Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 112 Manisnya.


__ADS_3

Mereka terus berpelukan yang mungkin ingin mendamaikan hati masing-masing yang memang dalam masalah kecil. Namun pasti akan menjadi besar jika tidak di selesaikan.


Lama berpelukan dan mendengar pengumuman keberangkatan Rania dan Rendy saling melepas pelukan itu.


Rendy mengusap pipi Rania dan mencium lembut kening Rania.


" Kamu baik-baik ya," ucap Rendy.


" Kamu juga hati-hati. Kamu jangan lupa telpon aku begitu sampai," ucap Rania.


" Iya, ya sudah aku pergi dulu," ucap Rendy pamit. Rania mengangguk dan Rendy mengambil paper bag di lantai namun tangannya seakan penuh dan tidak mungkin membawa semuanya. Rendy melihat Rania dan memberikan 1 paper bag untuk Rania.


" Untuk apa?" tanya Rania.


" Ini untukmu. Aku tidak mungkin membawa semuanya," sahut Rendy. Rania melihat yang di berikan Rendy adalah apa yang di berikan Sarah tadi.


" Tapi kan Tante Sarah sudah memberikannya padamu. Masa iya aku harus membawanya pulang," sahut Rania heran.


" Aku kan mengatakan itu untukmu. Aku tidak menolak pemberiannya. Tapi aku tidak bisa membawanya. Karena barang bawaanku sangat banyak dan tidak mungkin aku meninggalkan pemberian istriku. Jadi aku memberikan itu padamu sebagai jalan tengahnya," jelas Rendy membuat Rania tersenyum.


" Kalau begitu makasih," sahut Rania.


" Ya, sudah aku pergi dulu," ucap Rendy yang kembali pamit.


" Tunggu!" ucap Rania membuat Rendy heran.


" Ada apa lagi?" tanya Rendy. Rania mendekati Rendy, berjinjit dan mencium pipi Rendy yang membuat Rendy kaget.


" Pergilah," ucap Rania yang malah salah tingkah dan merasa malu. Rendy tersenyum melihat hal spontanitas Rania. Tidak lama Rendy pun pergi dan Rania melambaikan tangannya yang merasa lega mengantarkan suaminya.


" Hati-hati Rendy," batin Rania yang terus melambaikan tangannya.


*************


Tidak lama Rania sampai kembali kerumahnya dan saat memasuki rumah Rania berpapasan dengan Anisa dan Anisa kaget melihat apa yang di bawa Rania.


" Tunggu Rania!" ucap Anisa menghentikan langkah Rania.


" Ada apa?" tanya Rania. Mata Anisa fokus dengan apa yang di bawa Rania dan ingin mengambilnya. Namun Rania menjauhkan tangannya seakan tidak membiarkan Anisa menyentuhnya.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan, kau mau merampasnya," sahut Rania.


" Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa itu bisa bersamamu?" tanya Anisa.


" Ohhh, ini, Rendy memberikannya kepadaku. Bawaannya sudah sangat banyak dan di tambah dengan apa yang aku antarkan tadi. Jadi dia harus mengasingkan ini. Supaya bisa membawa barang bawaan istrinya," jawab Rania dengan santai yang membuat Anisa kaget mendengarnya.


" Kau pasti menyuruhnya untuk mengembalikan ini iya kan," sahut Anis mulai marah.


" Tidak Anisa. Rendy tidak mengembalikannya. Tetapi memberikannya padaku. Jadi kamu kenapa sewot. Ya terserah Rendy dong mau memberikan apa-apa pada istrinya. Termasuk ini. Kan sudah di terima oleh Rendy yang berarti itu miliknya dan haknya. Jadi terserahnya dong," sahut Rania dengan santai sementara Anisa sudah naik darah dengan ucapan Rania.


" Rania kamu..." geram Anisa.


" Ada apa. Apa ada yang salah. Apa aku harus berterima kasih. Tapi kan ini milik Rendy dan haknya. Jadi kenapa harus berterima kasih kepadamu. Aku harus berterima kasih kepada Rendy. Karena ini miliknya. Sama dengan halnya Rendy. Rendy adalah milikku dan hakku," lanjut Rania tersenyum miring pada Anisa.


" Ya, sudah aku kekamar dulu. Aku harus menikmati apa yang di berikan suamiku. Walau itu pemberian orang," sahut Rania santainya dan langsung pergi.


Napas Anisa naik turun dengan kata-kata Rania. Dan bahkan apa yang sudah di buatnya tidak jadi di bawa Rendy dan malah di serahkan pada Rania.


" Sialan kamu Rania!" geram Anisa yang mengepal ke-2 tangannya dengan wajahnya memerah.


Mana mungkin Anisa tidak marah. Sudah capek-capek membuat semua makanan itu untuk Rendy. Eh bukannya di bawa malah di berikan pada Rania. Jadi Anisa hanya bisa mengumpat kekesalannya tanpa bisa melakukan apa-apa.


************


Rania membuka salah satu yaitu kue basah dan ingin memakannya.


" Ini nggak ada racunnya kan," ucapnya ragu.


" Hmmm, mana mungkin ada racunnya kan dia membuatnya untuk Rendy. Dia mana rela Rendy mati. Lalu pelet mungkin ada," gerutu Rania yang akhirnya memakannya.


" Enak," gumamnya sambil mengunyah makanan itu.


" Pasti sekarang Anisa marah. Bagaimana tidak marah dia sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Eh malah di balikin. Nggak sih nggak di balikin. Rendy memberinya padaku. Ya siapa suruh tadi dia ada di depan. Kalau nggak kan dia nggak akan tau makanan ini di berikan padaku. Jadi dia tidak perlu kecewa seperti itu," gerutu Rania sambil makan.


Ya akhirnya Rania lah yang memakan semua yang di buat Anisa. Suaminya memang lebih memilih apa yang berikannya dari pada apa yang di berikan Anisa.


***************


" Rania tunggu!" panggil Elang yang mengejar Rania dan berusaha memegang tangan Rania. Namun Rania langsung menepisnya.

__ADS_1


" Jangan menyentuhku!" gertak Rania.


" Maaf aku tidak bermaksud. Aku bicara denganmu," ucap Elang.


" Bicara. Apa yang ingin di bicarakan?" sahut Rania.


" Rania kita harus menyelesaikan masalah kita," ucap Elang.


" Apa maksud kamu. Masalah apa. Aku denganmu tidak ada masalah apa-apa dan kamu harus tau satu hal. Aku sudah melupakan mu. Aku tidak mengingat sedikit apapun tentangmu," ucap Rania menegaskan.


" Jangan bohong Rania. Aku tau kamu masih menyukaiku," sahut Elang dengan percaya diri membuat Rania mendengus kasar.


" Apa katamu menyukai, jangan kepedean. Aku sudah menikah. Dan aku tidak punya waktu untuk menyukaimu. Jadi aku peringatkan kepadamu untuk tidak menggangguku. Karena bagiku jelas. Kau bukan siapa-siapa," tegas Rania.


" Tapi Rania!" ucap Elang.


" Stop. Aku sudah mengatakan. Hubungan kita berdua hanya masa lalu. Aku sudah menikah dan Rendy adalah suamiku. Jadi aku mohon kepadamu untuk menghargai pernikahan ku dengan Rendy!" tegas Rania.


" Rania aku tau kamu sudah menikah. Tapi aku tau perasaanmu seperti apa," sahut Elang.


" Cukup Elang!" bentak Rania. Kamu pergi.dari sini. Jangan menggangguku!' tegas Rania.


Dratt-dratt-drattt


Handphone di tangan Rania berdering dan Rania melihat panggilan masuk dari Rendy.


" Kamu pergilah Elang!" usir Rania.


" Aku tidak mau sebelum kita menyelesaikan masalah kit," sahut Elang menolak.


" Masalah kita sudah selesai jadi pergilah!" teriak Rania.


" Tidak Rania!" tolak Elang.


" Atau aku akan mengatakan kepada Rendy. Jika kamu menggangguku!" ancam Rania yang menunjukkan layar ponselnya pada Elang yang melihat panggilan masuk dari Rendy.


" Baik aku akan mengatakannya," ancam Rania.


" Baiklah! aku akan pergi," sahut Elang yang tampaknya tidak ingin bermasalah dengan Rendy. Elang pun akhirnya terpaksa pergi meninggalkan Rania.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2