Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Epiosede 295


__ADS_3

Jakarta.


Akhirnya Rendy dan rombongan tiba juga di Jakarta. Mereka sudah sampai Bandara. Di pesawat tadi Rania dan Rendy duduk berduaan yang pasti romantis-romantisan dan Asyifa seakan mengerti sama sekali tidak pernah mengganggu ibu dan ayahnya. Memang Asyifa anak yang paling pengertian.


Tetapi sekarang Asyifa menggandeng tangan ibu dan ayahnya yang mereka ber-2 berjalan menuju lobi Bandara. Asyifa beberapa kali mengangkat kepalanya untuk melihat ibu dan ayahnya secara bergantian. Sementara yang lainnya berada di belakang mengikuti mereka.


" Kak Rania!" teriakan seseorang membuat langkah Rania berhenti dan melihat ke arah suara itu yang mana ternyata Della yang memanggil Rania, Della yang datang bersama Mario yang memang khusus untuk menjemput keluarga itu.


" Della!" lirih Rania yang langsung berlari dan memeluk adik bungsunya itu. Yang lainnya tersenyum dengan penuh keharuan dan langsung menyusul Rania begitu juga Asyifa yang sekarang sedang di pegang ayahnya.


" Kak Rania, ini sungguhan kakak, Della berada mimpi bisa memeluk kakak lagi," ucap Della yang menangis di pelukan Rania.


" Ini kakak Della ini bukan mimpi," ucap Rania mengusap-usap punggung adiknya itu. Sampai akhirnya Rania melepas pelukan itu.


" Kamu baik-baik saja kan," ucap Rania menatap intens Della.


" Iya kak Della baik-baik aja," jawab Della mengangguk. Rania mencium kening Della dan mengusap air mata di pipi adiknya itu. Lalu Rania melihat Mario.


" Mario!" sapa Rania yang tidak lupa dengan Pria yang sebentar di kenalnya itu dulu.


" Alhamdulillah kakak masih mengingat ku," sahut Mario merasa lega dengan tersenyum.


" Ibu, Om Mario ini pacarnya Tante Nia dan ayah sering marah kalau Tante Nia dan Om Mario sering keluar malam. Kalau tidak bawa Asyifa. Papa selalu suruh Asyifa untuk ikut sama Om Mario dan Tante Nia," sahut Asyifa menjelaskan dengan jujur.


" Asyifa!" tegur Rendy.


" Kan memang benar ayah," sahut Asyifa dengan santainya.


" Kamu masih aja takut, jika Mario akan jahat pada Nia," sahut Rania melihat suaminya.


" Bukan begitu Rania," sahut Rendy.


" Jangan begitu sayang, bukannya Mario sangat baik," sahut Rania.

__ADS_1


" Memang baik, udahlah aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa. Lagian mereka juga akan menikah," sahut Rendy.


" Benarkah!" pekik Rania kaget melihat Mario dan bergantian melihat Nia. Nia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


" Minta doanya ya kak Rania, semoga aku dan Nia bisa belajar banyak dari pernikahan kakak dan kak Rendy," ucap Mario yang langsung minta restu.


" Amin. Pasti aku selalu mendoakan kalian," sahut Rania dengan tersenyum.


" Makasih kak Rania, aku masih tidak percaya jika kak Rania masih hidup," sahut Mario yang memang mendapat informasi itu dari Nia yang menelpon dirinya.


" Iya Mario, kakak juga tidak percaya bisa berkumpul lagi dengan semuanya," sahut Rania, " makasih juga ya Mario kamu sepertinya ikut merawat Asyifa, maaf sudah merepotkan kamu," ucap Rania.


" Tidak apa-apa kak, aku justru senang, bisa mendampingi Nia dalam merawat Asyifa. Ya maklumlah mood Nia terkadang suka berubah-ubah," sahut Mario.


" Jadi kalian berdua nanti kalau sudah punya anak nggak akan kaget lagi," sahut Willo.


" Apa-apaan, sih masa iya ngomongi anak," sahut Nia malu-malu.


" Sudah-sudah, sekarang ada sebaiknya kita pulang saja, capek juga kaki mama berdiri," sahut Ratih.


" Ya sudah ayo kita pulang," ajak Rendy yang lainnya mengangguk dan memasuki mobil yang sudah di siapkan Mario dan Della.


***********


" Ayo ibu sini!" Asyifa menarik Rania memasuki kamar yang dulu pernah di tempati Rania dan suaminya tidak ada yang berubah sama sekali. Masih sama.


" Asyifa mau menunjukkan sesuatu untuk ibu," ucap Asyifa mendudukkan ibunya di pinggir ranjang dan Rendy hanya berdiri melihat apa saja yang akan di lakukan anaknya itu.


Selagi Asyifa mencari-cari apa yang ingin di tunjukkannya. Kepala Rania berkeliling melihat kamar yang masih sama dan tidak percaya jika Rendy tidak mengubah apapun dari kamar itu.


" Lihat ibu," Asyifa menunjukkan kotak pada Rania membawanya ketempat tidur dan Asyifa duduk di depan Rania.


" Apa ini sayang?" tanya Rania.

__ADS_1


" Masa ibu lupa. Ini surat-surat ibu yang ibu tulis untuk ayah. Ayah menyimpannya dengan rapi dan Asyifa terkadang suka membacanya," ucap Asyifa dengan polosnya.


Rania melihat ke arah Rendy yang mana Rendy mengangguk tersenyum. Hal simple itu membuat Rania terharu dengan mata berkaca-kaca.


" Lihat juga ini ibu," Asyifa menunjukkan semua buku-buku yang dulu di tulis Rania dan buku-buku itu begitu rapi tersusun.


" Ayah juga menyimpan ini?" tanya Rania.


" Benar ibu. Ayah selalu merapikannya. Walau kadang Asyifa suka baca-baca dan buat recok. Tetapi ayah terus menyimpannya," ucap Asyifa dengan tersenyum lebar.


" Makasih!" ucap Rania melihat ke arah suaminya. Rendy mengangguk dan mendatangi istrinya. Duduk di samping Rania dengan merangkul Rania memeluknya dengan erat.


" Aku yang berterima kasih. Kamu saat itu yang sakit. Masih sempat-sempatnya memikirkan apa-apa untuk pertumbuhan anak kita. Kamu menyiapkan semuanya. Kamulah yang merawat Asyifa selama ini. Karena aku merawatnya hanya dengan apa yang kamu katakan," ucap Rendy dengan mengusap pipi Rania sembari mengusap air mata itu.


" Kita ber-2 yang sudah merawatnya," ucap Rania.


" Iya kita berdua merawatnya," sahut Rendy tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


" Makasih sudah menyimpan semuanya," ucap Rania.


" Sama-sama sayang," sahut Rendy mencium lembut kening Rania. Asyifa hanya tersenyum melihat kebahagian orang tuanya itu.


" Sini sayang!" ajak Rania yang ingin memeluk putrinya. Asyifa mengangguk dan langsung memeluk orangtuanya.


" Makasih ya Asyifa sudah jaga ayah selama ini," ucap Rania.


" Sama-sama ibu. Bukannya ibu bilang kalau Asyifa itu adalah obat untuk penawar hati. Jadi Asyifa jagain ayah dan ayah juga jagain Asyifa," sahut Asyifa dengan bijak.


Rania begitu bahagianya yang tidak percaya putrinya sudah dewasa dan ternyata putri yang di perjuangkannya itu. Yang memang tidak sia-sia Rania mati-matian memperjuangkan untuk menghadirkan Asyifa ke dunia ini. Karena lihatlah Asyifa tumbuh menjadi gadis pintar baik dan pasti Sholeha.


" Terima kasih ya Allah untuk kebahagian ini. Terima kasih telah menghadirkan suami yang setia kepadaku. Aku benar-benar bahagia. Dari dulu menikah dengannya aku sangat bahagia dan sekarang dia tetap setia kepadaku. Aku akan terus menjadi istri yang baik untuknya yang bisa memberinya banyak kebahagian," batin Rania dengan rasa harunya.


" Terimakasih ya Allah untuk kembalinya istriku kepadaku. Aku berjanji akan terus membahas membahagiakannya. Aku tidak akan pernah menyakitinya atau membuat air matanya jatuh. Terimakasih untuk semua ini," batin Rendy yang tidak kalah bersyukurnya sekarang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2