Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 62 Menyarankan.


__ADS_3

Setelah makan bersama dan menghabiskan waktu bersama. Akhirnya Rania dan Rendy pun pulang kerumah. Mobil Rendy sudah berhenti di depan rumah. Mereka saling melihat sembari membuka sabuk pengaman masing-masing.


" Makasih ya, sudah mengajakku jalan-jalan hari ini," ucap Rania tersenyum bahagia.


" Hmmm, sama-sama," sahut Rendy. " Ayo turun," ucap Rendy. Rania mengangguk. Lalu mereka ber-2 turun bersamaan.


Saat memasuki rumah, Rania dan Rendy di kagetkan dengan Della yang ada di ruang tamu yang menagis sengugukan yang di tenangkan oleh Ratih, di sana juga ada Zahra dan juga Nia.


" Della," ucap Rania kaget dan langsung menghampiri Della.


" Kak Rania," sahut Della yang langsung memeluk Rania ketika sang kakak sudah duduk di sampingnya.


" Kamu kenapa? apa yang terjadi kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Rania panik dengan mengamati wajah adiknya yang penuh air mata.


" Lalu ini kenapa bisa merah," ucap Rania lagi yang melihat pipi sang adik yang memerah, bekas cap jari.


" Kak Willo, nampar Della," jawab Della. Rania mendengarnya kaget dengan matanya yang terbuka lebar.


" Apa kata kamu," pekik Rania. Della mengangguk.


" Astagfirullah," lirih Rendy pelan.


" Kenapa bisa dia melakukan itu?" tanya Rania mulai marah dengan sikap kakaknya yang tidak pernah berubah.


" Aku hanya datang kekamar kak Willo. Dia marah-marah dan menghancurkan barang-barang di kamarnya. Aku tidak tau apa yang terjadi. Yang jelas dia marah-marah. Karena kakak menyita rumahnya dan yang lainnya. Aku hanya bicara yang berusaha menyadarkannya. Tapi malah memukulku di depan papa," jelas Della mengadu pada kakaknya.


" Apa kamu bilang papa," sahut Rania Della mengangguk.


" Jadi papa ada di sana?" tanya Rania. Della mengangguk lagi.


" Papa hanya diam, dan tidak memarahi kak Willo," sahut Della yang menangis senggugukan.


" Kasihan sekali adiknya kak Rania," batin Nia dengan prihatin.


" Kak aku tidak mau tinggal di sana. Aku nggak mau tinggal sama mereka. Mama sudah tidak ada, aku nggak tau harus mengadu sama siapa lagi," ucap Della yang terus menangis.


" Shusst, kamu tenang ya, kamu jangan nangis lagi, kakak akan selesaikan semuanya. Kak Willo benar-benar nggak bisa di beri ampunan. Kakak akan mengusirnya dari rumah. Supaya kamu bisa tenang ya," ucap Rania mengambil keputusan.


" Rania, mama rasa itu bukan jalan yang tepat," sahut Ratih tidak setuju.


" Tapi mah, kalau aku tidak melakukan itu, dia akan seperti itu terus pada Della. Della masih sekolah. Dia harus mendapat kenyamanan," sahut Rania.


" Itu hanya akan memperbesar masalah Rania," ucap Ratih.

__ADS_1


" Ya kalau memang kakak Rania itu sudah keterlaluan memang harus di berikan pelajaran. Supaya jera dan tidak suka-suka pada orang lain," sahut Zahra sependapat dengan Rania.


" Aku setuju. Lagian masa iya seorang kakak harus berbuat seperti itu pada adiknya. Hanya di tegur langsung main tangan," sahut Nia yang juga sependapat dengan Nia.


" Tapi masalahnya tidak selesai dan akan semakin membesar, jika kamu melakukan itu," sahut Rendy yang tidak setuju dengan keputusan Rania.


Dan Rania bingung dengan perbedaan tanggapan di sana. Di mana ada yang setuju dan ada yang sama sekali tidak setuju. Tetapi Rania melakukannya hanya demi adiknya saja.


" Rania masalah ini bermula dari mobil, lalu kartu kredit dan semua fasilitas yang kamu sita darinya. Dan ini akibatnya banyak yang terjadi hanya gara-gara itu. Dia bukan jera tapi lihat semakin parah. Apa lagi nanti jika kamu mengusir dari rumah. Akan banyak masalah lagi," ucap Rendy mencoba memberi peringatan.


" Lalu sampai kapan. Jika aku tidak tegas. Maka dia akan semakin berulah," sahut Rania yang pusing.


" Mari kita bicara di kamar," ajak Rendy yang tampaknya ingin bicara serius dengan Rania. Rania melihat adiknya.


" Kamu tenang saja Rania, biarkan Della menginap di sini. Karena dia tidak mungkin pulang," sahut Ratih yang mengerti apa yang di pikirkan Rania.


" Iya Rania, kamu jangan cemas," sahut Zahra.


" Ya sudah, kamu sebaiknya istrirahat dulu, kakak naik sebentar. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Kakak akan mengurus semuanya," ucap Rania. Della mengangguk. Rania mengusap air mata adiknya. Lalu berdiri ikut dengan suaminya.


" Ayo Della, kamu istirahat," sahut Nia dengan ramah mengajak Della.


" Iya kak," sahut Della. Dan Nia dan Zahra membawa Della kekamar untuk beristirahat.


***********


" Rania, aku tau kamu tidak mungkin mudah memberikan semuanya padanya. Karena kamu yang bersusah payah meraihnya. Rania semua harta itu hanya titipin. Kamu tidak akan berdosa jika memberinya sedikit hartamu," jelas Rendy.


" Rendy, kamu tidak tau bagaimana kakakku. Dia sangat serah kah. Dia selalu hidup dengan suka-suka tanpa peduli orang lain. Jika aku mengembalikan rumahnya dan semua kartu kreditnya. Maka dia tidak akan pernah belajar dari kesalahannya," sahut Rania.


" Aku mengerti Rania. Tetapi apapun itu bukannya kamu juga mencari semuanya degan susah payah hanya untuk keluargamu bukan," sahut Rendy.


" Aku memang bekerja mati-matian untuk keluargaku. Mama papa, kak Willo, Della dan bahkan ketika kak Willo menikah aku masih menanggung kehidupan mereka. Sampai bahkan kak Willo sudah punya anak berusia 6 tahun," sahut Rania.


" Lalu kenapa kamu berubah. Apa itu karena kita menikah. Kamu berhenti bertanggung jawab atas mereka," sahut Rendy.


" Tidak Rendy aku tidak pernah lepas tanggung jawab sedikitpun. Walau aku sudah menikah. Aku tidak pernah lepas tanggung jawab. Aku masih memenuhi kehidupan papa,mama Della dan kak Willo. Aku membayar semua tagihan di rumah, membayar semua asisten di rumah. Aku masih menanggung mama, papa Della dan juga keluarga kak Willo. Aku tidak lepas tanggung sama sekali. Bahkan kak Willo aku membiarkannya di rumah dan suka-suka di rumah," jelas Rania.


" Tetapi aku hanya ingin memberikan kak Willo pelajaran. Di mana kak Willo harus sadar segala sesuatu tidak bisa di dapatkan dengan mudah dan harus di cari. Aku hanya ingin melakukan itu," ucap Rania.


" Aku tau Rania, kamu hanya ingin yang terbaik. Tetapi Rania cara yang kamu lakukan salah," sahut Rendy.


" Salah, apa salah aku mengambil semuanya," sahut Rania. Rendy menganggukan matanya.

__ADS_1


" Memberi semuanya tidak akan membuat kamu kehilangan apapun. Mengalah bukan karena kamu takut atau kalah. Tetapi karena kamu lebih pintar dan lebih dewasa dari pada kakakmu," ucap Rendy dengan lembut.


" Lalu jika melakukannya. Bukannya dia akan ketagihan. Dan dia akan terus minta-minta dan minta. Lalu sampai kapan?" tanya Rania.


" Sampai dia menyadarinya," sahut Rendy.


" Bukan sampai dia menyadari. Tapi sampai semuanya apa yang aku punya habis di tangannya. Bukannya yang akan membuatnya berhenti. Jika aku menurutinya," sahut Rania. Rendy berduri dan mendekati Rania berdiri di depan Rania.


" Apa kamu takut. Kalau kamu kehilangan hartamu. Apa kamu takut. Jika hartamu habis?" tanya Rendy. Rania terdiam mendengarnya. Tidak bisa di pungkiri jika dia memang menakuti hal itu.


" Rania, aku sudah mengingatkan berkali-kali. Apa yang kamu miliki itu hanya titipan. Lagian aku adalah suamimu yang mana kewajibanku untuk memberikan mu nafkah, aku tidak melarangmu berkerja. Jadi jangan takut akan kehilangan benda yang masih bisa di cari. Kamu juga tidak akan miskin jika mengalah untuk kebaikan," ucap Rendy dengan lembut menasehati istrinya.


" Kamu tanggung jawabku. Bukan hanya di dunia. Tetapi di akhirat nanti," lanjut Rendy.


" Tapi tetap saja. Aku tidak ingin Della tinggal 1 rumah dengan kak Willo. Jika aku mengembalikan rumahnya. Belum tentu kak Willo mau kembali kesana dan bisa saja dia menjual rumah itu," ucap Rania yang sudah bisa menebak situasi.


" Bukannya Della masih sekolah?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Lalu kamu pernah bercerita dengan nya masalah pendidikan?" tanya Rendy.


" Maksud kamu?" tanya Rania.


" Kamu coba dekat dengan Della. Bicara dari hati ke hati apa yang di inginkannya. Mungkin saja anak seusia Della ingin menimba ilmu di negri orang. Kita tidak tau apa yang di inginkannya," ucap Rendy.


" Maksud kamu akan memindahkan Della ke Luar Negri," sahut Rania menerka-nerka.


" Kamu khawatir dengan mental Della yang berada di rumah dengan suasana keluarga mu dan Della tidak punya ibu yang memberinya masukan. Jika Della membutuhkan ketenangan. Kenapa tidak kamu mencobanya. Tetapi berdasarkan persetujuan Della," ucap Rendy memberi saran.


" Iya, aku rasa memang itu jalan yang terbaik. Della harus di arahkan ketempat yang benar," sahut Rania setuju dengan pendapat Rendy.


Rendy tersenyum mendengarnya. Lalu mengusap bahu Rania.


" Jika niat kamu tulus dan kamu hanya ingin bertanggung jawab sebagai kakak. Maka Allah akan mempermudah segalanya," ucap Della.


" Iya aku akan coba bicara dengan Della," sahut Rania.


" Ya sudah apa itu juga artinya. Kamu akan melakukan apa yang aku bilang di awal?" tanya Rendy.


" Ya sudah, aku akan mengembalikannya dan mengikuti semuanya jika itu maumu," sahut Rania tampaknya tidak ikhlas. Namun Rendy tersenyum melihat wajah murung Rania.


" Percayalah, semuanya akan di gantikan. Pada suatu hal yang lebih besar lagi," sahut Rendy. Rania mengangguk saja.


" Hmmm, ya sudah kamu istirahat. Ini sudah malam," ucap Rendy.

__ADS_1


" Iya," sahut Rania.


Bersambung


__ADS_2