
Rania masih tetap berada di tempat jualan nenek yang sekarang dia dan suaminya sedang menikmati makanan yang ramai di buru orang-orang itu.
" Bagaimana enak tidak?" tanya nenek.
" Enak nek, masakan nenek memang selalu enak," ucap Rania.
" Alhamdulillah kalau begitu, ya ampun nenek masih tidak percaya bisa bertemu kalian dan bahkan sudah menikah. Benar kata orang jodoh memang mirip dan kalian berdua benar-benar terlihat sangat mirip. Masyallah," ucap nenek yang masih tidak percaya dengan kehadiran Rendy dan Rania yang dulu pernah menolong mereka.
" Mungkin itu sudah jalannya," sahut Rendy.
" Kamu benar nak. Semoga kalian tetap menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap nenek yang langsung memberikan doanya.
" Amin," sahut Rania dan Rendy serentak.
" Kapan-kapan kalian mampir ya kerumah nenek," ucap nenek.
" Iya nek. Nenek dan Sandi masih tinggal di sana?" tanya Rania.
" Masih, nenek juga heran kenapa kalian tidak pernah datang," sahut nenek dengan wajah sedihnya.
" Maaf nek, belakangan memang banyak kesibukan. Tetapi insyaallah nanti kita akan datang," sahut Rendy.
" Iya nenek tunggu. Nanti nenek masakin kalian makanan yang banyak," ucap nenek.
" Makasih nek. Kamu juga pasti rindu Dnegan masakan nenek yang sangat enak itu," sahut Rania.
" Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah di makan lagi. Kalau masih kurang nanti nenek buatkan lagi," ucap nenek. Rania dan Rendy mengangguk dan menikmati kembali telur gulung itu.
Lama berbincang-bincang dengan nenek sekedar melepas kerinduan dengan banyak obrolan yang membuat Rania happy. Rendy dan Rania kembali berjalan-jalan dan sebelumnya sudah berpamitan dengan nenek.
" Kita kesan!" tunjuk Rania pada air mancur yang tidak jauh dari mereka. Rendy mengangguk dan mereka langsung menuju tempat yang di inginkan Rania duduk di salah satu bangku yang mengarah pada air mancur yang begitu indah.
" Ini itu tempat favorit aku," ucap Rania dengan kepalanya menyandar di bahu suaminya.
" Oh iya," sahut Rendy.
__ADS_1
" Hmmm, kalau lagi ada masalah dan keseringan karena bertengkar dengan papa. Aku akan tempat ini untuk menangis sekuat-kuatnya. Karena tidak akan ada yang mendengarnya," jelas Rania.
" Hmmmm, tempatnya sangat nyaman," sahut Rendy.
" Dan kamu juga pernah hadir di tempat ini. Kamu ingat saat itu hujan deras. Aku sedang di timpa masalah dan saat itu aku berada di sini. Duduk di tempat ini dan menangis sekuat-kuatnya tanpa mempedulikan hujan dan saat itu kamu datang. Kamu datang memberikan payung kepadaku. Sampai aku tidak basah sama sekali," ucap Rania.
" Aku mengingatnya Rania. Tidak ada satupun yang tidak aku ingat jika itu berhubungan dengan kamu," sahut Rendy yang mencium punggung tangan istrinya yang di genggamnya erat.
" Aku berharap kamu terus mengingat kenangan kita. Walau aku tidak ada di sisimu suatu saat nanti," ucap Rania.
" Aku juga berharap kamu tidak melupakan semua kenangan kita. Walau aku juga tidak ada di sisimu," ucap Rendy. Rania mengangguk dengan tersenyum dan air mata menetes.
************
Ternyata di tempat yang sama Anisa dan Agam juga ada di sana dan tidak tau apa yang Mereka lakukan. Mereka berdiri di depan penjualan tahu bulat.
" Anisa kenapa sebanyak itu," sahut Agam yang melihat Anisa membeli seperti untuk sekampung.
" Yang makan aku yang bayar aku. Kenapa kamu jadi komplen," sahut Anisa yang masa bodo.
" Mau habis atau tidak itu bukan urusan kamu. Jadi diam dan jangan bicara lagi," ucap Anisa menegaskan yang masa bodo dengan wanita itu.
" Badannya kecil tapi makannya sekarung. Untung aja aku kaya. Jika tidak aku bisa banting tulang, menjadi pekerja kasar untuk memenuhi kebutuhannya yang rakusnya minta ampun," batin Agam yang menceritai Anisa di dalam hatinya.
" Makasih pak," sahut Anisa yang langsung mengambil pesanannya dan memang tangannya sangat penuh dengan kantung plastik dengan isi tahu bulan semuanya.
" Ayo cari tempat duduk untuk makan," sahut Anisa yang pergi begitu saja. Agam menghela napasnya perlahan dan mengikuti saja Anisa yang ingin pergi kemana.
Akhirnya mereka menemukan tempat duduk dan Anisa sudah memakan apa yang di belinya.
" Kalau mau di ambil. Jangan harap aku menawarkannya. Jadi ambil saja," sahut Anisa yang terus mengunyah. Agam berdecak kesal dan mengambilnya satu. Sebenarnya dia tidak selera. Tetapi melihat Anisa yang seperti itu membuatnya selera dan penasaran dengan rasanya.
" Hanya seperti ini saja membelinya sekarung," desis Agam yang tampak terlihat kesal.
" Jangan banyak protes makan saja dan hitung berapa yang kau makan. Lalu ganti," sahut Andia. Agam terpekik kaget mendengarnya. Dia baru tau jika wanita yang akan di nikahinya itu ternyata begitu pelit. Agam sampai tidak bisa bicara apa-apa.
__ADS_1
" Agam!" tegur Anisa.
" Ada apa lagi," sahut Agam kesal.
" Kamu harus menemui mama ku," ucap Anisa yang sekarang mode serius.
" Ya sudah itu gampang," sahut Agam tampak Selow.
" Itu tidak gampang Agam. Mama ku orang yang berbeda dan jika kamu seperti ini. Cara bicara, cara bertingkah. Aku yakin dia tidak akan setuju untuk menikahkan kita," sahut Anisa yang begitu khawatir.
" Kamu bilang aja kamu hamil sudah selesai," sahut Agam dengan santainya. Anisa yang mendengarnya kaget. Anisa yang kesal langsung menginjak kaki Agam.
" Aaaaaa," teriak Agam kesakitan.
" Sembarangan kamu bicara. Awas ya kalau kamu bilang sama mamaku," sahut Anisa dengan kesal.
" Ya tapi nggak usah pakai di injak. Sakit!" kesal Agam yang belum menikah sudah mendapatkan kdrt..
" Ya makanya jangan bicara sembarangan," sahut Anisa kesal.
" Ya terus mau gimana lagi. Aku harus bagaimana cara mengatakannya kepada mamamu. Ya aku akan bicara seperti biasa yang ingin menikahi anaknya," sahut Agam yang dengan santainya.
" Iya tapi kamu harus serius. Nggak usah main-main, pecicilan seperti sekarang. Kalau bicara sopan dan buat mama percaya pada kamu dan langsung setuju. Kamu harus bisa meluluhkan hati mama," tegas Anisa.
" Iya, iyaaa," sahut Agam.
" Jangan asal iya-iya saja," sahut Anisa dengan kesalnya yang melihat kesekitarnya dan tiba-tiba matanya melihat ke arah yang tidak berapa jauh dan melihat Rendy dan Rania. Anisa langsung melotot melihatnya dan sangat kebetulan Rania juga melihat ke arah Anisa yang membuat Anisa langsung membuang pandangannya.
" Rania dan Rendy. Gawat mereka tidak boleh melihatku di sini. Nanti mereka berpikiran aku selama pacaran dengan Agam. Aku harus pergi. Aku tidak mau mereka tau. Ini belum saatnya. Apa lagi Agam suka bicara asal-asalan. Semuanya bisa berantakan," batin Anisa yang begitu panik.
" Ayo Agam pergi dari sini," ucap Anisa yang tiba-tiba panik.
" Mau kemana?" tanya Agam kebingungan.
" Sudah ayo pergi saja," sahut Anisa yang langsung menarik Agam dan Agam mau tidak mau pergi lagi.
__ADS_1
Bersambung