
Suara azand subuh membangunkan Rendy yang tertidur. Karena terbiasa bangun saat adzan. Namun itu ketika sebelum menikah. Setelah menikah sang istri yang selalu membangunkan. Tetapi kaki ini Rendy bangun sendiri.
Rendy mengusap lembut wajahnya dengan ke-2 tangannya dan menoleh kesampingnya melihat istrinya yang masih terduduk yang miring mwmebelakanginya. Rendy mendekatinya dengan mengusap-usap rambut Rania.
" Sayang bangun sudah subuh!" ucap Rendy dengan lembut membangunkan Rania sembari mencium pipi dengan lembut.
" Sayang, ayo bangun!" ucap Rendy lagi dengan mengusap-usap bahu Rania. Perlahan Rania membuka matanya. Melihat ke arah suaminya dengan tersenyum.
" Apa kamu kecapean makanya bangunnya telat?" tanya Rendy dengan lembut. Rania menganggukkan matanya. Rendy mencium lembut kening istrinya yang sudah menghadap dirinya.
" Ya sudah kamu sana ambil wudhu kita sholat subuh," ucap Rendy. Rania mengangguk. Rendy tersenyum mengusap-usap lembut pipi Rania. Rania terlihat begitu lesu. Mungkin karena baru bangun tidur. Jadi nyawanya belum terkumpul.
**********
Rania dan Rendy pun melaksanakan sholat berjamaah bersama. Pasangan suami istri itu terlihat begitu teduh saat sholat berjamaah. Yang mana pastinya Rendy menjadi imamnya dan Rania menjadi makmumnya.
Rumah itu memang sangat kental dengan Agama. Ajaran yang di ajarkan dari kecil menjadi kebiasaan di rumah itu. Ratih sang mama juga sholat di dalam kamar, Oma Wati juga sholat. Sama dengan Anisa dan juga Nia yang tidak akan meninggalkan ibadah wajib itu.
Pasangan suami istri Elang dan Zahra yang akhirnya untuk pertama kali sholat berjamaah. Selama ini mereka hanya sholat sendiri-sendiri. Namun sekarang berjamaah yang mungkin akan menjadi awal dari segalanya.
Ke-2nya akan benar-benar bertaubat. Meminta ampunan dari jina yang terjadi. Walau sadar tidak sadar. Tetapi bagi mereka itu tetap jina yang memohon ampunan dalam doa yang sudah di lantunkan Elang atas kesalahan penyesalan yang di lakukannya.
Meminta kepada sang penciptanya atas pengampunan dosa. Supaya kelak kedepannya hubungan rumah tangganya dan Zahra bisa di penuhi berkah. Air mata Elang menandakan penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Selesai berdoa yang pasti doa itu terdengar di telinga Zahra Elang bersujud menangis di atas sajadah. Zahra yang melihat hal itu meneteskan air matanya. Dia harus mengakui Elang benar-benar sudah mengakui kesalahannya dan benar-benar tulus untuk memperbaiki diri.
Zahra mendekati suaminya itu dengan mengusap-usap pundak Elang. Untuk menenangkan Elang.
" Elang!" lirih Zahra dengan lembut. Elang bangkit dari sujudnya menghadap Zahra dan memeluk Zahra dengan erat. Tidak ada yang di katakan Elang selain menangis terisak-isak di dalam pelukan Zahra. Zahra hanya mengusap-usap pundak Elang.
" Mungkin memang ini saatnya aku dan Elang harus memperbaiki semuanya. Kamu harus sama-sama memberikan kesempatan untuk kami berdua. Iya kami harus memulai semuanya," batin Zahra yang ikut sedih dan dia juga sudah memutuskan untuk membuka hati dan menerima Elang apa adanya di dalam hidupnya.
************
__ADS_1
Rania dan Rendy juga akhirnya selesai sholat. Seperti biasa Rania akan menyalam punggung tangan suaminya dan Rendy akan mencium kening istrinya. Pipinya dengan mesra. Dan juga mengecup bibir itu dengan lembut. Rania tersenyum yang di subuh hari mendapat kecupan di wajahnya.
" Kamu kenapa tampak lesu. Apa kamu sakit?" tanya Rendy yang memegang kening istrinya.
" Kamu tidak demam," ucap Rendy yang merasa istrinya normal-normal saja.
" Pinggang aku sakit, bagian perut juga. Tadi malam terus seperti itu," jawab Rania dengan suara lemahnya.
" Kenapa tidak bilang tadi malam?" tanya Rendy yang terlihat panik.
" Kata Dokter ibu hamil bukannya biasa mengalami hal itu. Jadi aku rasa itu tidak akan apa-apa," ucap Rania.
" Lalu sekarang bagaimana apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Rendy yang terlihat khawatir.
" Aku merasa lemas dan malah ingin muntah terus. Padahal di kehamilan awal. Aku jarang mual-mual dan bahkan terhitung mualnya. Tetapi sekarang perutnya enek," keluh Rania.
" Ya sudah sayang, nanti kita kerumah sakit lagi ya. Kita coba konsultasi dengan Dokter Vera. Dan juga sekalian beli obat mual," ucap Rendy menyarankan.
" Nggak usah. Nggak apa-apa kok. Nanti obat mualnya aku pakai punya Zahra saja. Ini juga paling hanya sebentar. Aku istirahat aja," sahut Rania yang menolak.
" Aku juga kayaknya tidak akan kekantor. Aku mau istirahat aja. Supaya lebih enakan," ucap Zahra.
" Ya sudah sayang terserah kamu saja. Kalau ada apa-apa. Nanti kamu telpon aku ya. Atau minta bantuan sama Nia," ucap Rendy yang begitu cemas. Rania mengangguk tersenyum.
" Kamu pergi Kerumah sakit jam berapa?" tanya Rania.
" Seperti biasa jam 7," jawab Rendy.
" Ini sudah setengah 6. Boleh tidak kamu temani aku tidur 1 jam saja. Aku ingin rambutnya di beli-beli, lalu diciumi keningnya sampai aku tertidur," ucap Rania dengan manjanya. Rendy tersenyum dengan mengangguk kan kepalanya.
" Baiklah. Kalau istriku mau seperti itu ya sudah," sahut Rendy.
Rania tersenyum. Rania membuka mukenanya dan langsung mengulurkan tangannya yang ingin di gendong Rendy. Rendy pun menuruti istrinya itu menggendongnya ala bridal style menuju tempat tidur. Membaringkan Rania dengan perlahan.
__ADS_1
Rendy mencium kening istrinya dan Rania langsung memeluk erat Rendy. Subuh-subuh masih ingin bermanja dengan suaminya dan Rendy pasti menyukai hal itu. Dia pun memperlakukan Rania seperti anak kecil yang membelai-belai rambutnya sampai Rania benar-benar tertidur kembali.
*********
Rendy sudah siap-siap yang akan kerumah sakit. Sementara Rania masih tetap tertidur. Rendy mendekatinya memperbaiki selimut Rania dan mencium lembut kening istrinya.
" Aku pergi ya sayang," ucap Rendy yang menatap dalam-dalam istrinya itu. Rendy kembali menciumnya. Lalu kemudian keluar dari kamar membiarkan Rania untuk istirahat. Rendy menuruni anak tangga menuju meja makan yang mana semuanya sudah sarapan di sana.
" Rania mana Rendy?" tanya Ratih.
" Rania ada di kamar. Rania kurang enak badan," jawab Rendy.
" Lalu dia tidak sarapan?" tanya Widia.
" Kakak minta tolong sama kamu ya Nia. Kalau Rania nanti bangun. Tolong berikan dia sarapan," ucap Rendy yang berpesan.
" Ya sudah kak," sahut Nia yang tidak masalah.
" Ya sudah mah, aku berangkat dulu," ucap Rendy pamit yang mencium punggung tangan mamanya itu.
" Kamu tidak sarapan dulu Rendy?" tanya Oma Wati.
" Sudah terlambat Eyang. Nanti saja di rumah sakit," jawab Rendy.
" Ya sudah kamu hati-hati ya," ucap Ratih.
" Iya mah. Titip Rania mah," ucap Rendy. Ratih mengangguk.
" Assalamualaikum," ucap Rendy mengucapkan salam sebelum pergi.
" Walaikum salam," jawab semuanya dengan serentak.
" Tumben sekali Rania sakit," batin Ratih yang mencemaskan menantunya itu.
__ADS_1
Bersambung