan serius.


" Menelpon?" tanya Rania. Rendy mengangguk.


" Kapan, bukannya susah sinyal?" tanya Rania heran.


" Tadi subuh, sepertinya sinyal sangat mudah saat subuh," jawab Rendy.


" Lalu kenapa tidak membangunkanku?" tanya Rania.


" Tidak apa-apa, kamu baru tidur dan jika di bangunkan tidur kamu akan terganggu," jawab Rendy yang masih menyuapi Rania.


" Mama bilang apa?" tanya Rania.


" Hanya menanyakan kabar saja dan berpesan untuk kita lebih baik di sini," jawab Rendy.

__ADS_1


" Oh, begitu. Sayang sekali mama menelpon saat aku tidur padahal aku juga merindukan mama, Nia, dan juga Zahra," ucap Rania.


" Kalau sinyal nanti lancar. Tidak apa-apa. Kita menelpon mama lagi," ucap Rendy. Rania mengangguk dengan wajahnya yang tidak terlalu bersemangat.


" Makan lagi!" ucap Rendy. Rania mengangguk.


" Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Rendy.


" Sudah mendingan, maaf aku sudah banyak menyusahkanmu," ucap Rania merasa bersalah.


" Tidak Rania, aku tidak merasa di susahkan. Itu sudah tugasku," ucap Rendy. Rania tersenyum. Sakitnya akan cepat hilang jika di Tangi terus menerus oleh Rendy.


*******


Meski kondisinya tidak terlalu baik dan masih sakit di bagian perutnya. Rania hari ini menemani Rendy beraktivitas di luar. Karena dengan begitu perlahan sakitnya juga akan hilang dan dia juga banyak mendapat ilmu dari menemani suaminya.


Rania duduk dan hanya melihat suaminya dari kejauhan 10 meter, Rendy tampaknya selesai menyelesaikan pekerjaannya dan langsung menghampiri istrinya.


Melihat Rendy yang berkeringat membuat Rania langsung mengambil tisu dan melap keringat suaminya dengan lembut.


" Terimakasih," ucap Rendy yang menatap Rania dalam-dalam.


" Sama-sama," sahut Rania yang terus melap keringat sang suami.


" Sudah," jawab Rendy. Rania tersenyum dan kembali melap keringat suaminya.


" Kita makan?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Makan di mana?" tanya Rendy.


" Aku mana tau tempatnya. Jadi kemana saja," sahut Rania.


" Lalu makan apa?" tanya Rendy.


" Terserah," jawab Rania. Jawaban yang paling singkat. Dan sangat biasa di ucapkan wanita jika pasangan mengajak makan.


" Ya sudah ayo!" ucap Rendy mengajak sang istri Rania kembali mengangguk dan akhirnya membawa istrinya untuk makan siang.


Rendy mengajak Rania makan di salah satu tempat warung yang berada di desa tersebut.


" Tidak apa-apa kan makan di sini?" tanya Rendy.

__ADS_1


" Ya kenapa memangnya apa yang salah," sahut Rania tampak biasa.


" Ya sudah kita makan di sini," ucap Rendy. Rania mengangguk- angguk.


Di warung makan memang lebih enak masakannya dan Rania memang tidak pernah masalah dengan makan di mana dan bahkan dia memesan makanan yang sama dengan suaminya dan makan dengan Rendy. Jauh lebih nikmat. Ya begitu lah jika makan bersama dengan orang yang tepat.


**********


Rania dan Rendy sudah tepat berada satu bulan di desa tempat Rendy menjadi Dokter sukarelawan. Rania banyak mendapat pelajaran selama di sana ilmu dan lain sebagainya.


Dia juga merasakan kehidupan yang sesungguhnya selama di sana. Selain mendapat pelajaran dari orang-orang di sekitarnya. Ilmu yang paling berharga yang di terimanya adalah ilmu agama yang membuatnya menjadi orang jauh lebih baik dan sangat agamis karena memang Rendy selalu mengarahkannya menjadi orang yang baik.


Sekarang Rendy dan Rania berada di kamar yang mana pasangan itu sedang beres-beres. Karena besok mereka akan kembali ke Jakarta setelah tugas Rendy benar-benar selesai tuntas.


" Kamu tidak menyesalkan ikut kemari?" tanya Rendy yang memasukkan pakaian ke dalam kopernya


" Kenapa harus menyesal. Yang sepertinya menyesal itu kamu. Karena selama di sini. Aku merepotkanmu dan menambah-nambahi bebanmu saja," ucap Rania yang melipat pakaian.


" Ya lumayan," sahut Rendy santai. Rania langsung menoleh ke arah Rendy.


" Kamu bilang lumayan. Apa itu artinya aku memang merepotkanmu?" tanya Rania tampak merasa bersalah.


" Iya sangat merepotkan," sahut Rendy lagi. Dan Rania menanggapi begitu sangat serius.


" Rendy aku serius," ucap Rania yang tampak sedih.


" Rania, kamu ini aneh sekali. Selalu mengatakan kamu selalu menjadi beban dan aku selalu repot. Tetapi aku mengatakan iya kamu terlihat panik. Kamu itu aneh," ucap Rendy geleng-geleng dengan senyum tipis.


" Ya bukan begitu. Aku hanya merasa tidak enak. Kalau memang benar aku merepotkanmu," ucap Rania. Rendy tersenyum tipis.


" Rania, aku berkali-kali mengatakan kepadamu. Aku tidak pernah merasa di repotkan. Jadi jangan bicara hal itu berulang-ulang lagi. Karena aku memang tidak pernah di repotkan olehmu," ucap Rendy menegaskan.


" Serius?" tanya Rania. Rendy mengangguk. Rania tersenyum tipis.


" Ayo lanjutkan beres-beresnya," ucap Rendy.


" Hmmm, aku saja yang menyiapkan semuanya. Sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Rania dengan semangat yang tampaknya ingin mengambil alih pekerjaan Rendy.


" Kamu yakin?" tanya Rendy.


" Iya aku yakin," sahut Rania.

__ADS_1


" Ya sudah," sahut Rendy tampak masalah. Rania pun dengan semangat menyusun pakaian suaminya ke dalam koper.


Bersambung


__ADS_2